Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan Rahwana 58 : Extra 3


__ADS_3

Mari kita alur mundur sebentar, ke masa saat Rahwana berusia 22 tahun, sebelum ia dan SIta menikah.


Rahwana Bataragunadi, turun dari mobilnya yang baru saja ia parkir tepat di depan pintu masuk Gedung PT. Garnet Land, Tbk. Hari ini tepat sebulan dari kejadian nahas itu.


Ia menyandang ranselnya, mengenakan kemeja putih yang digulung sampai siku, dan dasi merah, celana bahan dan name tag yang bertuliskan jabatannya : Presiden Direktur.


Pak Rey sudah menunggu kedatangan Rahwana di depan tangga dengan rokok di tangannya. Ia menyeringai melihat Bossnya itu.


"Tahu nggak Pak," begitu sapanya pertama kali.


"Apa?" Tanya Rahwana sambil menghentikan langkahnya. Sementara ia melihat banyak orang berkerumun di sekitarnya, memperhatikannya. Beberapa wartawan di depan gerbang, dihadang sekurity.


"Gedung kita dijuliki Gedung Penyembah Iblis,"


"Bilang, ini Gedungnya Rahwana, bukan Lucifer," desis Rahwana.


"Lagian Eyang Gandhes disuruh tinggal di basement, dia kan-"


"Jang! Ayo sarapan dulu lah, saya sudah rebusin ubi ini!" Aki Tirem dari kejauhan dengan pakaian khas tukang jualan sate melintasi Lobby.


"Dia bagi-bagi ubi dari pagi ke semua karyawan. Lumayan kenyang," kata Pak Rey.


"Notaris dan investor?" Rahwana menaiki tangga lobby.


"Sudah stand by,"


"Ai dimana?"


"Makan ubi di ruang meeting,"


"Dari Beaufort?"


"Pak Leonard Zhang sudah datang,"


"Oke," Rahwana melambaikan tangan menyapa Pak Firman Setengah yang duduk di salah satu sofa di Lobby. Sepertinya dia kekenyangan ubi.


Saat Rahwana memasuki gedung, semua orang standby dan menunduk menghormat. "Bro," dia menyapa Junet yang ada di barisan depan.


"Hei, bro..." tiba-tiba Junet sesenggukan.


Terdengar Pak Rey menghela napas. Junet banyak kehilangan teman-temannya dari kalangan sekurity dan OB yang terjebak di lantai 15. Dia masih bisa kerja di sini saja menurut Pak Rey sudah hebat.Karena sejak kejadian itu banyak sekali karyawan yang resign karena trauma.


Rahwana menghampiri Junet dan memeluknya. "Bro, sori gara-gara gue-"


"Bukan lo wan, Sumpah gue nggak berpikiran itu semua karena lo," potong Junet sambil menangis, "Emang dari awal Mbak Nisa tuh udah rada-rada sifatnya!" Isak Junet.


Lalu mereka berdua menoleh ke arah salah satu pilar.Nama-nama korban dari tragedi lantai 15 terpampang dengan tinta emas di pilar raksasa itu. "Lo yakin masih mau kerja di sini, Bro? Semua personel udah gue mutasi ke Garnet Property, loh," kata Rahwana.


Segera setelah kejadian itu, Rahwana dan Trevor memang bertukar personel agar kejadian pasca trauma tidak membayangi para karyawan."Gue masih mau di sini, jangan kuatir. Lagian di sini tinggal Aki Tirem dan Eyang lo ya katanya? Di Basement itu? Gue yakin aman sekarang. Tapi kenangan itu nggak bisa gue buang begitu aja," kata Junet.


"Thank you bro, makasih udah mau tetep dampingin gue," sekali lagi Rahwana memeluk Junet.


Lalu ia beralih ke Pak Rey. "Pak Rey mau dipeluk juga?"


"Pake belai-belai sayang nggak?"


"Kilik-kilik dikit,"


"Ah situ tau aja kelemahan saya,"


Lalu mereka berdua terkekeh dan berjalan menuju lift. Dalam hati Pak Rey, dia berpikir, ternyata Bossnya ini bisa bercanda juga. Secara selama ini tampangnya suram terus.


Para karyawan menunduk menghormat saat Rahwana lewat. Wartawan mengambil fotonya. Semua berkumpul menyambutnya. Rahwana sampai mengernyit karena serangan ponsel yang merekamnya maju dengan serentak, untung saja agen mereka sigap menghalau.


Agen?


Hehe... iya, GSA ada di sana.


“Ssst! Kan saya bilang tadi mundur, wawancara dilakukan setelah meeting,” Kata Rumi dengan seragam GSA versi santai. Hanya dengan kemeja putih dan rompi anti peluru. Dia bahkan pakai dasi di balik rompinya. Di belakang punggungnya tersandang senjata laras panjang.


“Loh? Bapak ini bukannya Presdir di LSJ ya?” tanya salah satu wartawan.


Semua diam.

__ADS_1


“Loh iya benar, ini Pak Rumi Rutherford! Gila ternyata ganteng banget kalo diliat dari dekat!”


“Pak bagaimana dengan gosip bapak dekat dengan anak Dimas Tanurahardja? Nayaka?”


“Katanya ketahuan ciuman di cafe ya Pak? Ada loh ini candidnya!”


“Pak, pake skinker apa kok bisa kulitnya putih mulus nggak ada pori-pori gitu?!”


“Terus gimana hubungan Pak Rumi sama Mia Bagaswirya?!”


“Pak Rama Bagaswirya tahu tidak kalau dulu bapak pernah suka sama Bu Mia?”


“Serius Om pernah ada kejadian begitu? Gimana tuh ceritanya?!” Seru Rahwana langsung nimbrung.


“Nayaka itu bukannya deket sama Ai ya? Kok bisa sama Pak Rumi?” timpal Pak Rey.


“Itu kecelakaan, njir...” gumam Rumi sambil melambai ke arah agennya yang lain karena dia sendiri minta diamankan.


“Kecelakaan katanya?!” Bisik Pak Rey ke Rahwana dengan julid.


“Mana mungkin kecelakaan sampe cium-ciuman?!” begitu asumsi Rahwana.


“Gimana sih Wakom?! Mau ngamananin malah diamanin!” seru Moses misuh-misuh sambil datang dan menggiring mundur wartawan.


“Ini kejadian tak terduga,” desis Rumi.


“Eh? Ini Pak Moses Goette ya?” tanya salah satu wartawan.


“Pak ternyata anggota GSA juga?!”


“Pak gimana kemarin Sultan Andara jadi pesen Tesla di Pak Moses buat THR Lebaran?”


“Bapak katanya diundang ke Podcastnya Om Deddy Buldozer tapi menolak?”


“Kalo berita tentang anak bapak menandatangai surat perjanjian tidak boleh pacaran sampai tahun 2030 bagaimana Pak?”


“Itu cuma konten woooy!” seru Moses, “Anak gue pacarnya banyak soalnya cakep, udah lo mundur dulu ah yang penting. Sama itu cariin gue cara biar bisa ketemu langsung sama Rose Blekpink! Anak gue ngefans!”


Keadaan malah riweh dengan orang-orang yang mengutarakan seribu pertanyaan berbeda untuk masing-masing anggota GSA yang ternyata semuanya tokoh terkenal.


Sampai...


“Mundur semua,”


Dan semua langsung mundur serentak.


Ares Manfred alias Pak Arman datang dengan wajah sinisnya dan berjalan santai melewati semuanya, “Jangan sampai lewat garis merah atau saya perkarakan stasiun TV kamu,” ancamnya ke salah satu wartawan. Pelan tapi tegas.


Semua dengan diam langsung mundur teratur.


“Oooh gitu cara ngamaninnya, pake NGANCAM,” desis Heksa sambil berbisik julid ke Tresna.


“Kita kita yang pake ngancem yang ada malah digodain, lo liat wartawannya generasi GenZ semua,” gumam Tresna ke Heksa.


“Iya, yang kalo diculik, pas penculiknya cakep malah kesenengan bukannya takut,”


“Ayo pada mundur,” Akhirnya Rumi maju lagi sambil menangkan wartawan, “Jangan berisik ya, nanti setelah meeting Rahwana akan menemui kalian, silahkan foto sepuasnya, tanya sepuasnya, mau itu hobi, makanan favorit, tipe tante kesukaan, suka nonton b0kep apa enggak, terserah...”


“Aku nggak bakalan jawab,” gerutu Rahwana sambil berlalu ke arah lift mengikuti Pak Arman.


**


Presiden Direktur termuda dalam sejarah Garnet Grup, hari ini resmi berkantor di Lantai 15.


Divisi Public Relation sudah membeberkan cerita sebenarnya ke publik pada konferensi pers tempo hari. Tentunya dengan banyak sensor dan sortir adegan agar tidak terjadi kepanikan. Rahwana sebenarnya tidak ingin sosoknya mencuat ke pemberitaan. Tapi bagaimana pun kejadian saat itu termasuk tragedi yang mencolok seantero negeri, bahkan membuat heboh dunia, jadi tidak mungkin ia bersembunyi dari kejaran media.


"Siapa saja yang tahu kalau Eyang Gandhes ada di basement?" tanya Rahwana ke Pak Rey.


"Hem, saya juga tidak bisa jawab. Siapa saja yang dia kehendaki untuk tahu. Kalau yang tidak diizinkan, mereka tidak akan menemukan pintu menuju basement,"


"Tapi kamu bisa?"


"Hehe, anak saya sebulan ini saya titipkan di sana, istri saya lagi dinas di luar kota. Dari pada saya titipkan ke mertua. Dan lagi kalau di tempat Eyang Gandhes, entah bagaimana anak saya membaik,"

__ADS_1


"Hati-hati," gumam Rahwana.


"Hati-hati kenapa Pak?"


"Seminggu lagi di sana anak kamu bisa gemuk kayak kue bantal,"


"Kalo gitu boleh lah pas jam maksi saya ke sana numpang makan," Pak Rey menyeringai.


“Di sini Bu Gandhes, di sana Bu Gandhes, bosen saya denger nama itu,”terdengar gerutuan Pak Arman di pojok lift. “Sekalian aja si Ai saya suruh tinggal di basement biar lurus dikit,”


“Kenapa dia kok dateng-dateng ngomel?” Bisik Pak Rey ke Rahwana.


“Iya soalnya kemarin waktu latihan, si Ai ternyata nggak bisa tendangan berputar, jadi dia kesel ngajarinnya,”


“Nggak usah gosipin saya!” tegur Pak Arman.


Lagi-lagi semua diam.


Dan lift pun terbuka di lantai 15. Rahwana menyeringai karena sekarang, jalan lift itu normal dan tidak lagi tersendat di lantai 7.


Mungkin semuanya sudah membaik.


Eh, ternyata belum, karena saat lift terbuka, dan di depan mereka ada beberapa investor yang sudah menunggu di depan lift.


Di sana berdiri Leonard Zhang, seorang petinggi dari Beaufort Company. Ia didampingi oleh anaknya, seorang model terkenal yang suka wira-wiiri di atas catwalk, dan belakangan ia masuk ke barisan Angel. Sebutan bagi para model Victoria Secret.


Namanya Maria Magdalena Zhang, biasa dipanggil Maria Zhang.


Sosok cewek itu memang sangat cantik, perpaduan China-Lebanon sehingga menghasilkan paras yang sangat unik.


Dan di belakang Maria, ada sesosok Entitas. Penuh dendam melihat ke arah Maria.


Rahwana bertatapan mata dengan sosok itu, saat menatapnya entitas itu malah seakan sedih meminta pertolongan. Dan sosok itu pun menghilang.


**


“Si biang kerok,” gerutu Pak Arman saat bertemu Pak Leonard Zhang. Mulai sekarang kita sebut saja dengan Pak Leon. Di masa lalu, mereka berada dalam satu wali pengasuhan, karena keduanya yatim piatu. Pak Arman lebih tua beberapa tahun dengan Pak Leon, tapi mereka tidak akrab... malah bisa dibilang mereka itu rival.


Bahkan saat pak Arman masih bertugas di Polri, dia sempat menangkap Pak Leon yang saat itu pekerjaannya gembong Narkoba. Nggak tanggung-tanggung, dia bahkan menangkap Pak Leon sebanyak 3kali. Padahal mereka saudara satu panti. Entah itu iseng, profesionalitas, atau malah keinginan terpendam Pak Arman.


Motto Pak Arman di masa lalu, Penderitaan Leon adalah Kebahagianku.


Pas sudah tua malah sama-sama jadi pejabat. Sering ketemu pula.


“Eh, Pak Arman, apa kabar? Makin keriput aja tuh kantong mata, hahahaha!” ejek Pak Leon.


“Lo sendiri pake apa biar kenceng begitu? Put4w lo suntikin ke jidat ya?”


“Kenapa? Mau coba juga? Lo kan level suntikan minyak goreng,”


“Gue bukan cireng\, Anj*** dasar piip poop piip poop!”


“Makin dekat sama tanah bukannya tobat malah makin ngeselin\, Mony*** piip poop Bab* piiiiiiiip sampe panjang\,”


“Ai bakalan jadi Bodyguard Maria ya mulai besok?” tanya Rahwana menengahi.


“Tidak bisa!”


“Nggak Boleh!”


“Ini mau dibatalin kontraknya!”


“Gue nggak mau Maria deket-deket banci!”


“Kalo yang begini baru kompak yaaaa,” sindir Rahwana.


Meeting saat itu berjalan lancar. Penandatanganan semua Akta Perusahaan, Ketetapan RUPS dan hal-hal yang berkaitan dengan jabatan Rahwana pun resmi di lakukan, di usianya yang menjelang 22 tahun. Usia yang sebenarnya masih sangat muda untuk mengatur sebuah kerajaan bisnis besar, namun semua tahu kalau Rahwana memiliki kemampuan yang tidak biasa, dan berada di tengah orang-orang yang begitu peduli padanya.


Cerita ini masih bersambung,


Silahkan lanjutkan ke Novel  : “Catatan Ai : Bodyguard Kemayu”.


Launching Bulan November 2022 Minggu 2.

__ADS_1


__ADS_2