Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan 27 : Bu Irma


__ADS_3

Selingkuh adalah pilihan bukan kesalahan.


“Gimana? Puas?” tanya Rahwana saat ia mendampingi Nayaka keluar dari gedung.


Nayaka tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Namun di bibirnya tersirat sebuah kebahagiaan.


“Makasih, Mas,” Nayaka berhenti melangkah dan menghadap Rahwana, “Kini aku tahu aku tidak bertepuk sebelah tangan,”


“Kamu mau melanjutkan masalah cinta-cintaan ini?”


“Ya tentu, kalau bisa sampai tua nanti,”


“Kamu tahu kan kalau Ai dan kamu berbeda?”


Nayaka diam, “Pasti ada jalan keluarnya,” begitu dia bicara. Walau pun langsung terlihat kalau ia tidak nyaman dengan pembicaraan itu.


Rahwana jengah, seandainya saja ia bisa memeluk adik sepupunya ini untuk membesarkan hatinya, tapi di sini semua orang sedang memperhatikan mereka. “Nay,”


Nayaka mengangkat wajahnya dan menatap Rahwana dengan nanar. Tampak kesedihan di matanya walau pun bibirnya tersenyum lembut, “Maaf kalau membuat kamu sedih, tapi kalau tak kuingatkan aku pun bersalah,”


“Mas,” Nayaka tampak risau, ia ingin secepatnya pergi dari sana, “Kalau Ai benar-benar berkenan denganku, dia akan memperjuangkan kami,”sepenuh hati gadis itu berusaha membulatkan tekadnya untuk terus maju.


Sesuatu yang Rahwana tak bisa ikut campur.


Setelah mengantarkan Nayaka masuk ke dalam mobil, Rahwana pun kembali ke dalam gedung. Namun langkahnya terhenti saat ia masuk ke Lobi.


Seseorang sudah menunggunya di tengah ruangan, menatap dengan pandangan sangat sedih.


“Iwan,” suara itu serak dan muram. “Bisa tolong saya?”


Rahwana pun terdiam. Di depannya sekarang mungkin saja merupakan saksi kunci dari semua permasalahannya.


“Kalau saya bisa tolong, saya dapat informasi penggelapan dana ya?” tembak Iwan langsung.


“Baiklah,” jawab Qorin Pak Yanto.


“Dia sudah tenang di sana?”


“Itu rahasia semesta,”


“Oh, jadi ada hal yang masih mengganjal ya,” begitu kesimpulan Rahwana saat suatu entitas menjawab dengan hal bias.


“Jadi apa masalahnya?” tanya Rahwana lagi.


Pak yanto menunjuk ke operator, ke arah seorang wanita berjilbab yang menggunakan jarit menggendong bayi, sementara kedua tangannya menggandeng dua orang anak kecil yang bahkan jalan saja belum lancar.


“Itu istri saya, “ gumam Pak Yanto. Lalu ia pun menghilang.


Rahwana teringat ucapan Pak Firman Setengah tadi, kalau sore ini istri Pak Yanto akan datang. Dan ia meminta bantuan Rahwana.


Bahkan mungkin, apabila yang bertemu dengan Rahwana adalah Pak Firman yang asli, ia tidak akan menyerahkan hal itu ke Rahwana.


Hal ini karena Pak Firman Setengah tahu kalau Rahwana lah pemilik dari semua yang ada di sini. Jadi suatu hal tepat meminta bantuan kepadanya.


Juga tampaknya Pak Yanto yang rupa-rupanya terperangkap juga di gedung ini sudah tahu kalau Rahwana adalah owner.


Jadi yang minta bantuan padanya adalah dua astral. Kesempatannya untuk memanfaatkan semuanya dan membuat aliansi. Kalau posisinya sudah kuat, untuk mencaritahu pun akan  lebih mudah.


“Mbak, saya jauh-jauh dari Gunung Putri kesini bawa-bawa bayi loh!” seru wanita itu.

__ADS_1


“Ya saya tahu bu, tapi Pak Firmannya baru saja pergi,”


”Dia tidak mungkin melupakan janji kami, saya sudah konfirmasi lewat telepon!”


“Makanya, nanti ada mbak Jihan yang-”


“Saya tidak mau bicara dengan Jihan!! Saya sudah bilang dia salah satu selingkuhan suami saya! Ngapain juga saya bicara dengannya?!”


Semua yang memperhatikan kejadian itu malah jadi tahu akar masalahnya.


Rahwana sambil geleng-geleng kepala menghampiri wanita itu.


“Permisi, Bu,” Pemuda itu mendekati si wanita, dan tersenyum ramah. Wanita di depannya ini tampak dalam keadaan panik dan marah. Seorang wanita yang tiba-tiba harus berjuang sendirian membesarkan anak-anaknya, harus membereskan masalah suaminya yang tadinya ia tidak tahu.


Sudah pasti harus ditangani dengan hati-hati dan special. “Pak Firman tadi sudah konfirmasi ke saya. Ibu akan langsung menemui Pak Rey di ruang meeting,”


“Loh? Mas Iwan, mbak Jihannya bagaimana? Saya sudah panggilkan dia,” kata Operator.


“Ah, dia standby di sini saja dulu,karena masalah ini kaan cepat selesai kalau pihak yang berkepentingan yang ikut andil, Mbak,”


Sang operator pun mengangguk. Ia percaya saja dengan Rahwana, lagipula tadi yang menemukan Pak Firman dalam keadaan memprihatinkan ya si Iwan ini.


Rahwana menyeringai. “Mari bu saya antar ke ruang meeting,”


Saat mereka berjalan, Rahwana pun mengambil ponsel di kantong celananya dan menghubungi Pak Rey dengan berbisik,


“Maaf, Pak Rey, bisa diganggu, Pak?” walaupun Rahwana pada dasarnya adalah ownernya dan Pak Rey pun sudah mengetahui hal itu. Namun Rahwana masih menjaga kualitas dirinya dengan tata krama yang senantiasa diajarkan Mamanya.


“Bisa Pak, saya lagi di ruangan Pak Jared, Pak Aji juga di sini, lagi ngobrol santai saja kok,”


“Saya boleh minta tolong temui istrinya Pak Yanto? Dia datang kemari,”


“Pak Firman baru saja terkena serangan jantung Pak, tapi dia sudah kami bawa ke rumah sakit sekarang,”


“Hah? Kapan?! Kok saya tak tahu?!” seru Pak Rey dari seberang.


“Ya sekarang bapak sudah tahu,” Rahwana melihat ke arah jam tangannya, lalu berdiri agak menjauh dari Istri Pak Yanto agar suaranya tak terdengar. “Jadi Pak, saya mengendus Pak yanto adalah saksi kunci dalam kasus yang terjadi di divisi bapak, Tapi Pak Firman kan otoritasnya di bawah Pak Jared. Sekalian saja ajak juga beliau untuk ikut meeting, bagaimana?”


“Saya juga masih kesal dengan Pak Endang, sudah pasti Pak Yanto juga. Baik Pak, kita ikut meeting, di mana?”


“Ruang meeting yang lantai 3 ya Pak,” dalam keadaan membawa bayi begini, tidak mungkin Rahwana akan membawa keluarga kecil ini melewati lantai 7.


*


*


“Waduuuh, Si Iwan ini, Karyawan teladan kamu!” Pak Komisaris Utama, Pak Ajidarma, menepuk-nepuk bahu Rahwana dengan rasa bangga. “Jabatan kamu memang cuma OB tapi dedikasi kamu mengalahkan kita bertiga,”


Pak Rey hanya melirik dengan senyum simpul. Bahkan sekelas Pak Komut saja tidak tahu kalau Iwan adalah atasan mereka.


“What Happened with Firman? We had lunch before meeting, so now he’s in hospital? What the heck happen?!” Pak Jared langsung memberondong Rahwana dengan pertanyaan. (Firman Kenapa? Tadi sebelum meeting kami makan siang bareng, sekarang dia sudah di rumah sakit? Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Eum... i don’t know either. Seems like he’s having a heart attack, Pak.  But we just wait for doctor diagnose, shall we?” Rahwana tersenyum menenangkan.  (Saya juga tidak tahu Pak, sepertinya serangan jantung. Tapi kita tunggu diagnosa dokter saja ya?)


Tapi Pak Jared dan Pak Ajidarma langsung terdiam dengan pandangan mengarah ke arah Rahwana.


Diperhatikan sebegitu lurusnya, Rahwana pun jengah dan melirik Pak Rey, takut dia ada salah kata. Tapi Pak Rey hanya terkekeh sambil memutar bola matanya, lagi-lagi Bossnya keceplosan ngomong. Batinnya.


Rahwana mencibir menyadari kesalahannya.

__ADS_1


Seorang OB bisa bicara bahasa Inggris lancar sudah pasti hal aneh.


“You can even speak english?” gumam Pak Jared, “Is the quality of an office boy nowadays really that high or is it just you?”


(Kamu bahkan bisa bahasa inggris? Apa kualitas office boy jaman sekarang setinggi itu atau hanya kamu saja yang begitu?)


“Eh, tapi saya dengar sekarang buruh pabrik saja TOEFL nya harus 450 keatas loh,” kata Pak Ajidarma.


“Itu buruh pabrik di perusahaan mana?!”


“Ya Pabrik suku cadangnya Garnet lah, haha,” kata Pak AJidarma.


“Tapi kok pengucapannya seperti dia native speaker?!” desis Pak Jared sambil memicingkan mata mencuirgai Rahwana. (Native Speaker adalah orang yang menggunakan suatu bahasa untuk menjadi bahasa ibunya/bahasa utamanya).


“Pak, ada yang lebih penting dari membahas kemampuan Iwan,” Akhirnya Pak Rey mencoba mengalihkan perhatian Pak Jared.


“Ohiya benar,” sahut Pak Dir.Ops dari Amerika itu, “But, I’m watching you,” desisnya sambil menatap tajam ke Rahwana.


Dan mereka pun masuk ke ruang meeting.


“Bu, ini Direktur dan Komisaris kami. Ini Pak Rey atasan Almarhum, Pak Jared atasannya Pak Firman HRD, dan Pak Ajidarma Komisaris Utama kami,”Rahwana memperkenalkan mereka.


“Ah, gitu ya...” tampak Istri Pak Yanto menatap ketiganya dengan takjud. Yang menemuinya secara langsung adalah para petinggi, sudah bukan lagi anak buah.


Sontak, istri Pak Yanto merasa sangat dihargai.


“Bu...?”


“Ah, nama saya Irma, Pak,”


“Bu Irma, saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kehilangan ibu. Saya mengerti kalau Pak Yanto adalah tulang punggung keluarga. Pasti tidak mudah untuk menghadapi hari-hari tanpa beliau,,” kata Pak Rey.


“Pak Rey, suami saya kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Pak Endang telepon-telepon saya terus minta tunjangan dibagi dua dengannya, katanya tercapai tergetnya juga karena Pak Endang yang membantu. Lalu kenapa hape suami saya ada sebanyak ini Pak?! Dan semuanya bunyi dari nomer-nomer dengan nama panggilan cewek-cewek gitu Pak, apakah mereka orang dari kantor sini? Tapi kok menelponnya tidak tahu waktu, bisa jam 8 malam, bisa dini hari juga. Semua ponselnya pakai password Pak, jadi saya belum berani buka, tapi ada banyak wa masuk,”


“Wah,” gumam Pak Ajidarma, “Ibu, lebih baik bicarakan dengan mereka berdua ya Bu, Saya bawa anak-anak ke playground di sana itu. Agar kalian lebih nyaman mengobrol,” Bapak-bapak bertubuh gempal besar , bahkan lebih besar dari Pak Firman itu menggiring anak-anak Bu Irma keluar.


“Kalau begitu saya bikinkan minum-”


“Iwan kamu di sini saja,” potong Pak Rey mencegah Rahwana keluar, “Saya tidak terlalu mengerti permasalahannya, seperti kamu lebih tahu isu kantor,” begitu alasan Pak Rey sambil menyeringai. Padahal sebenarnya dia hanya takut menghadapi wanita histeris sendirian. Sudah pasti Pak Jared tidak terlalu banyak berguna.


Jadi Rahwana pun duduk manis di sana, di sebelah Pak Rey.


Bu Irma merogoh tasnya dan mengeluarkan beberapa ponsel dengan berbagai warna dan merk. Tak lama dua diantaranya berbunyi. Yang satu tertera di layarnya ‘Diana, Lovita Spa’ dan yang satunya lagi ‘Bini Sexy’.


Mereka bertiga menatap ponsel yang berbunyi di atas meja itu dengan tegang.


“Apa maksudnya Bini Sexy Pak? Saya tidak menghubunginya loh Pak,”


Mereka bertiga mengangkat wajah menatap Bu Irma, masih dengan tegang.


Lalu Rahwana merasa kalau Pak Rey menyenggol-nyenggol sepatunya, seakan bicara : gimana ini, Boss?!


Lalu Rahwana membalasnya dengan injakan keras, sampai Rak Rey meringis kesakitan sendiri.


“Maaf Bu Irma,” kata Rahwana akhirnya, ia bantu juga lah si Direktur tak bergunanya itu. “Saya rasa ibu sendiri sudah tahu jawabannya, biasanya insting seorang istri jauh lebih kuat terhadap suaminya mengalahkan orang lain,”


Bu Irma menatap Rahwana dengan nanar.


Ya, dia tahu.

__ADS_1


Dia hanya takut sendirian menghadapi semuanya.


__ADS_2