Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
catatan 39 : Ai dan... Pacarnya?!


__ADS_3

"Loh? Ai?" seorang pria dengan rambut abu, kaos oblong, celana training, dan segelas kopi di tangannya menyambut Ai di pintu depan.


"Om, Nay ada kan?" tanya Ai.


"Ada. Lagi ngambek kayaknya, tadi pulang cemberut terus,"


Ai mengerucutkan bibirnya. Kalau begini sih nggak mungkin dia bakalan mau makan Red Velvet. Begitu pikirnya.


"Eike bawa kue buat Om dan Tante Meli,"


"Heh? Serius? Ini buat saya?!"


"Hem... Eike tahu Om Dim bisa bikin lebih enak, tapi kan males juga bikin sendiri terus,"


"Ya bener sih," Ayahnya Nayaka menerima kotak kue yang disodorkan Ai dengan seringai lebar. "Si Nay ngambek gara-gara kamu pasti ya?!" tebaknya.


"Ish, dia mah mana pernah nggak ngambek," gerutu Ai sambil berjalan menuju kamar Nayaka.


"Beda jenis cemberutnya Ai. Kalo gara-gara kamu lebih drama cemberutnya,"


"Kayaknya mulai besok dia akan lebih cemberut lagi,"


"Jangan macem-macem kamu,"


"Justru ini biar jalannya lurus Om," Ai memperagakan jalanan lancar dengan tangan disodorkan ke depan.


"Lurus itu berarti..." Ayahnya Nay memicingkan mata, ia tampak berpikir karena mengolah bahasanya Ai itu tidak mudah, "Oh, kalau bisa nolaknya pelan-pelan aja Ai. Dia spooringnya masih versi lama, belum balance, jadi suka labil. Masa saya harus ruqyah kalo dia depresi," Ayahnya Nay mencolek sedikit krim dari dalam kotak kue, "Ini cocok buat ngopi tengah malem. Sip,"


"Om Dim," Ai mundur sedikit ke belakang sambil mengernyit, "Dari mana Om tau kalau Eike mau nolak Nay?"


"Hm? Feeling aja, habis tampang kamu mellow gitu, lagian saya pusing kalau Pak Arman nelpon saya cuma buat curhat masalah kamu dan Nay,"


"Papa nelpon Om Dim?! Masa sih Om?!"


"Dih! Kita nih udah jadi bromance sejak saya jadi saksi pernikahannya sama Mbak Ayu loooh, yang dia nggak bisa ceritain ke Mas Yan, diceritakannya ke saya. Sampe berjam-jam, sampe Meli curiga jangan-jangan saya punya cem-ceman berkedok nickname 'Arman',"


"Heh..."


"Udah sana kamu temuin tuh si Nay, habis itu biarkan dia sendirian. Princess udah gede hampir jadi Queen nggak seharusnya manja begitu terus," kata Ayahnya Nay sambil mengiris kue.


Dan Ai pun bergegas ke arah kamar Nay.


*


*


"Nay?" Ai mengetuk pintu kamar Nayaka dua kali.


"Nay, udah bobo belom?" Ai mengetuk lagi dua kali.


Tidak ada suara dari dalam, jadi ia coba putar gagang pintunya.


Di depannya Nayaka duduk di sofa sambil menatap Ai.


Ai menarik napas panjang.


Gila-Gulagula, cantik bener ni ciwi. Liat aja dia malem-malem pake lingerie, Bo! Begitu katanya dalam hati sambil menatap Nayaka dari atas ke bawah.


Nayaka hanya menatap Ai dengan dingin, dalam diam, dan sambil menaikkan alisnya. Tampaknya gadis itu sedang mogok bicara dan meminta penjelasan.


"Sori, eike telat. You tahulah mendaki gunung nggak semudah yang dibayangkan walopun di sana udah ada pawang setan,"


Nayaka mencebik sambil membuang muka.


"Telat banget ya? Nay udah nungguin di cafe lama ya?!"


Nayaka tetap bungkam sambil cemberut.


Ai pun menggigit bibirnya dan masuk ke dalam. Ia tidak yakin ini waktu yang tepat untuk bilang 'aku selama ini menganggapmu sebagai adik walaupun sebenarnya aku juga suka kamu'. Bisa-bisa Nayaka makin meradang.


"Nay," Ai mendekat dan berlutut di depan Nayaka sambil mendongak untuk melihat wajah gadis itu denganlebih jelas. Lalu ia mengerutkan dahinya.


Wangi mawar campur melati. Sangat menyenggat.


"Parfum baru Nay? Hehe," Ai mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


Nayaka tetap diam, namun kini menatap Ai sambil memicingkan mata. Tanda dia masih ngambek.


"Maaf ya Nay," gumam Ai. "Bukannya eike pingin-"


Kalimat Ai terpotong karena Nayaka tiba-tiba mencengkeram kerah leher kaos Ai dan berdiri.


Lalu dengan sekali bantingan ia jatuhkan Ai di ranjang dekat sofa.


Dan gadis itu naik ke atas tubuh Ai, mengunci gerakan cowok itu.


Ai sampai terperangah melihat tingkah Nayaka, ia bahkan tidak mampu berkata-kata.


"Ssstttt," desis Nayaka sambil menempelkan telunjuk di depan bibirnya, memberi sinyal untuk Ai supaya diam sambil tersenyum dengan licik.


Senyumnya mengandung banyak arti, bagaikan ada gairah tersembunyi yang menggebu-gebu yang selama ini tertahan. Juga suatu rencana yang diluar ekspektasi Ai.


"Nay?!" tanya Ai masih kaget.


Nayaka sedikit memundurkan tubuhnya dan duduk di atas kedua betis Ai.


Dan berikutnya, dengan sigap tangannya membuka kaitan ikat pinggang celana jeans yang dikenakan Ai.


"Ajim! Nay ngapain?!" seru Ai panik sambil bangkit dan menepis tangan Nayaka dari tubuhnya.


Tapi tangan Nay menahan leher Ai supaya cowok kembali terbaring.


Sejak kapan Nayaka sekuat ini?! Batin Ai panik.


"Nay, eike serius! jangan macem-mac-" namun ia berhenti bicara.


Seharusnya Ai marah.


Seharusnya cowok itu mencegah Nayaka  untuk berbuat gila.


Tapi saat itu, saat ia memprotes perlakukan Nayaka,


Gadis itu menatapnya lekat-lekat sambil mengiba.


Tatapan yang menghipnotis, membuat seakan sendi Ai lumpuh seketika dan hatinya langsung luluh.


Lalu senyuman kembali terkembang di wajah Nayaka, dalam diam dia buka celana Ai, dan dia keluarkan tubuh Ai dari balik boxernya.


"Astaga, Nay," keluh Ai sambil memejamkan matanya. Kepalanya terdongak ke atas menikmati perlakuan Nayaka padanya. Sesekali ia membuka matanya, yang ia lihat di depannya adalah seorang bidadari sedang mengu1um tubuhnya, area sensitifnya.


“Nay, jangan gini,” keluh Ai lagi sambil mencoba menepis Nayaka, namun seakan tubuh cowok itu tidak bertenaga. “Ergh...” berikutnya ia hanya bisa mengeluh karena menahan nikmat.


Apa yang harus kulakukan?!


Apa?!


Dalam kepanikan namun dalam kenikmatan duniawi ia mencoba berpikir jernih. Lalu melayangkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk mencari sesuatu yang bisa mencegah Nayaka berbuat lebih jauh.


Dan saat itu, matanya tertuju ke meja rias. Di sana ada kaca raksasa tempat Nayaka biasa berhias.


Dan yang Ai lihat disana...


Adalah sosok wanita cantik berbadan ular sedang mengulu1um kejantanannya.


Ai terpaku melihat pemandangan itu.


Tangannya gemetar, mencapai bantal di dekatnya.


Lalu ia pukulkan sekuat tenaga ke arah si ‘Nayaka’.


BUAGG!!


“Gila!!” serunya panik.


Si Nayaka jatuh ke lantai, membentur lemari, dan berubah menjadi sosoknya yang sebenarnya, “Ishhhhh ketahuan yaaahhhhssss,” keluhnya sambil menarik lidahnya yang bercabang ke dalam mulutnya.


“Kenapa Slytherin disindang?!!” seru Ai sambil mencabut Tokalev di pinggangnya, dan mengarahkannya ke si ular.


“Hehe, saya ikut kamu dari gunung ssssttt,” katanya sambil mengibaskan rambut hitamnya yang tampak selembut sutra.


“Ngapain coba Bibi Lung ikut turun gunung?!”

__ADS_1


(Baca juga novelnya temen Madam Author Violetta Slyterin’ yang berjudul Pendekar Naga Siluman. Genrenya Fantasi ya, yang suka cerita berbau drama petualangan silahkan merapat).


“Habis kamu ganteng, hehe, Ssssttt,” matanya yang kuning dan berkelopak rapat menatap are sensitif Ai yang masih tegak dengan rasa lapar.


Ai sadar kalau ia diperhatikan dan mengalihkan pandangannya ke arah objek yang dilihat si siluman ular. “Njir!” seru Ai sambil memasukkan semuanya ke dalam celana dan mengencangkan ikat pinggangnya.


CKLEKK!


Pintu kamar mandi dibuka.


Nayaka keluar dari sana dengan berbalut handuk. Ia tampak habis mandi.


Mata bulatnya tampak terkejut melihat Ai “Ai?” tanyanya.


Ai langsung menurunkan pistolnya. “Eh... Nay,”


“Ngapain kamu di situ?” tanya Nayakadengan wajah kesal.


“Ummm...” Ai melayangkan pandangan ke segala arah, si siluman ular sudah tidak ada.


“Kalau mau minta maaf, udah telat ya,” gerutu Nayaka sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


“Hum,” Ai menggaruk-garuk kepalanya. Dia masih shock.


“Terus dia siapa Ai?” tanya Nayaka sambil memicingkan mata.


“Eh?” Ai menoleh mengikuti pandangan mata Nayaka dan melihat seorang wanita, cantik, berambut hitam dengan dress hijau brokat yang elegan dan gayanya tak kalah cetar dari Nayaka, hanya tampak lebih dewasa dan lebih matang, berdiri di sebelahnya.


“You siapa?” gumam Ai pelan sambil mengernyit.


“Aku? Aku pacarnya Ai,” Wanita itu memeluk lengan Ai dengan mesra. Ia memandang Nayaka sambil menantangnya.


“Heh?!” seru Ai.


Nayaka bahkan memekik tak percaya.


“Iniiii...” Ai bahkan sampai specless.


“Pacar? Sejak kapan Ai?!”


“Eh?” Ai makin bingung. Lalu sekilas dia menangkap kornea hijau di mata wanita itu menyipit bagaikan ada celah di tengahnya. Mata seekor ular.


Baru Ai menyadari siapa wanita di sebelahnya ini.


“Kami bahkan sudah HS loh,” kata si wanita bergaun hijau.


“Hah?!” seru Ai dan Nayaka berbarengan.


“Ya kan Ai?” kata si wanita itu sambil mengelus daun telinga Ai.


Cowok itu langsung teringat adegan yang tadi dan wajahnya langsung memerah.


Hal itu sudah cukup memberi penjelasan ke Nayaka.


“Keluar,” gumam Nayaka geram.


“Nay...”


“Keluar kalian semua!! Dasar cowok brengsek!!” jerit Nayaka sambil melempar botol parfumnya ke arah Ai. “Apa yang kemarin kamu bilang kamu juga suka aku hah?! Suka sebagai apa, Hah?! Jangan bilang suka sebagai adik!!”


“Yah,”


“Keluar Cepat!!” jerit Nayaka marah.


Prang!!


Botol parfum membentur tembok di belakang Ai sampai pecah berhamburan.


Ai menarik si wanita bergaun hijau dan keluar dari kamar Nayaka. Dan menutup pintunya.


Masih terdengar jeritan frustasi dari dalam kamar.


“Njir,” gumam Ai sambil mengatur napasnya. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Nayaka.


“Nama you siapa?”

__ADS_1


“Darmaya,” sahut wanita itu, “Biasa dipanggil Sri Ratu kalau di Sin-”


“Bomat! You ikut eike, biar divakum sama Mas Iwan!” Ai dengan marah mencengkeram wanita itu untuk pulang. Si Wanita bergaun hijau hanya terkekeh, sepertinya ia geli dengan tingkah Ai.


__ADS_2