
“Bro, buka...”
“Buka deh,”
“lo buka,”
“Lo aje,”
“Sampe tahun depan juga mereka akan tetap di situ saling lempar tanggung jawab,” gumam Umar ke Pak Arman.
“Biarin aja saya pingin lihat kapan mereka bosennya,” gerutu Pak Arman.
“Gini aja Bro, Suit,” kata Tresna
“Okelah,”
“Batu gunting kertas!” seru Heksa.
“Semut Gajah Manusia!” Seru Tresna.
“Gimana seh!?” seru mereka berbarengan.
“Kalian jadi evakuasi apa digantiin aja sama astral?” sahut Pak Arman mulai bosen.
“Lo duluan aja, lo kan Manager Director. Pangkatnya tinggian gue!” sahut Tresna sambil memposisikan Heksa dengan laras panjangnya di depan pintu.
“Mulai deh yaaa kalo terdesak bawa-bawa jabatan. Dasar CEO modal dengkul...” gerutu Heksa akhirnya menyerah, sambil bersiap mendobrak pintu.
BRAKK!!
Asap dimana-mana, air sensor api mengalir deras bagai hujan di dalam ruangan.
"Gue jadi inget masa lalu deh, ada air dari sensor api di dalem vila Pak Danu," gumam Heksa.
"Oh... gara-gara rekaman ini, bukan?" Tresna mengutak atik ponselnya dan menyalakan audio.
"CARI BINI GUE SAMPE KETEMU ATO LO SEMUA GUE PECAT!!"
Dan mereka berdua terdiam.
Umar yang mendengarkan juga terdiam.
Pak Arman juga terdiam sambil memicingkan mata.
"Lo nekat beneran Tres, bisa-bisanya nyalain itu di tengah medan perang," gumam Heksa.
Mereka diam lagi.
dan,
"HUAHAHAHAHAHAHAH!! REKAMAN LEJEEEEN!" seru mereka berdua.
"Subsidi kantor untuk jet pribadi saya hentikan ya, kalian kembali ke Singapur pakai duit sendiri," kata Pak Arman.
"Ampun, Pak,"
"Bini gue udah ketemu, jadi gue bodo amat mau lo minta ampun sampe salto, gue nggak peduli," gerutu Pak Arman.
"Ampun Paaaak,"
"Cepetan cari korban selamat sanaaaa!" seru Pak Arman.
"Baik Pak!" seru Heksa dan Tresna berbarengan.
(Mengenai rekaman lejen itu, ceritanya bisa dibaca di novel Lady's Gentleman, karangan Septira Wihartanti.)
"Njir bahu gue! Koyo mana koyo!" keluh Heksa.
"Kita udah 40an seharusnya nggak dobrak-dobrakaaaan," keluhnya lagi. "Ini tuh udah waktunya bikin kolam pemancingan buat kerja tambahan,"
__ADS_1
“Loh? Om Hek? Om Tres?” Terlihat Ai di depan pintu tangga darurat.
“Ai?” tanya Heska dan Tresna.
“Ai?” Pak Arman sampai-sampai berdiri karena melihat Ai sudah ada di dalam gedung. Ia melihat kondisi melalui kamera yang dipasang di google cross para agen.
(Google cross adalah kacamata yang berbentuk lebar yang berfungsi untuk melindungi mata dari debu atau partikel berbahaya di udara. Milik para agen GSA sudah dilengkapi dengan kamera, anti asap, dan infrared untuk melihat dalam kegelapan.)
“Kebetulan Om! Tolong salah satu bawa Maya turun ke bawah. Dia ketembak.” Kata Ai sambil menuntun Heksa ke arah sudut ruangan.
Sri Ratu Darmaya di sana bersimbah darah, nafasnya tersengal-sengal. Wujudnya berubah-ubah sesekali menjadi manusia, lalu sesekali menjadi sosok wanita berbadan ular. Sedangkan di sebelahnya ada dua orang tak dikenal yang terkapar tak bergerak, Heksa memeriksa di dahi mereka sudah tertanam timah panas.
Heksa dan Tresna sampai melongo melihatnya.
“Kemungkinan ada beberapa lagi, tapi jumlahnya aku nggak tahu pasti. Mereka tampaknya memastikan membunuh banyak orang yang masih terjebak di gedung. Juga menargetkan operasi mereka ke Mas Iwan,” kata Ai.
"Bagaimana dia bisa tertembak? Dia kan astral!" desis Tresna.
"Saat kami sampai di sini, beberapa orang menghujani kami dengan peluru. Sepertinya mereka memang berniat membidikku. Tapi Maya pasang badan," kata Ai. Wajahnya terlihat pucat dan tangannya gemetaran. Kemeja pemuda itu penuh cipratan darah.
"Padahal sudah saya bilang dia di bawah saja, nggak usah ke atas. Ngeyel banget sih!" keluh Pak Arman.
“Heksa, berikan earpiece ke Ai,” perintah Pak Arman.
“Nih, Papa mau ngomong,” Heksa menyodorkan earpiecenya ke Ai.
Ai menggeleng. “Ogah ah,”
“Lah! Kenapaaa?!”
“Ntar dia bawel,” gumam Ai waspada.
“Ya jelas lah! Kan lu anaknyeee!”
Saat itu Ai melihat sebuah lampu laser di dada Heksa. Dibidik dengan jarak jauh, kemungkinan dari dalam...
DOR!! DOR!!
Sesaat tidak ada pergerakan, namun darah menetes dari lubang angin.
“Gila... mereka sampai menyusup ke sana?!” desis Heksa langsung bersembunyi di belakang Tresna.
“Mereka itu siapa?” tanya Tresna.
“Mereka sisa anggota gangster, anak buah Gopar, katanya. Target mereka Mas Iwan. Aku lihat Mas Iwan masuk lagi ke gedung untuk mengejar penyusup, tapi aku dan Maya kehilangan jejak,”
“Target mereka Cuma Iwan?!”
“Hum... Iwan dan aku sebenarnya,”
Melihat wajah Ai yang tegang, dimana tidak biasa sebenarnya. Apalagi cara bicaranya tidak kemayu lagi, Tresna dan Heksa langsung berpikir kalau keadaannya lebih genting dari yang mereka perkirakan.
“Ngomong dulu sama Papa, lo anaknya, dia harus tau,” sahut Heksa sambil menyodorkan kembali Ear piecenya.
Dengan enggan dan menghela napas, Ai memasang earpiece itu di telinganya. Ia bersiap mendengarkan omelan Papanya. “Ya Pah,” gumam pemuda itu.
“Ai, kamu lihat giok yang ada di dahi Sri Ratu?” tanya Pak Arman.
“Eh? Ya Pah, lihat,”
“Arahkan tangan kanan Sri Ratu ke sana untuk menyentuh gioknya, dia akan masuk ke dalam batu itu. Jadi Tresna tak perlu turun memapahnya. Rumi dan Moses akan segera bergabung dengan kalian,”
“Hmmmmmm, dari mana Papa tau?”
desis Ai.
“Dari Bu Gandhes lah, dari mana lagi...”
“Papa nggak marah?”
“Marah sih tapi nanti aja,” kata Pak Arman. “Selesaikan tugas yang dari awal Papa berikan, jaga Iwan,”
__ADS_1
“Oke Pah!!” Sahut Ai senang.
Saat itu Ai merasa diakui oleh orang yang sebenarnya paling dia hormati di dunia melebihi apa pun. Papanya sendiri.
“Ternyata selama ini Maya Ratu bawa-bawa rumah di jidatnya, macam siput, kagak usah bayar PBB!” sahut Tresna ke Heksa.
“Sssst!” desis Heksa, “Di sini itu, Authornya kalo kehabisan ide suka berubah jd genre komedi biar kalo ada yang nggak masuk akal bisa dimaklumi,”
*
*
Bagaimana caranya Ai bisa sampai di atas lebih dulu?!
Jadi setelah Rahwana turun ke bawah dan melihat dengan jelas gedung lantai 15 terbakar, ia berusaha membantu mengevakuasi para korban yang berlarian keluar gedung. Saat itu matanya menangkap beberapa orang keluar dari area basement.
Rahwana adalah seorang pemuda dengan masa lalu kelam, kejadian traumatis di pikirannya membuatnya bisa lebih waspada terhadap lingkungan di sekitarnya. Dan dia sudah kenal ciri khas para preman yang waktu itu menangkapnya.
Tatapan mereka, cara mereka berinteraksi
satu dengan yang lain, cara jalan mereka, semua terpatri di ingatannya.
Dan ada beberapa orang yang walaupun berpakaian mirip pegawai kantor, tapi tingkah lakunya mirip dengan ciri khas Gopar dkk.
Bisa jadi jumlahnya lebih dari dua puluh orang, beberapa diantaranya berjalan meneteng sebuah tas besar.
Dan tanpa pikir panjang Rahwana berlari mengejar mereka. Dan ia masuk ke dalam gedung mengarah ke lantai atas.
Ai pun langsung sigap mengikuti Rahwana, namun tiba-tiba kerumunan keluar dari arah gedung timur berlarian dengan panik. Suara seperti ledakan terdengar kembali. Ai kehilangan jejak Rahwana.
Dan Ai pun meminta bantuan ke Sri Ratu Darmana untuk membawanya ke atas, tentunya melalui portal dimensi lain.
*
*
Kita kembali ke masa kini,
Rumi dan Moses datang tak lama kemudian, saat Ai mengantongi batu giok Sri Ratu.
“Njir Gaes!” sahut Moses. “Gue nggak tahu ada apa nih sama gedung, bawaannya narik penjahat melulu!”
“Ya makanya Pak Trevor sebenernya males pas beli gedung ini, tapi dia kan nggak tau kalo Iwan dulu suka balik lagi-balik lagi kesini,” Heksa mengingat masa lalu saat mereka ditugaskan berjaga di gedung ini
karena Rahwana kerap berjalan sambil tidur untuk ke gedung dan mencari Sisca.
“Kita tuh sibuk nembakin penyusup, si Pak Arman tega bener mutusin sambungan, katanya bodo amat,” gerutu Moses. “Udah gitu sultan andara nelpon gue mau pesen tesla 20 biji buat THR lebaran taun depan kan amsyong gue sambil ngangkat bedil sambil nego aksesoris!”
Rumi melirik Moses dengan gemas, “Udah om bawelnya, waktunya serius,” ia menghampiri Ai dan mengambil senjata laras cadangan di punggungnya.
AI AW50.
Lalu menyerahkannya ke Ai.
“Sesuai nama, titipan Pak Arman barusan,” Rumi menyeringai. “Rapatkan barisan geng, kita atur formasi ulang,”
“Formasi tameng, Target Rahwana. Bergerak berbarengan,”Rumi menatap semua dengan serius. “Jangan ada yang terpisah, apa pun kondisinya,”
“Tunggu!” sahut Ai tiba-tiba.
“Apa lagi??” Rumi tak sabar.
“Jangan ada yang kepisah kan ya? Aku ke wc dulu, kebelet pipis, hehe,”
“Gue ikutan,” sahut Heksa.
“Gue juga ikut,” kata Tresna.
“Gue-“
“Ya udah kita sama-sama ke wc aja lah! Kan dah dibilang jangan pisah apapun kondisinya! B0k3r bareng sekalian biar tuntas!!” seru Rumi kesal.
__ADS_1