Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan 33 : Gunung dan Laut


__ADS_3

"Mendaki gunung bukan untuk mengibarkan bendera, tetapi untuk menerima tantangan, menikmati udara, dan melihat pemandangan. Dakilah agar kamu bisa melihat dunia, bukan agar dunia bisa melihatmu." - David Mc Cullough **.


Rahwana menghela napas melihat reaksi Ai. “Bro, nanti di Villa bakalan banyak yang beginian, jadi nggak usah buang-buang peluru,” kata Rahwana.


“Dia bakalan nyerang kita nggak?” Ai waspada.


“Dia penunggu hutan, jadi mungkin kita lah yang dianggapnya ancaman. Dari tadi dia memang memperhatikan kamu karena kamu terlalu berisik kayaknya,”


“Eike seharusnya nggak bisa ngeliat begituan,”


“Di dimensi ini semua bisa saling melihat karena Eyang membuka semua pembatas,”


“Dia membawa...” Ai mengernyitkan matanya, “Bayi?’


“Itu bukan bayi beneran. Ayo masuk,” Rahwana menghampiri mobil dan membuka pintunya.


“Tapi tangisan bayinya kedengaran real, jangan-jangan dia menculik bayi seseorang!”


“Percaya deh, kamu mendingan cuekin aja. Lebih cepat kita pergi, lebih baik,”


“You yakin, Mas?”


“Bentar lagi dia bakal teriak dan banting bayinya, jadi lebih baik kamu masuk mobil sebelum ngeliat adegan yang traumatis,” kata Rahwana sambil masuk ke mobil.


“Duh,” Ai langsung buru-buru kabur dari sana dan masuk ke mobil.


Dan di dalam mobil ia memeluk lengan Rahwana, “Seinget eike dulu nggak ada yang beginian, Mas!”


“Dulu semua takut sama Papa dan Om Arman, mana berani mereka muncul,”


Perjalanan dengan mobil ditempuh dalam beberapa menit. Tapi sepanjang perjalanan Ai dapat melihat banyak hal yang diluar akal sehatnya yang terjadi di luar kaca jendelanya. Pemuda itu dibesarkan dengan logika, Papa dan Mamanya tidak pernah membicarakan hal gaib.


Mereka berkendara dengan mobil, bagian sebelah kanan adalah hamparan taman, bagian kiri adalah hutan belantara dengan pohon tinggi-tinggi.


Di luar jendela, Ai dapat melihat ada sekelompok pendaki berjalan berkeliling. Mereka berjalan memutar seperti terjebak di dalam labirin. AI jadi ingat dulu ia dan Iwan pernah main ‘siapa cepat dia dapat’, Ibu Milady memutar lagu dan anak-anak berjalan berputar mengelilingi satu kursi. Kalau lagu berhenti mereka berebutan duduk di kursi.


Dan posisi pendaki itu persis seperti itu, berjalan berkeliling di lokasi itu-itu saja.


Di atas para pendaki itu ada sosok hitam besar menunduk ke bawah memperhatikan para pendaki.


“Ai,” Rahwana menyenggol bahu Ai, “Tidak usah dihiraukan,”

__ADS_1


“Mereka kenapa Mas?”


“Mereka tampaknya sengaja dibuat tersesat dengan berjalan di tempat yang itu-itu saja,”


“Mas, you nggak bisa tolongin mereka?”


“Tidak semuanya urusan gaib bisa kita interupsi, gangguan semua itu juga atas izin Illahi,”


“Kenapa mereka begitu?”


“Mungkin mereka sudah mengganggu hutan, kita juga tidak tahu. Yang bisa kita lakukan hanya mendoakan mereka supaya Tuhan menolong mereka,”


Ai mengernyit dan menunduk. Ia jadi segan memperhatikan suasana di luar jendela mobilnya. Sementara Rahwana dan Aki Tirem sedang santai mengobrol mengenai dunia politik.


Lalu kabut putih pun turun di depan mereka. Sangat tebal seperti biang es ditiup angin, sampai-sampai jarak pandang mereka tidak sampai beberapa meter di depan.


“Ah, kabut putih. Pertolongan untuk para pendaki sudah datang. Mungkin ada yang Adzan di gunung untuk menandakan waktu sholat,” kata Rahwana.


“Atau bisa jadi Adzan untuk mencari orang hilang,” tambah Aki Tirem.


“Banyak yang hilang, Ki?”


“Beberapa orang tak selamat, malah saat ditemukan di temukan sudah tak bernyawa. Padahal lokasinya berulang kali dilewati tim pencari,” Kata Aki Tirem. “Makanya kalau sudah ada firasat atau ada kabar tersebar kalau ada tim yang menghilang, lebih baik tidak diteruskan menanjak ke atas, itu berarti gunung sedang tidak bersahabat atau banyak yang mengganggu penghuni astral,” (berdasarkan cerita dari pembaca dengan nama akun Kang Zulid).


“Selain kabut putih yang berarti hal baik, dan kabut hitam yang berarti pertanda buruk, di sini juga ada astral berwujud Noni. Kalau dia muncul berarti ada peringatan supaya pendakian tidak diteruskan. Jadi lebih baik pulang saja,” (berdasarkan cerita dari pembaca dengan nama akun Nuraini).


“Kalau mendaki memang seberat itu, kenapa sih pada nekat ke atas? Apa yang sebenarnya mereka cari sih?” tanya Ai agak sewot.


Rahwana menyeringai mendengarnya. Ia sudah sering naik gunung, namun bukan untuk mendakike atas puncak. Sampai ke puncak baginya hanya bonus. Ia naik gunung untuk mengunjungi Eyang Gandhes atau sekedar memindahkan astral yang satu dengan yang lain. Ia harus tahu apakah entitas yang ia pindahkan mendapatkan tempat yang layak atau tidak, jadi dia survey ke banyak tempat agar tahu kemana ia harus memprosesnya.


“ Bagi para pendaki amatir, puncak bukan tujuan. Perjalanan itu sendiri yang merupakan tujuan. Keindahan dan kebahagiaan ada di sepanjang perjalanan naik dan turun. Mereka yang terlalu fokus pada puncak akan kelelahan saat naik dan akan mendapatkan kekosongan saat turun,”


"Tapi keindahan kan bukan hanya ada di gunung, Mas," sahut Ai masih tak mengerti. "Kalau memang seberat itu jadi sebenarnya kan memang dirancang oleh Tuhan bukan untuk ditelusuri manusia,"


"Yang tidak hobi mendaki memang akan bicara semacam kamu. Ya kamu juga tidak salah kok. Hanya berbeda pendapat saja dan perbedaan kegemaran itu wajar," kata Rahwana. "Ini lebih seperti sebuah passion. Sebuah obsesi untuk menjelajahi kebesaran Illahi,"


"Si Ai kayaknya anak pantai yaaa," sahut Aki Tirem sambil mencolek sedikit lengan Ai untuk menggodanya.


"Aku lebih baik ke pantai daripada gunung," sungut Ai.


"Tapi di laut malah lebih banyak penguasa dibandingkan di Gunung,"

__ADS_1


"Hah? You serius? How come?!" seru Ai. (Hah? Aki serius? Bagaimana bisa?!)


"Jadi ada sebuah konspirasi yamg sedang viral. Sekitar tahun 1970an, awalnya Nasa dibuat untuk menjelajahi lautan. Sekitar beberapa tahun, mereka tiba-tiba menghentikan proyek itu dan memilih untuk mengeksplorasi luar angkasa. Seakan mereka sedang mencari planet lain untuk ditinggali manusia,"


"Kenapa ki?"


"Ya itu pertanyaannya. Kenapa? Apa yang mereka temukan di bawah laut? Yang membuat mereka ingin segera pindah dari bumi ini?"


Ai dan Rahwana terdiam. Bulu kuduk Ai langsung meremang.


"Manusia tidak bisa hidup di laut. Tapi masih bisa tinggal di gunung. Dan kebanyakan bangsa Djin bisa hidup di lautan, makanya mereka mendirikan kerajaan-kerajaan mereka di sana. Kira-kira begitulah penjelasannya, hehe,"


"Ini kalau dilanjutkan ngobrolnya sampai tahun depan novelnya nggak bakalan tamat, Ki," dengus Ai.


*


*


Tak terasa karena disambi mengobrol, membuat Perjalanan mereka terasa singkat. Tak ayal hamparan Vila bergaya tudor langsung terlihat dari balik pepohonan.


Seorang wanita sudah menunggu mereka di depan pintu utama, di atas tangga sambil tersenyum riang. Penampilannya layaknya sosialita berjilbab jaman sekarang, dengan kerudung bercorak Versace, tunik dan rok yang kelihatan mahal, sepatu higheels Italia dan kacamata hitam Dior.


DIlihat sekilas, penampilannya bagaikan seumuran Rahwana.


Karena memang semuda itu tampilannya.


“Aaaaw cucu Eyang akhirnya dateeeng,” sambutnya.


“Wareng,” ralat Rahwana sambil memeluk Eyang Gandhes.


“Yang ini juga cucu Eyaaaang,” Eyang Gandhes tidak menghiraukan ralatan Rahwana dan gantian memeluk Ai.


“Heh, siapa nih?! Main peluk-peluk aje! Dih!!” Ai mencubit jemari Eyang Gandhes dan menepisnya sabil mencibir.


Eyang Gandhes ternganga sambil memekik tertahan, “Gengsi banget sih kamu sama eyang sendiri!” ia mengelus-elus jemarinya yang perih dicubit Ai.


“Mananya yang Eyang?! Kecuali dokter kulit you tingkat dewa!”


“Makasih, loh, hehe,” Eyang Gandhes tersipu, merasa kalau Ai memuji kecantikannya, alias kalah kaprah.


“Ini eyang Gandhes loh, Ai. Kamu nggak inget?” tanya AKi Tirem sambil cengengesan.

__ADS_1


“Bohong!" tuduh Ai, "Pas Eike masih bocil, si Eyang tuh tampangnya udah tante-tante. ini Eike udah hampir jadi Om-om nggak mungkin tampilannya masih kayak abege begini! Kecuali dia pampir, atau robot jangan-jangan!"


"Ih, makasih lagi loh," kekeh Eyang Gandhes sambil masuk ke dalam Vila.


__ADS_2