
“Nah ini OB Baru kita!” seru salah seorang staff, yang duduk di sebelah Pak Yanto.
“Perkenalkan Pak, panggil aja Iwan. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Rahwana sambil menghampiri mereka.
“Nanti beliin Nasi Padang aja buat siang ya, saya masih harus ngetik nih!”
“Oke Pak, dicatat saja kebutuhannya,” kata Rahwana sambil tersenyum.
“Saya nggak makan deh,” kata Pak Yanto.
“Yah, Pak. Makan lah walaupun lagi stress. Kasihan anak istri di rumah kalo kita kenapa-napa,”
“Ada rekomendasi lowongan kerja di tempat lain nggak? Kepala saya mulai pusing nih!”
“Ya ada, tapi usia bapak kan sudah 44 tahun, rata-rata nyarinya fresh graduate,”
“Coba waktu itu uang softloan dari kantor beneran dipakai buat usaha warteg, Pak, dan bukannya buat renovasi rumah. Pasti sekarang masih ada cadangan pemasukan, kan,”
“Ya mana tahu kalau bakalan ada kejadian kayak gini,” dengus Pak Yanto.
“Mukanya udah pucat tuh Pak, istirahat aja di mushola lantai 5,”
“Iya dah saya tiduran di sana. Dangdutnya matiin aja,”
Kriiiing
Sebuah suara panggilan terdengar dari laci Pak Yanto.
“Hoi, itu bunyi ringtone dari bini ke berapa tuh?” sindir salah satu staff.
Pak Yanto cengengesan sambil membuka lacinya, “Yang ini bukan dari bini, ya tahu lah yaaa,”
Rahwana melihat ada banyak ponsel di dalam laci Pak Yanto.
Lalu mendengus mengejek.
*
*
Setelah meletakkan pesanan makan di rumah makan padang sebelah gedung, Rahwana kembali ke kantor untuk membereskan hal lain, dengan harapan saat istirahat makan siang, pesanan yang ia tadi tinggalkan sudah jadi, jadi tinggal ambil saja.
Karena lift ramai orang dan ia teringat kalau Junet bilang mereka berdua dapat tugas membersihkan tangga darurat lantai 1 sampai 5, jadi Rahwana memutuskan untuk mengecek lokasi. Menurutnya kalau naik lift dari lantai 5 mungkin lebih sepi keadaannya.
Saat ia membuka tangga darurat, bulu kuduknya langsung merinding. Namun ia hiraukan kondisinya. Menurutnya, ia saat ini belum ada urusan dengan makhluk-makhluk itu, jadi ia akan mengacuhkan keberadaan mereka beberapa saat.
Saat ia di tangga darurat lantai 4, sayu-sayup terdengar bunyi lagu dangdut. Rahwana berpikir, ini seperti lagu yang tadi disetel Pak Yanto dari komputernya.
Lalu tibalah ia di ujung lantai 5.
Pak Yanto ada di ujung, terlihat menuruni anak tangga dengan lesu. Wajahnya seperti yang tadi, pucat dan pandangannya lelah.
“Pak Yanto,” sapa Rahwana.
Pak Yanto menoleh ke Rahwana dan menatap pemuda itu dengan pandangan bertanya. “Saya sudah pesankan nasi padang ya Pak,”
“Tapi saya tidak pesan,” kata Pak Yanto. Suaranya terdengar pelan dan lesu.
“Saya yang traktir Pak,”
“Wah, terima kasih, loh. Kamu pengertian sekali,” walaupun tanpa ekspresi, lewat mata hitamnya, Pak Yanto menatap Rahwana lekat-lekat. Nanar dan sedih.
“Pak,” gumam Rahwana. “Minta maaflah ke Pak Rey kalau ada salah, sepertinya beliau bukan jenis orang yang sulit kalau kita benar-benar mengakui kesalahan kita,”
Pak Yanto mengangguk pelan, “Saya lebih merasa bersalah ke anak dan istri saya,”
“Minta maaflah ke mereka kalau nanti bapak pulang ke rumah,”
“Saya rasa sudah terlambat. Mungkin kamu bisa bantu saya menyampaikan maaf saya,” Pak Yanto menunduk sambil tersenyum getir. Rahwana tidak menjawab, hanya mengangguk. Tapi sekaligus, ia merasakan sesuatu keganjilan. Buat apa Pak Yanto meminta Rahwana yang mewakilkan kata ‘maaf’?
Lalu tiba-tiba Pak Yanto mengangkat wajahnya sambil mengernyit,“Kamu... siapa sebenarnya?”
“Kenapa Pak?” Rahwana bertanya maksud Pak Yanto.
“Kamu keturunan siapa?” Pak Yanto memiringkan kepala seakan menatap sesuatu di belakang Rahwana, lalu ia pun perlahan mendongak ke atas dan berwajah tegang sampai ternganga.
__ADS_1
Rahwana mengernyit sambil menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun.
“Bapak kenap-” dan kalimatnya berhenti seketika.
Pak Yanto... sudah tidak ada di depannya.
“Heh?!” Rahwana menoleh ke kanan dan kirinya dengan panik. Lalu memeriksa tangga ke atas dan kebawah. “Loh??” serunya.
Lalu muncullah perasaan itu, perasaan kuatir yang amat sangat.
Rahwana kemudian teringat, sebelum ia pergi beli makan siang untuk para karyawan tadi, Pak Yanto pamit mau istirahat di Mushola karyawan yang ada di lantai 5.
Maka Rahwana membuka pintu tangga darurat dan berlari menuju Mushola.
*
*
Saat itu, mushola sudah ramai dengan orang yang ingin sholat Dzuhur. Rahwana setengah berlari, membuka sepatunya, dan masuk ke dalam area Ikhwan.
Di sana tampak muadzin sedang membangunkan tubuh yang bagai tertidur di pojokan Mushola. Rahwana mengenali pakaiannya. Kemeja orange dan celana berwarna khaki. Tidur dengan posisi miring, melintang di atas sajadah.
“Pak Yanto,” gumam Rahwana sambil menghampiri tubuh itu.
“Eh, Mas,” sapa muadzin. “Saya sudah berusaha membangunkan tapi sepertinya tidurnya terlalu nyenyak,”
“Pak Yanto?” panggil Rahwana.
Tidak bergerak.
“Pak?” guncangan Rahwana semakin kencang.
Tapi Pak Yanto tetap tidak bergerak.
Rahwana pindah ke depan untuk memeriksa apakah Pak Yanto masih bernafas atau tidak, ia menempelkan telunjuknya ke hidung Pak Yanto.
Nihil.
Lalu ia memeriksa nadi di leher Pak Yanto.
Rahwana segera menyambar ponsel di kantongnya dan menghubungi ambulance.
*
*
Pak Rey masuk ke dalam ruangan marketing dengan langkah menghentak-hentak. Jauh-jauh ia berjalan ke gedung sebelah untuk menemui atasannya, Pak Trevor Bataragunadi, tapi beliau malah dibilang 'halu'.
Masih kental rasa malu yang ia dera, saat ia mengetuk pintu bossnya dan malah dihadiahi picingan mata bertanya.
"Ada apa?" tanya Bossnya, Pak Trevor.
"Bapak panggil saya?"
"Tidak. Untuk apa saya panggil kamu?"
"Katanya untuk urusan proyek Kalimantan, Pak,"
"Kata siapa? Dan lagi buat apa saya butuh kamu untuk proyek itu? Pembelinya sudah ada,"
"Tadi ada yang mengaku sekretaris Pak Trevor, dia datang ke kantor saya dan mengabari kalau bapak panggil saya,"
"Heh? Mungkin Arman. Sebentar,"
Tampak Pak Trevor menekan tombol interkom dan meminta Arman datang.
Seorang laki-laki berperawakan menawan, wajahnya bagaikan bintang drama korea, masuk ke dalam ruangan Pak Trevor. "Ada apa Boss?" Dia adalah Pak Arman, Kepala Divisi Corporate Secretary di semua anak usaha Garnet Grup.
"Kamu suruh sekretaris kamu untuk panggil Rey kemari?" tanya Pak Trevor.
"Buat apa saya capek-capek begitu? Kalau ada perlu saya tinggal telpon Rey buat kesini,"
"Ohiya, benar juga," gumam Pak Rey sambil menggaruk kepalanya. "Namanya Fransita. Cantik seperti orang Rusia wajahnya,"
"Nggak ada yang namanya Fransita di tim saya. Dan lagi, saya sudah tidak mempekerjakan wanita untuk jadi sekretaris, titah Sang Ratu,"
__ADS_1
"Istri kamu, maksudnya," gumam Pak Trevor.
"Iya, lebih tepatnya begitu, kalau marah suka bawa-bawa katana," Pak Arman meringis.
"Jadi tidak ada yang panggil saya Pak?"
"Tidak ada, Rey," Pak Trevor dan Pak Arman bicara berbarengan.
"Waduh..."
"Kantor kamu kayaknya harus diruqyah besar-besaran," sahut Pak Trevor.
"Biaya, Pak. Mending jual aja, nggak profit juga kan selama ini. Sudah 25 CEO kita pekerjakan, gagal terus," kata Pak Arman.
"Ya kalau masalah jual menjual sih, urusan Iwan,"
"Iwan?" gumam Rey.
"Iya, Rahwana. Panggilannya Iwan, adik saya," sahut Pak Trevor.
"Pak," tegur Pak Arman ke Pak Trevor. Tampaknya dia memperingatkan Pak Trevor akan suatu hal.
Lalu pria itu terdiam. "Dia jadi ditugaskan di..." Pak Trevor menatap Pak Arman.
Pak Arman mengangguk pelan. Memberi kode.
"Astaga. Kasihan amat," gumam Pak Trevor, tapi sepertinya ia menahan tawa.
Tapi Pak Rey, sudah keburu menelaah semuanya.
Dan menyadari kalau suasananya sudah semakin canggung akhirnya dia undur diri.
"Baik Pak Trevor, Pak Arman. Saya pamit kembali bekerja," kata Pak Rey sambil menunduk hormat.
Dan saat ini,
Pak Rey jadi luar biasa kesal.
Siapa sih si Fransita ini?!
Dan ia akan menemui Iwan, si OB dengan kelakuan mencurigakan itu, untuk mengkonfirmasi dugaannya.
Tapi, saat ia memasuki lantai divisinya, semua menatapnya tegang.
"Ada apa? Kenapa semua berkumpul di depan ruangan saya?" tanya Pak Rey.
"A-a-anuuu Pak, mohon maaf. Kami mau menginfokan sesuatu,"
"Langsung saja,"
"Tadi siang, Pak Yanto meninggal dunia,"
Pak Rey berdiri tertegun.
"Bercanda?"
Si staff menggeleng perlahan. "Diagnosanya pendarahan di otak, kemungkinan stress,"
Pak Rey menaikkan alisnya. "Lalu... Kalian menuduh saya adalah penyebab stressnya?" Ia langsung merasa pusing bagai mau pingsan.
"Bukan begitu Pak, kami berkumpul karena ruangan bapak..." si staff melirik ke dalam ruangan Direktur dengan takut.
"Kenapa?"
"Bapak lihat sendiri saja," satu persatu karyawannya minggir untuk memberi Pak Rey jalan.
Pria itu berjalan dengan langkah pelan ke arah ruangannya.
Dan saat melihat kondisinya, jantungnya bagai mencelot keluar. Ia langsung pucat dan langkahnya limbung sampai harus ditahan oleh para staff agar tidak jatuh.
Sebuah kalimat tertulis memenuhi seluruh dinding ruangannya. Warna merah pekat bagaikan ditulis dengan darah.
"Maafkan saya, Pak,"
Begitu tulisannya.
__ADS_1