
“Anak itu anak Gopar? Bagaimana bisa?!” desis Pak Sebastian tertahan.
“Ya bisa saja, mereka kan berinteraksi sekian lama dan Sisca salah satu Tasmirahnya,”
“Maksud saya, bagaimana bisa Bu Gandhes tega menyembunyikan hal itu selama 9 tahun lamanya?!”
“Eh? Waduh, kenapa ya?!” Eyang Gandhes mengelus lehernya karena canggung, kenapanya dia juga tidak tahu. Wanita itu hanya mengikuti insting saja.
“Seingat saya itu, Le, pertama kali Tasmirah datang kesini, dia itu dalam keadaan vegetatif. Lalu saya kan belum tahu namanya, Arman cuma bilang ‘Tasmirah’- ‘Tasmirah’, ya saya pikir itu sebuah nama, ya saya suka panggil dia begitu. Eh loh pas hari keberapa itu, saya panggil Tasmirah dia menangis. Setiap saya panggil dia pakai nama itu dia nangis. Terus saya minta ke Sisca, kalau bisa dia datang ke saya lewat mimpi kasih petunjuk, lah dia beneran datang,”
Eyang Gandhes mengetuk-ngetuk ujung jemarinya ke dagunya sambil berpikir, “Lalu dia kasih tahu dia luka di mana saja, ada sekitar 150 luka di badannya, saya sempat panggil Dokter Arjuna dan timnya untuk membantu saya ‘mengerjakan’ proyek Tasmirah ini. Lalu saya tanya lagi, ini janin anaknya siapa? Dia menggeleng, sepertinya dia juga tidak yakin itu anak siapa, tapi dia bilang kalau dihitung dari usia janinnya sih itu adalah anak Gopar. Waktu itu dia lepas alat kontrasepsi karena IUDnya bermasalah, dia haid terus padahal harus kerja. Nah pas dilepas itu ada selang sehari dua hari dia pemulihan, eh digarap sama Gopar,”
“Eyang bahasanya jangan modelan koran lampu merah gitu, dong...” gerutu Arman.
“Lah habis bahasanya mau apa lagi? Memang perbuatannya sudah bi4dap, kok,” sahut Eyang. “Sebenarnya sampai disitu saya sih nggak terlalu memusingkan itu anak siapa ya, namanya juga pekerja begituan ya itu bisa anak siapa saja yang penting kan masa depannya nanti terjamin atau tidak. Tapi, saat bayi itu lahir, banyak kecacatan yang baru terlihat. Pas di USG nggak tampak. Seperti area ginjal yang tidak berfungsi baik, dan ternyata bola matanya tidak berkembang sebelah. Lah aku panik lah... siapa tahu kalau bapaknya ketemu kan bisa minta donor darah sama satu garis keturunan, gitu maksud saya,”
“Terus Bu Gandhes cari kemana?”
“Untuk mempersingkat waktu, saya main tebak aja. Dulu dia bilang kemungkinan besar itu anak Gopar dilihat dari situasinya, Ya nekat saja ambil barbuk di unit forensik, mau cek darah,”
“Rama juga tahu?! Astaga si Komandan Hedon itu nggak bilang-bilang juga!” omel Arman.
“Terus saya mau minta bantuan siapa lagi?! Ya jelas saya minta bantuan dia dong. Ambil alat bukti kan harus izin ini itu, kalau sama Rama kan minta pagi, siangnya dikasih, diantar pula. Sudahlah itu tak penting, setelah hasil keluar, saya bingung lagi...”
“Bingung apa?”
“Ya mau cari garis keturunan dimana lagi, coba?! Bapaknya udah mati hancur. Memangnya saya google street bisa deteksi di mana saja keluarga Gopar berada?! Data yang diberikan Rama itu, yang katanya itu sepupunya Gopar lah, itu kakaknya Gopar lah, pas saya ketemu orangnya, kita tes DNA, nggak ada kecocokan sama sekali. Jadi sudah pasti keterangannya palsu. Pusing banget loh saya waktu itu!” Eyang Gandhes melambaikan tangannya menggambarkan betapa frustasinya dia saat kejadian itu.
Pak Sebastian melirik Pak Arman, Pak Arman ternyata juga sedang meliriknya. Keduanya curiga tapi tak berani menginterupsi.
“Saya beritahukan ini ke Sisca pelan-pelan, eh dia nangis tandanya dengar suara saya. Makin stress lagi saya. Sudah sekarat, sekarang anaknya juga... duh nduuuk-nduk nasibmu miris tenan toh,” Eyang Gandhes memalingkan muka dan menutupi mulutnya untuk menahan tangisnya.
“Dan, apa yang terjadi?”
“Ya selama 9 tahun saya merawat dua orang. Berkali-kali Sisca drop, tapi dia seperti sedang mempersiapkan sesuatu, jadi dia berusaha bangkit lagi. Barulah saya tahu kalau jiwanya sedang mengembara, penjaga saya memergoki ada arwah yang mondar-mandir di depan gerbang tapi tak bisa masuk. Kaget banget saya...”
“Arwah...” dengus Pak Arman. Pria itu merasa hal itu lucu, sebenarnya, karena tak bisa diukur dengan logika. Walaupun ia tahu dan bahkan sering melihat banyak keanehan di sekitar Eyang Gandhes, namun ia berpikir sesuai di Alkitab bahwa Jin itu ada. Tapi arwah manusia tak mungkin bisa mondar-mandir di dunia karena urusannya sudah dengan Tuhan.
“Terserak kowe arep percoro opo ora,” sahut Eyang Gandhes, “Iki nopel horor jebulane,”
__ADS_1
“Inggih, Eyang, kulo manut,” gumam Pak Arman dengan senyum jahil dikulum.
“Tak terusin ceritane yo?!”
“Inggih,” gumam Pak Sebastian dan Pak Arman.
“Jiwa itu bertemu dengan jasadnya, tapi tak bisa masuk juga. Sepertinya rasa traumatisnya terlalu tinggi jadi selama ini dia tak tentu arah. Yang terakhir diingatnya adalah Rahwana, jadi dia selama ini berada di sebelah Iwan. Dari anak itu kecil sampai dewasa. Lalu saat dia melihat kondisi anaknya, waktu itu anaknya belum saya namai, dia bilang kalau selama ini berusaha agar tubuhnya pulih cepat agar bisa mendonorkan ginjal dan matanya untuk anaknya,”
“Ah... begitu,” gumam Pak Arman.
“Eyang, kita tak tahu sosok itu benar jiwa Tasmirah atau bukan. Jadi Eyang melakukan transplantasi donor tanpa izin siapa pun. Tanpa izin sanak saudara atau bahkan si empunya organ sendiri. Seandainya dia nanti sadar dan menuntut Eyang secara hukum bagaimana?” kata Pak Sebastian.
“Ya itu juga yang kupikirkan, walaupun dengan bantuan kamu semuanya cepat selesai, tapi dari segi HAM nya aku tetap saja salah, loh,” gerutu Eyang Gandhes. “Makanya aku mikir beginian tuh lama, ada sekitar berbulan-bulan. Puncaknya ya waktu si anak itu pingsan karena ginjalnya mulai lemah, kalau nggak salah pas dia ulang tahun ke yang 9 deh. Kecapekan kayaknya. Ya aku nekat lagi...”
“Eyang menghubungi Dokter Arjuna lagi,” tebak Pak Sebastian.
“Begitulah... dan operasi pun dilakukan. Berbarengan dengan itu, jiwa Fransisca mulai bertransformasi menjadi sosok anaknya saat seandainya Sita tumbuh dewasa. Kunamai saja si anak itu Fransita. Karena tokoh pewayangan Rahwana kan identik dengan Sita,”
“Eyang ini suka seenaknya sendiri ya,”
“Iya Sita juga tanya kenapa dia nggak dinamai dengan nama yang lebih keren semacam Isabella Swan atau Renesmee Cullen,”
“Pokoknya begitu ceritanya! Juga...” Eyang Gandhes menunjuk Pak Arman. “Kowe ati-ati yo Le,”
“Hm? Kenapa?”
“Akeh sing arep nuntut balas, nanem dendam ke kowe,”
“Kok Eyang tahu?”
“Feeling aja,”
“Yah...”
“Jangan remehkan feelingku,”
“Iyaa iyaa,” Pak Arman menyesap tehnya dengan rasa malas. Ia kurang suka kalau Eyang Gandhes mulai terkesan menakut-nakuti dengan segala penglihatannya.
*
__ADS_1
*
“Bukan, jangan pakai kata an-ta, you perempuan, pakai kata an-ti, nah eike balasnya baru pakai an-ta karena laki-laki, coba ulangi,”
Sita mengerutkan keningnya menyimak penjelasan Ai, “Umm... Ismiy Sita, masmuka?
“Masmuki,” ralat Ai.
“Masmuki?”
“Ismiy Ai. Wa kayfa haaluka anti?”
“Bikhoirin,” Sita mengernyit lagi, “Min Ayna anti?”
“Anta,” ralat Ai.
“Katanya tadi anti,”
“Kan you tanya ke eike yang laki-laki,”
“Hih, aing teh lieur, riweh siah,”
“Kalo Sunda prokem kenapa situ malah hafal?! Akiiii,” protes Ai ke Aki Tirem. Si Aki cuek sambil cengengesan siram bunga. “Kerjaan you pasti ya!” tuduh Ai.
“Ngahaja,” gumam Aki Tirem. Karena saat dia mengumpat dalam bahasa sunda saat sedang membereskan masalah birokrasi persetanan, tiba-tiba Sita muncul dan dia serap semua bahasa per-premanan Aki Tirem.
“Tapi Ai bahasa Arabnya lancar yak,” Aki Tirem berusaha mengalihkan perhatian agar ia terhindari dari omelan.
“Diwajibkan, karena banyak perusahaan Pakde yang berdiri di wilayah UEA, Turki dan Qatar, jadi bahasa Arab dan Turki harus lancar,
“Bisa berapa bahasa Ai?”
“Baru lancar 7 bahasa, sisanya masih harus banyak belajar,” kata Ai, “Mas Iwan tuh lebih hebat, bisa 20 bahasa, belum termasuk bahasa daerah dan bahasa dunia Jin,”
“Mas Iwan itu yang Om Iwan pacarnya mamah yang di dalam kamar mamah itu ya?” Sita ikut nimbrung.
“Iya, hihi,” desis Ai geli mendengar kata ‘pacarnya mamah’.
“Om Iwan tuh ganteng banget ya, ih aku juga mau jadi pacarnya,” Sita mengikik malu-malu.
__ADS_1
Seringai Ai langsung sirna, berganti dengan nyinyiran di bibirnya. “Masih piyik jangan pacar-pacaran! Belajar sanah! Jangan sampe kata Anniversary you sebut University!”