Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan 25 : Aku Ingin Bertemu


__ADS_3

"Fran-"


"Ssshhh," Fransita menempelkan telunjuknya di bibir, memberi isyarat ke Rahwana agar tidak berisik. "Kamu panggil saja ambulance, dia dalam keadaan lemas namun sepertinya masih tertolong,"


"Ai telpon ambulance,"


"Oke Mas," Ai menekan tombol 118 sambil mengernyit menatap Fransita. Ia sepertinya pernah bertemu dengan wanita itu, tapi entah di mana.


Wajah secantik Fransita sangat unik, jadi seharusnya mudah diingat.


"Apa yang terjadi?" Rahwana mendekati tubuh Pak Firman yang terbujur di sofa ruangannya.


"Serangan jantung," kata Fransita pendek. "Sepertinya memang sudah bawaan,"


"Aku tadi bertemu dengan Pak Firman yang lain,"


"Aku juga lihat makanya aku langsung ke sini, untung belum terlambat. Ada obat di tasnya, aku berikan kepadanya tepat saat dia sekarat,"


"Astaga... Kami terhambat di..."


"Ya aku tahu, mereka mencoba menghentikan kamu menolongnya, mereka sedang mencari tumbal lain selain Pak Yanto,"


"Kamu tadi juga naik lift?"


"Aku langsung naik ke sini, tapi aku masuk dari luar gedung. Kalau dari dalam pasti terhambat di lantai 7," Fransita menatap Rahwana. "Seperti kamu tadi. Untung kamu membawanya," ia menunjuk Ai yang kini sibuk dengan ponselnya.


Lalu mereka sama-sama terdiam.


"Kamu..."


"Mas, Ambulance dalam perjalanan," kata Ai memotong kalimat Rahwana.


"Loh?! Pak Firman?!" Seru Mbak Jihan saat masuk ke dalam ruangan atasannya.


"Ssst! Jangan terlalu berisik, tadi dia kena serangan jantung," kata Rahwana.


Namun saat ia menoleh, Fransita sudah tak ada.


"Kemana si Indische tadi?!" tanya Ai.


Rahwana hanya menghela napas berat.


*


*


Setelah mengantarkan Pak Firman ke dalam ambulance, Rahwana duduk di sofa lobby sambil termenung.


Ia memikirkan Fransisca, atau Fransita, ataukah Tasmirah? Wanita itu ketiganya.


Membingungkan.


Yang mana pun, entah bagaimana, Rahwana lega mengetahui kalau wanita itu memang benar selalu ada bersamanya.


Dari awal bertemu wanita itu, memang ada suatu ikatan batin yang Rahwana rasakan. Dan setelah mendengar cerita dari semuanya mengenai kenyataan yang terjadi, Rahwana malah semakin ingin bertemu sosok itu lagi.


Pemuda itu juga tidak menampik, bahwa memang ada suatu kenyataan yang selama hidup tidak pernah terpikir dari dirinya.


Bahwa Rahwana merindukannya.


Merindukan sesuatu yang bukan manusia.

__ADS_1


“Sit...” kata-kata itu terhenti di ujung lidah Rahwana. Ia pun menggeleng dan meralat. “Sisca,” Rahwana bergumam memanggil nama wanita itu. Nama yang sebenanrya. Bukan nama yang awalnya dikenalkan padanya. “Aku ingin bertemu. Nanti malam di kamarku,”


Keadaan sekitar pemuda itu ramai. Orang-orang berlalu lalang, beberapa bergerombol dan tertawa dengan riuh.


“Aku tahu kamu dengar, mungkin saja kamu berada di sampingku saat ini. Aku ingin minta maaf, dan mungkin saja nanti malam adalah malam terakhir aku mengingat kamu dalam sosok sempurna.” Rahwana menundukkan kepalanya. “Karena besok aku akan ke villa Eyang Gandhes untuk menemui kamu dalam kondisi realita,”


Lalu pemuda itu terdiam.


Dan menarik napas panjang, sambil berharap nanti malam Fransisca akan benar-benar bersedia hadir.


Setelah itu terdengar suara lembut di dekat telinganya. “Baiklah,” suara wanita yang ia kenal.


Dan pemuda itu pun tersenyum tipis.


Sesaat setelahnya ponsel Rahwana berdering. Ada nama Nayaka di layar ponselnya.


"Ya Nay?"


"Ai di mana Mas?"


Rahwana menyeringai, Nggak pakai salam nggak pakai intro, Nayaka langsung menanyakan kondisi Ai.


Dipikir enak juga ya Ai ada yang perhatian sepenuh hati padanya. "Tadi balik lagi ke dalam sih, kita belum sempat makan siang karena mengurusi pekerjaan, lalu dia katanya mau cari makan di pantry,"


"Aku udah nungguin di parkiran,"


"Ini baru jam 15 Nay, belum jam pulang,"


"Aku udah kangen sama Ai, hapenya seperti biasa kalau dariku tak diangkat,"


Rahwana menghela napas, lalu terkekeh geli, "Masuk aja ke sini, kamu tungguin di sana sampai lebaran juga dia nggak bakal nyamperin,"


"Oke, aku masuk ke gedung. Mas Iwan di mana?"


*


*


Rahwana menatap Nayaka dari atas ke bawah dan menilai penampilan sepupunya itu. Lalu ia pun mengangguk salut.


Seperti biasa, penampilan Nayaka cantik dan segar. Juga terlihat mahal, namun tidak mencolok.


"Aku dataaaang," ia berniat memeluk Rahwana tapi cowok itu langsung menjauh dan memberi kode kalau posisinya saat ini tidak memungkinkan.


Nayaka cekikikan dan langsung menjauh.


Sementara operator yang ada di sana langsung curi-curi pandang ke arah Rahwana dan Nayaka dengan curiga.


"Udah lama nggak ketemu, Mas Iwan nggak cocok pake seragam itu,"


"Kata Om Arman sebaliknya,"


"Aku nggak boleh peluk?"


"Banyak yang kenal kamu sebagai Bataragunadi,"


"Aku kan Tanurahardja,"


"Sama aja, Nay,"


"Padahal aku juga kangen Mas Iwan," sungut Nayaka. "Mas Iwan lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Diajakin keluar nggak pernah mau. Kalau Mas Iwan nginep di rumah Ai, Mas Iwan di kamar terus,"

__ADS_1


"Maklumin ya Nay,"


"Iya aku maklum kok, tapi juga sedih,"


"Sebentar lagi kita bisa main bareng,"


"Beneran?!"


Rahwana menekan tombol lift untuk naik ke atas, sambil berharap mudah-mudahan saat ini tanpa ada gangguan.


"Nay, kamu masih ngejar-ngejar Ai?" tanya Rahwana saat mereka di dalam lift.


Nayaka mengangguk, "Aku suka Ai,"


"Kenapa?"


"Dia unik. Berbeda dari cowok lain,"


"Dia sepertinya selalu menghindar dari kamu,"


"Hum..." gumam Nayaka sambil menyandarkan tubuhnya di dinding lift. "Aku terus nempel dan sebisa mungkin mengganggu Ai, soalnya aku nggak mau Ai 'belok',"


"Tidak pernah berpikiran kalau dia terganggu dengan tingkah kamu?"


"Ya sering. Tapi Aku sayang Ai, jadi tidak akan memberinya kesempatan untuk kenal cewek lain, atau cowok lain,"


"Kalau begitu, kamu bisa coba bikin dia cemburu. Kalau reaksinya biasa saja, tampaknya kamu harus mundur teratur dan membiarkannya bebas,"


"Kenapa Mas?"


"Karena kami, kaum laki-laki, tidak suka diatur, tapi kami suka mengatur,"


"Lalu,  bagaimana cara agar bisa bikin Ai Cemburu?"


"Hem," Rahwana menyambar ponselnya dan searching mengenai laki-laki tertampan yang pernah exist di dunia jagat maya, "Ah, kamu kayaknya pernah berniat kuliah di Inggris, kan?"


"Iya, aku batalin karena jauh banget, aku bisa was-was ninggalin Ai terus-terusan,"


"Nanti bilang aja mau kuliah di Inggris dan kamu suka William Franklin Miller," Rahwana menunjukan layar ponselnya. Judulnya "Anak tertampan di dunia : William Franklin Miller,"


Nayaka mengangguk-angguk melihat foto model yang dimaksud itu.


"Kalau reaksi Ai panik, kamu bisa terus maju bucinan. Kalau dia reaksinya biasa aja, lebih baik kamu hentikan,"


"Hem, oke..." Terdapat keengganan dalam nada suara Nayaka.


"Katanya kamu sering ngirimin dia foto syur?"


"Hah? Foto syur apa Mas?!"


"Aku juga mau tahu,"


"Nggak syur kok! Foto aku pake bikini waktu liburan sama ayah di Hawai doang, itu juga aku pake cardigan tipis Mas," Nayaka memperlihatkan foto yang dikirim ke Ai, ke Rahwana.


"Sama foto ini," lanjut Nayaka sambil memperlihatkan ia di latar belakang menara Eifel dengan gaun mini. Memang memperlihatkan belahan dada, tapi kalau dibilang syur ya tergantung masing-masing individu. Karena buat Rahwana itu foto biasa.


"Rada-rada nih si Ai," gerutu Rahwana.


"Dia bilang ini syur?! Wah tu cowok jatohin harga diriku sebagai sosialita elegan. Ini setelan Dior seharga 60juta loh! Classy magnifique!" Nay dengan sombong mengibaskan rambut panjangnya ke belakang. "Dari sananya aku udah anggun, jadi pakai baju terbuka sedikit dibilang se-ksi,"


"Cuma Ai yang berpikiran begitu," gumam Rahwana.

__ADS_1


"Masa?!"


Rahwana menyeringai sambil membuka pintu ruangan Divisi Marketing.


__ADS_2