Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan 46: Perang (3 of 3)


__ADS_3


“Ledakan di Gedung Garnet Land! Korban diperkirakan lebih dari 10 orang,”


Pak Arman dengan geram melipat kedua tangan di depan dadanya. Di saat-saat begini ingin sekali dia langsung turun tangan, namun yuridiksinya adalah Pemadam Kebakaran dan Tim Investigasi Kepolisian mengamankan area terlebih dahulu. Mereka adalah organisasi Swasta jadi tidak bisa bergerak sebebas itu.


Rumi Rutherford memainkan pisau lipatnya dengan jemarinya, sambil duduk di atas meja senjata. Ia gusar. Saat-saat seperti ini adalah hal yang paling dibencinya, hanya menunggu tanpa bisa bergerak, padahal mereka bisa membereskan semuanya dalam sekejab.


Semua juga bereaksi sepertinya,


Semua yang ada ruangan itu juga menunggu dengan cemas.


Dari sejak tadi malam mereka sudah bersiaga, padahal tidak ada satu pun pergerakan mencurigakan. Mereka juga tidak tahu kapan musuh akan bergerak, berapa orang yang akan mengacau, apa saja yang akan mereka lakukan, dan siapa targetnya.


Namun sebagai seorang profesional yang kerap menemui hal-hal yang di luar nalar manusia, perkataan sesosok Astral pun akan mereka pertimbangkan selama informasinya mengancam seseorang di antara mereka.


Kini, para anggota Garnet Security Agency, biasa disingkat GSA, menatap beberapa layar besar di hadapan mereka, memantau keadaan.


“Posisi ledakan berada di lantai 15, Ai jangan naik ke atas dulu,” sahut Pak Arman dari alat penghubung di telinganya. “Orang-orang yang berada di lantai atasnya dapat dievakuasi dari jembatan penghubung di balkon masing-masing,”


Semua Gedung milik Garnet Grup memang memiliki rancangan optimal yang dipersiapkan untuk menghadapi situasi Force Majore seperti bencana alam dan kebakaran. Jadi ada beberapa pintu keluar yang aman dalam setiap lantai.


Untuk Garnet Land Sendiri, rancangan gedungnya tampak mentereng tidak hanya lurus ke atas saja, tapi bentuknya seperti bintang dengan tujuh sisi seakan menopang gedung utama di tengahnya.


Sisi-sisi gedung berupa jembatan penghubung, dengan lift, toilet, dan tangga darurat sendiri yang biasanya dialihfungsikan menjadi aula pertemuan untuk acara wedding dan seminar, atau working space dan toko-toko kecil.


Pak Sebastian Bataragunadi sebagai penggagas memang sengaja berjaga-jaga dari awal pembangunan gedung, karena bagian basement adalah tempat bersejarah, sudah pasti hal-hal buruk terjadi di sana. Ia tidak ingin mengambil resiko seandainya bangunan utama kenapa-napa dan gedung itu menjadi terbengkalai. Harus ada sisi penopang agar tidak menjadi efek domino domino.


Tapi tetap saja, saat Pak Trevor bilang kalau rancangan ayahnya jelek, bentuk bintang akan dianggap kita gedung yang menganut aliran sesat, atau berbagai anggapan miring netizen, Pak Sebastian kerap merahasiakannya.


Jadi tidak ada yang tahu untuk apa tujuh sisi itu dibangun. Kecuali Pak Sebastian sendiri.


Tapi, setelah ada kejadian ini, semua penghuni gedung itu jadi merasa berterima kasih kepada Owner Garnet Grup.


Orang-orang dari lantai 16 ke atas yang juga terkena efek ledakan, tidak harus turun menyelamatkan diri lewat lantai 15. Mereka bisa memutar ke arah balkon di lantai masing-masing lalu menghindari lantai 15 untuk lewat sisi gedung yang lain.


Tapi... tidak untuk setengah dari lantai 15. Sisi Barat, tempat divisi Marketing dan Legal sudah hangus semua dan penuh api.


Sementara sisi Timur tempat divisi HRD dan Operasional masih dapat melarikan diri lewat balkon mereka walaupun dengan keadaan luka-luka.


“Tapi, Pah, banyak teman-teman kita yang ada di lantai 15 terjebak tidak bisa keluar!”


“Kalau kamu ke atas, korbannya bisa bertambah, AI. Kamu tahu sendiri hal itu!” sahut Pak Arman.


Dari drone yang banyak diterbangkan GSA, tampak Ai hanya bisa menatap kamera dengan wajah sedih dan marah. Pertama kalinya anaknya itu berwajah seperti itu. Mengiris hati seorang Ares Manfred.


Namun apa boleh buat.


“Sayangku!” Sri Ratu Darmaya langsung memeluk Ai dengan posesif. Cowok itu sambil mendengus ‘Ugh!” saking kerasnya tubrukan si Siluman Legendaris.


Lalu wanita itu mencium bibir AI dengan eratnya.


“Aku luka-lukaaaaa, uhuk!” keluh Damaya.


“Nggak usah manja...” AI menoyor dahi Damaya, “Eike tahu you bisa ganti kulit! Diemin sebentar juga baekan!”


“Iiih kok kamu gituuu,” keluh Sri Ratu.


Tapi...


“Apa tuh cium-ciuman,” gerutu Pak Arman.

__ADS_1


“Woy! Ai pacaran sama Anaconda!!” seru Tresna.


“Ah itu sih alamat tiap malem disuguhin belly dance!” seru Heksa.


“Anjrit pesonanya AI ngalahin Laki Durjana! Hahahahahaah!!” seru Moses, “Maenannya Ratu Jin! Ciwi SCBD udah kaga lepel hahahaha!!”


“Hoi,” gumam Pak Arman. Semua langsung diam. Tegang. “Siapa Laki Durjana?”


Hening...


“Segera lakukan persiapan, sudah ada izin dari Kapolri untuk investigasi digantikan oleh GSA,” kata Rumi sambil turun dari meja.


“Yess!!” seru semuanya lega.


“Om Arman di sini saja dulu, pengamatan sama Om Umar,” kata Rumi setelahnya.


“Heh? Kenapa kamu jadi merintah saya?” sahut Pak Arman sewot.


“Iya, kan Om pasti harus rancang rundown nikahan untuk jadi mertuanya Medusa,” kekeh Rumi sambil berlalu.


“HUAHAHAHAHAHAHAHA!!” seru semua.


Dengan kesal Pak Arman melempar kursi bakso ke arah anggota yang langsung lari terbirit-birit.


*


*


“Baper Sergap On Posititon, standby,” desis Umar sambil memeriksa pergerakan drone dan mencari kemungkinan sosok Nisa atau ada anggota preman lain yang terlibat.


Karena tidak mungkin ledakan sebesar itu akan terjadi kalau Nisa hanya seorang diri.


Dan motif kali ini adalah dendam, itu dia tujuan Rumi meminta Om Arman tetap di kantor GSA.


“Counting,” desis Umar.


“Baper 1 mengarah ke atas lewat gedung timur ada peralatan mencurigakan di area tangga darurat lantai 7, barbuk diamankan,” desis Rumi.


“Peralatan mencurigakan semacam apa?”


“Ada bobba, nasi padang, tolak angin, kopi liong...”


“Itu bukan alat mencurigakan, Rumi,”


“Ya alat rakitan B0m lah Ooooom, masa percaya aja sih saya bilang ada nasi padang di tangga darurat?!” desis Rumi kesal.


“Wakom lagi kurang tidur semaleman diikutin kunti, jadi agak sensi,” gumam Moses sambil mencubit pipi Rumi.


“Minum Kiranti, sapa tahu kamu PMS,” kata Om ARman.


“Om Arman duluan yang minum,”


“Hayo lo Pak, ditantang!!” seru Moses


“Efeknya apa sih? Lebih melambai nggak?” desis Pak ARman.


“Ya nggak lah, bencong!” sahut Rumi maskin sewot.


“Hoi, kalo kesel gara-gara keduluan Ai punya pacar, nggak usah ngambek ke saya dong,” sahut Pak Arman.


“Ohiya, Maaf Om, Khilaf...” desis Rumi kembali kalem.

__ADS_1


“Makanya cari calon, sana. Bisa-bisa jadi jomblo abadi,” Moses memeriksa jalur di depannya dan mengamati kemungkinan ada deteksi merah sebagai penanda panas tubuh manusia.


“Gue nih jomblo berkualitas, single bukan karena nggak laku,” gumam Rumi.


“Hush!” Moses melambaikan tangan supaya Rumi diam, “Naik!”


“Lah, gue wakomnya kenapa Om Sultono yang kasih arahan...” gerutu Rumi.


“Baper 2 masuk koridor jembatan area gedung timur untuk menuju lantai 9. Eh!”


“Eh? Eh apa?”


“Gila! Ada yang jual BLACKPINK - 1st VINYL LP [THE ALBUM] Limited Edition!”


“Baper 2 fokus!”


“Tapi penjaga tokonya nggak ada Pak!”


“Moses!” seru Pak Arman tak sabar.


“Amankan dulu, nanti gue balik lagi ke sini. Baik-baik kamu di situ, album sayangku, Mas Moses nyergap dulu,”


“Juragan Showroom mah udah jadi sultan, bisa aja kalo ke Korsel nyogok penjaga ketemu Blackpink, ini malah kesetanan,” sahut Rumi sambil melewati Moses mengarah maju ke depan.


“Itu limited Edition, Wakom! Mereka udah kaga produksi! Lo mau ketemu Lisanya juga dia nyengir doang bilang ‘wah udah habis Maaas’,”


“Itu Lisa Black Pink apa Lisa Blegug,” sahut Rumi sambil mengokang senjatanya dan mengarahkan ke depan karena melihat pergerakan misterius di balik asap.


“Errrgh, udahlah biarin aja Baper 1 dan 2 mau apa kek, mau nyebur akuarium kek, mau kayang kek. Nyerah saya! Baper 3 Position,” sahut Pak Arman.


“Bwapher 3 maum wawah we... krrsk krrsk!”


“Hah? Baper 3 position?! 30 detik kamu nggak jawab kita gempur ke lokasi,”


“Glek! Seret Pak. Baper 3 dan 4 berjalan beriringan, bergandengan tangan dengan hati senang gembira menuju ke arah lantai 12B lewat gedung timur,”


“Sempet-sempetnya lo ambil Roti Boy woy!” Tresna mengeplak kepala Heksa.


“Gue belom makan sejak turun dari jet!” sahut Heksa.


“Jangan dihabisin, bagi...” Tresna merebut plastik roti di tangan Heksa.


“Sejak Pak Kardi pensiun, nggak ada jatah gorengan di kantor. Mas Umar rajin puasa, sih,” keluh Heksa.


“Kamu tuh ke Kantor GSA setahun sekali, ngapain juga kita sediain gorengan? Emang di singapur nggak ada?!” sahut Pak Arman


“Di Singapur, gorengannya minyaknya bening. Yang bikin enak kan tuh minyak jelantah item-item,”


“Tapi nanti kayak Pak Kardi, kolesterol terus jadi botak dy,”


“Pak Kardi kan mau diangkat jadi Dewan Kota loh,”


“Heh? Umurnya kan udah mau 70 masa mau diangkat?”


“Jadi penasihat katanya,”


“Nggak bisa dong kecuali dia nyogok orang dalem,”


“Kenapa pada gosiiiiipp? Pak Kardi mau jalan koprol juga nggak ada hubungannya sama kaliaaaaan,” Pak Arman sewot lagi.


“Siap, Pak!” seru Heksa dan Tresna. “Udara mulai panas, kami mendekati lantai 14,”

__ADS_1


“Kami mendengar banyak teriakan,”


“Lakukan evakuasi kalau memungkinkan, kami panggil backup,” desis Pak Arman.


__ADS_2