Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan 42 : Garnet Security Agency


__ADS_3

Sambil tertegun, setengah bengong, Rumi Rutherford mendengarkan informasi dari Rahwana mengenai siapa dalang di balik semua itu. Tidak ada yang menyangka bahwa Kuntoro memiliki Istri Siri. Pun Andi, si Hacker pun mengetahui dari postingan foto pernikahan yang pernah dipasang di Facebook istri siri Kuntoro belasan tahun lalu.


Lalu, masalah Gopar, “Iya gue tau belakangan kalo organisasinya adalah perluasan dari yang India. Tapi itu juga taunya setelah lo dibebasin Wan,”


Rahwana menatap Rumi dengan prihatin.


Hal yang membuat Rumi sampai sekarang belum menikah, juga penyebab dia tidak ingin terlibat kisah cinta dengan siapa pun.


Ia pernah jatuh cinta, sering malah. Ia pria normal bagaimana pun. Sampai sekarang ia mendambakan seorang wanita yang bernama Mia Bagaswirya, namun sudah menjadi istri orang lain. Tapi sejak itu dia tidak menjalin hubungan cinta lainnya, adalah karena masa lalunya yang sangat kelam.


Rumi, si Wakil Komandan GSA, di masa kecilnya adalah anak dari keluarga yang jauh dari berkecukupan. Saat sadar, ia sudah berada jauh dari dekapan ibunya, di Kolkata, India. Ia menjadi korban Human Trafficking - Perdagangan manusia. Rumi saat itu sekitar 4 tahun, tidak tahu apa yang terjadi. Yang ia ingat hanya rasa sakit setiap hari di sekujur tubuhnya.


Beruntung, ibunya dan ayah tirinya menyelamatkannya. Dan sekarang nama di belakang Rumi adalah nama keluarga si ayah tiri. Tapi sampai usia 15 tahun rasa sakit itu selalu ia rasakan, berbagai operasi, berbagai pengobatan tradisonal, berbagai terapi, puluhan psikiater, belasan jenis obat penenang, yang sampai sekarang beberapa diantaranya masih ia konsumsi.


Semua tindakan itu tidak mampu menghapus masa lalu yang terpatri jelas di ingatannya.


Sering mimpi buruk itu datang saat ia tertidur, karena itu dia termasuk orang yang takut memejamkan mata. Karena itu, apa pun ia lakukan demi bisa melupakan bayangan kelam itu.


Ia jadi kecanduan olah tubuh, berbagai jenis bela diri ia pelajari, berbagai ilmu ia kuasai. Ia jadi bisa menciptakan prototype senjata laras panjangnya sendiri, sambil memeriksa laporan keuangan yang dibuat staff nya di LSJ Jewelry. Pak Arman sudah tidak perlu lagi capek-capek menggebuki musuh, ia tinggal berjalan santai ke targetnya, Rumi yang membereskan orang-orang yang menyerang si komandan.


Seperti saat ini, pukul 11 malam dia masih berjaga di Kantor GSA, menelusuri database untuk mencari objek pengamatan, atau sekedar membuat berbagai schedule untuk kantornya di LSJ Jewelry.


Rata-rata staff GSA memiliki pekerjaan lain, seperti Pak Arman, Papanya Ai, ia menjabat sebagai Komandan GSA sekaligus Kepala Divisi Corporate Secretary di Garnet Grup.


Ada juga staff GSA seperti Moses yang memiliki showroom mobil. Di saat pagi ia Boss yang berhubungan dengan artis dan pejabat untuk pengadaan ‘mainan mewah dari besi’, memakai suit mahal dan perhiasan mewah, diundang di banyak podcast memamerkan usahanya yang sukses. Tapi saat alarm dari GSA berdering,  dia harus siap ditembaki, guling-guling masuk jurang, sampai hampir tenggelam di rawa penuh buaya.


Ada juga Guru Madrasah seperti Ahmad Umar, di GSA pekerjaannya termasuk krusial karena ia operator. CCTV, pencarian data, dan penunjuk arah adalah pekerjaannya. Kadang kalau dibutuhkan ia turun tangan jadi sniper. Di saat pagi, kegiatannya jadi muadzin untuk sholat subuh berjamaah, berangkat ke sekolah untuk mengajar, di sela-sela pelajaran ia standby dengan laptopnya untuk mencari data GSA, lalu ke Mushola untuk lanjut mengajar mengaji, setelah itu lanjut ke kajian untuk bersilaturahmi dan menambah bekal akhirat, setelah itu naik ke atap suatu gedung, merangkai laras panjang, menajamkan penglihatan, dan DOR!, lalu turun lagi dan bergabung dengan jama'ah lain.


Juga ada Heksa dan Tresna. Dua CEO di anak perusahaan yang sekarang berbasis di Singapura. Kalau alarm GSA berbunyi, mereka tanggalkan jas mereka, berganti jadi rompi anti peluru dan senapan laras panjang, langsung naik jet pribadi ke TKP. Pokoknya pulang-pulang ke Singapura sudah penuh perban.


Begitu uniknya GSA ini, sampai Pak Arman tidak jadi pensiun, karena tidak rela jabatan kehormatannya direbut Rumi. Yah, sebenarnya juga karena rasa bersalahnya karena Rahwana diculik di bawah pengawasannya.


“Tapi gila juga, Nisa Viandra itu orang yang sehari-hari ada di deket lo, Wan,” Rumi sampai-sampai menyangka kepalanya ke tepi meja sambil memijit sebelah dahinya. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa selama ini mereka tidak melacak sampai ke sana.

__ADS_1


“Ya, kalau pernikahan siri kan memang susah dilacak, Om,” Rahwana menyeruput kopinya sambil duduk di kursi Pak Umar. Di belakang kursi ada penampakan pria tampan, pakaiannya rapi dan berbentuk siluet. Rahwana sejenak bertatapan dengannya dan mereka saling mengucapkan salam, sampai situ ia berkesimpulan kalau makhluk itu Jin Muslim.


Rumi sampai-sampai mengernyit menatap tingkah Rahwana. Tapi ia sudah biasa dan hanya bisa diam sambil merinding.


“Ya tapi tetap saja, hal itu seharusnya sudah kami telusuri,” sesal Rumi.


“Terkadang ada hal-hal yang seakan kita dibutakan, Om. Mungkin kalau kejadian itu terlacak dengan cepat, seperti yang kita tahu sistem keamanan di GSA ini sudah paling mutakhir, gue nggak bakal bisa banyak belajar dan bertemu...”


Tambatan hati...


“...ketemu banyak orang yang berkemampuan luar biasa,” Rahwana menyesap kopinya untuk menguasai diri. Kenapa di saat begini dia malah kangen sama Sisca?!


“Iya sih, bisa jadi lo diculik, lo ketemu, nopel tamat,”


“Rider kecewa sambil komen : Novel Gaje,”


Mereka menyeringai berbarengan.


“Anyway, gue bakalan meeting sesegera mungkin ya, tinggal nunggu Om Heksa dan Om Tresna jadi paling cepet nyampe subuh,” kata Rumi. “Pak Arman dan Pakde Yan lagi menuju ke sini,”


“Hah?! bentar...” Rumi melacak GPS Ai. Karena menurutnya tidak mungkin Ai teledor sama ponselnya. Ponsel adalah nyawa kedua Ai karena di sana ada aplikasi Tiktok dan Instagram. Jadi kalau ponselnya tidak diangkat atau dia tidak respon pesan singkat, itu berarti ada kejadian serius yang sedang menyita perhatian AI.


“Dia ada di sekitar pusat perbelanjaan kawasan Sudirman,”


“Heh? Jam segini masih di Mall? Memang ada yang buka?!”


“Kalau Midnight Sale sih masih ada yang buka. Tapi jarumnya menunjuk ke area hotel yang menyatu dengan Mall,”


“Ngapain dia di sana?”


Rumi mengangkat bahunya.


*

__ADS_1


*


“Iwan,” kata Pak Sebastian sambil masuk ke Markas GSA. Tidak seperti biasanya, tatapan pria itu seperti menanggung beban yang sangat berat saat melihat anaknya. Dan tidak seperti biasanya pula, Pak Sebastian langsung memeluk Rahwana dengan sangat erat.


Bagaikan tidak ingin kehilangan anaknya.


“Eh...? Papa?!” Rahwana bahkan terbelalak kaget dan canggung menanggapi Papanya.


Terdengar Pak Sebastian menarik napas panjang, “Maafkan Papa, kamu harus melalui semua ini,”


“Umm, nggak apa-apa, Pah. Mungkin memang bekal menuju suksesku harus seperti ini,” kata pemuda itu.


“Ini sudah kelewat batas,” gerutu Pak Sebastian.


“Yah, mungkin di masa depan itulah yang akan kuhadapi,” Rahwana menyeringai.


“Kami akan mengawal kamu 24 jam selama 7 hari ini,” kata Pak Arman sambil memasang headsetnya. "Masing-masing anggota akan mengambil cuti panjang dari pekerjaan mereka. Kamu harap bersabar dengan kemungkinan yang akan terjadi,”


“Anu... Punten?”


Semua menoleh ke belakang. Aki Tirem sudah berada di sana.


“Kamu ngapain di sini?” tanya Pak Sebastian langsung waspada.


“Pasukin, eh pasukan saya juga akan mengawal Rahwana selama dibutuhkan,” kata Aki Tirem. “Kemungkinan akan terjadi pergolakan besar,”


“Yang di luar itu pasukan kamu? Segerombolan wanita yang berkeliling di sini itu?!” tanya Pak Sebastian.


“Eh? Segerombolan wanita? Saya nggak lihat apa-apa Pak,” tanya Pak Arman.


“Makanya mata batin kamu dibuka!” gerutu Pak Sebastian.


Pak Arman langsung mencebik, “Batin saya bilang itu urusan Eyang Gandhes,” ia menyeringai karena enggan, “Lagi pula, dari mana kamu tahu akan terjadi perang besar?” tanyanya ke Aki Tirem.

__ADS_1


“Dari hawanya,” jawab Aki.


“Halu,” ejek Pak Arman pelan sambil mengetikkan beberapa kata sandi.


__ADS_2