Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan 34 : Vila Eyang


__ADS_3

(Episode kali ini mengandung Jumpscare atau gambar yang menakutkan)


Sementara itu di lain tempat,


Bagaimana Firman bisa selamat?!


Bagaimana bisa?


Semua sudah dirancang sedemikian rupa!


Seharusnya dia tidak selamat!


“Kami butuh tumbal baru,”


“Iya Ayah! Iya aku tahu!! Diam dulu aku lagi mikir!!” suara seorang wanita, tampak kalut.


“Sebelum bulan purnama, waktunya 3 hari lagi,”


“Sial... Reynaldy dijaga owner dan Firman selamat gara-gara jiwa tersesat. Siapa lagi yang berpotensi... Apa Pak Endang saja? Kita undang kemari karena dia kan masih ada urusan BPJSTK di sini,”


“Terserah kamu saja, siapa pun itu,”


“Lalu... siapa yang sering mengganggu kalian? Siapa dia? Dia inti dari semua kegagalan rencanaku!”


“Mulut kami dikunci, kami hanya terbatas memberikan infor-”


“AKU MENGGADAIKAN NYAWAKU SENDIRI UNTUK AYAH!! Sekarang ayah bilang mulut ayah terkunci?! Lalu apa gunanya ayah selama ini? Hanya mondar mandir tidak jelas dengan wujud pocong?!” wanita itu berteriak marah.


“Ada hal-hal yang tidak bisa kami lawan, kami bisa saja berbalik menyerang kamu termasuk memakan kamu sebagai ganti tumbal,”


Wanita itu terdiam,


Lalu sesaat kemudian menghela napas.


Ia baru menyadari tidak ada gunanya berdebat dengan astral.


Selang beberapa menit kemudian, ia pun meraih laptopnya.


“Baiklah, saatnya rencana puncak kalau begitu,”sahutnya sambil meretas sebuah sistem.


“Kali ini korbannya tidak hanya satu orang,” wanita itu bergumam pelan, “ dan mungkin aku juga akan menjadi korbannya,” ia berbisik-bisik untuk dirinya sendiri.


“Aku akan membuat hura-hara agar banyak yang mati di gedung ini. Kusetting waktunya lusa, jam 12 malam. Saat tidak ada orang,” Wanita itu dengan cepat menekan tombol laptopnya dan meretas ruang server. “Akan kubuat sistem bekerja sangat kuat melebihi kapasitasnya, kususupi malware, lalu kubuat konsleting... kantor ini akan terbakar perlahan mulai jam 12 malam. Api akan merambat sedikit demi sedikit sehingga pagi harinya di jam masuk kantor ramai orang, percikan api akan terjadi. Kubuat saja sumbernya di komputer Pak Endang. Gedung ini akan terbakar...”


Wanita itu menyeringai licik.


Kilatan matanya penuh obsesi akan rencana-rencana gila.


Lalu di tengah-tengah mengetik ia menoleh ke arah makhluk di depannya. Putih bersinar dengan kain tipis menyelimuti seluruh tubuhnya.


Begitulah kondisinya saat wanita itu menemukan kekasihnya dulu.


Dalam kondisi diselimuti kain tipis, namun anggota tubuh dibaliknya hancur sehancur-hancurnya. Bahkan tengkorak kepalanya remuk bagai bubur.


Sosok itu melayang bagai tanpa tulang, bergoyang bagai ditiup angin.


“Sekalian saja kubuat orang itu kemari, ya Sayang? Orang yang membunuh dirimu. Kalau gedung ini dalam kondisi rusak, ia pasti akan datang untuk melakukan investigasi karena memang situasi itu adalah ranahnya. Jadi aku bisa membunuhnya,”


“Kamu bisa mati,” kata Kuntoro.


“Kalau untuk membalaskan dendam Gopar,” wanita itu menuju ke arah sosok putih dan memeluk wujud itu dengan sayang, “Kalau untuk sayangku, aku bersedia dipenjara, bahkan dihukum mati. Kutembak Ares Manfred dalam jarak dekat kalau dia datang. Aku tak akan menyesal walaupun harus dibalas tembak oleh pengawalnya,”

__ADS_1


“Nisa, usahakan kamu meninggal di gedung ini, agar bisa bergabung dengan kami, hahahahaha!” tawa kuntoro membahana ke sudut ruangan.



*


*


“Iwan, mau langsung bertemu?” Eyang Gandhes bertanya sambil berjalan di depan mereka.


“Kalau boleh, ya. Waktunya tidak lama,” kata Rahwana pelan.


“Oh, kamu juga sudah tahu hal itu, ternyata,”


“Ya, Eyang,” Rahwana menunduk, “Fransisca kemarin datang,”


Eyang Gandhes tersenyum lembut dan membalik tubuhnya menoleh ke arah Rahwana, lalu wanita itu menghela napas dan menyentuh lembut pipi Rahwana.


“Apa pun yang kamu lihat di dalam, nikmati kebersamaan kalian selama mungkin. Jangan pikirkan yang lain dulu,”


“Termasuk... bertanya mengenai Sita?”


“Nanti akan terjawab, tapi saat ini kamu fokus ke Tasmirah dulu. Si Fransita. Perpaduan dari sosok Fransisca dan Sita. Menurut kamu kenapa nama itu dipadukan, Iwan sayang?”


“Kenapa?”


Mereka tiba di sebuah aula luas dengan banyak pintu di sekelilingnya. Eyang Gandhes menyentuh sebuah pintu besar berwarna merah terang. “Saat Sita berusia 9 tahun, ginjalnya bermasalah. Selama 9 tahun ia bertahan dengan ginjal lama yang telah rusak. Jadi Fransisca  mendonorkan sebelah ginjalnya untuk anaknya, selain itu...” kata Eyang Gandhes. “Ada lagi bagian dari diri ibunya di tubuh anak itu, kamu kan tahu sendiri siksaan yang dialami Fransisca saat ia mengandung,”


“Ya, aku tahu,”


“Jadi... Sebelah mata Sita tidak berkembang. Dia hanya memiliki sebelah mata saja. Dan Fransisca memberikan juga sebelah matanya untuk SIta,”


“Setahu aku operasi transplatasi semacam itu-”


“Ya, hanya diperbolehkan dengan kondisi fisik si pendonor dalam keadaan baik, bukan sekarat seperti Fransisca. Kalau operasi itu dilakukan dengan jalan legal,” Eyang Gandhes tersenyum penuh arti.


“Iwan, ini semua keinginan Fransisca. Agar SIta dapat tumbuh dengan baik dan menikmati dunia ini. Sekaligus bentuk permohonan maaf karena Fransisca lebih mementingkan nyawa kamu dibanding janinnya sendiri,”


Rahwana menarik napas panjang, ia tegang sekaligus sedih.


“Baiklah,” Eyang Gandhes menggenggam kenop pintu dan membukanya. “Silahkan masuk, sendirian saja ya. Selamat bertemu,”


Wangi rempah, bunga, dan sedikit sereh menyeruak keluar dai ruangan. Aromanya menenangkan hati bagi siapa pun yang menghirupnya.


Rahwana mengambil napas dalam-dalam untuk merelaksasi tubuhnya, lalu menghembuskannya dengan tenang. Ia tersenyum penuh rasa terimakasih ke Eyang Gandhes dan masuk ke dalam kamar.


*


*


“Hush! Jangan ngintip! Bintitan loh matamu!” Eyang Gandhes menjewer telinga Ai agar pemuda itu menjauhi pintu.


“Adudududuh, Eyang! Eike kan lagi jadi pengewong juragan! Mana bisa nggak ngintip! Kalo something happen pegimane?!”


“Nothing bakalan happen di vila eike!” balas Eyang dengan gaya meniru Ai, “You nggak liat nih yang jaga kamar udah dasamuka begini?!” (dasamuka maksud eyang sudah ada sepuluh sosok yang berjaga).


“Mana eike liat yang begituan,”


“Mau dibikin bisa liat?” tantang Eyang Gandhes.


“Ogggyyyaahhh!!” seru Ai dengan penuh penekanan. Dengan kemayu ia membuang muka dan berjalan mendahului Eyang Gandhes menuju ke arah ruang santai. Biasa, mau tiktokan lagi.

__ADS_1


“Hei, Ai,” panggil Eyang Gandhes sambil berjalan santai di belakang Ai.


“Yess?!” Ia membalikkan tubuhnya ke belakang dengan berlebihan, gaya muntir 180 derajat dalam sedetik. Biasa digunakan model-model di iklan shampo agar rambut berkibar secara dramatis.


Eyang Gandhes terdiam sesaat menatap Ai sambil berpikir. Hebat juga ni anak gaya selangit tapi nggak pake kepleset. Penasaran deh kalo dia jatuh ke aspal guling-gulingnya macam mana.


Lalu menyeringai sendiri membayangkan serunya hal itu. Saking gelinya sampai sudut bibirnya perlahan mulai tertarik ke atas, mendekati daun telinganya.


“Eyang,” Ai memicingkan matanya.


“Yak?” suara Eyang berubah parau.


“Eike kali ini serius, lain kali nyari dokter jangan yang abal-abal. Duit you banyak, ke Korea sana. Masa bisa kulit you melar begitu?! Operasinya pake obat apa? Jangan-jangan plastik kresek yang dimasukin ke kulit you?!”


“Eh semprul,” Eyang langsung cemberut, “Emang settingannya udah begini dari 150 tahun lalu. Nggak ada ya operasi plastik, semua alamiah!”


“Rahang you melar sampe kuping! Lama-lama bisa melar sampe ubun-ubun, tampang you bakal lebih amburadul dibanding setan di gunung tadi!”


“Beneran sotoloyo deh anak si kampret. Ngidam apa sih si Ayu?!” gerutu Eyang sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


“You tadi mau ngomong apa ke eike?” tanya Ai.


“Ah iya hampir lupa kan, Hih!” Eyang Gandhes melemparkan ujung kerudungnya ke belakang, ia mulai gerah karena emosi menghadapi Ai.


Ai menatap wanita cantik di depannya ini dengan tak sabar.


"Jangan terlalu dekat dengan Nayaka," kata Eyang Gandhes selanjutnya.


"And Y?" (Y dibaca Why. Artinya,'kenapa').


"Dia bukan milik kamu,"


"Eyang nggak bisa seenaknya menetapkan jodoh seseorang,"


"Kamu juga tahu kalian tidak akan bisa bersama, karena itu kamu selalu menghindarinya,"


"Dan itu yang eike lakukan selama ini, you juga tau. Eike yakin you dan cctv gaib you memata-matai setiap cucu, cicit, puput, mpot mpot apa lah itu keturunan sampe ke tujuh tingkat," Ai mulai sewot. "Harusnya Eyang ngomong itu ke Nay! Bukan ke eike,"


"Nay akan berhenti kalau kamu tegas,"


"Kurang tegas apa lagi?! You juga tau Eike selalu ngusir-ngusirin dia!" Ai berjalan ke arah ruangan yang ada di ujung lorong, "Di dekatnya, perasaan yang eike miliki bakalan tumbuh subur. Udah pasti Papa nggak bakalan setuju,"


"Ai, eyang serius," Eyang Gandhes mencengkeram lengan Ai untuk menghentikan langkah cowok itu.


Ai menghela napas berat lalu berkacak pinggang sambil menggelengkan kepalanya. "Eyang," panggilnya, "Eike... Aku," Ai memperbaiki cara bicaranya supaya terkesan lebih serius. "Saya... Saya tahu bagaimana menempatkan diri. Saya tahu dimana tepatnya posisi saya berada. Blak-blakan saja ya, Eyang pasti mau ngomong kalau cinta bisa tumbuh tapi Tuhan tidak bisa diduakan. Benar kan?!"


"Yaaa, semacam itu," kata Eyang sambil tersenyum.


"Kalau bagi keluarga saya agama adalah nomor dua, dari dulu Papa saya akan merebut Tante Milady dari Pakde Sebastian. Dilihat dari mana pun mereka paling cocok bersanding, sudah ulang tahunnya barengan, kalo ngomong juga nyambung pula," Ai mengangkat bahunya,


“Bukannya Papa nggak cinta Mama saya. Tapi kalau masalah selera,  masa saya tidak menyadari arti lirikan Papa ke Tante Milady? Atau Tante Sandra Ellen? Beuh, penuh nafsu eyaaang, kayak mau nelen bulat-bulat!” sahut Ai sambil begidik, “Justru Mama saya sebenarnya bukan tipe wanita kesukaan Papa,” Cibirnya.


"Tapi, sebejat-bejatnya Papa saya, walaupun ia sering melewatkan ke gereja karena sering nggak cocok sama pendetanya, dia dibesarkan di lingkungan Kristen yang taat. Dan itu juga yang dia ajarkan kepada saya. Jadi Eyang tidak perlu kuatir dengan perasaan saya. Saya malah lagi pusing gimana caranya nolak Nay, sekaligus mencegahnya ke Inggris,"


"Kamu menolak sekaligus tidak ingin kehilangan dia,"


"Dia sahabat yang baik, sudah itu saja untuk saat ini. Mengenai perasaan saya, sudahlah saya pasrahkan untuk hilang pelan-pelan," gumam Ai sambil meneruskan langkahnya ke arah ruangan.


Eyang mengamati punggung Ai yang berjalan di depannya dengan rasa lega. Ia tersenyum dengan puas, "Wah, siapa yang menyangka Pak Brigjen bisa membesarkan anak dengan akhlak yang baik,"


__ADS_1


__ADS_2