Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan 35 : Rasa Bersalah


__ADS_3

Kamar itu luas, setiap sudutnya terdapat rangkaian bunga besar. Wallpaper yang manis, lampu kristal mewah, perabotan klasik yang indah, dan sinar matahari masuk lewat jendela besar di beberapa sisi.


Seorang gadis kecil duduk di salah satu sofa, ia sedang asik denganlaptopnya. Di kepalanya terdapat sebuah headset besar dan ia tampak serius menatap layar.


Tapi sepertinya ia menyadari kehadiran Rahwana. Gadis itu berpaling dari layar laptop dan langsung menatap ke arah pemuda itu.


Rahwana mengangkat alisnya saat mereka saling bertatapan dan saat menyadari wajah gadis kecil itu dia pun terperangah.


Begitu miripnya gadis itu dengan Fransisca. Mereka bagaikan pinang dibelah dua. Namun yang ini dalam versi anak kecil. Mata gadis itu memiliki dua warna berbeda. Yang satu gelap, yang satunya hijau terang.


“Om siapa?” tanya gadis itu lugas.


“Eh?” Rahwana malah kebingungan ditanya begitu, dia juga tak tahu apa sebenarnya hubungan yang disematkan dirinya terhadap Fransisca.


Gadis itu mengernyit saat lebih seksama memperhatikan Rahwana, “Om Iwan bukan ya?” tembaknya.


“Kamu tahu saya?”


“Mama sering menyebut nama Om kalau sedang tak sadar,” Gadis kecil itu menutup laptopnya, lalu turun dari sofa sambil terkekeh. “Maaaah, pacarnya dateng niiiih!” serunya.


Rahwana hanya mencibir saat gadis itu berteriak begitu.


“Aku keluar deh, Itu Mama lagi di jemur sama Eyang di dekat jendela, hehehehe,” dan gadis itu pun menenteng laptopnya sambil berjalan keluar dari kamar.


Merusak suasana romantis saja. Umpat Rahwana dalam hati.


Rahwana berjalan menuju arah yang ditunjukkan gadis kecil itu, sebuah sudut dengan tirai hijau yang indah. Di depannya ada ranjang khas rumah sakit dan infus yang tergantung di tiang.


Lalu ia pun menghela napas untuk menenangkan dirinya.


Fransisca sudah mengalami banyak hal menyakitkan, banyak hal menyedihkan. Pertemuan mereka kali ini tidaklah harus diwarnai dengan suasana haru biru.


*


*


“Papa ngapain disindang?!” seru Ai sambil menghentikan langkahnya tiba-tiba sampai Eyang juga berhenti karena hidungnya membentur punggung Ai.


Ares Manfred, alias Pak Arman, duduk di sofa dengan santai sambil minum teh. Di sebelahnya ada Pak Sebastian yang sedang sibuk dengan ponselnya memeriksa pergerakan saham.


“Papa suka nggak ngerti kamu ngomong apa,” gerutu Pak Arman sambil mengernyit.


“Daritadi mereka dimari nih?!” Ai menoleh ke Eyang yang masih memegangi hidungnya yang nyeri.


“Eh, yaaa dari subuh mereka di sini,” sahut Eyang.


“Kok eyang nggak ngomoooong,” Ai berbisik sambil menggemeretakkan giginya.


“Kata mereka jangan ngomong-ngomooooong,” desis Eyang juga sambil setengah menggerutu.


“Eyang ini pangkatnya lebih tinggi dari mereka kok mau aja disuruh-suruuuuh?!”


“Hehe, Eyang takut sama Pak Sebastian,” bisik Eyang Gandhes sambil cekikikan.


“Hih! Apalagi Eike, rasanya udah pingin kabur!”

__ADS_1


“Ai,” sahut Pak Arman.


“Heh?! I-i-iya Pah?!” Ai langsung menegakkan tubuhnya.


“Duduk sini,” Pak Arman menunjuk sofa di sebelahnya dengan ujung Glock Meyer-nya.


Ai melipir perlahan sambil waspada ke ujung laras pendek Papanya dan duduk di sebelah Pak Arman sambil lirik-lirik ke Eyang Gandhes.


Eyang hanya ikut duduk sambil sengaja mengalihkan pandangan ke tempat lain.


“Pah?” dengan tergagap Ai senyum-senyum masam, “Itu pistol buat apa?”


“Jaga-jaga aja,” gumam Papanya sambil tersenyum sinis.


“Udah daritadi Arman pingin nembak kamu, tapi untung saja ada saya,” gumam Pak Sebastian.


“Gaya kamu kelewat kemayu, kamu kayaknya nggak pantes punya t***t, tembak aja gimana?”


“Etdah...” desis Ai sampai keluar keringat dingin.


“Saya nggak ngerti, deh,” kata Pak Sebastian sambil meletakkan ponselnya ke atas meja dan menurunkan sedikit kacamatanya sambil menatap Ai, “Kenapa Rahwana suka sekali lewat jalur darat. Padahal lewat udara lebih cepat,”


“Dia sepertinya sekalian survey lokasi untuk buang jin,” kata Eyang


“Buat apa? Memang ada untungnya?”


“Dia hanya ingin membuat keseimbangan antar dimensi,”


“Memang ada pengaruhnya bagi kestabilan dunia?!”


“Ya makanya, hal itu bukan urusan manusia, buat apa juga dia lakukan?! Dia bukan utusan Tuhan,”


“Loh ya tanya sendiri ke anaknya, dong. Masa tanya saya,” gumam Eyang menggerutu sambil menyesap teh mawarnya.


“Punten,” Aki Tirem datang sambil membawa baki berisi snack manis.


“Nah ini loh yang saya tunggu-tunggu,” seru Pak Sebastian. Ia langsung menyambar toples nastar.


“Hati-hati, Pak-”


“Nggak usah bilang-bilang Milady!” potong Pak Sebastian. Pak Arman sampai mencibir melihat kelakuan Bossnya.


“Nastar di sini dijamin nggak bikin diabetes kok,” sahut Eyang.


“Hati-hati Pakde, nanti awet muda,” gumam Ai.


Semua diam, “Kamu bikin saya jadi eneg,” sahut pak Sebastian.


“Kalau Pak Sebastian awet muda, penerusnya keburu meninggal,” gumam Pak Arman. “Tuh ada contoh nyatanya, sampe dia belum mewariskan ilmunya ya nggak mati-mati,” katanya sambil menatap Eyang Gandhes.


Eyang hanya berdehem sambil menyesap teh mawarnya. “Kalau kamu bersedia sih-”


“Nggak, makasih!” seru semuanya.


Setelah semua keadaan terkendali,

__ADS_1


“Jadi... ada apa semua berkumpul di sini?” gumam Ai pelan.


Eyang Gandhes menghela napas, “Saya yang mengundang mereka kemari. Saya mendapat penglihatan yang buruk, berkaitan dengan kalian yang saya undang ke sini,”


Semua hanya diam mendengarkan, mereka langsung tegang.


“Jadi, tidak semua saya tahu. Ada hal-hal yang memang menunggu prasangka dari Yang Maha Kuasa, ada juga yang saya hitung dengan logika. Tapi selalu saja ada hal-hal yang diluar prediksi kita sebagai manusia,”


Pak Sebastian mengangguk membenarkan, namun beliau tidak bicara apa pun.


“Jadi, belakangan saya bermimpi ada sebuah gedung terbakar, tapi saya tidak tahu yang mana karena di penglihatan saya semua sudah hitam. Lalu... ada makhluk besar sekali setinggi gedung itu,”


“Kuntoro?”


“Bukan, bukan dia. Tinggi besar dan... berselimutkan dendam kesumat, saya juga tidak tahu persis siapa dia, tapi perasaan saya bilang kalau ada hubungannya dengan penculikan Rahwana di waktu lampau,”


Semua saling bertatapan.


“Kalian sudah selidiki semua hal yang berhubungan dengan Kuntoro?” tanya Eyang Gandhes.


Arman mengangguk.


“Kenapa ya Gopar mendirikan markas preman di gedung milik Kuntoro?” tanya Eyang lagi.


“Heh?” lagi-lagi semua tegang. Pak Arman mengernyit menatap Pak Sebastian. Pak Sebastian pun dengan waspada menatap Arman.


Sungguh sebuah pertanyaan yang tidak ada di benak mereka selama ini.


“Apakah Gopar ada hubungannya dengan Kuntoro?” tanya Eyang lagi.


“Kalau dilihat secara garis keturunan sih tidak ada hubungannya,”


“Kalau hubungan jual-beli bagaimana?”


“Tidak ada nama Kuntoro dalam setiap transaksi Gopar. Atau nama ahli warisnya, atau nama sanak saudara ipar yang lain,”


“Biasanya jaringan narkoba memiliki ratusan rekening fiktif untuk transfer,” kata Eyang Gandhes.


“Ya, kami sudah selidiki semua nama dan dugaan akun fiktifnya,”


“Lalu... tunggu, ada lagi semacam benang merah di mimpi saya, saya pikir itu berkaitan dengan hubungan keluarga. Siapa yang punya nama alias atau nama samaran di keluarga Kuntoro?”


“Di Kuntoro mungkin tidak ada, rata-rata keturunan Kuntoro malah benci bapaknya, karena pesugihan semacam itu seringkali meminta tumbal keturunanannya sendiri, dan banyak dari anak-anak maupun sanak saudara Kuntoro yang melarikan diri ke luar pulau agar tidak terkena efeknya,” kata Pak Arman.


“Ya, memang tidak masuk diakal seperti hal gaib itu sendiri, namun katanya 'mereka' tidak bisa menyebrangi lautan. Jadi korban pesugihan harus tinggal di pulau terpisah agar bisa bebas dari ancaman gaib,” kata Pak Sebastian.


“Di lautan banyak didirikan Kerajaan Besar, mereka tidak berani mengganggu pasukan dari kelompok lain,” begitu penjelasan Eyang Gandhes. “Jadi, karena kita tidak tahu ancaman apa lagi yang akan datang berkaitan dengan masa lalu Rahwana, tolong kalian semua waspada. Terutama kamu,” Eyang Gandhes menatap Ai.


“Heh? Eike? Y?” Ai kebingungan.


“Soalnya kamu yang ditugaskan mengawal pewaris tahta,” kata Eyang Gandhes.


“Lah, dibilang begitu juga selama ini yang terjadi malah sebaliknya,” gerutu Ai, “Mas Iwan nggak perlu dikawal kayaknya,”


“Dulu ada juga yang bilang begitu,” Pak Sebastian menatap pak Arman yang langsung menunduk, “Tapi Rahwana malah diculik. Sama satuannya sendiri pula,” Pak Sebastian menyindir Pak Arman terang-terangan.

__ADS_1


Hal yang membuat pak Arman sampai sekarang belum bisa pensiun, adalah rasa bersalahnya atas kejadian penculikan itu.


__ADS_2