Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan Rahwana 57 : Extra 2


__ADS_3

Sita mengusap-usap kedua tangannya dengan gugup. Ia sudah berganti pakaian, sudah menghapus make upnya, bahkan dia saat ini memakai hoodie kedodoran kesayangannya. Rambutnya yang panjang sepinggang ia gerai begitu saja.


Dengan gusar ia menatap ke luar jendela, ke arah keheningan malam.


Vila Eyang Gandhes di Lereng Merapi, udaranya sangat dingin namun penghuni di dalamnya berhati hangat.


Namun hal itu tidak cukup untuk membuat kegugupan gadis berusia 17 tahun itu sirna.


“Astaga, aku istri orang sekarang,” bisiknya gugup. “Mamah, aku beneran takut,”gumamnya.


Namun setelah dipikir lagi...


Ia takut apa?


Suaminya adalah orang yang dikenalnya sejak lama.


Setiap hari mereka tinggal serumah.


Setiap hari mereka beraktivitas bersama.


Setiap hari mereka mengobrol tentang berbagai hal.


Takut apa?


“Entahlah takut apa... mungkin takut kalau...” Sita melirik ke atas ranjang, lalu seketika wajahnya memerah. “Mikir jorok aku,”


Dan ia pun berdehem, menghela napas lagi.


Saat itu Rahwana membuka pintu kamar dan masuk ke dalam.


“Hei, bengong aja,” sapa Rahwana.


Sita menatapnya tajam.


“Apa?” tanya Rahwana dengan pandangan bertanya.


“Normalnya tuh masuk ke kamar pengantin wanitanya bilang : Hai sayang, atau Adindaku tercinta, bagaimana keadaanmuuuu?”


“Habis nonton film apa lagi kamu?”


“Dih!”


Rahwana terkekeh sambil berjalan ke arah etalase dan membuka jasnya.


“Capek nggak?” tanya pria itu.


“pake nanya pula,” gumam Sita.


“Ya nanya dulu, kalo capek ya besok aja,”


“Apanya?” tanya Sita mencoba memancing, padahal dia tahu maksudnya.


“Dibolak-baliknya,”


“Hah?!”


“Mau ala goreng telor sekali aja, atau goreng tempe kemul, berkali-kali,?!”


“Hoooi???”


Rahwana terkekeh.


Seperti masa kecilnya, ia memang suka menggoda orang. Pada dasarnya sifatnya memang santai dan humoris. Tapi kejadian penculikan itu mengubah drastis perangainya menjadi lebih suram selama bertahun-tahun.


“Ini beneran Mas Iwan atau bukan sih?” gerutu Fransita.


“Hm? Coba tebak aja. Di sini banyak setan, siapa tahu ada yang nyamar jadi aku,” masih cengengesan Rahwana membuka kemejanya dan masuk ke kamar mandi.


Sita diam sambil mengerutkan dahinya. Lalu maju dan mengetuk kamar mandi Iwan.


“Mas Iwan,” panggilnya.


“Apa?” terdengar suara Iwan dari dalam.


“Hem... kenapa aku manjangin rambutku?”


“Kamu mau mencontohkan rambut yang indah tuh gimana ke Kinasih,”


“Oh, beneran Mas Iwan kok...” dan dengan cueknya ia kembali duduk di sofa sambil main game online menunggu Rahwana mandi.


“Hei,” Rahwana keluar dengan berbalut handuk dengan senyum di wajahnya, “Tau nggak?”


Sita mengangkat wajahnya dari ponsel dan tatapannya langsung tertuju ke otot perut Rahwana yang terpahat sempurna. Ia langsung menarik napas panjang.


“Mungkin, kalau Kinasih rambutnya seindah kamu, kalau terbang malah kesangkut-sangkut. Jadi lebih baik gimbal. Hehehe,”


“Garing kering bin kerontang kalo kata Kak Ai,” gerutu Fransita.


Rahwana berjalan mendekat dan duduk di pinggir sofa. Tangannya mengambil beberapa helai rambut Fransita dan membelainya.


Fransita mengangkat wajahnya dan menatap Rahwana. Matanya yang berbeda warna sangat indah. “Aku suka rambut kamu,”


“Aku boleh tanya sesuatu yang sensitif?” tanya Fransita.

__ADS_1


“Kita kan sudah suami-istri, justru yang sensitif harus ditanyakan,”


“Hm...” Fransita mematikan ponselnya dan bergeser sedikit lalu menepuk-nepuk space di sebelahnya memberi kode ke Rahwana agar pria itu duduk di sebelahnya.


Setelah Rahwana duduk, Fransita pun naik dan duduk di pangkuan Rahwana.


“Berat,” gumam Rahwana.


“Kurang ajar,”


“Makan seblak berapa panci kamu?”


“Cuma setengah panci kok, Aki Tirem kalo masak rasanya ngalah-ngalahin bikinan manusia,”


“Dia curang,”Kata Rahwana.


“Kenapa curang?”


“Dia kan bisa pindah tempat. Air dia ambil dari puncak gunung yang masih murni, cabe dia colong dari pertanian di luar negeri, garamnya juga khusus dari tengah lautan pasifik yang disaring khusus,”


“Katanya setan nggak bisa lari keluar pulau,”


“Khusus Aki Tirem karena usianya sudah ribuan tahun, temennya di laut malah lebih banyak dari yang di daratan,”


“Hih! Pantesan rasanya beda!”


“Ini mau ngomongin Aki Tirem atau tentang kita?”


“Eh iya, hehe,” Fransita mengalungkan lengannya ke leher Rahwana. “Mas Iwan, ciuman pertama sama siapa?”


“Hm, kamu tahu sendiri,”


Fransita sadar dia salah bertanya, jadi di ubah pertanyaannya, “Kalau sama manusia?”


“Nggak pernah,”


“Nggak pernah?”


“Nggak,”


“Hm, pertanyaan lain. Kalo lagi pingin gimana? Aku pernah dengar kalau untuk laki-laki yang begitu sulit ditahan,”


“Puasa,”


“Beuh!” Fransita langsung insecure.


“Ya tapi beberapa kali pernah nggak tahan sih, mau puasa entah kenapa lagi males,”


“Terus gimana?”


“Oh,” gumam Sita, “Okee,”


“Akhir-akhir ini mulai sering nggak tahan sih, tapi mau maju inget dosa,”


“Akhir-akhir ini?”


“Hm...”


“Tepatnya mulai kapan?”


Rahwana tidak menjawab, dia hanya mengangkat tangannya dan membelai perlahan bibir tipis Sita. “Sejak kamu secara lancangnya bilang ‘kapan mau cium aku’,”


Sita berdehem, “Aku kan lagi dalam keadaan cemburu sama Mamah,”


“Aku waktu itu nggak bisa jawab dengan kata-kata. Jadi sekarang kujawab dengan Akad,”


Sita menarik napas.


Sungguh, menjawab dengan cara Akad adalah cara yang sangat berarti bagi Sita dibandng hanya kata-kata semata.


Juga mungkin bagi sebagian besar wanita di dunia ini.


“Sini,” Rahwana membelai pipi Sita dan mengarahkannya supaya lebih menunduk ke arahnya.


Dan akhirnya bibir mereka pun bersentuhan.


Suatu hal yang seperti mimpi, entah bagaimana seharusnya. Ini ciuman pertama Sita, hal yang selalu ia dambakan dari laki-laki kesukaannya. Di mana rasa iri selalu menderanya saat melihat Papanya mencium mamanya, atau kak Ai mencium Maria, dan Rahwana hanya menatapnya sambil mengernyit saat ia senyum-senyum lalu meraup wajahnya dan mendorongnya perlahan supaya menjauhi pria itu.


Sampai-sampai ia merasa tidak percaya diri dan menganggap Rahwana hanya mau mencium Sisca, Ibunya, dan bukan dirinya.


Padahal hanya bersentuhan kulit.


Bisa begini rasanya!


Padahal hanya sebuah ciuman,


Namun kenapa rasanya sangat bahagia?!


“Wow,” itu kata pertama Sita.


“Ada kata lain tidak selain Wow?” gumam Rahwana sambil mencium Sita untuk kedua kalinya, dan ketiga dan keempat, dan berkali-kali lagi.


“Hmh... wow,”

__ADS_1


Rahwana menunduk sambil terkekeh. “Aku nggak terlalu ngerti itu artinya apa,”


“Selama ini kamu menganggapku apa?”


“Orang yang sangat berarti, sampai aku takut sendiri,”


“Takut?”


“Takut kalau aku tergoda, semua akan hancur,”


“Aku sering mancing-mancing, loh,”


“Iya, kamu sering membuatku frustasi,”


“Makanya belakangan ini kamu agak menjauh... akh!” Sita terpekik pelan saat Rahwana meremas salah satu dadanya sambil mencium lehernya.


“Aku tidak akan ragu lagi saat ini, kamu siap-siap aja kaget,” desis Rahwana sambil mengangkat tubuh Sita dan menjatuhkan gadis itu di ranjang.


Perlahan seluruh pakaian mereka terbuka, entah bagaimana caranya Rahwana menanggalkan semua pakaian Sita yang jelas gadis itu tidak ingat lagi bagaimana semua berjalan. Ia hanya merasakan sentuhan demi sentuhan yang rasanya sampai menyentuh jiwa. Nikmat sekali.


Tangan mungil gadis itu berada di tubuh Rahwana yang paling sensitif. Terasa keras dan panas. Ia diarahkan untuk membelainya dengan lembut, dan dengan pikiran melayang ia lakukan sambil menikmati lidah Rahwana di puncak dadanya, dan jemari pria itu di klit0risnya. Menyentuhnya dengan cepat sampai ia tidak sadar kalau suara teriakannya memenuhi semua ruangan kamar.


Inikah sebabnya kamar pengantin terpisah dari gedung utama? Inikah sebabnya setiap jendela, pintu dan dinding dipasangi kedap suara? Sita berpikir seperti itu karena saat ini ia merasa semua ini masuk akal. Ia pun tidak bisa menahan teriakannya.


Rahwana mengerang dan mendesis saat ia merasa Sita sudah berbuat terlalu jauh, yang bisa ia lakukan saat teriakan gadis itu tak terkendali lagi hanya membungkam suaranya dengan ciumannya.


“Tahan sedikit, ya. Mungkin akan terasa sakit,” desis Rahwana sambil memposisikan Sita di bawahnya, lalu merentangkan kedua paha Sita.


“Pelan-pelan,” gumam Sita.


“Kamu jangan tegang,” Rahwana kembali meIumat bibir Sita untuk menenangkan gadis itu.


“Ya aku berusaha nggak tegang tapi bagaimana- Aaakh!!” Sita mencengkeram lengan Rahwana. Ia menghujamkan kuku-kukunya karena menahan perih. “Mas! Mas, sakit...Owh!!”


Gadis itu kini telah menjadi wanita dewasa. Rasa perih yang dialaminya memang sakit tapi sekaligus membuatnya seakan terbang ke awang-awang. Perlahan perihnya berubah menjadi suatu sensasi tersendiri, merambat ke perutnya, ke aliran darahnya, dan kepalanya.


Saking nikmatnya rasa penyatuan itu, ia sampai mengangkat pinggulnya, bagai meminta Rahwana untuk berbuat lebih jauh. Mempererat pelukan mereka dan menarik leher Rahwana supaya lidah mereka kembali saling bertaut. Sita merangkul Rahwana dan mengaitkan kedua kakinya ke punggung Rahwana.


Ia tidak ingin sejengkal pun terpisah dari suaminya.








Eyang Gandhes menyesap teh cammomilenya sambil menatap ke depan, ke arah pemakaman keluarga, Vilanya dan pemandangan gunung Merapi di depannya. Di sebelahnya, Pak Sebastian dan kursi rodanya juga menatap ke depan sambil menghisap cerutu Havana.


“Aku menikahkan pasangan berkali-kali di Villa ini. Yang paling berkesan bagiku saat pernikahan Mia dan Rama. Aku juga memakamkan kerabatku berkali-kali di Vila ini,”


“Iya Bu Gandhes, itu yang kerap menjadi pertanyaan saya. Kenapa harus Vila ini. Bu Gandhes punya banyak Vila di kaki Gunung. Pertanyaan kedua, kenapa harus di kaki Gunung? Seakan semua Vila Bu Gandhes adalah gerbang pendakian,”


“Karena di sini asal muasal Keluarga Bagaswirya meraih kejayaannya. Aku menjual jiwaku ke iblis, membeli dosa atas orang tua, suami dan anak-anakku, semua demi... harta,”


“Saya tidak percaya,”


“Itu yang orang ingin percaya, bahwa kami memperoleh kekayaan ini dengan menjual jiwa ke iblis, hehe. Biar saja mereka berpendapat begitu,”


“Jadi sebenarnya demi apa?”


Eyang Gandhes menghela napas. “Iblis marah kepadaku. Karena aku melenyapkan pengikut setianya. Dua orang tua, dan suamiku adalah pemasok tumbal untuknya. Bertahun-tahun, sampai anak kembarku jadi korban... dan berkembang rumor kalau akulah yang melakukan semua itu,”


“Kenapa Bu Gandhes tidak meluruskan hal itu,”


“Karena aku tertangkap saat dalam kondisi yang mencurigakan. Dan masyarakat cenderung menyukai hal-hal yang mengerikan. Kujelaskan berkali-kali juga mereka percayanya kalau aku yang melakukannya. Apalagi saat masa tahananku berakhir dan aku tetap dalam kondisi muda, cantik, dan tidak menua sedikitpun, makin santerlah gosip itu,”


“Hem,”


“Bahkan mereka menciptakan lagu untukku,”


“Yang sering Bu Gandhes nyanyikan?”


“Iya, kutukan yang kuidap bukan dari Tuhan, tapi dari Iblis,” Kata Eyang Gandhes, “Dia mengutukku sampai akhir zaman. Dan memberiku kekuatan ghaib yang sakti agar orang percaya kalau aku pengikutnya. Karena itu astral suka dekat-dekat denganku. Bisa jadi akulah ganti dari pengikut setianya yang kuhabisi,”


“Apakah Bu Gandhes menyesal?”


Bu Gandhes menghela napas, “Yang seperti itu... kalau kita tidak melakukannya, kita malah lebih menyesal lagi kan?!”


“Betul, saya juga pasti akan melakukan seperti yang Bu Gandhes lakukan,”


Lalu mereka kembali terdiam sambil menatap ke depan.


“Bu Gandhes, slot tanah saya naik sedikit lah biar kelihatan dari jendela kamar,” Pak Sebastian menunjuk tanah pemakaman milik keluarga Bataragunadi yang berada tepat di bawah kuburan si kembar tiga.


“Nanti sajalah kupatok. Kamu tuh masih lama mangkatnya,”


“Siapa yang tahu?!”

__ADS_1


“Ah ya benar juga,”Kata Eyang Gandhes, “Keceplosan saya jadinya, hehe,”


*TAMAT*


__ADS_2