Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan Rahwana 56 : Extra 1


__ADS_3

7 tahun memang tampaknya lama, tapi bagi Rahwana masa-masa itu diisi dengan banyak kejadian yang berjalan rumit sampai mengantarkannya ke sini.


Ia berlutut di depan makam Sisca. Sambil menatap pusaranya yang dingin dan tanah yang ditumbuhi rumput hijau.


Sambil memainkan bunga yang bermekaran di sekitar makam, pemuda itu mengingat lagi wajah yang dulu sering menemani hari-harinya.


Tawanya saat berputar di tengah pantai, pertemuan mereka yang absurd di kantor, yang saat Rahwana ingat sebenarnya pakaian Sisca selalu berwarna putih. Baik itu kemeja dan rok, maupun dress, dan aksesorisnya.


Itu sebenarnya sudah suatu pertanda kalau wujud itu tidak fana.


Dulu sekali Rahwana ingat, saat Sisca menjadi Tasmirah ia sering menggunakan warna mencolok. Mungkin ia bergaya bukan menjadi dirinya sendiri tapi sesuai permintaan di pekerjaannya. Herannya, semua kostum cocok untuknya.


Dan kini,


"Kamu tahu Sisca, aku bagai kembali ke masa lalu sepeninggal kamu. Karena semakin dewasa dia, semakin dia mirip kamu," kata Rahwana sambil tersenyum tipis.


"Yang membedakan kalian hanya warna mata," tambahnya.


Rahwana menatap ke atas langit. "Kondisi Papaku juga kurang baik. Sudah sepuh soalnya. Mama juga sering tidak enak badan mungkin karena stress memikirkan Papa. Ya kondisi yang wajar bagi manusia, memang seharusnya seperti itu,"


Rahwana menggigit bibirnya mengingat saat Papanya jatuh pingsan di kantor, atau saat melihat Mamanya menunggui Papanya di rumah sakit sambil mengaji.


"Papanya Ai juga sudah tidak mungkin beraktifitas normal. Masa mudanya sudah sering terluka. Jadi sekarang kondisi tubuhnya agak mengkhawatirkan. Walau pun bisa dibilang untuk usia setua itu dia masih terbilang hebat. Hanya saja tidak ikut-ikutan menyandang senjata," Rahwana menyeringai.


"Selama ini, kami semua berjuang untuk bangkit. Terutama Sita. Apalagi mulai banyak orang yang mengaku sebagai kerabat Gopar setelah tahu kalau Sita.. akan menikah denganku,"


Rahwana menatap sendu ke arah nisan Sisca si Tasmirah. "Berapa banyak orang yang tahu kalau waktu itu kamu mengandung anaknya?" tanyanya lirih.


"Aku mencoba segala cara agar menganggap Sita hanya sebagai adikku, tapi semakin hari ia semakin mirip kamu. Aku tidak bisa lepas dari bayangan kamu,"


"Tapi tetap saja, kalian orang yang berbeda. Aku lebih kenal Sita daripada kamu. Dan aku... Mencintainya karena apa adanya dia. Bukan karena dia mirip kamu,"


"Sampai aku merasa sedang berselingkuh dari kamu. Karena dia sangat... Hem, bisa dibilang tingkahnya lebih manis dari cewek manapun yang kukenal, kamu memiliki anak yang hebat. Dia tahu aku sering mendambakan kamu, berharap kamu masih hidup, tapi dia dengan sabar menantiku lapang dada melepasmu sepenuhnya,"


"Jadi... Aku ke sini hanya ingin memberitahukan hal ini. Aku dan Sita akan menikah hari ini. Mungkin kamu sudah tahu dari Sita kemarin waktu dia nyekar ke sini ya," Rahwana mengelus nisan itu seperti membelai rambut Sisca. "Tidak seperti legenda kalau Rahwana patah hati terhadap Sita, Rahwana yang ini akan menikahinya. Rama yang di sini sudah menjadi milik orang lain, soalnya. Hehe,"


"Semoga, kamu sudah tenang di sisiNya, Sisca. Kami melepas kepergianmu dengan ikhlas. Sepenuhnya..."


Terima kasih, Iwan.


Aku tidak menyesal telah mengenal kamu.


Sebuah suara berbisik di sebelah telinganya.


Rahwana sesaat tertegun mendengarnya. Ia hanya diam dan tetap dalam posisi berlutut.


Kekuatan dan penglihatannya untuk hal yang berhubungan dengan astral memang telah menghilang. Namun ia mendengarnya.


Suara yang selalu ia rindukan selama ini.


Suara yang berbeda dengan Sita.

__ADS_1


Suara yang dulu selalu menemani hari-harinya.


Rahwana pun tersenyum getir. Sekali lagi, ia menahan air matanya sekuat tenaga.




"Sita,"


"Ya Pah?"


Pak Sebastian tersenyum mendengarnya.


"Kenapa Papa senyum-senyum?" Tanya Fransita dengan kening berkerut.


"Sekarang kamu benar-benar anak Papa, loh,"


Fransita diam sebentar. Lalu tertunduk sambil tersenyum malu-malu, "Bener juga ya," gumamnya.


"Makna 'papa' dan anak perempuannya kali ini sudah benar valid," tambah Pak Sebastian.


Lalu ia terbatuk-batuk.


"Hm," Fransita memberikannya secangkir air putih hangat. "Papa gaya hidupnya diubah dong, aku kan pingin liat papa nimang cucu,"


"Loh kalau sudah umurnya ya mau gaya hidup se-sehat apa pun ya tidak bisa menghindari maut,"


"Jangan alasan, Papa tau kalo aku benar," Sita mencubit pelan bahu Pak Sebastian.


Sita mendekatkan kursinya ke kursi roda Pak Sebastian, lalu merangkul lengannya dan kepalanya disandarkan di bahu pria itu. "Pah,"


"Iya?"


"Aku mau dinikahi Mas Iwan bukan karena tekanan jodoh-jodohan,"


"Hm,"


"Juga bukan karena cinta lokasi,"


"Hmmm,"


"Juga bukan karena Mama Sisca,"


"Iya,"


"Anak Papa yang itu masih sering nangis di tengah tidurnya sambil menyebut nama Mama Sisca,"


"Dari mana kamu tahu?"


"Aku sering menyelinap tengah malamke kamarnya kalau mau nyolong laptop gamingnya yang canggih itu,"

__ADS_1


"Ooh, kirain,"


Sita mengernyit kesal sambil menatap Pak Sebastian.


"Aku tidak punya hubungan batin yang terlalu dalam dengan Mama Sisca. Bahkan tidak pernah benar-benar mengobrol. Jadi sejak dia meninggal, aku berusaha melangkah maju sedikit-sedikit. Tapi rupanya sulit untuk Mas Iwan,"


"Ya jelas, dia bahkan berkantor di TKP," sahut Pak Sebastian.


"Aku bukannya cemburu loh, Pah," kata Fransita.


"Iyaaa iyaaa,"


"Mungkin Mama Sisca juga sudah memperhitungkan hal ini. Makanya dia mengambil proyeksi wujudku saat dulu sering menjelma menjadi jiwa yang tersesat,"


"Jadi kalau di Tiktok itu semacam filter ya,"


"Dih Papa ih!"


"Iyaaa deh terserah kamu dan pembenaran kamu,"


"Gimana sih Pah, aku ini lagi curhat loh!"


"Lah kan Papa dengerin,"


"Kok malah bikin kesel aku sih?"


"Gimana sih?"


"Udah ah! Aku ngambek nih!"


"Kamu kebanyakan ngambek kalo sama Papa,"


"Papa kebanyakan ngeselinnya soalnya," sungut Fransita.


"Hey," Pak Sebastian menjulurkan telunjuknya dan menunjuk pipi wanita itu, "Papa rasa, tidak peduli dia mengambil wujud apa saat menjadi Jiwa Yang Tersesat, Iwan akan tetap jatuh cinta padanya. Dan juga saat ini, walaupun kamu tidak mirip dengan Sisca, Iwan akan tetap sayang kamu apa adanya,"


"Hum...,"


"Itu kan yang sedang kamu kuatirkan sekarang?"


Fransita mengangguk lemah.


"Sita, kalau mau mau melihat kesungguhan hati Rahwana. Lihatlah malam ini. Kamu tidak pernah melihatnya berhubungan dengan wanita lain kan? Sekedar menyentuh saja tidak, seingat Papa. Bahkan dengan Maria yang genit itu saja dia jaga jarak. Selama ini hanya kamu yang bisa seenaknya dia peluk-peluk,"


"Aku kan selama ini adiknya,"


"Ya tetap saja adik angkat,"


"Hm,"


"Malam ini, pelukannya akan berbeda dengan yang biasa. Papa yakin itu,"

__ADS_1


"Pelukan seperti apa?"


"Kamu akan rasakan bedanya. Kemungkinan caranya memandangmu juga akan berbeda,"


__ADS_2