Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan 15 : Gedung dan Rumah


__ADS_3

"Mah," gumam Rahwana memberi salam ke arah sang Mama yang sedang makan siang bersama Pak Trevor si kakak tiri.


Ibu Milady, Sang Mama, membulatkan matanya menatap Rahwana. Dari atas kepala, turun ke celana, naik lagi ke atas kepala. "Kamu... Habis ngapain? Memang kegiatan BEM di kampus pakai seragam kayak OB begini?" tampak wajah cantik wanita itu kebingungan.


Terdengar kekehan tertahan dari Pak Trevor dan Pak Arman yang langsung menyingkir menjauhi duo ibu-anak itu.


"Rahwana Bataragunadi, kamu habis ngapain, mama tanya loh ini," kalau Si Mama mulai marah, ia memanggil Rahwana dengan nama lengkap.


"Em... Habis..." Rahwana ragu menjelaskan.


Bu Milady menatap anaknya itu dengan alis terangkat meminta penjelasan.


"Aku mau jelasin tapi Mama jangan marah," gumam Rahwana.


"Gimana caranya biar Mama nggak marah?!" tantang Bu Milady


"Kalo marah ke Papa aja," sungut Rahwana.


"Beuh!! Manjaaa... Ngalihin ke Papahnya," goda Pak Trevor.


"Pak Trevor juga dulu manja kok sama Pak Sebas-"


"Udah diem aja bro," gumam Pak Trevor sambil merangkul bahu Pak Arman menyuruhnya diam dan menariknya supaya berdiri di sudut. "Rey, sini kamu,"


"Heh? Saya Pak?" Pak Rey menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kamu kesini, kamu mau ikutan kena amukan Kanjeng Ratu Angkaramurka?!" desis Pak Trevor sambil melambaikan tangan ke Pak Rey.


Pak Rey dengan ragu bergabung melipir ke sudut ruangan.


"Jadi gini Mah, sebenarnya selama ini aku cuti kuliah..." dan berceritalah Rahwana ke ibunya, dari mulai memasuki gedung di awal cerita, bertemu Fransita, bertemu kawanan pocong, sampai digebukin Khodam.


Bu Milady selama 1 jam mendengarkan anaknya, dan hanya bisa terpaku ternganga. Sesekali mulutnya terbuka namun menutup kembali, tidak jadi memotong kalimat anaknya, agar Rahwana bisa leluasa bercerita.


Setelah 1 jam yang mencengangkan,


"Jadi... Ya sekarang tujuanku ke sini untuk berdiskusi masalah email yang-"


"Sebentar," Bu Milady mengarahkan telunjuknya ke muka Rahwana.


Rahwana langsung dilanda firasat buruk, buru-buru ia menambahkan kalimat,


"Mah, jangan telpon Pa-"


"Sebastian," terlambat, Bu Milady sudah menelpon si Papa. Kalau pembaca ingat, Sebastian adalah nama Papanya Rahwana.

__ADS_1


Dengan suara rendah dan sedikit menggeram, Bu Milady berujar, "Kalau sampai ada satu goresan saja di wajah Iwan, jenggot kamu kupangkas habis, pas kamu tidur. Mengerti?!" Bu Milady berbicara melalui telepon dengan mulut terlipat menahan amarahnya yang hampir meledak.


Terdengar protes dari seberang telepon dengan kalimat yang tak terlalu jelas.


Dan ternyata protes itu membuat Bu Milady mengamuk tak terkendali.


Maka wanita itu pun berteriak,


"Tidak semua orang terobsesi dengan cuan seperti kamu, Sebastian! Kamu sudah level akut sampai mengorbankan Iwan untuk bersih-bersih kasus korupsi!! Memangnya saat seumuran Iwan kamu sudah jadi Presdir?!??"


Semua langsung menutup telinganya karena suaranya menggelegar.


"Pak Trevor, Bu Milady tak apa kah?" bisik Pak Rey.


"Nggak papa, udah biasa," Pak Trevor cengengesan.


"Tapi dia membentak Pak Sebastian,"


"Iya, itu hak prerogatifnya di rumah. Hanya Baginda Ratu yang bisa bentak-bentak,"


"Luar biasa, haha, baru kali ini saya melihat fenomena ini," Pak Rey tampak berbinar.


Kemudian setelah puas mengomeli suaminya, Bu Milady menutup teleponnya dan mengaduk teh di depannya dengan anggun dan tenang. Namun dari tatapan matanya ke cangkir, semua tahu wanita itu sedang gusar.


Sang Mama sedang berpikir, bagaimana sebaiknya.


"Duduk yuk, pegel nih," keluh Pak Arman.


"Sana duduk, kalo berani," gumam Pak Trevor.


"Kalau duduk di depan Mbak Milady nggak berani," Lalu Pak Arman duduk di lantai cafe, di sebelah kaki Pak Trevor. "Udah umur segini, ternyata kelamaan berdiri bisa bikin pinggang nyeri ya," ia memijat-mijat pinggangnya. Padahal dia Komandan perusahaan bodyguard, merangkap assassin pula.


"Kamu kebanyakan gorengan, kali, kolesterol" Pak Trevor akhirnya juga duduk di lantai, di samping Pak Arman, "Kalau saya area leher," ia ikut-ikutan curhat. "Kebanyakan gula nih saya,"


"Saya kepala," kata Pak Rey.


"Kalau kamu sih banyak pikiran," kata Pak Trevor dan Pak Arman berbarengan. Membuat Pak Rey langsung nyinyir.


*


*


“Jadi, apa yang membuat kamu bingung sekarang?” akhirnya Bu Milady bertanya, dengan nada suara selembut angin, yang malah membuat bulu kuduk Rahwana meremang. Mamanya masih marah, namun wanita itu sedang berusaha mempertahankan akal sehatnya. “Katakan saja, siapa tahu Mama bisa membantu,”


Ingin sekali Rahwana bilang supaya ia tak usah dapat warisan gedung dan saham sial itu, namun pada akhirnya hal itu pasti malah akan membuat Papanya meradang. Jelas itu hal yang Rahwana tidak inginkan, membuat keduanya marah. Lagipula, mengambil jalan pintas seperti itu tidak akan membuatnya dewasa, ia akan selalu berada di balik bayang-bayang Mamanya dengan julukan ‘Manja’.

__ADS_1


“Jadi, Mah,” Rahwana mengawali laporan investigasinya.


Bukan hanya Bu Milady yang mendengarkan ceritanya. Kini Pak Arman, Pak Trevor dan Pak Rey juga ikut mendengarkan dan bergabung dengan mereka di meja.


“Aku rasa kita perlu tanya ke Pak Rey, ada apa sebenarnya di perumahan baru yang dijadikan proyek andalan Garnet land. Karena inti dari semua ini adalah di proyek itu,”


Pak Rey menghela napas, "Mengenai temuan yang baru-baru ini saya bongkar, saya mendapat laporan yang timpang, jadi peruntukan di perumahan itu tidak dihuni oleh nama sesuai sertifikat dan malah dihuni oleh saudara dari karyawan-karyawan kita sendiri,"


"Jadi dengan kata lain ada jual beli diluar sepengetahuan perusahaan?"


"Ya Pak, seharusnya rumah itu adalah hibah owner, jadi jatuhnya gratis, tapi malah terjadi jual beli, uang masuk ke kantong karyawan,"


"Siapa?"


"Masalahnya si tersangka kemarin meninggal habis saya omeli,"


"Walah, Reeey Rey," gumam Pak Trevor prihatin.


“Bukan itu saja, Pak. Gedung itu juga bentuk korupsi besar-besaran,” tambah Pak Rey.


“Gedung?”


“Gedung Garnet Land,”


“Kami yang membangun konstruksinya, melalui vendor rekanan kami, Perusahaan Mechanical Electrikal yang sudah kami analisa kinerjanya. Paling tidak dia sudah berpengalaman membangun beberapa proyek dan dengan rata-rata Cashflow yang stabil selama 3 tahun berturut-turut, patokan kami dibawah 3%. Hal itu untuk menjaga bahwa proyeknya tidak sepenuhnya didanai oleh Bank dan ia tidak memiliki beban bunga bank yang kelewat tinggi. Sarat bangkrut di tengah proyek soalnya,” kata Pak Trevor.


“Oh begitu ya kalau memilih vendor yang menang tender?” Rahwana sekaligus belajar.


“Ya ada beberapa analisa lagi, dan pemenang tender untuk Gedung Garnet Land memiliki record yang lumayan bagus. Mereka membangun perumahan proyek pemerintah untuk tragedi Tsunami 2004 dan sampai sekarang area itu ramai dihuni, tidak seperti perumahan lain dengan proyek sama yang malah terbengkalai karena fasilitas umum tidak memadai. Mereka juga membangun beberapa gedung perkantoran di Surabaya dan Semarang jadi sepertinya laporannya lumayan valid,” kata Pak Trevor lagi.


“Namun... memang ada keanehan yang terjadi, laporan dari rekanan kami itu,” Pak Trevor mencondongkan tubuhnya.


 “Gedung itu dibangun 7 lantai, dengan rangka sempurna, namun bangunan seadanya. Seperti baru di cor dan ditinggalkan begitu saja. Cor-coran baru dan mulus, namun tampak agak tebal, bukan standar gedung 7 lantai. Herannya, hasil analisa menunjukan beberapa tiang pancang terbengkalai yang dipersiapkan untuk pondasi setinggi 30 lantai, juga area basement 4 lantai ke bawah yang tertata sempurna namun berlebihan untuk 7 lantai,” kata Pak Trevor.


“Keanehan lain, ini saya bacakan analisa off record dari vendor,” sambung pak Arman sambil membaca email dari ponselnya, “terdengar remeh dan tidak logis jadi mereka tidak sampaikan ke manajemen. Namun karena Iwan terserang panic attack, jadi saya bacakan di sini,” Pak Arman berdehem.


“Pemilik sebenarnya yang bernama Kuntoro membangun berulang-ulang gedung itu. Bongkar pasang bongkar pasang berulang-ulang kali, area yang seharusnya sudah benar dia rombak lagi lalu dia bangun   kembali, terjadi puluhan kali sampai belasan tim konstruksi berganti-ganti,”


“Makanya gedung itu tampak bersih dan terawat namun tanpa ruangan yang sempurna. Juga ada area khusus yang tampaknya merupakan rumah tinggal Owner di lantai atas lantai 7. dengan perabotan dan kamar-kamar, yang tampaknya ditinggali,”


“Apa mungkin ia ingin membangun yang setipe dengan Antilia?” tanya Pak Trevor.


(Antilia adalah rumah 27 lantai yang dimiliki oleh orang terkaya di India, Mukesh Ambani. Dengan luas sekitar 3,7 hektar di Altamount Road, Mumbai, yang termasuk sebagai wilayah termahal di dunia, Antilia dikabarkan menghabiskan dana pembangunan sebesar Rp 14,3 triliun-Rp 28,7 triliun).


“Mungkin saja. Kuntoro termasuk anak juragan Tebu, terkenal di area Jawa Tengah. Kekayaannya dilansir puluhan miliar, dan sepeninggal bapaknya, seluruh warisan masuk ke kantong Kuntoro,”

__ADS_1


"Jadi sebenarnya gedung itu adalah sebuah rumah?!" tanya Rahwana.


"Ya, dan pembangunan berulang kali yang memakan banyak dana itu, seringkali dibangun asal-asalan dengan material yang jelek. Karena dana masuk ke rekening mandor,"


__ADS_2