Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan 10 : Mbak OB dan Fransita


__ADS_3

Dia perempuan yang hidupnya tidak pernah dianggap.


Tertatih-tatih berjuang bukan untuk dirinya.


Setiap jerih payah yang terkuras hilang bagai angin


Akhirnya batas kesabarannya usai, ia hanya meratap


Sampai akhirnya berpikir,


Buat apa benar-benar hidup kalau mati tampaknya terasa indah?


*


*


Rahwana mendengar bisikan itu.


Sayup-sayup minta tolong.


Bukan hanya satu dua bisikan. Banyak bisikan dan bersahut-sahutan.


Herannya,


Bisikan yang ia dengar ini bukan dari para penghuni astral yang sering ia temui.


Rahwana memejamkan matanya, berusaha fokus mendengarkan.


Masih terasa sayup dan terasa nyata. Bagai mengelilinginya dengan berputar mengepungnya.


“Mas?”


Rahwana membuka mata.


Di depannya sudah ada Mbak OB, dengan wujud normal. Masih dengan sapu dan troli di belakangnya.


“Kenapa? Mau bantuin saya nyapu-nyapu?” kata Rahwana , seakan tersadar kalau ia sedang membersihkan area tangga darurat dan sekarang mereka berada di lantai 5, lantai tempat Pak Yanto menampakkan diri.


“Mas ini siapa, sih?” tanya Mbak OB.


“Kan sudah saya bilang, saya owner gedung ini,”


“Lantai 1 sampai 7 bukan milik Masnya, loh,” Mbak OB mengambil sapu lain yang diletakkan Rahwana di dekat tangga, dan mulai menyapu. Ia tidak menggunakan sapunya sendiri, karena memang tidak akan ada gunanya mengadu sesuatu dengan benda astral.


Rahwana teringat kalau struktur bangunan ini awalnya memang hanya 7 lantai.


“Sejak kapan kamu bisa pegang benda-benda solid?” tanya Rahwana.


“Sejak di gedung ini,” si Mbak OB menaikkan bahunya.


“Kapan manusia kamu mati,”


“Saat gedung ini dibangun,”


“Dan caranya?”


“Lompat dari atas, dari atap,”


“Dan atapnya itu dulu, lantai 7. Makanya kamu terjebak di sana?”


“Kira-kira begitulah,”


Rahwana duduk di anak tangga dan berpikir. Ia mengamati cara kerja si Mbak OB. Lumayan bersih juga, terus-terang saja, Rahwana terbantu.


“Kamu tadinya di mana?”


“Saya pulang ke keluarga manusia, tinggal di sana beberapa lama karena dia punya anak yang selalu ada di pikirannya sampai dia meninggal. Tapi tiba-tiba tertarik kembali ke sini,”


“Dan belum bisa lepas sampai sekarang,” sambung Rahwana.


“Mas,” si Mbak OB menatap Rahwana, “Pak Kuntoro bilang saya harus bantu Masnya karena mungkin harapan kita satu-satunya hanya kamu. Kita juga nggak betah di sini,”


“Pak Kuntoro itu siapa?”

__ADS_1


“Cari tahu saja sendiri,” Mbak OB melanjutkan bersih-bersih. Lalu dia terdiam dan menyeringai, “Muncul lagi, tuh. Kali ini dia minta tolong,”


“Siapa?”


“Lihat saja sendiri,”


“Hm, kalau kerja kamu bagus di area tangga ini, saya kasih ayam cemani,”


Si Mbaknya menatap Rahwana dengan berbinar. “Bener ya?!”


Rahwana mengangguk.


Dan si Mbak OB membersihkan area tangga dengan giat, sementara Rahwana naik menuju lantai 7 lewat tangga darurat.


Tidak ada apa pun.


Dan di lantai 8 ia keluar, karena mulai capek naik tangga. Tidak mungkin dia menyusurinya sampai lantai 15.


Dan di dalam lift, saat pintu besi itu terbuka.


“Heeey,” sapa Fransita riang.


“Ck!” decak Rahwana kesal. Tapi mau tak mau dia harus masuk ke dalam lift.


“Aku datang loooh,” Fransita menghadap Rahwana dengan wajah riang.


“Nggak dipanggil kok datang,” gerutu Rahwana sambil memalingkan wajah menghadap ke arah pintu.


“Aku datang karena sebentar lagi sepertinya akan ada kejadian yang mengancam jiwa kamu,”


“Aku sudah punya pasukan,”


Fransita menoleh ke arah belakang punggung Rahwana dan mendongak ke atas, “Ya memang mencolok sekali ya, seperti nama kamu. Tapi ada kalanya mereka tidak berguna,”


Terdengar geraman sayup-sayup dari arah belakang punggungnya, geraman dari entitas yang belum pernah laki-laki itu dengar. Dan dari suara itu, tampaknya jumlahnya lebih dari satu. Dan saat ini tampaknya ‘mereka’ marah ke Fransita.


Rahwana sampai merinding.


Tapi tampaknya Fransita tak mengacuhkan protes si Khodam. “Makanya sekarang aku ada di sini,”


“Siapa kamu?” Rahwana mencoba mendesak Fransita.


“Aku ya aku,”


“Jawaban khas jin kafir,” desis Rahwana.


“Heeeei! Aku terhina loh!”


“Ya sana pergi,”


“Nggak bisa,”


“Kamu cuma menggangguku,”


Fransita melipat kedua tangannya di depan dadanya yang busung itu, “Si OB kau beri ayam cemani hanya karena membersihkan tangga, yang lain mungkin juga akan datang padamu,”


“Memang niatku mau sembelih 10 ekor kok,”


“Apa sih tujuan kamu?”


Rahwana menoleh ke arah Fransita dan mendekati wanita itu dengan mendesaknya ke dinding. Dengan mata coklatnya Rahwana menatap dalam-dalam ke arah Fransita. “Tujuanku?”


“Hem....” Fransita terdesak.


“Profit,” jawab Rahwana.


“Heh?”


“Asalkan usaha ini profit, Papa tak akan menggangguku lagi. Aku bisa main game seharian di kamar! Area paling aman di dunia ini yang sudah dipagari dari berbagai gangguan! Hanya di situ aku tidak diganggu astral, Papa dan bahkan Eyang Gandhes nggak bisa masuk!”


Fransita mencibir menanggapi Rahwana.


“Asalkan aku bisa terbebas, mau ayam cemani sekandang juga bakalan aku korbanin! Sekarang yang terpenjara bukan hanya entitas, aku juga sedang di rantai!”

__ADS_1


Wanita di depannya hanya memandanginya tanpa ekspresi.


“Apa?!” tantang Rahwana.


“Belakangan nggak ada game baru, yang ada update versi yang kurang greget,” kata Fransita. “Bahkan kamu mulai bosan belakangan, malah main game lama. Jadi kupikir alasan kamu ingin berlama-lama main game tidak tepat,”


Rahwana mengernyit.


Fransita menyeringai.


“Kamu...” gumam Rahwana dengan wajah tegang. Segera, pemuda itu menyadari satu hal. “Kamu bisa masuk kamarku,” begitu kesimpulan Rahwana. Bukan pertanyaan, bukan dugaan.


Fransita mengangguk pelan, dia tampak ragu untuk mengaku atau menyembunyikan hal ini. Ya tapi Rahwana harus tahu untuk pemecahan teka-teki selanjutnya. Karena memang sudah waktunya Fransita muncul ke hadapan Rahwana.


“Dengan kata lain, kamu sebenarnya terikat bersamaku,” desis Rahwana.


Fransita mengangguk lagi.


Lalu wanita itu terlihat menelan ludahnya.


“Dan kamu mengawasiku sepanjang waktu,” ujar Rahwana.


Fransita mengernyit dengan senyum masamnya. “Sori, tapi aku nggak bisa mengalihkan pandangan saat kamu mulai pubertas,” gumam wanita itu.


Rahwana masih menatapnya tegang.


Brakk!!


Cowok itu memukul dinding lift.


Tepat di samping kepala Fransita.


Dan dinding itu membentuk cerukan saat tangan Rahwana ditarik.


Wajah Rahwana merah. Entah itu marah... atau bahkan malu.


“Maaf, bukan mau ku juga terikat denganmu,” gumam Fransita sambil menoleh ke arah lain. Di ingatannya tidak lepas dari sosok Rahwana saat cowok itu sedang dalam keadaan tanpa busana.


Ting!


Lift akhirnya berhenti di lantai 15.


“Jangan kabur, kita harus bicara dengan lebih ‘akrab’,” geram Rahwana. Lalu pria itu keluar lift dengan langkah menghentak-hentak.


“Ya ampun, kalau marah malah makin seksi,” gumam Fransita sambil mengatur napasnya. Lalu wanita itu keluar lift untuk mengikuti langkah Rahwana.


“Wan, kamu harus ngerti kalau aku muncul sekarang karena memang sudah waktunya,” Fransita mencoba menjelaskannya ke Rahwana.


“Jangan bicara denganku di depan umum,” geram Rahwana.


“Sebentar,” Fransita diam sesaat. “Oke, sekarang semua bisa melihatku, tidak akan ada yang menganggapmu gila karena bicara sendiri. Bahkan cctv juga bisa melihatku,”


Rahwana menghentikan langkahnya dan meraih Fransita. “Kamu sebenarnya apa sih? Kok bisa muncul dan hilang sesuka hati, bahkan bisa berwujud?!”


“Saat aku berwujud aku mengambil energi dari jasadku, resikonya kondisiku akan semakin lemah,”


“Ya jangan lakukan itu!”


“Makanya dengarkan aku!”


“Wan! Iwan!!” Ahmad, staff marketing dengan panik menghampiri Rahwana. Dia sempat diam sesaat saat melihat Fransita dan pandangannya berhenti di dada wanita itu.


“Matamu kemana, hah!” seru Fransita sambil memukul bahu Ahmad.


“Haish! Galak bener ni cewek!” Ahmad mengelus bahunya yang nyeri. “Oh iya, Wan! Gawat! Lo masuk dah ke dalam!!”


“Ada apa Mas?”


“Masuk dulu pokoknya!!” Ahmad menarik lengan Rahwana dan menggiring pemuda itu untuk segera masuk ke dalam ruangan marketing.



(Visual Rahwana : Rahmat Rahmeh, ig. rahmatr_**. Visual Fransita : Lisa Anisa, ig. @lissassil10)

__ADS_1


__ADS_2