
“Iwan, kalau kamu bersikeras untuk tahu, kamu harus berjanji satu hal ke Papa,” Kata Pak Sebastian. Pria itu menyatukan jemarinya dan memicingkan mata menatap lurus dan tajam ke arah anaknya yang duduk berseberangan dengannya.
Kalau secara kasat mata, pemandangan yang sulit dilupakan. Meja makan itu panjang dengan ornamen klasik yang rumit dan berbagai hidangan mewah yang dimasak si Nyonya rumah dengan telaten.
Pak Sebastian sebagai Kepala Keluarga, dengan jubah tidurnya yang dijahit khusus dan penampilan yang menunjukan kekayaannya, aristokrat dan mewah, duduk di ujung meja.
Sang Nyonya rumah duduk di sampingnya, dengan keanggunan yang memikat.
Anak sulungnya dengan suit mahal, rambut rapi dan wajah tampan duduk di samping kirinya. Lalu di ujung meja makan yang bersebrangan dengan Pak Sebastian diduduki oleh Sang Pewaris kerajaan bisnis. Yang kini penampilannya lesu, letih dan berseragam OB dengan sepatu kanvas dekil andalannya.
“Jangan dipaksa janji yang aneh-aneh,” gerutu Bu Milady.
“Iya jangan sampai dia kapok lalu warisan dilimpahkan padaku,” gumam Trevor, “Bisa-bisa aku butuh dosis obat penenang lagi,”
“Jangan-jangan itu yang bikin kamu sering cengengesan. Kamu sebenarnya keracunan obat,” gumam Bu Milady.
“Ya bisa jadi, aku kan tak tahu dosis yang dicekoki Ayah ke tubuhku berapa galon,”
“Ssst! Gosip terus, aku mau ngomong penting, ini!” sahut Pak Sebastian.
“Ya jangan serius-serius dong, lihat tuh Iwan tampangnya udah kayak orang sakaw,” kata Pak Trevor.
“Ini harus serius karena ini penting,” kata Pak Sebastian.
“Lebih penting dari harga saham?”
“Ini arahnya ke sana,”
“Ooooh, ya memang culas sih,” gumam Pak Trevor dan Bu Milady pelan, hampir tidak terdengar.
Pak Sebastian menghela napas sebelum memberitahukan hal yang ia simpan selama ini ke Iwan. Lalu menghubungi Pak Arman. “Kamu ke sini, kita mau membicarakan hal itu,”
“Heh?! Pagi-pagi begini Pak? Nasi uduk belum sempat saya makan loh ini,”
“Kenapa sih saya dikelilingi orang-orang tukang protes?!”
“Karena seringkali Bapak tidak berperikemanusiaan,” gerutu Pak Arman sambil menutup kembali kotak bekalnya yang berisi nasi uduk. “Anggap saja saya OTW,”
“Kamu minum dulu tehnya yang rileks, jangan makan dulu nanti kamu muntah,” kata Pak Sebastian ke Rahwana, “Sambil nunggu Arman datang,”
“Aku harus janji apa, Pah?”
Pak Sebastian menatap Rahwana dengan sendu, tatapannya kini berubah menjadi penuh kasih sayang, “Janji kamu tidak mundur dan menerima semuanya dengan lapang dada. Karena kamu istimewa,”
*
*
Kejadian 11 tahun yang lalu, saat usia Rahwana sekitar 10 tahun.
BRAKK!!
DOR!
DOR!
DOR!
“Forward,”
Tim Elit Garnet Security Agency dengan cepat menyebar masuk ke dalam ruangan besar tersembunyi di dalam basement gedung terbengkalai yang bangunannya setengah jadi.
Bagaikan mimpi, lembaran uang bertebaran di mana-mana, bubuk putih berserakan, orang-orang di dalamnya berlarian tak tentu arah.
“Tim Alpha cari para sandera, Tim Charlie tembaki yang melawan,” Rumi Rutherford, Wakil Komandan GSA memberikan perintah ke anak-buahnya.
__ADS_1
“Om?” Rumi memanggil Pak Arman yang dengan langkah tegas maju ke depannya. Pria itu berjalan bagaikan robot, dengan senjata di belakang punggungnya.
Pak Arman bagaikan tidak takut terkena tembakan yang ada di sekitarnya. Targetnya hanya satu.
“Hoy!! Jangan maju lo!!” seru seseorang. Beberapa berlari mendekat menyerang Pak Arman, Rumi dengan sigap bergerak melindungi komandannya.
Dalam sepersekian detik, ia melesat. Tangan kanannya menembak dagu preman 1 sampai tembus ke atas kepalanya, tangan yang lain menyikut tenggorokan preman 2 dan melumpuhkannya. Lalu ia beralih ke bagian kiri, preman 3 dihadiahi tendangan di belikat kiri dan preman 4 dengan dua tembakan di area jantung dan perut.
Empat orang dalam satu gerakan jadi korban keganasannya.
Sementara Pak Arman bagaikan tak peduli terus berjalan dengan santai mengarah ke seseorang di sudut ruangan.
“Yang itu komandannya!” terdengar teriakan entah dari mana, sepasukan preman datang dari berbagai pintu dan mencoba mengepung tim elit. Mereka tampaknya berusaha menghentikan Arman melaju lebih jauh.
Belum sempat Rumi menarik larasnya, terdengar tembakan memberondong, dan orang-orang itu sudah jatuh terkapar.
“Tim Charlie bisa ngopi duluan ya Boss?” terdengar suara dari earpiece.
“Pastikan semua sudah ditembak, lalu kalian bisa ngopi,” kata Rumi.
“Azeek,”
“Jangan lupa hitung korbannya,” kata Rumi lagi.
“Kita nggak bakalan ditangkep pulis kan ya?” tanya salah satu anggota, “Gue nembak 11 orang sampe mati, loh,”
“Gue cuma 5 tapi mayatnya jadi awut-awutan,”
“Mereka tutup mata, karena ini meringankan pekerjaan mereka,” kata Rumi menenangkan anggotanya.
Lalu pemuda itu menyusul Pak Arman yang tampaknya sedang menginterogasi seseorang.
“Di mana Tasmirah?” tanyanya langsung ke salah satu orang di sana, yang tampaknya adalah petinggi di organisasi itu. Alih-alih menjawab, orang itu menyeringai dan tertawa lebar. Giginya yang menghitam membuat Pak Arman semakin kesal.
Pak Arman melepaskan si pria bergigi hitam, lalu mencabut laras pendeknya dan dengan satu tembakan ia menanamkan timah panas ke dahi si preman.
“Kamu kurang pengalaman,” gerutu Pak Arman sambil menyingkirkan jasad tanpa nyawa itu ke samping dan memeriksa bagian bawah sebuah meja di dekat mayat. “Orang ini sejak kita masuk punya kesempatan untuk lari, tapi dia tak lakukan. Dia tetap di tempatnya seperti melindungi sesuatu, atau lebih tepatnya...”
Pak Arman menatap Rumi sambil berbinar dan menarik sebuah keset ke atas.
“...lebih tepatnya menyembunyikan sesuatu,” sambung Pak Arman.
“Wow, jalan bawah tanah di dalam bawah tanah,” gumam Rumi terpukau.
“Bilang anak buahmu, awas kalau mereka ikutan sakaw. Juga jangan ambil serupiah pun, bisa-bisa dikutuk Eyang Gandhes,”
“Kok kayak film bajak laut sih skenarionya,” sahut Rumi geli. “Mas Moses, jangan ambil dollarnya, udah di jampe-jampe setiap lembarnya,” kata pemuda itu lewat alat earpiece.
“Lah!! Amit-amit!” terdengar umpatan dari seberang ruangan yang tampaknya suara Mas Moses.
“Om perlu ditemani?!”tanya Rumi ke Pak Arman yang sudah masuk ke bawah semakin dalam.
“Kamu jaga pintu, tembak semua yang mencoba mendekat,” terdengar suara Pak Arman dari bawah tanah.
“Siap,”
*
*
Kita kembali lagi ke masa kini,
Dengan tegang, Rahwana mendengarkan semua keterangan Pak Arman. Tampak tangannya terkepal dan gemetar.
“Lalu? Apa yang kalian temukan di sana?” tanya Rahwana.
__ADS_1
“Kamu, dan beberapa orang di sekitarmu,” kata Pak Arman.
“Aku, Om? Bagaimana keadaanku?”
“Berlumuran darah dan pingsan,”
“Aku diapakan,”
“Kamu sebenarnya dalam kondisi baik. Tadinya saya pikir kamu terluka. Tapi ternyata darah di seluruh badan kamu bukanlah milik kamu,”
“Jadi?”
Pak Arman menarik napas dan menghembuskannya dengan berat. Ia menatap Pak Sebastian yang berada di sebelahnya. Pak Sebastian mengangguk mengizinkannya bercerita lebih detail.
“Iwan, tahu apa artinya Tasmirah?” tanya Pak Arman.
Terdengar tarikan napas dalam dari Bu Milady. Tampaknya ada kesedihan mendalam di diri wanita itu.
“Permata,” jawab Rahwana.
“Iya, Permata yang indah. Ada 2 Tasmirah di sana. Mereka adalah aset organisasi yang tenaganya di peras untuk cuan. Dengan kata lain, prostitusi,”
“Salah satunya Fransita?”
Pak Arman tidak menjawab, namun pandangan matanya mengisyaratkan kalau tebakan Rahwana benar.
Itu sebabnya Fransita bilang kalau ia tidak pernah mau menjadi Tasmirah, dan wanita itu tinggal di sana sejak kecil namun mereka bukan keluarganya.
“Iwan, selain meminta tebusan yang jumlahnya sangat tinggi, mereka tidak pernah berencana mengembalikan kamu. Kamu akan diperjual belikan sebagai komoditas perdagangan anak. Itu sebabnya Polisi tutup mata saat kami menggeledah tempat itu. Karena birokrasinya akan lumayan sulit. Bisa jadi ada orang penting yang juga terlibat di dalam organisasi,” kata Pak Arman.
“Tenang saja, sudah kubereskan terduganya,” kata Pak Sebastian. Tentu saja.
“Lalu apa yang terjadi dengan Fransita?”
“Dia sudah tahu semua rencana itu, dan tampaknya ia bersimpati denganmu saat kamu menjadi tawanan. Jadi saat dia ketahuan sudah memberitahukan lokasi kamu...”
Pak Arman terdiam.
“Apa?” tanya Rahwana mendesak.
“Mereka memotong tangan dan kakinya,”
Semua diam. Hening dan senyap.
Sebagian di sana mengingat kembali kejadian lampau, Rahwana sendiri langsung lemas di kursinya.
Pantas malam itu Fransita begitu senang di tepi pantai, seakan ia bebas untuk sesaat.
Dan itu sebabnya Fransita terikat pada Rahwana.
“Saya membawanya ke tempat Eyang Gandhes karena pihak rumah sakit berkata dia tidak ada harapan. Namun saya masih teringat kata-kata terakhirnya saat saya datang,”
Semua diam mendengarkan cerita Pak Arman.
“Katanya, tolong selamatkan anak saya, bagaimana pun caranya,”
“Dia...”
“Iwan,” Pak Sebastian mengambil alih pembicaraan karena ia tahu kalau Pak Arman tampaknya sudah tidak sanggup meneruskan ceritanya. “Nama wanita itu Fransisca, dia keturunan dari orang-orang Belanda yang ditahan pada masa kependudukan Jepang di Indonesia. Selama ini keberadaannya tersembunyi karena wajah mereka sangat mencolok. Mereka juga tidak bisa pulang ke negaranya sendiri karena bebagai hal dan akhirnya menetap di Indonesia. Tapi,”
Lagi-lagi Pak Sebastian menatap Rahwana dengan tajam, “Tampaknya mereka tidak beruntung tinggal di sini. Mereka menganggap hal itu karma karena saat hidupnya dulu, nenek moyang mereka menjadikan orang pribumi sebagai budak. Sialnya lagi, Fransisca diculik saat kecil. Pastinya di usia berapa kami tidak tahu, dan sejak saat itu tinggal di organisasi perdagangan narkoba dan prostitusi itu,”
“Lalu siapa Fransita?”
“Iwan, Fransisca sedang hamil saat dianiaya oleh mereka. Saat dia menolong dirimu. Dan sebelum ia memasuki astral projection, ia ingin menamai anak di kandungannya itu Sita. Kata Fransita adalah penggabungan namanya dan nama anaknya,”
__ADS_1
“Dia... tahu nama kamu Rahwana, dan sejak itu ia ingin anak di dalam kandungannya bernama Sita,” tambah Pak Arman.