
“Sebenarnya apa yang sudah suami saya lakukan? Bagaimana kinerjanya? Apa dia berbuat sesuatu yang illegal sampai Pak Endang mengancam-ngancam saya?” tanya Bu Irma. Wajahnya dipenuhi kegusaran.
Dengan berat hati, Pak Rey menceritakan akar permasalahannya, bahwa Pak Yanto menjual beberapa rumah yang seharusnya digratiskan. Uang hasil penjualannya itu dia bagi dua dengan Pak Endang. Sementara daftar nama orang-orang yang seharusnya menerima rumah tersebut ia palsukan menjadi nama-nama saudara-saudara Pak Endang. Surat keputusan yang sudah ditandatangani Pak Sebastian Bataragunadi pun dipalsukannya.
Ibu Irma bahkan sampai pucat mendengarnya. Jumlah kerugian yang ditanggung perusahaan hampir 2,5 miliar rupiah. Itu pun perusahaan masih berbaik hati tidak menuntut Pak Yanto dan Pak Endang, hanya dipecat saja. Bahkan setelah kematian Pak Yanto, keluarga masih menerima tunjangan kematian, uang pensiun selama 10 tahun, BPJS TK, dan gaji terakhir yang belum sempat dibayarkan.
Dengan kelihaian Pak Firman berbicara, ia berhasil meyakinkan manajemen untuk berbaik hati pada Pak Yanto dan Pak Endang.
Bahkan setelah kebaikan yang mereka lakukan, Pak Rey masih mendapatkan banyak hujatan dan fitnah, bahwa ia adalah penyebab meninggalnya Pak Yanto yang depresi usai diomeli. Semua orang tidak tahu akar permasalahannya, kecuali beberapa orang dalam yang membantu kecurangan yang dilakukan Pak Yanto.
Dan kini Bu Irma mau mengganggu Manajemen dengan masalah perselingkuhan suaminya, sungguh hal yang sangat sepele kalau dibandingkan pusingnya Pak Rey menangani kekacauan yang dibuat Almarhum suaminya. Menemui Bu Irma secara langsung saja sudah merupakan kebaikan yang sangat sportif yang ditunjukkan Pak Rey.
“Atas nama suami saya...” Air mata Bu Irma tiba-tiba terjatuh dengan sendirinya. Padahal tadinya ia sudah menguatkan tekad supaya tidak menangis. Bagaimana pun suaminya sudah meninggal dan ia istri sah, para selingkuhan sudah pasti akan menyingkir sendiri.
Bu Irma hanya butuh pelampiasan amarahnya saja. Namun setelah mengetahui yang sebenarnya, bahkan untuk marah pun ia sudah tidak sanggup.
"Ya Tuhan... Bahkan maaf saja tidak akan cukup," Bu Irma mulai terisak. Sedu sedan dan terdengar miris.
Lalu ponsel di atas meja itu berdering lagi, kini ada tiga ponsel yang berdering yang berbeda dari dering pertama.
"Mohon maaf Pak, saya mau-" kalimat Bu Irma terhenti karena ia menghapus air matanya. Lalu dengan cepat menyambar ponsel pertama.
"Halo?" sapanya dingin. Semua yang ada di sana hanya diam memperhatikan Bu Irma.
"Saya istrinya ...,"
"Saya istri sahnya, saya akan kirimkan foto buku nikah kami ...,"
"Kalau kamu merasa paling menyedihkan dengan janji-janji Yanto, menurut kamu keadaan saya bagaimana?"
"Kamu merasa berhak akan harta, bagaimana kalau hutang Yanto kita bagi dua juga? Kan kita sama-sama istrinya,"
"Kamu tanya keadaan anak kamu bagaimana? Lalu anak saya bagaimana?"
Dan semua kalimat sejenis seperti itu diulang-ulang diucapkan Bu Irma dengan sabar, tanpa ekspresi. Karena ia tahu, saat ia menangis atau dilanda emosi, bayi yang sekarang berada dalam dekapannya akan menangis juga.
Lalu beberapa saat kemudian, Bu Irma meletakkan ponsel terakhir ke atas meja dengan asal-asalan, ia lemparkan begitu saja. "Mudah-mudahan itu yang terakhir. Belum ditambah dengan banyaknya wanita di kantor ini yang juga tidur dengannya,"
Pak Yanto perawakannya memang tidak terlalu tampan, seperti bapak-bapak pada umumnya. Kalau dibandingkan dengan Pak Rey atau Pak Jared jelas kalah jauh. Namun tubuhnya atletis dan tinggi. Juga yang paling berbisa adalah cara bicaranya. Ia pandai bersilat lidah, merayu, dan masuk ke berbagai kalangan. Dari mulai dangdutan sampai sabyan, dia kuasai semua. Itu sebabnya ia ditunjuk menjadi marketing.
"Sekarang saya harus cari cara untuk melunasi sisa hutang dan menghidupi anak-anak kami," gumam Bu Irma.
"Bu, mohon maaf. Kalau masalah hutang pribadi, saya akan bantu melunasi. Namun tidak termasuk yang ia konsumsi untuk istri yang lain ya bu," sahut Pak Rey. Secara tak langsung ia merasa bersalah, walaupun itu memang bukan salahnya.
"Iya Pak, terimakasih banyak," jawab Bu Irma sambil menunduk. Pikirannya berada di tempat lain. Sekuat tenaga ia tahan air matanya, karena tak ada waktu untuk menangis.
"Juga saya akan bantu untuk biaya sekolah anak-anak ibu sampai lulus SMA," tambah Pak Rey.
__ADS_1
"Jangan Pak, jangan terlalu banyak. Seakan bapak yang salah nanti, padahal jelas suami saya yang brengsek," Bu Irma kembali menunduk. "Astaga... Bodohnya kamu Yantoooo," erangnya.
"Kalau bisa..." gumam Bu Irma kemudian saat sudah bisa kembali menguasai dirinya, "Kalau bisa saya boleh dibantu untuk lowongan pekerjaan saja Pak, tapi saya hanya tamatan SMA. Di rumah masih ada dua anak saya yang baru tamat SD dan SMP,"
"Kalau tidak salah, Pak Trevor butuh tenaga untuk Offiice Girl di gedungnya bu," kata Rahwana cepat. Mengingat Bu Irma hanya tamatan SMA ya pekerjaan itu yang sesuai untuknya. Namun sebenarnya Rahwana sedikit berbohong, kakak tirinya itu malah sudah kepenuhan pegawai untuk mengurusi gedungnya.
Namun Bu Irma juga tidak akan ia tugaskan di gedung ini. Karena selain banyaknya kenangan akan suaminya, selingkuhan yang bertebaran disekitarnya, juga karena gedung ini berbahaya.
Pak Rey dan Pak Jared mengangguk. "Kami akan lakukan yang terbaik untuk ibu dan anak-anak. Outsourcing rekanan kami berkantor di gedung Garnet Grup, saya akan tinggalkan pesan untuk mereka. Ini nomor saya kalau ibu butuh sesuatu," Pak Rey memberikan kartu namanya ke Bu Irma.
Untuk saat ini, selesai satu masalah.
*
*
Malam itu Rahwana tiba di rumah.
Ia menghela napas saat menutup pintu kamarnya dan melepaskan satu demi satu pakaiannya.
Rasanya sumpek. Baik kondisi sekitarnya maupun isi kepalanya.
Setiap hari ada saja masalah, ada saja skandal, ada saja rahasia kelam terkuak di kantor.
Namun, besok Rahwana bisa sedikit bernapas saat memulai perjalanan ke villa Eyang Gandhes. Entahlah apa lagi yang akan ia temui saat tiba di villa.
Malam ini...
"Hey khodam," gumamnya, memanggil para khodamnya. "Aku mau membuka segel di kamar. Jadi aku butuh bantuan kalian untuk memagari selama urusanku dengan Fransita selesai. Saatnya untuk menunjukkan kegunaan kalian," kata pemuda itu.
Terdengar geraman di telinganya, seakan marah dan mengaum kencang tanda protes.
Tapi Rahwana tidak hiraukan.
*
*
“Fransisca,” gumam Rahwana sambil duduk di pinggir ranjang. “Aku membuka pagar gaib kamarku, silahkan kalau mau-”
Namun kalimat Rahwana terhenti.
Ia mendapati kalau seseorang, atau sesuatu, menyentuh pundaknya. Wangi rempah khas jejamuan yang sering dibuat Eyang Gandhes langsung memenuhi atmosfer kamar itu.
Rahwana tersenyum.
Saat ini, ia merasa begitu lega.
__ADS_1
Orang yang paling ia nanti-nantikan bersedia datang, setelah perjumpaan terakhir mereka yang kurang begitu baik.
“Hai,” sapa Rahwana.
“Hai,” balas suara itu. Terdengar lembut dan bening, nyaman terdengar di telinga Rahwana.
Pemuda itu meraih jemari lembut Fransisca yang berada di bahunya lalu mencium punggung tangannya.
Terdengar gumaman senang Fransisca saat Rahwana melakukan hal itu.
Rahwana merasakan wujud itu perlahan semakin nyata, sentuhannya semakin solid. Pemuda itu merasakan seorang wanita memeluknya dari arah belakang.
Ia merasakan tangan itu menelusuri perutnya, lalu naik ke dadanya, membelainya perlahan.
Tidak,
Kali ini belum saatnya untuk menceritakan semua. Hal itu akan merusak moment kebersamaan mereka.
Dan Rahwana tidak ingin itu terjadi.
Kalau wanita yang memeluknya ini ingin bercerita, ia akan bilang sendiri.
“Maaf,” gumam Fransisca.
“Untuk apa?” tanya Rahwana.
“Karena membuatmu terkejut dengan kenyataan yang terjadi,”
Padahal kenyataan itu bukan salah siapa-siapa.
“Aku juga minta maaf,” kata Rahwana kemudian.
“Untuk?”
“Karena aku melupakanmu, sangat lama,” Rahwana perlahan berbalik, “Padahal kamu sudah berbuat banyak untukku,”
"Hm," terdengar gumam Fransisca. Rahwana menarik kedua tangan Fransisca agar lebih erat memeluknya
“Percayalah, aku malah tidak ingin kamu ingat sama sekali,” kata wanita itu.
Rahwana melepaskan pelukan Fransisca dan menoleh ke belakang untuk melihat wanita itu dengan lebih jelas.
Mata sendu yang selalu ada di wajah Fransisca.
“Hanya Kamu yang memelukku dan menghiburku saat aku sedih, jadi pengorbananku tidak seberapa dibanding rasa yang sudah kamu berikan kepadaku,” Fransisca duduk di atas ranjang, dengan gaun seksi berwarna putih. Ia sangat cantik, namun raut wajahnya penuh kesedihan. Senyumnya memang mengembang tapi mengandung kepahitan.
Rahwana tertegun.
__ADS_1
Gaun yang dikenakan Fransisca itu... ia rasanya mengenalnya.
Itu dress yang sama yang Fransisca kenakan di hari terakhirnya sebelum kehilangan kedua tangan dan kakinya.