Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan 44 : Perang ( 1 of 3)


__ADS_3

Sambil menunggu Darmaya membereskan urusannya, Ai mencari ponselnya di kantong celana yang teronggok di lantai.


Ada belasan miskol dari Rahwana, 5 miskol dari Papanya, dan 1 miskol dari Mamanya.


“Mampus eike,” dia langsung tegang.


Dalam kekuatiran yang amat sangat, ia telepon balik mamanya.


“Euhm... Moshi-mo-”


“Doko ni imasuka?” (Kamu di mana?) sebuah suara lembut, bening namun tegas bertanya dari seberang sana.


“A-a-anoooo... hoteru?” (Hotel) jawab Ai ragu.


“Nani wo shite imasuka?” (lagi ngapain?)


“Em-” Ai lebih bingung lagi, tak mungkin dia jawab lagi sama...


“Ai, sudah selesai nih!” Darmaya pun masuk ke dalam kamar dengan ceria.


“Are?” (Hah?) sahut Mama Ai dari seberang sana, “Dare mo-”


“Sama pacar,” jawab Ai cepat.


“Aa...h,” gumam Mamanya, “Nayaka?”


“Bukan dia,”


“Bukan Nayaka?”


“Bukan,”


“Bawa ke rumah dong, kenalan sama mama. Dia bisa masak tidak?”


“You bisa masak nggak?” Ai bertanya ke Darmaya.


“Lumayan,” jawab Maya


“Kayaknya tak meyakinkan, Ma,” jawab Ai ke Mamanya. Darmaya mencibir ke arah Ai,


“Coba tanya dia bisa bikin rawon tidak?” tanya Mama Ai.


“Hah? Rawon?!”


“Bisa,” gumam Maya.


“Nah itu dia bilang bisa, besok ke rumah kami ya, Pacar-San,” sahut Mama Ai.


“Mamaaaaa,” keluh Ai.


“Oh iya, itu Ares cariin kamu. Katanya penting, cepat datang ke Goruneto,” kata Mama Ai. “Jangan telat ya! Segera!”


Dan sambungan telepon pun terputus, disertai erangan panjang dari Ai.








Ai keluar dari kamar hotelnya setelah itu. Ia melongok ke koridor. Ke kanan tak ada orang, ke kiri juga kosong.


Namun ada beberapa orang berpakaian engineering di ujung jalan sedang mengecek gardu listrik.


Ai menutup kamarnya dan berjalan melewati mereka.


Sempat ia mendengar para Engineering mengeluh,


“Tegangannya di sini juga normal kok, Pak,”


“Asal tarfo yang mati sih dari lantai ini tadi. Sampai Genset juga tak berfungsi,”


“Kata PLN gardu di area kita normal-normal aja, tak ada kerusakan,”


“Kenapa ya tadi jadi?”


Ai menggandeng Maya berjalan melewati mereka, lalu masuk ke lift. “Kamu apain Kinasih?”


“DIa nunggu di luar,” Maya mengibaskan rambutnya. “Aku bilang kalau dia lepaskan aku, dia bisa ikut pesta besok, sepuasnya,”


“Pesta? Besok?”


“Iya, kami mencium adanya aura buruk yang amat sangat di gedung milik Rahwana,” kata Maya.


“Maksudnya?”


“Semacam tanda bahaya, baunya wangi... seperti cendana bercampur bau bangkai. Dan itu sangat kuat,”


“Hm,”


“Kamu mau menemui Rahwana kan ya?”


“Iya,”


“Aku dan Kinasih mau ikut, Aki Tirem sudah ada di sana,”


“Astaga...” keluh Ai sambil menghela napas berat.








Pagi itu,

__ADS_1


“Hoi Iwan!” Junet merangkul pundak Iwan. “Gimana cuti? Udah Healing?!”


“Lumayan Bro,” bohong, padahal Rahwana sangat capek.


“Lo cuti kemana sih? Sampe 2 hari?”


“Naik gunung,”


“Gunung mana?”


“Sindoro,”


“Woooo, kenapa lo nggak ngajak gue! Duh gue juga dah lama nggak naek gunung pegel-pegel nih!”  gumam Junet.


“Yaaah, gue sama sodara gue sih naiknya,”


“Eh, eh, lo tau nggak,”


“Hm?”


“Kayaknya akhir-akhir ini setan bisa muncul siang hari yak?!”


“Heemmm...”


“Pertanda apa yak?”


“Emang kenapa?”


Mereka menunggu lift dari lantai atas turun ke bawah,


“Sodara gue liat juriq siang bolong pas Dzuhur,” kata Junet sambil menatap ke tombol penanda posisi lift di atas.


“Hehe,” begitu tanggapan Rahwana.


“Depan rumah sodara gue itu ada rumah kosong. Sudah belasan tahun kosong. Tiap kali dibeli orang adaaa aja masalahnya. Yang pernah tinggal di rumah itu bilang kalo malam suka ada yang mandi terus seliweran di ruang makan ke arah dapur. Nggak pernah ada yang bertahan tinggal di sana,”


“Rumahnya dalam kondisi yang bagaimana?”


“Terawat dan bagus sih tampilannya, pernah waktu itu ada tukang cat yang ditugaskan ngecat di sana. ”


“Hem... padahal dirawat ya?”


“Nah itu, gue juga heran,” Junet menggaruk kepalanya. “Sodara gue itu punya adek, tinggal tepat di sebelah rumah itu. Dan saat ke rumah adeknya, sodara gue ngeliat itu rumah pintunya kebuka lebar karena lagi di cat. Saat itu dia ngeliat ada nenek-nenek duduk di ruang tamu, dia bahkan sempet lirik-lirikan sama sodara gue,”


“Itu nenek yang punya rumah, kali?”


“Setahu kita nggak ada nenek-nenek tinggal di sana. Penghuni barunya nggak bawa ibu atau mertuanya.”


“Hm...”


“Dan waktu sodara gue pulang dari rumah adeknya, itu nenek masih ada, duduk di posisi yang sama, dengan gaya yang sama juga. Dan kata yang ngecat rumah itu, ‘saya ditemani selama ngecat’,”


“Hehe,”


“Jangan ketawa dong, Wan... serem itu!” (berdasarkan cerita dari pembaca dengan Akun Daisy Hilvi).


“Ya iya serem...” gumam Rahwana.


“Eh, wan... lo bisa ngeliat ya?”


“Kadang-kadang bisa,” Rahwana menyembunyikan kenyataan kalau sebenarnya bukan kadang-kadang, tapi hal itu sudah makanan sehari-hari. Dunia luar selain di kamarnya adalah tempat interaksi banyak makhluk selain manusia, makanya dia agak membatasi tingkah lakunya yang sebenarnya supel dan ramai menjadi lebih pendiam, karena seringkali ‘mereka’ berwujud manusia. Dan Rahwana sulit membedakannya. Jadi dia lebih banyak diam.


Lift sampai di lantai lobby.


“Sumpek ya di sini?” tanya Rahwana sambil menyeringai.


“Sejak kapan lo bisa ngeliat, bro? Dari kecil?”


“Hem, pastinya gue nggak gitu tahu sih. Tapi nyokap gue sering cerita kalau dulu itu gue suka dadah-dadah ke arah area kosong atau rumah tak berpenghuni. Pas ditanya, dadah sama siapa, gue jawab ‘sama teman’,” (berdasarkan cerita dari pembaca dengan akun Lyrumm).


Junet masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai 15, berbarengan dengan dua orang yang telah mereka kenal juga ikut masuk ke dalam.


Pak Firman dan... Pak Endang.


“Pagi semuaaaa,” kata Pak Firman ceria.


“Waaah, Pak Firman?! Udah baekan toh Pak,” seru Junet senang


“Alhamdulillah sudah tidak sakit lagi. Sehat semua?”


“Sehat Pak!” mereka berjabat tangan. Lalu semua terdiam saat melihat Pak Endang.


Wajah pria itu tegang dan dingin, menatap Pak Firman dengan rasa tidak suka. “Nanti kan bisa dibicarakan, Pak. Pak Rey dalam perjalanan kemari,”


“Kita kerja di sini sudah berapa tahun Pak Firman?!” Pak Endang balik bertanya.


Pak Firman diam.


“Kita sudah 15 tahun di Garnet Grup, pindah-pindah dari anak usaha yang satu ke yang lain. 5 tahun terakhir kita di Garnet Land, kamu selalu ketemu sama saya. Menurut kamu, saya yang selama itu bekerja di sini berpotensi melakukan segala kecurangan? Yang saya ambil hanya sepersekian persen tidak akan berpengaruh ke kekayaan mereka, bahkan bisa dianggap hanya recehan,” sahut Pak Endang sewot.


“Ya tapi tetap saja itu jatuhnya merugikan perusahaan Pak, mengenai kekayaan mereka, itu tidak ada urusannya dengan kita, “ sahut Pak Firman. “Anda bekerja sesuai porsi, dengan gaji yang sudah kita sepakati. Anda tidak setuju, silahkan cari perusahaan lain yang mau deal. Simple Pak,”


“Jadi bapak mau bilang loyalitas kita selama ini terhadap perusahaan tidak masuk hitungan kekeluargaan?! Berjam-jam kita curahkan untuk perusahaan sampai melupakan anak-istri, hal itu tidak masuk hitungan kesejahteraan karyawan Pak?”


“Perusahaan ini bukan perusahaan keluarga, dan normalnya perusahaan swasta, tujuan utamanya adalah Mensejahterakan Shareholders. Bukan Karyawan. Makanya tolong bekerja sesuai porsi saja, tidak usah sok jadi pahlawan. Kalau mati juga yang mendoakan keluarga, bukan Boss,” gerutu Pak Firman.


Lift pun berhenti di lantai 15. Dan Rahwana berdehem.


“Ehem!” serunya.


Barulah perbincangan itu berhenti.


"Bang Junet, lo duluan aja yak. Gue mau ngobrol sebentar sama Pak Firman dan Pak Endang," kata Rahwana ke Junet.


"Eh? Oke... Jangan lama-lama, banyak kerjaan," kata Junet sambil melambaikan tangan dan kelar dari lift untuk masuk ke ruangan.


Sambil memandang punggung Junet yang berlalu, Rahwana menghela napas dan menunduk dengan sedih.


"Sudah tidak ada harapan? Bapak-bapak?" desisnya sambil menekan tombol turun.


Pak Firman mengangguk, "Beliau meninggal subuh tadi. Kan sudah saya bilang, kalau saya bisa menampakkan diri seperti subjeknya, mereka akan meninggal. Walau pun memang yang namanya takdir bukan saya yang menentukan,"


"Lalu... Pak Endang?" tanya Rahwana.


"Saya ditarik masuk ke gedung ini...," kata Pak Endang. "Yang saya ingat, saya itu sedang berjalan pulang di jalan tol. Lalu mobil saya tiba-tiba remnya blong. Saya banting stir ke arah pembatas jalan. Setelah sadar ya saya di gedung ini,"


"Ya Tuhan," gumam Rahwana sambil mengusap wajahnya. "Tapi Junet bisa melihat kalian, padahal ini masih pagi,"

__ADS_1


"Di gedung ini, entah bagaimana siang ini keadaannya luar biasa berenergi, Wan. juga... dari tadi pendampingnya Gusti berseliweran ke sana kemari, entah mencari apa,"


"Pendampingnya Gusti itu yang putih semua itu? Kayak gorden terbang?" tebak Rahwana.


"Iya itu,"


"Si Gusti itu... Namanya Nisa Viandra, bukan?" pancing Rahwana.


Dan lift pun langsung berhenti.


Saat itu di lantai 7.


Rahwana tersenyum tipis. Ternyata tebakannya tepat.


"Begitulaaaaah," kata Pak Firman. Sosoknya saat ini sudah sepenuhnya berbeda. Wajahnya pucat dan tatapan matanya tampak kosong.


Pak Endang jauh lebih parah. Wajahnya hancur dan kepalanya tinggal setengah karena penyok.


"Oh. Dan si makhluk dengan wangi cendana itu... Gopar bukan?"


Pak Firman dan Pak Endang tidak menjawab.


"Iwan, tolong bebaskan kami," Kata Pak Firman. "Tempat kami bukan di sini. Juga, hari ini mereka akan mencari korban banyak sekali. Api akan berkobar,"


"Api akan berkobar?"


"Masukan Sri Ratu dan Kinasih ke mari, mereka akan mampu melawan Gusti. Biar pengadilan jin yang akan memutuskan,"


"Sri Ratu? Maksudnya Sri Ratu Damaya?"


Pak Firman mengangguk.


"Kami hanya bisa sampai sini. Selanjutnya, Gusti akan mengambil alih semuanya,"


Dan sosok keduanya pun menghilang.


Pintu lift terbuka dan di depan Rahwana ada seseorang.


Manusia.Memakai name tag Garnet LandDan bajunya khas karyawan.


Wanita.Seseorang yang Rahwana kenal.


"Mbak Nisa," sapa Rahwana.


"Iwan? Kenapa kamu?" Nisa mengernyit karena merasa aneh. Ia meminta dua orang tumbal barunya untuk mengantarkan tersangka. Yaitu owner perusahaan ini, orang yang melakukan penumpasan besar-besaran untuk kelompok preman pacarnya, sekaligus ajudan kepercayaannya.Sebastian Bataragunadi, dan Ares Manfred tentunya.


Iwan melangkah keluar dari lift dengan sikap kalem dan santai seperti biasanya.Sementara Nisa mundur selangkah. "Siapa kamu sebenarnya?" tanya Nisa.


"Nggak tanya sama bapaknya, Mbak?" Rahwana menunjuk Kuntoro dengan dagunya. Sosok yang berdiri menjulang di tengah ruangan, dengan bau busuk yang amat sangat memenuhi ruangan.


"Dari mana kamu tahu?!" seru Nisa kaget.


"Jejak digital sulit hilang," kata Rahwana. Lalu pemuda itu menatap Kuntoro. "Katanya bapak mau bebas dari gedung ini? Kenapa sekarang malah tarik tumbal baru?"


"Kami tak kuasa, kami terus menerus lapar," kata Kuntoro.


"Mbak Nisa tak tahu kalau perbuatan mbak ini malah justru membuat Pak Kuntoro tersiksa?"


"Hey! Sebelum aku bisa membunuh Ares Manfred, atau membuat Sebastian tersiksa lahir dan batin, aku tidak akan berhenti!"


"Saya di sini. Saya adalah keduanya," kata Rahwana.


"Keduanya?" Nisa lagi-lagi menatap Rahwana dengan marah. "Siapa kamu sebenarnya?!"


"Tidak perlu mencari Papa saya dan Om Arman. Saya sudah cukup mewakili keduanya,"


"Heh?"


Saat itu, seakan ruangan itu dipenuhi udara dingin yang membeku.Sosok siluet putih melayang dari langit-langit. Lalu mendarat di lantai di sebelah Nisa.


"Iwan," gumam sosok itu.


"Bang Gopar," kata Iwan.


"Akhirnya kutemukan,"


"Kita sering bertemu,"


"Saya tidak bisa mengendus kamu selama ini,"


"Iya, saya dilindungi Khodam dari Eyang Gandhes. Mereka membantu menyamarkan aura saya,"


"Tapi saat ini Khodam kamu tertinggal di realita," ujar Gopar. Dan ia pun tertawa. Tawa puas yang amat senang.


"Gopar, saat Rahwana tidak bersama Khodamnya, kekuatannya bisa meningkat 100kali lipat. Dia punya ilmu terlarang itu," kata Kuntoro.


"Hahaha, kitta lihat saja. Sejauh mana trauma membayangimu, dan sejauh apa kamu bisa melindungi orang-orang yang kamu sayang," Gopar bersuara dari balik kainnya yang putih. Tawanya membahana


"Bang Gopar," kata Rahwana. "Apa Mbak Nisa tahu kalau anak Bang Gopar lahir dengan selamat?"


Suasana langsung berubah tegang.


"Anak?"


"Ya, anak abang bersama... tasmirah,"


"Bang?" gumam Nisa, "Apa maksudnya Bang?!"


"Dia berusaha mengalihkan perhatianmu Nisa," kata Gopar.


"Tasmirah yang bernama Fransisca," ujar Rahwana lagi.


"Kami sudah menghabisinya!!" seru Gopar.


"Dia selamat, dan masih hidup. Anaknya juga sudah besar," Rahwana masih mencoba memanas-manasi Nisa.


"Tidak mungkin. Aku menyuruhnya untuk menggugurkannya,"


"Bang! Abang serius punya anak dari p3lacu2 itu?!"


Gopar terdiam.


"Siapa kamu sebenarnya?!"


"Nama saya Rahwana Bataragunadi. Anak yang diculik Bang Gopar, penyebab semua penyergapan dan terbunuhnya kekasih kamu, Mbak,"


"Kamu... Kamu pemilik gedung ini. Anak Sebastian?!"

__ADS_1


"Ya... Bagaimana kalau kita, sesama keturunan, menyelesaikannya masing-masing. Kalau soal yang Ghaib biar diselesaikan..."


"Oleh kami," Sri Ratu Darmaya dan Kinasih muncul di belakang Rahwana.


__ADS_2