
Balai Pertemuan Warga Keserasian Sosial, Desa Kledung, Temanggung.
Saat itu jalur pendakian sedang ramai-ramainya. Rahwana memarkir mobilnya di area parkir basecamp pendakian Gunung Sindoro lewat jalur Kledung. Terlihat di sana sini pendaki rama berkumpul mempersiapkan peralatan pendakian dan perbekalan.
Ai, turun dari mobil sambil bersiul-siul ceria. Ia tidak tahu bagaimana proses ke arah Villa Eyang Gandhes, jadi ia ikuti saja Rahwana. Terakhir Ai ke villa Eyang saat ia berusia 7 tahun saat pernikahan Kak Mia dengan Om Rama, dan saat itu semua jalur dibuka, jadi mereka menggunakan helikopter. Ai belum pernah menempuh jalur darat.
Saat itu penampilan mereka jika dibandingkan dengan orang-orang di sekitarnya lumayan mencolok, karena sangat berbeda. Hanya kaos, jeans dan sepatu kanvas biasa. Tanpa ransel, tanpa perbekalan apa pun.
“Loh? Mas Iwan?” Petugas basecamp kaget saat melihat Rahwana menghampirinya, “Kok lewat jalur sini? Biasanya lewat Sigedang?”
“Iya Mas, lagi agak capek jadi malas lewat yang terjal-terjal,” kata Rahwana sambil membayar biaya pendaftaran untuk memasuki kawasan konservasi. Tiket masuk biayanya sekitar 15.000 rupiah, tapi seperti biasa Rahwana membayarnya dengan segepok uang merah untuk infaq dan sedekah warga sekitar. Terang saja ia selalu disambut baik di area sana.
“Aki Tirem sudah lewat sini?” tanya Rahwana.
“Sudah Mas, sejak subuh beliau di sini,”
“Aki Tirem siapa?” tanya Ai.
“Itu, ingat nggak aki-aki yang pernah nemenin kamu waktu kebelit pipis pas lagi main petak umpet?”
“Heh? Yang namanya Tiren- tiren itu?”
“Iya, Papah memanggilnya Tiren, soalnya mukanya pucat kayak habis mati kemarin, hehe, sebenarnya namanya Aki Tirem”
“Kenapa namanya mirip dengan...” Ai sedikit mengingat mengenai pelajaran sejarah tentang Bhumi Nusantara, “ Raja Salakanagara saat Kejayaan Tarumanegaradi Jawa Bar-”
“Ssssh,” Rahwana mengacungkan telunjuknya, “Yang itu nggak usah dibahas,”
Ai langsung bungkam sambil melirik Rahwana dengan salah tingkah, lalu ia juga menatap si penjaga basecamp yang menyeringai dengan penuh arti.
Akhirnya, mereka pun keluar dari basecamp dan mulai berjalan menelusuri perkampungan untuk mengarah ke Pos 1 yang jaraknya ditempuh dengan durasi waktu sekitar 1 - 1,5 jam. Salah satu pendaki yang berada di belakang mereka memberanikan diri menegur Rahwana dan bertanya, “Bang, nggak bawa ransum?”
Rahwana hanya menyeringai sambil berujar, “Nggak, Mas. Karena tujuan saya dekat, cuma mau ke area dekat Pos 3, ke rumah saudara saya,”
Semua seketika mengernyit. Memangnya ada rumah di sana? Begitu pikir mereka.
“Mas?” bisik Ai sambil merangkul bahu Rahwana, “Emang sebenarnya villanya Eyang Putri tuh lewat mana sih? Kan jalur pendakian ada 6 loh,”
__ADS_1
“Aku biasa lewat Sigedang karena di tengah-tengah antara dataran Dieng dan Sigedang kan ada Vilanya Pak Khamandanu, sekalian nyekar ke makam leluhurnya, habis itu baru ke Vila eyang,”
“Terus kenapa kita dilirik-lirik begindang? Eike berasa kayak seleb lagi nanjak gunung,”
“Coba cek resleting,”
“Heh?!” dengan spontan Ai berhenti dan menunduk ke bawah dan memeriksa resletingnya, lalu terdengar Rahwana terkekeh, “Jokes bapak-bapak woi! Situ bentar lagi jadi Om-Om kayaknya!” serunya kesal saat menyadari bahwa tidak ada yang salah dengan resletingnya.
“Rahwana Bataragunadi,” seorang bapak-bapak setengah baya, dengan rambut panjang putih dan wajah pucat, mengangkat tangannya menyapa Rahwana.
“Ki,” Rahwana menghampirinya dan mencium tangannya dengan hormat, lalu mereka berpelukan.
“Sudah besar loh kamu Jang, sudah jadi seorang pria!” Tampak si bapak rambut putih dengan kumis melintang dan janggut panjang itu menepuk-nepuk kedua lengan Rahwana dengan rasa bangga.
“Hehe, sehat Ki?”
“Yaaa, dibilang sehat juga tidak, pami abdi entos lami pupus, hahahaha,”
“Hahahaha, maksud saya jiwanya sehat tidak,”
“Yaaa jelas tidaaaak, kan dikurung Eyang Gandhes, hahahaha,”
“Loh, anaknya Pak Komandan juga sudah besar yaaa,” Aki Tirem menghampiri Ai, Ai hanya diam dan melipir ke arah belakang punggung Rahwana.
“No no no no don’t touch me bromen! Just syuh syuh sana jauh-jauh dulu! Eike mau menguasai situation yang semakin weirdo!” Ai melambaikan tangannya ala mbak-mbak ngusir ayam.
“Ah kamu ini gengsian mah orangnya, sini duluuuu,” Aki Tirem menarik Ai dan memeluknya.
Dingin, Pikir Ai merinding. Iya tubuh Aki Tirem sedingin es, dan berbau kemenyan. “Habis berendem di kutub ya si aki nih,” keluh Ai.
“Hayuk, kita naik motor saja ke Pos satu, di sana ijin masuk dulu sama Sri Ratu,” Dan Aki Tiren pun naik ke atas Royal Enfield-nya.
“Ada zombie naik motor gede,” gumam Ai lemas.
“Kamu mau bonceng aku atau bonceng Aki?” tanya Rahwana sambil naik ke motor yang satunya.
“Ya jelas bonceng you lah Mas!”
__ADS_1
*
*
“So gaes, here we are, on Pos 2 Gunung Sindoro. For you gaes, my Ai Lovers,” Ai lalu bergoyang-goyang sepanjang perjalanan sambil bernyanyi, “Wong ko ngene kok dibanding-bandingkeeee
Saing-saingkeeee, ya mesti kalaaaaah,”
Aki Tirem mencondongkan diri ke arah Rahwana sambil mengernyit menatap Ai yang berjalan di belakang mereka, “ Itu si Ai, belum kemasukan udah gila duluan Wan,”
“Demi sepatu Adidas katanya, Ki, dia rela joget-joget di hutan,”
“Apa? You nggak percaya eike lagi di gunung? Noooh liat noh pemandangannya!!” seru Ai di belakang mereka.
Rahwana dan Aki Tirem menghentikan kegiatan mendaki mereka dan mengamati Ai. Tampak di belakang AI sekelompok pendaki juga sedang menuju Pos 2.
“Hah?! You nuduh ini CGI? Gara-gara Eike pake baju casual?!” seru Ai kesal.
“Wan, apa hubungannya sepatu Adidas sama Ai Joget-Joget?” tanya Aki Tiren lagi.
“Kalo pada suka sama tayangan Ai, nanti dia bisa femes, kalo udah femes nanti ada yang akan minta Ai untuk memasarkan produknya. Nah dari situ Ai dapat uang buat beli sepatu. Kegiatan itu namanya Endorse,”
“Wah, dulu juga ada loh yang begituan, tapi langsung dibayar pakai barang yang diminta,”
“Dulu itu kapan?”
“Waktu Atlant-” Aki Tiren tiba-tiba terdiam. “Ai, berhenti dulu teriak-teriaknya,”
“Heh? Lagi live loh ini Ki,” sahut Ai.
“Mobil buat ke Villa Eyang Gandhes sudah datang,”
Wajah Ai langsung pucat, “Mo-mo-mobil?!”
Lalu sekitar mereka suasana jadi berubah total. Yang terlihat adalah hamparan taman penuh bunga, datar dan tertata. Pun alat elektronik mati seketika, dan hutan pun menghilang.
Di dekat mereka, Aston Martin DBX keluaran tahun 2020 meluncur mulus di jalanan yang herannya beraspal.
__ADS_1
Tapi Ai diam di tempat. Ia melihat sesuatu di belakang Rahwana dengan tegang. Tangannya perlahan merogoh pinggang bagian belakangnya untuk meraih Tokalev yang terselip, lalu membuka kunci laras pendeknya.
“Itu siapa yang dibelakang you, Mas?” tanyanya dengan wajah waspada sambil mengarahkan ujung pistolnya ke objek yang menurutnya mengancam keselamatan Rahwana.