
Dengan kening mengernyit, Eyang Gandhes menatap keluar jendela Vilanya. Jendela yang menghadap ke arah jalur pendakian.
“Kanjeng,” Aki Tirem dan beberapa pasukannya masuk ke ruangan untuk laporan malam, “Vila yang ada di Jalur lereng Merapi sudah diamankan, kebutuhan operasional sudah saya WA ya tadi. Aman digunakan untuk meeting kabinet besok pagi,”
“Ki,” panggil Eyang masih dengan kening berkerut.
“Ya Kanjeng?”
“Sri Ratu tidak ada di Pos 1, kemana dia?”
“Hah?” Aki Tirem menoleh ke samping ke arah luar jendela. “Waduh,”
“Dia jenis entitas langka yang berbahaya, bisa memakan sesama jin dan keberadaannya bisa mengganggu manusia karena sifatnya mencelakai. Dia juga sering seenaknya membawa manusia ke penjara jin kalau tidak berkenan,” gumam Eyang Gandhes sambil berpikir.
“Jabatannya sudah tinggi di parlemen, jadi dia bisa seenaknya,” gerutu Aki Tirem.
“Karena dia sudah sangat sakti, bisa tolong dilacak Ki?”
“Saya coba ya Kanjeng, tapi kalau dia tidak ingin keberadaannya diketahui ya saya bisa apa?”
“Ah... bagaimana kalau kita utus Kinasih?”
“Kanjeng, keberadaan Kinasih bahkan bisa lebih berbahaya dari Sri Ratu, dia Kuntilanak Biru!”
“Utus dia bersama Rahwana untuk berjaga-jaga, aku punya feeling sebentar lagi akan terjadi pergolakan,”
*
*
Lingsir wengi sliramu tumeking sirno (Menjelang malam, dirimu/bayangmu mulai sirna)
Ojo tangi nggonmu guling (Jangan terbangun dari tidurmu)
Awas jo ngetoro (Awas, jangan terlihat/memperlihatkan diri)
Aku lagi bang wingo wingo (Aku sedang gelisah)
Jin setan kang tak utusi (Jin setan kuperintahkan)
Dadyo sebarang (Jadilah apa pun juga)
Wojo lelayu sebet (Namun jangan membawa maut)
Rahwana menghentikan langkahnya saat mendengar suara nyanyian sayup-sayup. Ia hampir sampai ke area markas GSA malam itu, namun suasana saat ia datang menjadi berbeda.
Seakan ada aura negatif yang tiba-tiba mengerubungi lokasi itu.
Juga... Nyanyian Lingsir Wengi yang dilantunkan ini, liriknya diubah. Lingsir Wengi yang asli diciptakan oleh salah satu dari wali songo yakni Sunan Kalijaga atau Raden Said sekitar tahun 1450 M seharusnya liriknya seperti ini :
Lingsir wengi (Saat menjelang tengah malam)
Sepi durung biso nendro (Sepi tidak bisa tidur)
Kagodho mring wewayang (Tergoda bayanganmu)
Kang ngreridhu ati (Di dalam hatiku)
Kawitane (Permulaannya)
Mung sembrono njur kulino (Hanya bercanda kemudian biasa)
Ra ngiro yen bakal nuwuhke tresno (Tidak mengira akan jadi cinta)
menceritakan mengenai seorang manusia yang merindukan Tuhan, sehingga ia bangun di tengah malam untuk berdzikir sebelum waktu tahajud di sepertiga malam. Begitu maksud Sunan Kalijaga saat menciptakan lagu ini.
Tapi Lingsir Wengi yang Rahwana dengar saat ini, adalah mantra pemanggil hal ghaib yang berbahaya.
Juga, wangi melati yang sangat menyengat.
__ADS_1
Tandanya...
"Kinasih," sapa Rahwana.
Terdengar bunyi cekikikan di sekitarnya. Dan dari suaranya yang bergema, jumlahnya bisa lebih dari satu.
Rahwana menghela napas setengah mengeluh. Kemunculan 'mereka' berarti pertanda buruk akan datang dalam waktu dekat. Mereka bisa mengendus calon-calon insan yang akan mati secara tidak wajar atau dalam kondisi yabg menyedihkan.
Tapi... Kinasih membawa banyak pasukannya.
Itu berarti, mereka akan melawan sesuatu yang besar.
Khodam harimau dan merak langsung berwujud dan mendampingi Rahwana. "Mau apa kalian?" tanya si harimau.
Mereka hanya cekikikan.
Memekakkan telinga, menusuk sanubari.
Tawa mereka menyebalkan sekaligus mengerikan. Jenis yang akan diingat sampai akhir hayat bagi siapa pun yang mendengarnya.
Namun mereka tertawa bukan berarti mereka sedang senang, memang begitulah bunyi mereka.
"Sri Ratu Damaya pergi dari gunung?" gumam Rahwana. Dia bisa mendengar di sela-sela tawa, para 'wanita' itu berbisik padanya.
"Kalau sampai Sri Ratu turun gunung, jadi itu pertanda buruk Rahwana," kata si Merak.
"Iya, mereka di sini juga karena suatu alasan," kata Rahwana sambil menatap Kinasih yang berdiri di atas atap lobi. Tubuhnya tinggi dengan rambut berantakan, dan sosoknya kebiruan. Jenis yang sangat berbahaya. Kedatangan mereka bisa mengundang yang lain untuk datang saking gelapnya aura mereka.
"Aku rasa, aku tahu alasannya," gumam Rahwana.
"Rahwana, Mereka di sini dikirim Eyang. Tapi tetap saja kita jangan dekat-dekat," kata harimau.
"Kita masuk saja dulu ke markas," kata Rahwana.
*
*
“Nggak makan, sayang?” tanya Darmaya.
“Ck!” decak Ai.
Darmaya terkekeh melihat Ai uring-uringan, Wanita itu tahu kalau Ai terpaksa menemaninya, karena iming-iming yang diberikan Darmaya.
Dan keduanya juga tahu kalau jasa yang akan diberikan Darmaya jatuhnya bisa lebih mahal dari sekedar kata ‘sayang’.
“Cewek yang tadi siapa? TTM-an? Atau FWB?”
“Kok siluman gunung tau singkatan itu sih,” gerutu Ai masih cemberut
“Kami sering mendengarkan para pendaki yang mengobrol, lagipula di villa eyang ada hotspot,”
“Heh?! Mindblowing!” seru Ai terkesima.
“Aku tahu loh kamu bintang tik tok, hehe,” Darmaya memasukan potongan daging setengah mentah ke mulutnya dan mengunyahnya, “Makanya aku ikutin aja, jarang-jarang orang femes naik gunung,”
Ai hanya diam.
“Dan kamu berisik, kamu hampir saja di gempur banyak astral yang terganggu dengankehebohan kamu. Tapi karena sesaji dari Rahwana jumlahnya lebih dari cukup ya aku kasih pelayanan pengawalan gratis deh sampai balik ke Jakarta,”
“Iya, tapi you jadi ngikut!”
“Hihi, betul,” Darmaya mengacungkan ujung garpunya. “Aku meninggalkan gunung dan ke sini juga menghadapi bahaya. Banyak yang tidak suka akan keberadaanku karena aku termasuk makhuk mitologi, jabatanku tinggi, dan aku dianggap ancaman,”
“Sebenarnya apa yang akan terjadi dengan Mas Iwan sampai you rela ninggalin gunung?”
Darmaya menatap Ai dengan tajam, “Perang besar, dalam waktu dekat. Bisa besok, bisa lusa,”
“Perang?”
__ADS_1
“Manusia dan astral akan saling berperang, besok. Rahwana mungkin sudah bisa merasakan bahaya, aku merasa Kinasih sedang mencariku, tapi sudahlah abaikan saja. Toh aku akan kembali cepat atau lambat ke gunung,”
“Kinasih?”
“Yaaa, nanti juga kamu tahu sendiri siapa dia,”
“Kenapa sih kalau astral memberitahu hanya setengah-setengah? Biar kesan horornya lebih terasa ya?”
“Karena kalau diutarakan semuanya, energi kami tidak cukup,” kata Darmaya.
“Hm, bagaimana kalau kita membuat perjanjian baru?”
“apa?” Darmaya menghentikan makannya dan menatap Ai dengan bersemangat.
“Hum... ada orang yang ingin eike, eh, aku lindungi,” Ai melipat tangannya di depan dada dan mencondongkan tubuhnya. “Dia suka sok kuat padahal dia hanya manusia biasa,”
“Rahwana anak yang kuat,”
“Bukan, ini lebih dari Mas Iwan. Terus terang aja, untuk urusan Mas Iwan, aku hanya butuh kamu di pengadilan jin. Pasukannya Mas Iwan udah hebat-hebat. Apalagi ada Eyang Gandhes dan AKi Tirem di belakangnya,”
“Iya kamu betul,”
“Tapi orang yang ingin kulindungi selain Mas Iwan ini hanya manusia biasa,”
“Hm? Siapa?”
“Papaku, Ares Manfred,”
“Ah, si Ksatria dari Dieng,”
“Iya,”
“Kamu anaknya toh,”
“Iya, sayangnya begitu,”
“Aku kaget, loh,”
“Kamu kaget tapi kok mesem-mesem?!”
“Terus aku harus... Wow! Dunia tipu-tipu!! Gitu?”
Ai terkekeh, “Konyol ah!”
“Senyum kamu manis banget deh,”
“Nggak usah ngerayu!” Ai mulai sewot.
“Jadi, kalau aku bisa melindungi dia juga, pastinya dari serangan yang akan terjadi dong ya? Kamu mau bikin perjanjian apa? Jadi suamiku?”
“Nggak Bakalan! Itu sama aja eike wafat!”
“Nggak dong, cuma beda alam aja, kubawa ke dasar tanah. Rumahku dekat inti bumi loh,”
“You pikir Eike warga Wakanda kali ya bisa masuk ke inti bumi,” Omel AI.
“Jadi, apa yang kamu tawarkan sebagai imbalan?”
"You maunya apa? Eike nggak punya duit, nggak punya mustika, nggak sakti mandraguna, follower juga kurang dari dua jeti, tapi eike juga nggak mau jadi suami you!"
“Hm... Gimana kalo keperjak4an kamu?” Darmaya mengulurkan tangannya.
“Ck! Dasar Nagin mesum,” gerutu Ai sambil menjabat tangan Darmaya dengan malas.
(Sekilas mengenai Lingsir Wengi.
Ada berbagai kontroversi mengenai lagu ini.
Lagu Lingsir Wengi pada lirik yang pertama itu buatan Rizal Mantovani agar film 'Kuntilanak' th 2006 bisa lebih mendramatisir. Semenjak liriknya diubah untuk kepentingan film, lagu itu jadi berbau mistis sampai sekarang.
__ADS_1
Lagu Lingsir wengi yang asli, juga ada berbagai versi. Sebagian besar platform di internet mengatakan kalau itu tembang durmo ciptaan Sunan Kalijaga untuk kepentingan syiar. Tapi ada beberapa platform yang bilang kalau lagu itu sebenarnya awalnya versi campur sari. diciptakan th 1995 oleh bapak Sukap Jiman, tapi karena tidak ada hak ciptanya jadi kebenarannya juga belum dapat dipastikan).