
“Sisca, baju itu...”
“Hehe,” Fransisca tertawa lembut, “Baju ini kukenakan saat terakhirku terlihat cantik di matamu, waktu itu. Juga saat terakhir aku terlihat menyedihkan. Kamu bahkan sampai pingsan waktu itu,” Wanita itu membetulkan ujung roknya supaya menutupi pahanya.
“Untungnya, wujud astralku sempurna. Mungkin karena ingatan mengenai sosok sempurna tubuhku lah yang masih ada di otakku. Bukan mengenai sosok tanpa tangan dan tanpa kaki,”
“Hem,” gumam Rahwana miris.
“Kamu tahu, tubuhku senantiasa berselimut perban di villa Eyang Gandhes. Aku tidak pernah benar-benar jelas melihat kondisi tubuhku yang menyedihkan. Apalagi jiwaku terikat padamu, jadi aku hanya beberapa kali saja mengunjungi villa Eyang,”
“Tapi Eyang sering mengajakmu mengobrol?”
“Ohya, sering. Ke Tubuhku setiap saat. Bahkan sekarang dia juga sedang mengobrol denganku, aku mendengar suaranya sekarang. Dia bagaikan orang tua yang tidak pernah kumiliki. Bahkan dia yang mengizinkanku untuk menampakkan diri di depanmu,” wajah wanita itu tampak bahagia.
Fransisca mengulurkan tangan menyentuh pipi Rahwana. Walaupun bentuknya adalah roh seseorang, tapi sentuhannya terasa nyata. Hangat dan lembut. “Kamu sudah tumbuh dewasa dengan baik, Iwan... ah, bahkan waktu itu kamu sudah jadi anak baik,”
“Hm,” Rahwana hanya bisa bergumam. Ia ingin bertanya banyak hal, namun melihat wanita itu sekarang, semua yang ia ingin tanyakan malah menghilang dari kepalanya.
Seakan memang semua sudah tak perlu lagi jawaban.
“Iwan,” Perlahan Fransisca semakin mendekati pemuda itu dan memeluknya, “Semua yang kamu dengar dari Mama kamu dan komandannya, adalah benar,”
Iwan menunduk sambil juga memeluk Fransisca, menyesap wangi jiwa Fransica. Berbau rempah yang menyejukkan pikirannya.
Rasanya ia permah berada di posisi ini. Memeluk tubuh wanita ini.
Dimana ya?
Sambil berusaha mengingat, Rahwana lalu memejamkan matanya.
“Kamu terluka tidak?” suara dari masa lalu langsung berbayang di benaknya.
Suara yang ia kenal...
Suara Fransisca.
“Aku takut,” gumam Rahwana. Lalu menyatukan kedua kaki ke arah badannya dan menekuknya.
“Dia anak orang kaya,” kata suara yang satu lagi. Wanita juga, “Tasmirah, jangan dekat-dekat kamu bisa diomeli lagi,”
“Dia diculik?!” Wanita bule di depannya ini, dengan kaget menoleh ke belakang. Rahwana bisa melihat wanita yang satu lagi, berpakaian yang sama dengan si Tasmirah namun dengan wajah khas melayu, melambaikan tangan pada wanita cantik indo di depan Rahwana.
“Sini, dia bukan urusan kita. Jangan buang-buang waktu, nyawa kamu nanti terancam,” kata wanita yang satu lagi.
“Tapi dia masih kecil!” protes si Tasmirah.
“Kita juga di sana saat kita masih kecil, jadi itu bukan hal baru,”
“Karena itu kita harus-”
“Tasmirah!! Heyy!!” terdengar teriakan seorang pria dari ujung ruangan. Lalu suara langkah berdebam.
Rahwana mengintip dari atas lututnya. Pria itu hanya mengenakan jeans, tubuhnya penuh tatto dan rambutnya gondrong tidak beraturan.
“Udah gue bilang jangan pegang barang langka!!” Pria itu menjambak rambut keemasan Tasmirah sampai wanita itu menjerit kesakitan dan berdiri sambil memegangi rambutnya, “Lu rese banget sih Cun! Gue kerjain lo, sekali lagi lo kesini!!”
“A-a-ampun Bang... sakit bang!” desis Tasmirah.
“Aku udah bilang jangan-” desis si wanita melayu.
“Lo cuma ‘bilang’ doang? Tarik dia dong, biar nggak ke sini ah! Dasar kepo lu semua! Bang Gopar dateng bisa habis lo semua!!” dengan kasar dan masih menjambak rambut pirang Si Tasmirah, pria itu menarik paksa semuanya untuk keluar dari ruangan itu.
Lalu berikutnya hanya gelap.
Rahwana membuka matanya lagi, ia sudah terbaring di lantai semen.
Ia melayangkan pandangan ke sekelilingnya, masih gelap seperti di awal, tak ada satu pun manusia.
Rahwana kembali menegakkan tubuhnya dan duduk meringkuk. Entah di mana ia saat ini.
Tubuhnya sakit semua dan ia sangat haus. Namun ia bahkan tidak berani menggerakkan tubuhnya.
Lalu sebuah suara gaduh dari lantai di atasnya.
Dan sebuah teriakan laki-laki.
Rahwana meringkuk semakin ke belakang sampai tubuhnya mepet ke dinding.
BRAKK!!
Pintu besi di hadapannya terbuka. Beberapa laki-laki sambil tertawa-tawa menggiring pria lain yang sudah babak belur.
“Mau dipotong berapa, hah?!” kata salah satu dari mereka sambil menarik sebuah golok dari sarungnya.
“Ada beberapa yang mau gue jual, organ vital jangan kena. Yang lain terserah lo aja, atau tanem aja di tembok?!”
“Tembok di sini bukannya udah penuh ya sama kuli bangunan?!”
“Masih luas,kok. Ya ditambah lagi nggak papa kan?!” pria yang lain menyalakan rokoknya, “Oh iya, gue butuh tangannya buat gue kirim ke bininya, biar mereka takut dan nggak lapor pulis,”
“Iye, gue udah dititipin pesen juga,” lalu berikutnya ada suara tulang terpotong di telinga Rahwana.
Crakk Crakk! Berkali-kali.
Bahkan masih disertai oleh lenguhan pelan dari korban.
Rahwana berusia 10 tahun. Sudah bisa dengan cepat menyadari kalau keadaannya saat ini cukup serius.
Ia hanya bisa terpaku sambil meringkuk, tak berani mengeluarkan suara.
Dalam hati ia teringat kalimat yang dilontarkan salah satu anak buah Papanya, Om Rumi.
“Wan, jangan seenaknya menghilang begitu, kamu tuh anak konglomerat. 80% manusia di bumi ini pingin banget culik kamu buat minta tebusan,”
“Aku kan cuma mau beli bakso, Om,” begitu gerutu Rahwana saat itu.
“Pokoknya dikawal, ya,” Om Rumi masih dengan sabar menanggapi Rahwana.
“Papa yang banyak harta tapi kenapa aku yang dibikin ribet, sih?” dengus Rahwana sambil berjalan keluar dari gerbang rumahnya.
__ADS_1
Sebenarnya ia bisa melihat beberapa anak buah papanya di pinggir jalan. Jadi Rahwana merasa cukup aman. Lagipula tukang bakso mangkal ada di depan pos security.
“Mau kemana kamu?” sebuah suara membuatnya menoleh.
“Eh, Bang Gopar. Mau beli bakso Mang Ujang,”
“Bakso lagi?! Bukannya tadi udah makan sama Bu Milady di resto SCBD?”
“Ya, tau lah bang,” Rahwana menyeringai.
“Ya udah yuk, abang temenin,”
Karena ia berjalan bersama salah satu anak buah Om Rumi, Rahwana merasa ia dalam situasi yang terkendali.
“Lewat sini aja, Wan. Lebih deket,” kata Bang Gofar menangkap lengan Rahwana saat mereka mencapai jalan utama.
“Heh? Memang ada jalan pintas?” Rahwana mengernyit, karena setahunya tak ada jalan pintas.
“Gue kan penguasa daerah sini, hehe,”
Jadi Rahwana dengan polosnya mengikuti Bang Gopar.
Dan berikutnya ia sudah terbangun di tempat ini.
Lalu scene di ingatan Rahwana berubah lagi.
Samar-sama, seorang pria terlihat menggiling daging di depannya.
Tangan, kaki dan area yang jelas-jelas masih berselimutkan kulit manusia berceceran di dekat pria itu.
Alat penggiling daging itu besar dan mengkilat, Rahwana dengan jantung berdebar memperhatikan adegan itu. Ia kenal alat itu, sering dipakai penjual bakso untuk menggiling daging sebelum dicampur tepung.
Kepala manusia, dengan kulit kepala yang sudah disobek, tampak jatuh dari meja dan menggelinding ke dekat kaki Rahwana.
Sudah tanpa mata dan tanpa rahang, seakan dicabut paksa. Rahwana pernah mempelajari, kalau mau menghilangkan identitas, memang semua gigi, jari-jari, rambut, dan air liur harus dihilangkan.
Dan saat itu Rahwana pun merasa kesadarannya menghilang lagi.
*
*
Beberapa saat kemudian, anak itu terbangun lagi. Seseorang mengguncang-guncang tubuhnya.
Wangi parfum beraroma bunga menyerbak hidungnya.
“Hey, Sayang? Bisa bangun?” suara lembut yang Rahwana ingat. Si wanita berambut keemasan.
“Hum...” gumam Rahwana. Tenggorokannya sangat kering.
“Mereka sedang pergi. Ini minum dan makan dulu ya,” Wanita itu mengulurkan roti dan botol air mineral.
Rahwana memakan rotinya dengan lahap.
“Aku simpan botol air di belakang sini ya, diminum kalau kamu haus, tapi jangan ketahuan mereka,”
Rahwana tak menjawab, ia sibuk makan.
Alat penggiling daging.
Seketika anak itu merasa perutnya bagai diaduk.
Lalu ia pun muntah,
Dan berikutnya kembali pingsan.
*
*
Rahwana kembali bangun dalam keadaan lemas. Tapi keadaannya sudah lebih baik dari kemarin. Ia juga memakai selimut dan bantal lusuh di kepalanya.
Pikirannya, pasti si wanita berambut pirang itu yang meletakkannya, karena ada wangi parfumnya tertinggal di sana.
Lalu,
BRAKK!!
Pintu terbuka dengan kasar.
Jeritan wanita.
Suara bentakan seorang pria.
“Awas lo kalo ngelawan lagi! Gue potong t**et lo!!” seru si Pria.
Wanita dengan dress putih ia lemparkan sampai tubuh kurusnya membentur dinding beton.
Lalu pintu pun ditutup, lagi-lagi dengan bantingan yang memekakan telinga.
Rahwana mengintip. Ah, si wanita itu lagi.
Wanita itu berusaha berdiri dan berjalan terpincang-pincang ke lemari di dekat sana, lalu ia mengeluarkan kotak P3K yang terletak paling dalam seakan memang sudah lama ia sembunyikan di sana.
“Hai,” sapa si wanita itu menghampiri Rahwana sambil berjalan terseok-seok. Wajahnya yang tampak kesakitan tetap memaksakan senyumnya ke Rahwana.
Tubuhnya penuh luka biru-biru, darah mengalir di pahanya.
“Tante, kenapa?” tanya Rahwana.
Wanita itu duduk memunggungi Rahwana dan merentang kedua pahanya, lalu mengambil botol antiseptik dan kapas. Sambil mengerang kesakitan ia mengobati dirinya sendiri.
Rahwana tak berani mengganggunya.
“Kamu... sudah makan?” desis wanita itu. Padahal dia juga masih dalam kondisi kesakitan. Namun ia mencoba bersikap lembut ke Rahwana.
“Belum,”
“Ini, aku tadi mencurinya di rumah klien,” si wanita mengambil beberapa kue yang ia selipkan di kantong tersembunyi di lipatan roknya.
__ADS_1
“Makasih, Tante,”
“Minumnya nanti kuambilkan di atas,”
“Nggak usah, minum masih ada,” Rahwana memang berusaha minum sesedikit mungkin untuk menghindari kemungkinan dehidrasi dan buang air berlebih. Karena ia tahu, hal itu akan menyulitkannya sendiri. Lagipula, kalau wanita ini mengambil minuman ke atas bukanlah hal itu malah akan membahayakan jiwanya?
Lalu wanita itu kembali mengerang saat antiseptik menyentuh kulitnya lagi.
Rahwana hanya bisa diam dan makan kuenya dengan perlahan.
“Nama kamu siapa sayang?” tanya si wanita tadi, kepalanya sedikit menoleh ke samping ke arah rahwana yang meringkuk di belakangnya.
“Iwan,” gumam Rahwana.
“Mereka bilang kamu anak konglomerat,”
“Hum... kalau aku gembel, nggak mungkin disekap di sini, Tante,” gumam Rahwana.
“Haha benar juga. Siapa nama keluarga kamu, mungkin aku bisa sedikit membantu kamu,” kata si wanita.
Dalam hatinya, ia sedikit ragu memberikan identitas Papanya ke wanita ini. Terlebih ia tidak tahu siapa wanita di depannya ini, siapa tahu ia memang di sini untuk menjebak Rahwana.
“Pak Rumi, dia kerja di Garnet grup,” jadi Rahwana memberikan nama salah satu ajudan kepercayaan Papanya.
“Pak Rumi, Garnet grup, oke... mudah-mudahan nasib kamu bisa lebih beruntung daripada aku,”
BRAKK!!
Pintu pun terbuka kembali dengan keras, “Heh P**un!! Layanin Boss!” seru seorang pria.
Rahwana reflek menyembunyikan kuenya.
“Ta-ta-tapi, aku belum sembuh Bang!” sahut si wanita itu.
“Lu kan masih punya mulut sama b**l! Cepetan!!”
Si wanita pirang, menarik napas menguatkan dirinya. Bahkan napasnya terdengar gemetaran. Lalu ia berdiri dengan susah payah dan sambil terpincang-pincang menghampiri si pria.
Pria itu memukul kepala wanita itu dengan kencang, “Lelet banget sih! Nggak usah manja lo!!”
Dan pintu pun tertutup kembali.
Rahwana menatap kotak P3K di dekatnya, lalu membereskan isinya dan berjalan ke ujung ruangan tempat lemari tadi berada. Ia menyembunyikannya kembali ke tempatnya semula. Karena menurutnya, suatu saat wanita tadi pasti akan membutuhkannya. Dan ia pun kembali ke tempatnya dan makan kuenya dengan cepat.
*
*
Scene ingatan Rahwana beralih lagi, ke entah hari ke berapa ia disekap. Siang atau malam ia bahkan tidak tahu persis.
Saat itu ia tersadar karena mendengar suara tangisan di dekatnya.
Rahwana pun menegakkan dirinya dan melihat sosok yang ia kenali, dalam balutan gaun putih dan rambut pirang keemasannya yang tampak lembut.
Namun, posisi wanita itu dalam keadaan meringkuk di lantai.
“Tante, kenapa menangis?” tanya Rahwana dengan hati-hati.
“Tidak apa, tante hanya sakit,”
“Mereka memukuli tante lagi?”
“Tak apa Iwan, tak apa...” dan wanita itu kembali meringkuk. Darah mengalir dari balik roknya, wajahnya penuh lebam. Terlihat bibirnya yang tadinya kemerahan sobek dan bengkak.
Keadaan yang sangat miris di mata Rahwana.
“Aku boleh peluk tante?”
Isakan wanita itu berhenti, berganti jadi suara tawa yang lemah.
“Astaga sayang, boleh...” Fransita menyambut Iwan kecil yang langsung memeluknya.
“Kalau Iwan nangis, Mama suka peluk. Walau pun awalnya marah-marah. Iwan suka dipeluk Mama, soalnya wangi,”
“Iya sayang, iya...”
“Tante juga wangi,”
“Hehe...iya,”
Sesaat wanita itu menangis di pelukan Rahwana. Anak itu tahu pasti penderitaan yang dialami wanita ini sangat berat.
“Iwan, aku sudah berhasil menghubungi Pak Rumi. Mereka dalam perjalanan kesini,” bisik si wanita itu.
Rahwana langsung tegang. “Kita akan selamat, Tante?”
“Kamu akan selamat,”
“Tante juga,”
“Mungkin hanya kamu,”
BRAKK!!
Pintu terbanting terbuka. Beberapa pria masuk sambil membawa golok. “Dasar P**un!! Mati lo Bang-sat!!” seru mereka dengan marah.
Mereka menarik Wanita itu dengan paksa dan mengerubunginya. Lalu mulai memukulinya. Beberapa menendanginya dan membuka pakaiannya, lalu berbuat di luar batas kemanusiaan padanya.
Si wanita bahkan tidak sempat berteriak.
Rahwana menatapnya sambil terpaku.
Adegan demi adegan sadis yang terpatri kuat di otaknya. Melihat sosok yang begitu indah di matanya dirusak dengan begitu cepat.
Sebuah tangan terlempar dari kerumunan itu.
Tangan berkulit putih bersih, dengan jemari lentik.
Tangan yang tadinya memeluk Rahwana.
__ADS_1
Dan anak itu pun pingsan.