
“Pak Firman, makan siang juga?” Rahwana menyapa Pak Firman saat lift terbuka.
“Nggak,” jawab Pak Firman pendek.
Rahwana pun masuk ke dalam diikuti oleh Ai, lalu pemuda itu mengernyit karen atombol lift belum dipencet. “Mau ke lantai berapa Pak?”
“Kamu mau kemana?” tanya Pak Firman.
“Kantin gedung sebelah,” jawab Rahwana.
“Ikut aja deh, sekarang saya bisa di mana saja,”
Rahwana merasa aneh dengan jawaban Pak Firman, dan spontan ia menatap ke arah kaki. Ada kok kakinya. Batin pemuda itu.
“Wan,” panggil Pak Firman.
“Ya Pak?”
“Kamu ingat Pak Yanto?”
“Ya jelas ingat,”
“Nanti sore istrinya datang ke sini, mau urus jamsostek dan tunjangan, juga hutang-hutang beliau, saya mungkin nggak sempat menangani mau langsung pergi,”
“Ada Mbak Jihan kan?”
“Ada, tapi saya berharap kamu bisa bantu juga,”
“Apa yang bisa saya bantu?”
“Kasihan istri Pak Yanto,”
“Kasihan gimana? Memang apa masalahnya?”
“Mas Iwan, you ngomong sama siapa?” tegur Ai.
“Eh?” Rahwana menoleh ke Ai sambil mengernyit. Lalu ia menoleh lagi ke arah Pak Firman.
Kosong.
Hanya ada dia dan Ai di lift itu.
Tidak ada Pak Firman.
Jadi siapa yang daritadi bicara dengannya?
Dan kalau itu Pak Firman Setengah, kenapa wujudnya sempurna?
Itu berarti...
Seketika pemuda itu dilanda pikiran buruk.
“Ai,” dengan terbata Rahwana menekan tombol open, “Kamu makan duluan aja,” mereka sudah sampai di lantai lobby.
“Hah?! Lah, You mau kemana?!”
“Mau ke atas lagi,”
“Wait!” Ai menahan pintu lift agar tidak menutup, “I’m coming in!” (Aku ikut)
“Ini bakalan lama,”
__ADS_1
“Eike guardian you, bro. Daripada you kenapa-napa akoh digantung kebalik sama Papa, mending kita hadepin sama-sama, mati ya sama-sama!” Ai menutup kembali pintu liftnya. “Mending eike death with pride, daripada seumur-umur regret!”
(Guardian : penjaga. Death With Pride : Mati terhormat. Regret : menyesal)
Setelah pintu tertutup,
“Emang ada apa sih bro? Tadi you ketemu siapa?” tanya AI.
Rahwana berdiri dengan gusar. “Pak Firman,”
“Pak Firman? Pak Firman HRD?!”
“Iya, sesuatu yang wujudnya menyerupai dia,”
Ai membulatkan matanya, “Duh, ada apa lagi nih?” gumam cowok itu.
“Terakhir aku ketemu yang kayak gitu waktu kasus Pak Yanto,”
“Pak Yanto tuh siapa?”
Lalu Rahwana menceritakan dengan cepat kejadian yang dia alami waktu menemukan Pak Yanto dalam keadaan meninggal.
“Anjay,” gumam Ai. “Gawat dong, penawaran gaji akoh belom diajuin ke Boss pula,”
“Boss kamu kan di sini,” sahut Rahwana sambil tetap menatap ke depan.
Ai langsung berbinar, “Heh? Bukannya Pak Rey?”
“Atasannya Pak Rey siapa?”
“Hem... Pak Dirut,”
“Atasannya Pak Dirut?”
“Nanti kuatur soal gaji, kalau kamu kerjanya bagus,” kata Rahwana disertai erangan Ai saat mendengar kata-kata ‘kalau kamu kerjanya bagus’. Karena jelas ia tidak berniat bekerja kantoran. Di pikirannya jalan-jalan ke luar negeri menghadiri Fashion Week adalah impiannya, bukan menjadi budak korporat. “Lagipula belum tentu Pak Firman nasibnya sama seperti Pak Yanto,” kata Rahwana lagi.
“Ya bener sih,” Lalu Ai terdiam dan mengernyit. “Kok bau ya?” gumamnya sambil menajamkan penciumannya.
Rahwana menengadahkan kepalanya ke atas, ia juga mencium bau busuk itu. Bau bangkai yang menyengat, lebih busuk berkali-kali lipat daripada bau bangkai tikus.
Ai sampai-sampai menutup hidungnya. “Kayaknya aku kenal bau ini,” gumamnya.
“Oh,” Rahwana melipat bibirnya dan berdzikir dalam hati. Ia menatap ke arah tombol lift, dari tadi mereka masih stuck di lantai 7, lantai keramat. Sedangkan mereka akan kembali menuju ke lantai 15. Lift itu rasanya berjalan sangat lambat, bagai ada beban sangat berat di dalam lift.
Pemuda itu sudah tahu siapa yang datang menemani mereka berdua di dalam lift.
Ai sekarang terdiam, tidak bawel seperti biasanya. Ia menatap ke arah belakang Rahwana, lalu pandangannya perlahan ke atas. Ai hanya diam, tidak pucat, tidak tergagap, malah lebih seperti waspada.
Lalu pemuda itu menarik senjatanya dan mengarahkannya ke belakang Rahwana. “Kalau eike tembak mempan nggak?” desis Ai Awso.
“Nggak, dia bukan berasal dunia ini,” sahut Rahwana.
Terdengar tawa yang menggelegar dari dalam lift.
“Ya eike tahu, bentukannya berantakan gitu nggak mungkinlah makhluk fana. Tapi siapa tau masih bisa diusir pake peluru,”
“Yang ada membahayakan kita berdua, Ai,”
“Kenapa aku bisa lihat?” tanya Ai selanjutnya. Pertanyaan yang juga mau ditanyakan Rahwana.
“Karena saya ingin terlihat, walau pun harus menghabiskan banyak energi,” kata entitas itu.
__ADS_1
“Ilmunya udah tinggi tuh,” gumam Rahwana.
“Jadi Eike harus apa?!” Ai mulai panik.
“Harus kalem,”
“Mana bisa kalem?! Itu gedenya sampe ke plafon!” sahut Ai.
“Takut?” tanya Rahwana.
“Nggak, cuma disturbing banget Mas! You nggak begah diikutin dia?! Mana baunya buset macam kagak mandi berapa lama lo! Pasti pas hidup dosanya numpuk yak!” Omel Ai.
Rahwana terkekeh.
“Rahwana,” Kuntoro bersahut dengan suara serak yang panjang, “Seharusnya kami bisa ambil dia. Gara-gara jiwa tersesat dia selamat. Jadi kami akan cari gantinya,”
“Siapa?”
“Terserah Gusti,”
“Aku tidak akan segan-segan melenyapkan kalian, kalau kalian berani mengganggu teman-temanku, walau pun aku akan dipanggil oleh pengadilan Djin,” ketus Rahwana.
“Kita lihat saja, Hahahahaha!!”
Dan sosok itu pun lenyap.
“Mas?”
“Hm?”
“Djin bisa nyakitin manusia nggak sih?”
Rahwana menghela napas, lalu tersenyum masam.
“Maksud Eike, secara langsung, gitu,” tambah Ai was-was.
Ting! Lift berhenti di lantai 15. “Bisa,” jawab Rahwana pendek sambil keluar dari lift.
Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi berkata, “Sesungguhnya fakta yang menyatakan bahwa bangsa jin menyakiti manusia tidak bisa dipungkiri berdasarkan tetapnya dalil dari Al-Quran maupun As-Sunnah dan realita-realita yang pernah terjadi”.
Kalaulah bukan karena tirai-tirai penghalang dari para malaikat yang diperintahkan Allah untuk menjaga manusia, niscaya tidak ada seorang pun yang selamat dari gangguan jin dan setan.
Yang demikian itu, karena manusia tidak dapat melihat mereka dan bahwa adanya kemampuan mereka untuk berubah bentuk dalam waktu yang relatif cepat, dan juga karena tubuh mereka yang halus dan lembut, sehingga kita tidak dapat merasakan dan menyentuhnya.
Dari sini dapat diyakini bahwa sebagian jin menyakiti (menzalimi) manusia. Apakah karena manusia itu sendiri yang mulai mengganggu atau menyakiti mereka dengan menyiramkan air panas kepada mereka atau mengencingi mereka, atau menempati tempat tinggal mereka tanpa sadar, sehingga mereka membalas dan menyakiti manusia.
Segera, setengah berlari mereka berdua menuju ke arah ruangan Divisi HRD.
“Mbak Jihan,” sapa Rahwana, “Bapak ada?”
“Ada Mas, tapi lagi terima tamu,”
“Ohya?”
“Iya, Rasanya saya tidak pernah lihat tapi dia pakai nametag sini. Tinggi dan wajahnya-”
“Seperti Noni-Noni?” potong Rahwana.
“Lah! Kok tahu?!”
“Kami masuk ya mbak, penting sekali,”
__ADS_1
“Eh? O-oke, Mas,”
Dan dalam satu gerakan mereka membuka ruangan Pak Firman.