
Pulang dari pemakaman Keluarga Ahmad, seorang laki-laki staff Garnet Land berbakat, penyuka kopi, dan sikapnya selalu panik, Rahwana memejamkan mata mengenang kepergian Ahmad. Setiap memori, setiap kejadian, setiap interaksi.
Tadi saat ia bertemu dengan keluarga Ahmad, tanpa membeberkan identitas aslinya, semua menyambutnya dengan ramah. Ibu Ahmad selalu menangis saat berbicara, sebaliknya ayah Ahmad selalu bersemangat saat menceritakan anak bungsunya itu.
Sebutlah Rahwana pengecut, ia tidak berani memakai identitas aslinya karena merasa semua ‘kepergian’ teman-temannya adalah salahnya. Ia menganggap keberadaannya membawa kesialan bagi banyak orang. Termasuk yang tidak tahu apa-apa seperti Ahmad, Rosana, dan banyak orang lain yang meninggal.
“Ini yang terakhir,” gumam Pak Rey. Ia selalu menemani Rahwana kemana pun. “Pak Iwan masih ingin bekerja dengan sosok yang seperti ini?”
“Bulan depan saya akan masuk kantor dengan sebenarnya saya,” Rahwana menunduk sambil mengusap wajahnya. Ini rumah ke 17, rumah terakhir yang ia kunjungi dalam 3 hari ini untuk menyampaikan kedukaannya dan memberikan santunan dari perusahaan. “Pak Rey sendiri bagaimana? Masih ingin bekerja di gedung itu?”
“Pak,” Pak Rey menyetir dengan senyum di wajahnya, “Bagaimana saya bisa meninggalkan semua kenangan di sana? Semua kejadian yang kita alami belakangan, membuat hubungan saya dengan gedung itu menjadi sangat erat,”
Rahwana mengangguk lemah. “Mungkin sekarang, mereka tidak akan datang lagi. Semuanya sudah bebas kecuali Pak Firman setengah yang memang penunggu tanah,”
“Ah ya, saya sudah bertemu beliau,” Pak Rey terkekeh. “Dia tidak berwujud Pak Firman. Dia besar sampai menyentuh plafond, bertaring seperti cakil dan matanya merah. Bulu memenuhi tubuhnya.”
“Iya, begitulah wujud aslinya,”
“Dia sih hanya menggeram-geram ke saya. Kalau wujudnya seperti itu dia tidak bisa bicara. Tapi tiba-tiba dia tertawa dan menepuk bahu saya. Seakan kami sudah kenal lama,” Kata Pak Rey.
“Dia memang tergolong ramah dan sebenarnya bukan jenis pengganggu, tapi tetap saja kita tidak boleh terlalu sering berinteraksi dengan mereka, Pak,” kata Rahwana.
“Ya, saya setuju,” Pak Rey menganggukkan kepalanya. “Ngomong-ngomong, Pemugaran untuk lantai 7 akan dimulai besok ya Pak, juga lantai 15 dan basement 3,”
“Ya, terima kasih,”
“Bapak yakin akan memindahkan seluruh ruangan Presiden Direktur di lantai 15?!”
“Iya, lantai itu milik saya dan jajaran staff saya,”
“Staff manusia atau staff yang lain,”
“Nanti juga kamu tahu, hehe,”
“Ya terserah bapak saja, sih.” Pak Rey menggaruk belakang kepalanya dengan kebingungan. “Lalu lantai 7 untuk ruangan Marketing. Ruangan saya,”
“Iya, silahkan mau lay out seperti apa, semahal apa, buatlah diri Pak Rey nyaman,”
“Itu sogokan ya?”
“Betul, hehehehe,”
“Senyaman-nyamannya furniture tetap saja saya terbayang kalau lantai itu adalah cikal bakal semua ini terjadi,”
“Ya jangan dibayangkan,”
“Bicara memang mudah,”
Lalu mereka berdua kembali tersenyum masam.
“Dan... yang terakhir ini, Pak Iwan tidak ingin berubah pikiran?”
“Nggak,”
“Ya ampun Pak,”
“Saya bilang saya tidak ingin berubah pikiran,”
“Astaga, memang gila bener gue punya Presdir,”
Yang dimaksud Pak Rey adalah Basement 3 dan 4. Di sanalah perjumpaan pertama kali ia dan Sisca. Juga perpisahan terakhir ia dengan wanita itu.
Berbagai mayat yang bergelimpangan di sana, tertanam di dindingnya, tertanam di plafonnya, boleh jadi tempat itu adalah kuburan massal.
Dan tempat yang sesuai untuk...
“Waduh Leeeeeeee, apik tenan iki loooh!” seru Eyang Gandhes mengagumi patung kristal seorang dewi dengan wajah mirip Sisca yang berada di tengah ruangan.
“Akhirnya bisa punya rumah di tengah Jakarta kan Eyang,”
“Lah iyo, Hehe,” Eyang Gandhes mengecup pipi Rahwana di kiri dan kanan, “Makasih ya,” sahutnya dengan wajah sumringah.
“Kamar saya di mana?” Aki Tirem datang sambil membawa-bawa koper besar. Diikuti Kinasih yang kesenangan terbang kekiri dan kanan sambil tertawa-tawa. Aura tempat itu begitu mengerikan walaupun sekarang ruangannya sudah dibuat sangat mewah dengan berbagai marmer dan kristal.
“Di Barat Ki, kamar yang ada perpustakaannya,”
__ADS_1
“Udah ada sofa buat rebahannya kan yak?”
“Lengkap dengan meja kerja dan seperangkat komputer buat main The Sims,”
“Hanupis lah Wan, hehehehe,” dengan bersemangat ia berjalan menuju ke bagian barat.
“Eyang yakin mau tinggal di sini? Ini basement loh eyang, tidak ada ruangan terbuka,”
“Yakin, dong. Kan kamu sudah buatkan taman dengan air terjun buatan di sana,”
“Itu kan tempatnya Kinasih,”
“Ya sama aja itu ‘taman dalam’ judulnya,” Eyang terkikik sambil melambai, “Lagian di sini deket banget sama Mall yang ada outlet Michael Kors, aku tinggal jalan kaki aja ke sana, wis lah adem aku neng kene,”
“Iya di Mall itu juga banyak temennya Kinasih,”
“Ya itu kan Mall tua, biar mereka arisan sosialita di sana,”
Dan mereka berdua menyeringai.
Juga, sekarang masalah...
“Kalau Eyang Jenggot jadi Bapak, jadi aku panggilnya bukan Eyang Jenggot lagi ya?” Sita melirik Rahwana sambil memperhatikan Pak Sebastian dan Bu Milady berdansa di ruang tengah.
“Ya manggilnya Papa,”
“Kok Om Trevor manggilnya ‘Ayah’,”
“Terserah kamu mau manggil Papa atau Ayah,”
“Hem, nggak ada yang sesuai Om,”
“Memang menurut kamu yang sesuai tuh apa?”
“Bossman,”
“Jangan, selain udah ada novel femes dengan judul itu, yang sebenarnya Boss di rumah ini tuh Mama,”
“Om Trevor kenapa nggak manggil Mama dengan sebutan ‘Mama’?”
“Oh, soalnya Om Trevor lebih tua dari Mama,”
“Ke Rusia nyamperin istri dan anak-anaknya,”
“Namanya siapa?”
“Mbak Mitha,”
“Kenapa dia di Rusia?”
“Iya Mbak Mitha mengurusi perusahaan Eyang Jenggot yang ada di sana,”
“Jadi di sini semua bisnismen ya, Om?”
“Hm,” Rahwana menoleh menatap Sita. Anak itu dengan kepangan rapi hasil karya Bu Milady, dan headset warna warni terkalung di lehernya, “Panggil aku Iwan aja, nggak usah pake Om, Sekarang kita bersaudara,”
“Oke,”
Lalu mereka terdiam sambil menatap jam dinding.
Beberapa detik lagi pukul 8 malam.
5,
4,
3,
2,
“Yuk!!” seru Rahwana sambil menuju kamarnya.
“Mabaaar, mabaaaar!” seru Sita senang sambil berjalan melompat-lompat.
Main Bareng (Mabar) game online kali ini dihadiri oleh banyak orang yang sudah janjian sepulang jam kerja. Karena Bu Milady kali ini absen, jadi kehadirannya digantikan oleh Sita.
__ADS_1
Tampaknya kehidupan mereka bisa saja berjalan lancar.
Namun,
Tidak dengan...
BRAKK!!
“Anjay!” keluh Ai saat sebuah novel tebal menghantam dahinya.
“Kalau mau masuk kamar ketok dulu, Bodyguard Ngondek!” Seru Maria Zhang Histeris.
“Woy, Mamag! You tereak jejeritan sapa yang bisa kalem masuk kamar, hah?! Lagian status eike nih bodigat you, udah pasti straight to the set!!”
(Maksudnya ‘staight to the set’ adalah langsung masuk ke TKP nggak pake mikir lagi. Mamag adalah singkatan dari Maria Magdalena).
“Dia tadi di situ!”
“Di situ mana?”
“Di situ, di pojok situ,” Maria menunjuk ke sudut ruangan dekat meja belajarnya.
“Apa maksud dia bisa di situ? Selama ini dia nggak bisa ke unit ini,”
“Katanya dia marah karena ada kamu di dekat aku. Dia mengira kamu pacarku,”
“Widih, ada setan ganteng ngiri sama akooooh! Wahahahaha!”
“Kampret! Kenapa kamu jadi bangga?! Ganteng-ganteng setan, sapa yang nggak takut hah!?”
“Heh denger ye,” Ai mendekat ke arah Maria sambil memicingkan mata, “Eike masih curiga sama you. Biasanya kalo ada orang diikutin astral itu pernah bikin dosa di masa lalu. Inget nggak you pernah zalim ama orang, gitu?”
“Ya banyak yang aku bully, aku kan model. Persaingan menuju top of the top itu susah! Pasti aku harus mengeluarkan lidah tajam dan berbagai siasat biar bisa femes!”
“Yang tampangnya kayak gitu you nggak inget? Dia ganteng loh, masa you lupa?”
“Nggak inget Aiiiiii, kalo ketemu pas masih hidup sih mungkin sikap aku bakal berubah woooi. Dia menghantui pake wujud berdarah-darah ya mana mungkin aku nggak histeris?”
“Hem,” Ai berkacak pinggang sambil menatap sekelilingnya. “You pindah deh dari sini, coba aja siapa tahu nggak diikutin lagi,”
“Eh? Kemana?”
“Ngomong-ngomong, you bisa masak nggak?” Ai menyeringai.
“Nggak,”
“Sip, biar diajarin sama Mamah Eike, dahlah peking yiuk kita!”
*
*
Dear Pembaca setia Novel Akoooooh, hehehe.
Novel Catatan Rahwana cukup sampai di sini.
Dengan berbagai pertimbangan, Diriku, Author Elegan Sejagad NT, akan membuat novel perjalanan Iwan, AI, dan kawan-kawannya dalam beberapa buku.
Namun jangan kuatir, Iwan masih akan muncul di novel selanjutnya, perjalanan cintanya dengan ‘ehem’ belum selesai. Namun karena banyak scene yang akan menampilkan Ai dan Maria, jadi rasanya judul novel ini sudah tidak sesuai.
Berikutnya, saksikan kisah mereka di 2 seri yang lain,
Catatan Ai : Bodyguard Ngondek
Dan,
Catatan Rumi : Komandan Jutek
Genrenya masih horor tapi kebanyakan komedinya (you know me, penakut tapi nekat), dan doakan aku cepet femes. Hahahahaha.
Sambil menunggu, silahkan ke ‘Novel Nggak Jelas’ Author yang lain yang berjudul :
Papa, Aku Cinta Istrimu,
tentu saja hanya di Noveltoon.
__ADS_1
Muah-Muah 3000x.
Love u all sekebon kopi