
Malam itu,
Di sebuah hotel bintang 5 di kawasan pusat kota Jakarta.
Seorang pemuda tampan bermata sipit membuka pintu kamar single bedroomnya sambil menggandeng seorang wanita cantik bermata hijau, senada dengan dress seksi yang dipakainya.
Sesekali pupil wanita itu menyempit untuk menyesuaikannya dengan cahaya lampu, dan lidahnya yang hitam dan bercabang sesekali keluar dari mulutnya untuk mendeteksi adanya bahaya di sekitar mereka.
Aman, tidak ada astral yang mengancam, juga manusia yang beraura buruk.
Sesekali si wanita melayangkan pandangan ke arah si pemuda dengan pandangan sendu, sangat terlihat kalau ia sangat mendamba ke arah si pemuda.
Namun si Pemuda bahkan tidak menatap si wanita, ia hanya menatap lurus koridor di depannya dengan wajah malas-malasan, bahkan tampak kalau ia ingin sekali pergi dari sana.
“DP aja harus di hotel mewah,” gerutu Ai. (DP \= Down Payment, atau uang muka.)
“Kan biar ada jaminan, paling tidak kalau kamu kabur aku masih dapet enaknya,”
“Jangan aneh-aneh ya,”
“Aku usahakan yang lembuuuut kok,”
“Iya emang situ lelembut,”
“Aku lebih tinggi pangkatnya,”
“Ya so what?!” gerutu Ai sambil merebahkan tubuhnya di ranjang empuk. Kenapa badan rasanya remuk redam begini ya?! Keluh AI dalam hati.
Sri Ratu Damaya mengganti sosoknya dengan wujudnya yang sebenarnya. Yang sudah Ai lihat di cermin meja rias.
Namun entah bagaimana, sosok itu malah sesuai dengannya.
Tubuhnya setengah ular, panjang sampai memenuhi ruangan kamar. Warnanya hijau dengan sedikit semburat pelangi yang indah saat terkena kilatan cahaya lampu.
Di dahi wanita ini ada giok, besar dan berkilau, seindah warna matanya.
Ia naik ke atas tubuh Ai, pemuda itu membuka matanya dan menatap ke atas, ke arah wanita yang tersenyum lembut sambil mengelus pipinya.
Ai bisa melihat beberapa taring di dalam mulutnya.
Ia tidak takut,
Ia lebih merasa kuatir kalau...
“Jangan kegores, jangan kegigit, jangan hisap darah eike setetespun, jangan masukin jampe-jampe yang anehi-nehi, jangan- mmh!!”
Sri Ratu Damaya, mencium bibir AI dan melilit lidah pemuda itu dengan lidahnya, yang sebenarnya beracun kalau ia mau Ai bisa mati saat itu juga, sambil sebelah tangannya membuka celana jeans Ai.
Mungkin kita tidak terlalu bisa membayangkan enaknya menonton adegan berciuman dengan siluman ular penunggu gunung, namun bisa digambarkan Ai bahkan terlena dengan kepiawaian Maya memfungsikan lidahnya.
Bisa jadi, itu ciuman yang paling berkesan dan unik dalam hidup AI.
Tapi belum termasuk yang nikmat. Karena untuk sesuatu kenikmatan, tentunya harus bersama dengan orang yang dicintai.
Dan apakah ia mencintai Sri Ratu Darmaya?
Jelas tidak.
Mereka bersama hanya karena kepentingan yang berhubungan dengan hidup mati seseorang. Juga karena saling membutuhkan akan naf5u duniawi. Dunia astral dan dunia manusia.
__ADS_1
Maya melepaskan ciumannya dan memandang Ai. Dengan tatapan Ai yang masih terpukau, Ia anggap cara pemuda itu melihatnya adalah sebuah pujian.
Lalu ia pun tertawa kecil, dan mengeluarkan kej4ntan4n Ai dari balik boxer, lalu m3lum4tnya dalam-dalam.
“Oh, gila...” gumam Ai sambil memejamkan matanya.
Apaaa yang sedang terjadi?
Rasanya seperti melayang.
Aliran darah langsung lancar pula.
Gila ternyata enak banget.
Sesaat Maya menggerakkan kepalanya untuk menguasai diri Ai yang semakin terlena.
Ai sudah tidak mampu berpikir apa pun. Yang terjadi biar saja terjadi.
Karena belitan lidah Sri Ratu memang senikmat itu.
Namun tiba-tiba,
Wangi melati... menyengat sekali.
Sri Ratu pun menghentikan aktivitasnya dan melepaskan lum4tannya.
“Jangan berhenti, tanggung,” Ai mencengkeram kepala Maya dan menariknya untuk melanjutkan adegan. Maya sampai tertohok gara-gara hal itu.
“Sialan,”Maya menepis tangan Ai dengan kesal, tapi dia akhirnya memilih untuk tak menghiraukan wangi melati itu dan kembali menjahili anggota tubuh Ai.
“Iya di situ...” gumam Ai. Pemuda itu sedang berada di awang-awang.
Ojo tangi nggonmu guling (Jangan terbangun dari tidurmu)
Awas jo ngetoro (Awas, jangan terlihat/memperlihatkan diri)
Aku lagi bang wingo wingo (Aku sedang gelisah)
Terdengar seseorang menyanyi. Ai langsung membuka matanya karena merasakan aura gelap yang begitu menyesakkan dada.
Maya pun akhirnya menghentikan aktivitas nya mengerjai Ai dan menegakkan tubuhnya.
Ai juga diam, mereka saling bertatapan.
“Perasaan lirik lagunya nggak kayak begini, apa tuh wingo wingo?” desis Ai.
Namun mulutnya langsung ditutupi tangan Maya.
Maya menatapnya dengan waspada dan ia terdiam karena memfokuskan pendengarannya.
Sayup sayup lagu itu berhenti.
Tapi,
Justru di situ inti masalahnya.
Kenapa lagu itu berhenti?
DOK! DOK! DOK!
__ADS_1
Pintu kamar hotel bagai digedor dengan paksa dari luar.
“Jemputan datang,” gumam Maya.
“Trus gimana?”
“Aku nggak mau pulang, yang nanti ngelindungi Ares Manfred sapa?”
“Oh iya, Don’t go. Cuekin aja, lanjut aja gimana?”
“Nggak bisa dicuekin. Dia kalau marah bisa mati lampu semua satu gedung,”
“Room Service,” terdengar suara lirih di depan pintu.
“Njir, Room Service apa’an tengah malem begindang,” gerutu Ai.
Maya menghela napas dan meraih tangan Ai, lalu menggenggamnya dengan erat bagaikan meminta kekuatan,“Hei, kasih aku semangat dong,”
“Buat?”
“Buat bisa melawan Kinasih,”
“Harus gitu?”
“Iya kan biar nggak emosi. Dia soalnya rada jutek,”
“ROOM SERVICE!” terdengar seseorang berteriak marah di depan pintu.
“Tuh, kan dia emosi,”
“Kenapa suaranya jadi kayak Axl Rose gitu?”
“Dia nggak bisa masuk kalo nggak dibukain pintu, jadi dia marah,” Maya menegakkan tubuh ularnya dan mengibaskan rambutnya dengan ujung ekornya, sementara tangannya sibuk memulas listik.
“Terus eike harus apa?”
“Entahlah, aku juga agak insecure. Kinasih itu... jenis yang berbahaya dan bisa mencelakai manusia, apalagi dia bergerak berdasarkan insting,”
“Duile, nggak beda dong sama you,”
“Aku masih pakai logika,”
“Bilang aja takut sama Eyang Gandhes,” Ai mencibir.
“Hihi begitulaaah,” Maya membetulkan kerah dressnya, “Tapi Kinasih nggak takut sama Eyang Gandhes, dia bergerak berdasarkan permintaan. Sampai permintaan itu belum terlaksana, berbagai cara apa pun akan ia lakukan,”
“ROOM SERVICEEEEEE!” Terdengar jeritan dari luar.
Lampu di sekitar mereka mendadak mati-nyala.
“Iya-iya, aku keluar, jangan ngambekan ih!’ gerutu Maya sambil beranjak ke arah pintu dan menggeser tubuh ularnya.
“Maya,” Ai menggenggam tangan Maya, sampai wanita itu menoleh ke arahnya. Lalu pemuda itu mengecup dahi Maya sekilas dan tersenyum, “Semangat ya,”
Sampai-sampai Sri Ratu Darmaya, Siluman penunggu kaki Gunung Sindoro , ternganga kaget dan terkesima. “Eh, i-iya,” gumamnya bagai terhipnotis.
Lalu Sri Ratu pun menggigit bibirnya sambil tersenyum malu-malu menatap Ai “Aku akan lakukan apa pun untuk kamu,” bisiknya dengan penuh rasa sayang. Dan ia pun keluar dengan menembus tembok.
“Ternyata modal cium dahi aja eike bisa punya Khodam,” kata Ai sambil menyeringai bersemangat.
__ADS_1