Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan 13 : Sepuluh Khodam


__ADS_3

Selesai meletakkan komputer Pak Yanto ke lantai 8, lantai Divisi IT, Rahwana kembali ke pantrynya di lantai 15, dan duduk di area istirahat bagi Office Boy.


Rahwana duduk di lantai, berusaha bersembunyi dari orang-orang. Tubuhnya yang letih disembunyikan oleh konter dapur dan tumpukan galon air mineral.


Saat dia menunduk, darah menetes dari hidungnya, dan matanya.


“Duh,” keluhnya.


Menggunakan kekuatan seperti itu, apalagi lintas dimensi, membuat tenaganya habis. Kalau digunakan sering-sering, lama-lama otaknya bisa mati. Ia hanya menggertak saat bilang bisa memusnahkan semua astral di gedung itu dalam satu hentakan.


Ya bisa, tapi setelah itu dia sendiri Innalillahi.


Sementara, geraman dan auman yang bernada kemarahan, seakan ditujukan padanya, terngiang-ngiang di telinganya. Para khodam kiriman Eyang Gandhes tampaknya sedang kesal dengannya karena seenaknya saja ia kabur.


Saat ia mengambil tissue untuk menghapus darah yang mengalir, ia sedikit menjulurkan lehernya untuk meraih konter.


Dan saat itulah ia melihatnya.


Astral putih itu, si biang kerok, berdiri memandangnya sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya bagai sedang ditiup angin. Kalau pernah lihat film Harry potter, ini jenis Dementor tapi warnanya putih bersinar.


“Siapa majikanmu?” gumam Rahwana. Tapi pemuda itu tahu, si astral tidak akan menjawabnya.


Tiba-tiba si Astral tersentak, lalu tubuhnya terlihat gemetar. Kepalanya yang ditutupi kain perlahan menengadah ke atas, ke arah kepala Rahwana. Lalu bagai terburu-buru ia menghilang menembus plafon.


Setelah itu, beberapa orang masuk dengan paksa ke pantry, menghampiri Rahwana, dan mencengkeram kerah pemuda itu.


“Ikut kami,” geram salah satunya.


Rahwana di seret keluar pantry dengan kasar.


Herannya, para orang-orang itu tinggi besar dan wajah mereka yang tampan, tidak menarik perhatian sekeliling. Padahal ruangan di lantai 15 ramai orang. Bahkan Ahmad sempat berteriak ke arah Rahwana, “Wan, kalo keluar beliin gue rujak sekalian yak, yang buahnya asem semua, okeeee?!”


Saat itulah Rahwana tahu, sekelompok orang yang menggiringnya keluar ini, bukan manusia.


*


*


BRAKK!!


Rahwana dibanting ke dinding di area gudang lantai 30. Area itu aula luas, biasa digunakan untuk acara kantor dan meeting, juga ada lokasi untuk bersantai para karyawan sambil memandang suasana Kota Jakarta dari atas. Tapi saat siang begini biasanya sepi karena orang-orang sibuk bekerja dan cuacanya sedang terik.

__ADS_1


“Astaga, susah sekali ya menjaga kamu, ternyata. Kenapa seenaknya saja, hah?!” seru salah seorang dari mereka, yang bertubuh paling besar. Saat ia berteriak, terasa seperti mengaum. Mungkin wujud yang sebenarnya adalah seekor harimau.


Rahwana menghitung jumlahnya. Ada setidaknya 10 sosok yang berkumpul mengelilinginya.


Dan pemuda itu terkekeh.


Humor Eyang Gandhes memang antimainstream, bahkan si Eyang sampai mengutus Khodam sebanyak 10 jenis untuk menjaga Rahwana. Mungkin juga sengaja dicocokkan dengan nama pemuda itu.


(Dalam mitologi, Sang Raja Alengka, Rahwana, lahir dengan kepribadian setengah brahmana, setengah rakshasa. Saat lahir, Rahwana diberi nama "Dasamukha”, karena konon ia memiliki sepuluh kepala. Beberapa alasan menjelaskan bahwa sepuluh kepala tersebut adalah pantulan dari permata pada kalung yang diberikan ayahnya sewaktu lahir, atau ada yang menjelaskan bahwa sepuluh kepala tersebut adalah simbol bahwa Rahwana memiliki kekuatan sepuluh tokoh tertentu.)


“Bagaimana kalau diperkarakan di pengadilan? Kamu baru saja membunuh Djin Qorin Tumbal Proyek. Dan parahnya, tanpa mengajak mereka tobat terlebih dahulu,” kata sosok di sebelah si Harimau. Dari suaranya yang serak, sepertinya sejenis siluman ular.


“Tapi kan bisa dikategorikan sebagai membela diri, dia nggak diperbolehkan keluar,” kata yang lain, tampan dengan rambut panjang menyentuh lantai yang berwarna keperakan.


“Memangnya saat masuk dia minta izin?! Bocah ini kan sama saja mengganggu!” seru si Harimau.


“Dia minta izin sama si Office Girl,” kata si Rambut Perak.


“Area kekuasaan Office Girl hanya di depan lift, masuk lebih dalam sudah areanya Kuntoro,” jelas si Ular.


“Hey, sudahlah... yang jelas Rahwana bisa menggertak Kuntoro agar tidak macam-macam. Tapi dengar ya,” sesosok pria, dengan gerakan tubuh kalem dan cenderung kemayu, entahlah di pria atau wanita, atau bisa jadi keduanya karena sangat cantik. Ada burung merak raksasa di bahunya. Si pria Merak mencondongkan tubuh tingginya agar sejajar dengan wajah Rahwana, “Lain kali ada konsekwensi besar yang akan kamu terima, kalau kekuatan kamu digunakan tidak pada tempatnya. Kamu hanya bisa menggunakannya saat bertemu dengan lawan yang juga memiliki kekuatan seimbang,”


Rahwana mengusap matanya yang berdarah sambil menatap si merak. “Mereka akan menangkap Fransita,”


“Aku kan tidak tahu itu. Dia itu apa, aku juga tidak tahu,” gerutu Rahwana.


“Kamu tidak tahu itu, tapi demi dia kamu membunuh Qorin,” geram si Harimau. “Aku tidak mengerti pemikiran manusia, terlalu rumit,”


“Qorin itu sendiri keberadaannya juga sudah salah, Rahwana tidak akan ada di sini susah payah, kalau Qorin itu tidak mengganggu manusia dengan menampakkan diri,”


“Kita tidak seharusnya membela siapa-siapa, tugas kita hanya menjaga anak ini,”


Dan selanjutnya para Khodam berdebat sendiri.


Rahwana kembali duduk di lantai.


Ia lelah...


Sambil menunduk ia pun mengistirahatkan tubuhnya.


Semua ini membuatnya semakin frustasi.

__ADS_1


Suara-suara di sekitarnya hanya terdengar seperti gaung bersahut-sahutan di telinganya.


Sungguh, ia tidak menyangka menjadi seorang owner bisa seletih ini.


Ditambah, saat ini ia tidak menjadi dirinya sendiri.


Kalau kata Mamanya, sejak penculikan itu, Rahwana yang jahil dan menyenangkan, berubah menjadi suram dan kelam.


Mama tidak melihat kejadian-kejadian aneh di sana, di tempat laknat itu. Tidak melihat berbagai hal yang menyedihkan dan mengerikan.


Dalam ingatannya yang samar-samar, potongan kaki, kepala yang menggelinding, bau anyir darah, suara teriakan kesakitan... semua masih lebih parah dibanding suara sayup-sayup arwah minta tolong.


Rahwana pikir ia korban selanjutnya. Jantungnya yang berdegup kencang membuatnya pingsan.


Lalu saat terbangun, ia sudah terbaring di ranjang beroda, dengan Pak Arman, Komandan Garnet Security Agency, memanggilnya panik. Sekujur tubuh pria itu berlumuran darah, di belakang punggungnya Rahwana bisa melihat senjata favorit pria itu tergantung, AI AW50, senapan anti materiel kaliber .50 BMG buatan perusahaan produsen senjata api asal Britania Raya. Senapan yang biasa pria itu gunakan saat melakukan suatu operasi pengergapan besar-besaran.


Saat itu Rahwana tahu kalau ia sudah selamat.


Dan setelah itu semuanya berubah...


Namun,


Ada potongan puzzle yang hilang dalam ingatannya. Seakan potongan itu sangat menyentuh sanubarinya sampai ia bahkan tidak sanggup mengingatnya.


Dan Rahwana pun menyadari satu hal.


“Hey,” panggilnya kepada khodam-khodam raksasa yang berkumpul di depannya. Mereka semua menoleh padanya dengan pandangan bertanya. “Sejak kapan Fransita mulai ada di hidupku?”


Khodam merak tersenyum, “Bukan tugas kami untuk menceritakannya padamu,”


“OH, jadi memang dia ada sejak saat itu ya,” Rahwana mengambil kesimpulan sendiri. Harimau melirik si Merak dengan gusar. Merak hanya menyeringai ke si Harimau.


“Rahwana, kalau yang berikutnya adalah pertanyaan ‘siapa dia’ kamu bisa tanyakan sendiri padanya, tidak harus pada kami,” kata Rambut Silver.


“Terkadang astral tidak bisa mengingat banyak hal di hidupnya,” kata Rahwana.


“Oh, dia bisa, karena wanita itu masih hidup. Hanya saja ia tidak bisa bangun,” kata Rambut Silver.


“Sudahlah! Pokoknya...” Si harimau bermata kuning dan berwajah seakan dia artis film action, mendekati Rahwana, menunduk padanya dan memicingkan mata ke arah pemuda itu, “Jangan bikin masalah lagi, mengerti?! Kamu tahu batasannya, jangan pura-pura tidak mengerti!” geramnya.


Dengan kesal si Harimau menghilang.

__ADS_1


Diikuti dengan khodam yang lain.


__ADS_2