
Perang adalah permainan yang bisa dimainkan dengan senyum di wajah, tetapi tidak akan ada tawa di hati.
*
*
Saat itu suasana sangat panas. Di dalam baju seragam GSA dan rompi anti peluru mereka, masing-masing agen hampir saja menyerah karena oksigen juga berkurang.
Saat ini mereka di bagian Timur gedung, dan kebakaran di area Barat, seharusnya tidak terlalu panas, tapi ternyata sebaliknya.
Itu berarti kebakaran sudah menyebar.
“Pemadam sudah diluar untuk menaikkan Snorkel, kemungkinan mereka juga akan menyemprokan dry chemical selain dari hydrant,” Kata Pak Arman memberitahukan kondisi di luar ke para anak buahnya.
“Di sini panas banget Om,” kata Rumi.
“Sabar aja,” kata Moses, “Itungan neraka, ini masih anget-anget kuku katanya,”
“Mari kita bertobat kalau begitu, Ai?” desis Rumi.
“Ya Om?”
“Nggak usah pacaran sama Luwing, haram beda alam,”
“Dia ular, Om,”
“Ular kan berbisa, dia nggak, jadi masuknya ke keluarga Luwing,”
“Janganlah Om, bisa bokek aku kalo dia minta dibeliin sepatu. Kan kakinya seribu,”
“Duh jangan banyak bercanda dong, sekarang gue jadi ngerti perasaan gorengan yang diceburin ke minyak jelantah tuh kayak apa,” sahut Heksa sambil berusaha menarik napas.
“Ngotak dong Pak Manajer, korelasinya tuh apa gorengan yang benda mati sama kita di dalem kukusan?! Dia enak renyah gurih, nah kita bentar lagi jadi bolu!”
“Itu juga nggak relatable Pak CEO!” sindir Heksa. “Eh, kenapa kita jadi bolu?”
“Kita kan manis semua,” sahut Tresna.
Heksa menegakkan tubuhnya dan menyampirkan senjatanya di bahu, “Serius canda lo bikin gue mau banting setir jadi model Calvin Klein,”
“Waspada, pergerakan di sensor, dari balik pintu,” kata Pak Arman.
Semua kembali bersiap membidik.
“Pintu macet, gunakan bom sensor,” kata Rumi, sambil menempelkan B0m ke gagang pintu dan mengaktifkannya.
“B0m sensor tuh meledaknya pake apa? Remot? Kode?”
“Dirancang pake sensor suara,” kata Rumi.
“Sensor suara?” tanya Moses sambil mengernyit.
“Iya, bersiap,” Rumi dan yang lain menjauh sekitar 1 meter sambil menatap B0m Sensor.
“Ares, Bakayarou,” kata Rumi.
BUM!!
B0m meledak, pintu pun terbuka.
Pak Arman, mencibir. “Dari mana sih alat perkulian kita dipasok? Beneran gue pingin somasi deh,” gumamnya.
“Kata Pak Yan, rahasia Pak,” kata Umar sambil menekan banyak tombol.
*
*
Malang bagi mereka, di area lantai 15 blok Timur, mayat-mayat pegawai bergelimpangan. Ai sampai-sampai terpana melihat pemandangan itu. Teman-temannya, yang kemarin masih bersenda gurau bersamanya, masih julid-julidtan, masih ngobrol mengenai pekerjaan, semua kini dalam kondisi memprihatinkan.
Ai sampai-sampai kehilangan keseimbangan,
“Tahan Ai, kuatkan. Kita akan menolong yang masih bisa diselamatkan,” desis Rumi.
“O-o-om...itu Mas Ahmad, itu Rosana... astaga Ya Tuhan, itu Mbak Jihan-“ Ai seakan tercekat dan merasa sangat lemas. Rumi menopang tubuhnya agar ia tidak jatuh.
“Iya Ai, Iya,”
Saat itu, pemuda itu sadar kalau menjadi anggota GSA tidak semudah main kaitan banyolan. Melihat mayat-mayat bergelimpangan, apalagi seseorang yang tadinya mereka kenal, merupakan suatu tragedi yang traumatis. Sudah pasti seumur hidupnya Ai akan mengingat semuanya.
Dan menjadi agen seperti Rumi, sudah dilatih untuk tetap bersikap tenang saat semua itu terjadi. Papa Ai mungkin sudah jauh lebih berpengalaman melihat mayat-mayat bergelimpangan.
“Bagaimana bisa selama ini kalian hidup tenang melihat yang semacam ini?!” desis Ai sesak. Air mata jatuh dari pipinya, ia berlutut di depan teman-temannya sambil terisak.
“Itu proses AI, dan butuh waktu bertahun-tahun sampai kami terbiasa,” kata Rumi. “Tidak mudah, Ai. Dan tidak ada cukup kata yang sesuai untuk menggambarkan betapa sakitnya hati kami,”
__ADS_1
Kesedihan itu dengan cepat menjadi kemarahan.
“Sial, Nisa Viandra... akan kubalas kamu dengan cepat!” geram AI.
“Hooo, bapak-bapak sekalian, selamat datang!” Tiba-tiba dari interkom terdengar suara Nisa. “Bagaimana? Suka kah kalian dengan karya kami? Hahahahahahaha!! Orang-orang tidak berguna yang direkrut Granet Grup sialan! Hahahahaha!!”
Rumi menarik napas menahan geram.
“Sia-sia saja kalian ke atas, teman-teman si Ai sang marketing dan Iwan si Office Boy sudah mati semua!” suara Nisa bergema ke seluruh ruangan, membuat telinga mereka panas.
“Ow, tapi Iwan ada di sini nih! Sekali lagi kami ikat di tempat yang sama dengan saat dia di culik duluuuuu,”
Semua langsung terpaku di tempatnya dan menarik napas tegang.
Pak Arman berteriak frustasi sambil membanting headsetnya ke atas meja dan berdiri sambil mengacak-acak rambutnya. “Hubungi Eyang Gandhes,” desisnya ke Umar.
“Basement,” gumam Rumi menyimpulkan lokasi yang baru saja disebutkan Nisa.
“Ayo kesana!” sahut Ai
“Tapi lewat mana? Area itu sudah ditutup permanen dengan dinding beton!”
“Tentu saja tidak lewat jalan biasa! Dan syaratnya... hanya Rumi dan Ai yang boleh datang. Tanpa satu pun senjata dan alat komunikasi,” kata suara Nisa.
Dua orang dengan masker dan senjata muncul dari balik asap. Anak buah Gopar.
“Ikuti anak buah saya, maka Iwan akan dipertimbangkan untuk selamat. Ingat, hanya Ai dan Rumi saja. Biar Sebastian dan Arman merasakan pedihnya kehilangan...”
“Pak Wakom, bagaimana ini?” desis Moses.
“Ikuti mereka, kalian berjaga saja di lokasi,” desis Rumi sambil melihat ke arah Ai.
“Lepaskan semua senjata,” kata dua orang di depan mereka.
“Om?” tanya Ai ke Rumi.
Rumi mengangguk sekali, lalu melepaskan masker, google, earpiece dan senjatanya.
*
*
“Ya Ampun,” gerutu Rumi. Ternyata selama ini anggota Gopar bermukim di bawah gedung Garnet Land. Mereka membuat terowongan sendiri yang bisa diakses dari pos security di depan. Di bawah Basement, terdapat 1 lantai tempat dimana dulu Rahwana sering tidur di sana tanpa sadar. Baik itu dalam keadaan diculik, maupun saat dalam keadaan tidur berjalan.
Ia di sana.
Di ujung ruangan besar itu, dengan kondisi terikat dan berlutut. Tampak luka-luka di wajah dan perutnya terdapat bekas sayatan.
Dia baru saja dikeroyok, oleh sekitar puluhan orang.
Rahwana mungkin memiliki ilmu yang bisa memusnahkan makhluk goib, namun kalau manusia dengan tubuh tinggi besar dan dendam kesumat, dan jumlahnya puluhan, menyerangnya secara serentak dengan pukulan membabi-buta, ia pun akan jatuh juga.
Dan saat ini, ujung pelatuk Nisa bertengger di pelipis pemuda itu.
“Halo, halo, akhirnya kita bertemu juga ya,” Nisa menyambut kedatangan Rumi dan Ai.
“Apa mau kamu?” tanya Rumi.
“Kalian bertiga, mati. Kepala ditancapkan di tombak di sana itu dan jadi pajangan kamar saya, Hahahahaha!!” seru Nisa. Tawanya terdengar menyebalkan.
“Maaf, tidak bisa. Nego dulu sana sama Pak Sebastian. Kami berdua milik beliau soalnya,” kata Rumi.
Sedangkan Ai bahkan tidak bisa berkata-kata. Begitu bencinya dia terhadap Nisa, di benaknya teringat kondisi teman-temannya yang hangus di lantai 15.
Lalu secara serentak, puluhan orang masuk ke dalam ruangan itu. Mengelilingi Rumi dan Ai.
“Kalau begitu, silahkan ambil sendiri teman kalian nih, si cowok kayaraya. Kalau kalian bisa melewati kami semua, dan... peluru saya,”
Rumi menarik napas untuk mendinginkan emosinya. “Fokus Ai, sekarang waktunya memperlihatkan hasil latihan kamu di markas,”
“Ya Om,” bisik Ai.
“Serang mereka,” gumam Nisa.
*
*
Sekitar selusin pria menyerang Rumi dan Ai. Mereka berlari dengan cepat sambil mengacungkan senjata tajam di tangan. Di kanan-kiri mereka masih ada beberapa puluh orang yang saat itu menekan pelatuk membidik Rumi dan Ai.
RATATATATATAT!!
Bidikan M240 memenuhi udara.
Selongsong peluru terdengar berjatuhan. Menjatuhkan semua orang yang berusaha menembak Rumi dan Ai. Semua sniper berjatuhan ke lantai, darah muncrat kemana-mana, dan membasahi lantai, dinding, dan plafon.
__ADS_1
Ai dan Rumi saling lihat, lalu menoleh ke belakang.
Di sana, seseorang menyeringai sambil menenteng senapan mesin berbobot 12 kg dan berkalungkan peluru.
“Sori telat nih Jang! Sok atuh gempurannya!” seru Aki Tirem bersemangat sambil menancapkan selongsong lagi ke meisn pembunuhnya. “Timah lawan timah, bogem lawan bogem!” serunya.
“Ck!” desis Ai. Dia sebal kenapa astral macam Aki Tirem malah dapat senjata paling keren ala Rambo. Dan karena keberadaan Sri Ratu Darmaya di antara mereka, Jin diperbolehkan melawan manusia, menggunakan senjata manusia.
“Ki, jangan tembakin pondasi ya, mahal benerinnya!” sahut Rumi sambil menyeringai.
“Beres!”
Rumi dan Ai berlari ke depan dengan cepat, Target mereka adalah Nisa di ujung sana.
Wanita itu berdiri dengan wajah marah penuh dendam, di tangannya tergenggam p1stol yang siap meluncurkan timah panas ke kepala Rahwana.
Rumi dan Ai memukul, menendang, mengeluarkan berbagai teknik bela diri yang sudah mereka kuasai belasan tahun di atas Ring GSA, mereka praktekan secara nyata di tempat itu.
Dua orang menyerang Rumi, pria itu mengangkat kaki dari tanah, tekuk kaki sepenuhnya dan selipkan tumit ke ************ lawan lalu dorong lutut ke atas dan ke depan dalam garis lurus. Serangan lutut dimulai. Akibatnya lawan terjatuh di lantai tak berdaya.
Seorang lagi melemparkan tinjunya ke arah Rumi. Pria itu berkelit, lalu memposisikan kuda-kuda dengan tangan ke atas. Ia gunakan tangan kiri ke depan dalam satu garis lurus dari wajahnya. Dekatkan tangan yang tidak meninju ke depan wajah untuk perlindungannya.
Putar bahu dan pinggul sisi yang sama untuk menghasilkan tenaga.
Kunci serangan ini adalah gerakan yang cepat dan bertenaga sehingga menghasilkan efek yang fatal bagi lawan.
Ai terkena tinju di rahangnya, namun ia tidak gentar. Ia mulai teknik tendangan depan. Posisi kaki direntangkan selebar bahu dan gerakkan lutut ke atas dan ke depan. Setelah lutut mencapai ketinggian puncaknya, biarkan kaki bagian bawah terbuka dengan gerakan mencambuk dan jaga agar jari-jari kaki tetap lancip.
Segera mundur dan kaki ke belakang mendarat dalam posisi kuda-kuda.
Hanya butuh waktu beberapa detik sampai semua terkapar di tanah.
Sambil terengah-engah mereka menatap Nisa yang terpana di atas sana. Dan Rahwana yang tersenyum lemah, bangga dengan para teman-temannya.
“Kamu sendirian sekarang. Lepaskan dia,” sahut Rumi.
Nisa gemetar dan merapatkan bibirnya. Ia tahu kalau ia sudah terdesak.
Ia tahu ia akan tertangkap.
Tapi paling tidak, ia akan mengajak Iwan bersamanya ke alam kematian.
DOR!!
Peluru ditembakkan.
Rahwana memejamkan matanya.
Namun,
Tidak terjadi apa pun di dirinya, ia tidak merasakan apa pun.
Tidak sakit, tidak nyeri.
Tapi sebuah wangi yang ia kenal menggelitik hidungnya.
Wangi rempah...
“Sisca...?” gumam Rahwana.
Jiwa Sisca ada di depannya. Menghentikan peluru di udara. Namun tidak lama, di depan Rahwana, peluru itu masuk ke jiwa, lalu timah itu jatuh ke lantai.
Jiwa Sisca perlahan terurai, sambil menatap Rahwana dia tersenyum.
“Tolong Jaga Fransita... Aku sayang kamu,”
Dan menghilang bagai menyatu dengan angin.
Nisa terperangah melihat itu.
Lagi-lagi ia gagal, lagi-lagi semua sia-sia.
Teriakan sedih Rahwana akan menghilangnya Sisca, ditambah banyak korban berjatuhan di sekelilingnya. Bau anyir darah, bau menyengat mesiu. Aroma asap dan udara panas akibat kebakaran di lantai atas. Cipratan darah dan organ di mana-mana.
Sebuah pemandangan tanpa harapan.
Nisa tahu dia sudah kalah.
Nisa sudah tahu dari awal kalau ia pasti akan tertangkap.
Bahkan membawa kekalahan itu dengan nyawa Rahwana saja ia tidak bisa. Apalagi menyentuh Ares Manfred atau Sebastian Bataragunadi.
Jadi,
Ia arahkan ujung senapan ke dahinya sendiri, dan dia tekan pelatuknya.
__ADS_1