
Episode berikut banyak mengandung bahasa pemprograman, juga terdapat tokoh hasil kolaborasi dengan Author lain 'Wenny Wulandari').
Malam itu, Rahwana duduk di kamarnya.
Dalam diam dia berpikir mengenai benang merah semua kejadian. Dari mulai masa kecilnya... ia mengingat-ingat lagi.
Awal kejadiannya adalah sosok bernama Gopar.
Ia mulai meruntut pengalamannya. Diingatnya saat pertama kali ia bertemu Gopar, lalu saat di vila Eyang mengenai hal-hal yang Sisca katakan barusan, gedung itu, juga keberadaan sosok Kuntoro, Pak Firman Setengah, Mbak OB, Juga makhluk putih yang bersinar itu.
Lalu kasus Pak Yanto, Pak Endang.
Tapi ada satu lagi yang mengganjal pikirannya yang tingkahnya benar-benar tidak dapat dimengerti, seakan-akan bukan tempatnya di situ tapi dia dipaksakan untuk ada.
Siapa ya?
Bagaikan pikirannya telah ditutupi sesuatu agar buntu, Rahwana memutuskan untuk tidak memaksakan diri.
Karena menurutnya, saat memang ia ditakdirkan untuk membereskan semuanya, Illahi pasti akan membuka jalan.
Kalau ia seakan dibutakan oleh keadaan, itu berarti belum saatnya ia bertindak lebih jauh.
Rahwana duduk di kursi gamenya, lalu memutuskan merefresh pikirannya dengan bermain game online sebentar.
Saat itu, partner yang dipilih untuk bermain dalam game bertema Battle Royale adalah pria berkebangsaan India dan satu lagi tampaknya dari USA, terdengar dari aksen mereka yang kental.
India dan USA.
Rahwana mengernyit.
Kenapa kedua negara itu terdengar ada hubungannya di sini?!
Lalu Rahwana log out dari game dan mengetik kode di layar komputernya. Akses ke Darkweb.
Orang itu pasti sedang berkutat di domain yang biasa. Pikir Rahwana. Ia pun mengetik ip address khusus yang sudah ia hapal di luar kepala.
Yang akan ia hubungi adalah seorang manusia yang memiliki kemampuan tidak biasa, seakan otaknya sudah menyatu dengan setiap binary yang mengalir di dalam server.
Sang Mentor Coding
Orang yang mengajari Rahwana kemampuan mengenai bahasa pemprograman. Seorang Hacker yang kerap membantu Cyber Crime dunia menangkapi para Cracker.
"Andi," sapa Rahwana dari earphonenya.
"Heh? Loh? Tumben kamu ke sini? Mau tracking apa nih?!" terdengar suara Andi dari earphone. Tentu saja bukan suara sebenarnya, mereka berkomunikasi lewat suara dari Artificial Inteligence. Sementara fisik Andi entah ada di mana.
Yang jelas, di mana ada komputer, sejadul apa pun itu, selama masih bisa masuk ke bios, Andi bisa melacak keberadaan si pengguna.
Dan tujuan Rahwana adalah...
"Bisa ngelacak setan nggak?" tanya Rahwana sambil terkekeh.
"Semprul, itu kan bidang kamu, hih!" gerutu Andi.
"Pusing aku, komputernya ada di dimensi lain, dia nyerang lewat kabel LAN yang masuk ke sela tembok! Ini udah perang sistem antar dimensi!" keluh Rahwana.
"Bentar, bro..." desis Andi. Terdengar suara tembakan dari latar belakangnya. "Aku pindah lokasi dulu, melipir ke pojok,"
"Kamu dimana sih? Ikut Bang Virus lagi ya?"
"Hehe, dia lagi adu tembak, aku sih mojok aja main Fortnite," terdengar gemerisik sesaat. "Lanjut ceritanya Beb,"
"Beb?"
"Eh, bro... Salah orang hehe,"
"Siapa lagi yang kamu-"
"Hush! Lebih penting urusanmu, nggak usah mikirin aku tidur sama siapa, oke?!"
"Nggak, nggak tertarik juga, cuma penasaran ada aja yang tertarik sama Nerd,"
"Aku Nerd tapi ganteng, dan bisa nyolong duit pake kode,"
"Lebih hebat dari tuyul ya,"
"Tuyul beneran ada nggak sih?"
"Mau tahu?"
"Nggak," gumam Andi, "Jadi apa yang bisa kubantu?"
"Bayarannya apa?"
"Gratis,"
__ADS_1
"Bohong,"
"Saham 1000 slot milik Garnet Land yang terbit hari Senin minggu ke dua bulan September tahun ini," cerocos Andi langsung. Sepertinya dia memang sudah mengincar objek ini.
"Ck, rakus bener sih," gerutu Rahwana.
"Masalahnya kamu minta aku tracking komputer yang nggak ada di dunia nyata, dan biasanya berkaitan dengan hidup mati seseorang,"
"Benar sekali,"
"Huff!" Andi terdengar merenggangkan tulang-tulang jemarinya. "Kamu sudah pernah tracking?!"
"Sudah, tapi gagal,"
"Kok bisa kamu gagal?!"
"Dia bukan cracker biasa. Dan ada keterlibatan makhluk gaib. Aku juga ingin kamu bantu lacak nama seseorang,"
"Siapa?"
"Namanya Gopar,"
"Gopar siapa?"
"Nggak tau,"
"Gopar Nggaktau? Namanya aneh banget,"
"Maksudnya, aku nggak tahu nama belakangnya,"
"Oooh hahaha, maaf ya, maklum kebanyakan hirup mesiu,"
Rahwana mencibir. Andi, temannya ini memang terkenal agak slengean.
"Ada sekitar 12.593 nama Gopar di Indonesia, 1.483.403 di seluruh dunia, 1.2-"
"Andi, pliiiis..." keluh Rahwana.
"Haha, iyaaa bentar, aku cuma bercanda. Ngerti kok, Gopar yang pernah nyulik kamu kaaan, yang di bantai sama Om Arman?"
"Nah itu tahu,"
"Itu pembantaian terhadap manusia paling kejam yang kulihat, sekelas perlakuan mafia China ke korban penggelapan drugs," kata Andi. Lalu berikutnya di layar Rahwana muncul beberapa data dalam bentuk file confidential.
"Apa sih kendala mereka saat aku diculik? GSA memiliki sistem pelacakan tercanggih dan teknisi terbaik, kenapa lama sekali menemukanku waktu itu?" Rahwana sedikit menggerutu, mungkin lebih ke dirinya sendiri, karena ia tahu saat diculik, kemungkinan Andi juga masih kecil dan malah bisa jadi belum familiar dengan coding.
"Kata-katamu bagus, jadiin quote aja gimana? By, Andi Sudirman,"
"Bisa juga. Nanti kalo aku bikin novel kumasukan quote itu. Heh?! Serius nih?!"
"Apa? Serius apa?"
"Pacar Gopar kerja di Garnet Land?!"
Rahwana menegakkan tubuhnya. "Apa? Gopar punya pacar?!"
"Dia beberapa kali terlihat berkencan dengan wanita yang sama, kulacak wajahnya dan kucocokkan dengan database pemerintah, ternyata bekerja di kantormu. Jugaaaa... Waduh!"
"Apa lagi, ndi?!"
"Kamu tahu kan gedung itu dulu milik seseorang bernama Kuntoro?"
"Iya, tahu,"
"Pacarnya Gopar itu salah satu anaknya Kuntoro dari istri sirinya, makanya nggak ada didaftar ahli waris!"
"Siapa namanya Ndi?!"
"Nisa Viandra. Kenal?!"
"Eh..." scene demi scene ingatan Rahwana mulai flashbback ke masa lalu.
Saat ia bekerja hari pertama di Garnet Land.
Orang yang menyuruhnya menghancurkan dokumen asli.
Staff Legal.
"Gila!" seru Rahwana.
"Aku kasih ke kamu track record komputer Nisa aja ya, kamu bisa lah lacak sendiri sisanya. Yang jelas, dia mengoperasikan sistem masih di dunia nyata kita kok, nggak antar dimensi. Jangan mikir macem-macem dulu jadi," Sederetan matrix memenuhi layar komputer Rahwana.
Cowok itu menatap layar dengan kening berkerut.
Ia tegang...
__ADS_1
"Jadi... Komplotan yang menculikku juga yang menculik Om Rumi saat dia kecil. Basisnya di Kolkata, dan saat itu penyerangan terjadi atas laporan dari Andre Rutherford. Pantas tadi aku merasa India dan USA ada hubungannya,"
"Rutherford? Bapaknya Om Rumi?"
"Iya, Andi. Astaga... Jelas sekaramg benang merahnya. Makasih banuak ya,"
"Hey, Iwan,"
"Ya?"
"Aku... Turut berduka cita atas yang menimpa kamu di masa lalu. Apa pun itu," kata Andi dengan suara pelan.
"Yang penting, sekarang kita jalani saja hidup ini dengan baik,"
"Iya ya,"
Dan setelah itu Rahwana menutuskan koneksi, lalu beranjak keluar kamarnya untuk pergi ke Kantor GSA.
(Andi Sudirman adalah seorang Hacker di Novel 'My Name Is Virus' dan 'Detective Wasabi' karya Wenny Wulandari. Tema keduanya mafia, action dan investigasi. Genre Pria dan Lumayan seru menurutku. Kalau ada waktu, silahkan merapat untuk membacanya yaaa).
*
*
Ai mengetuk-ngetuk stir mobilnya sambil menggigit bibirnya dengan galau.
Kenapa di saat begini jalanan harus macet sih?! Gerutunya.
Lalu ia pun melirik ke arah kursi penumpang di sebelahnya.
Wanita cantik, duduk dengan anggun sambil menyisir perlahan rambutnya yang lembut dengan jemari lentiknya. Wajahnya unik khas nusantara dengan mata indahnya yang berwarna hijau daun, dan alis tebalnya yang mempesona.
Kecantikan sepanjang jaman.
Sayang sekali dia astral.
"Nyi Blorong, you ada keperluan lain kah sampe turun gunung?!" gerutu Ai.
Si wanita ular menoleh dan mengangkat alisnya ke arah Ai.
"Ada, mau cari suami ke 44," Katanya.
Ai mencibir, "Ya cari yang sesama siluman dong!"
"Aku kepincutnya kamu,"
"Nggak bisa,lah! Udah beda alam, beda agama aja eike frutasi gimana beda alam,”
Aku bisa menyesuaikan diri menjadi yang kamu mau, seperti... merasuki manusia,”
“Ogyahh!”seru Ai sambil membuang muka.
“Kamu tahu siapa aku, tidak?”
“Nggak tahu dan nggak mau tahu,”
“Ya sudah, aku padahal bisa berguna loh untuk Rahwana,”
“Heh?!” Ai langsung memusatkan perhatiannya ke wanita bergaun hijau.
Si Wanita mengangguk dengan alis terangkat untuk meyakinkan AI.
“Kata Eyang tidak ada gunanya percaya sama astral,”
“AKu jenis yang levelnya tinggi, salah satu penjaga gunung sejak Sindoro dan Sumbing masih aktif, bersama para tetua yang lain kami menjaga kelestarian gunung itu agar selalu seimbang dengan-”
“Sabodo, yang eike mau tahu gimana cara you bisa nolong Mas Iwan?”tanya Ai semakin mencondongkan tubuhnya ke arah wanita itu.
Pupil matanya berubah vertikal bagaikan sedang bersemangat mencari mangsa. Hanya jenis ular berbisa yang memiliki pupil menyempit semacam itu.
“Kalau mau tahu ada syaratnya,”gumam si wanita ular.
“Ck! Kebiasaan siluman. Apa syaratnya? Cepetan!”
“Coba sebut... Maya,”
Ai mengernyit, “Maya...?”
“Saaaaa,”
“Saaaaa...?”
“-yang,”
“Nggak!” tolak Ai langsung.
__ADS_1
“Aku Jaksa Penuntut Umum di pengadilan Jin yang bisa mengusahakan agar Kuntoro layak dibakar Rahwana lewat ilmu Khulhu Geninya dan tidak akan ada yang mempermasalahkannya,”
“Maya Sayang, mau makan apa kita malam ini?” sahut Ai cepat.