
“Sri Ratu Darmaya?!” seru Kuntoro Kaget. Ia hampir saja bersujud, namun mengingat kalau Maya ada di pihak Rahwana, ia jadi gentar.
“Kuntoro, kamu sudah melewati batas yang diperbolehkan untuk melintas!” geram Maya.
“Pada akhirnya saya tetap saja jadi yang terhina! Setelah semua yang saya lakukan untuk persembahan! Saya korbankan semuanya-”
“Korbankan apa, Hah?! Kamu itu berbuat curang Kuntoro!! Lagipula kamu menganut Kandang Bubrah itu adalah pilihan kamu sendiri, memang sudah sepantasnya kamu serahkan nyawamu sendiri!” seru Sri Ratu Darmaya sambil mengeluarkan tongkat mustikanya.
“88 jiwa,” bisik Kinasih sambil menyeringai. Aura gelap langsung menyelimuti tempat itu. Bau melati yang sangat menyengat dan udara yang membuat sesak di dada. “88 Jiwa yang tubuhnya tertanam di sini, dan ratusan ghoib yang terperangkap. Wah... wangi sekali,”
“Itu bukan hak kamu, Kinasih,” sahut Rahwana.
“Bagaimana caranya agar bisa saya makan? Khihihihihihi!”
“Yang di depan kamu bisa dimakan, dua jin itu,” Rahwana menyeringai licik.
“Itu bahkan lebih baik!!” Jerit Kinasih sambil melesat ke depan secepat kilat. Ia menerjang Gopar dengan cepat dan menyudutkannya ke lantai lalu membuka mulutnya lebar-lebar sampai seluruh wajahnya tertutupi gigi tajam.
“Bang!!” seru Nisa histeris. Wanita itu mencabut golok yang terselip di pinggangnya, di bagian selutnya terdapat 4 batu merah delima yang berkilauan.
(Konon, Batu merah delima atau mustika merah delima dipercaya memiliki kekuatan yang luar biasa. Batu ini berfungsi untuk meningkatkan spiritual dan perlindungan batin seseorang yang menggunakannya.
Batu ini juga dapat melindungi pemiliknya dari serangan makhluk ghaib dan juga orang tersebut bisa aman dalam hal kekayaan.)
Dan ia langsung menjambak rambut Kinasih sampai Makhluk itu terjungkal ke belakang, dan menghunuskan golok itu ke arah Kinasih.
Rahwana mencengkeram lengan Nisa dan melempar wanita itu sampai membentur tembok. Golok terlepas dari tangannya, dan Kinasih menelan golok itu.
Kuntilanak Biru itu tertawa keras-keras. Ia senang, sangat senang, bahkan. Di dalam Mirah Delima itu ada beberapa jin yang sengaja dikurung. Kalau dihujamkan ke tubuh makhluk Gaib akan menyebabkan luka yang sangat sakit, tapi kalau tertelan, benda itu akan melebur dan menyatu dengan Kinasih. Itu berarti, kekuatan tambahan untuknya.
“Ohok!!” Nisa terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Ia terbentur cukup keras. Ia wanita tapi Rahwana membatingnya tanpa pandang bulu.
“Sudah berapa nyawa yang hilang karena kamu, Mbak Nisa?” Rahwana mencengkeram kerah Nisa dan menyudutkannya ke dinding.
“Apa buktinya? Kamu tidak akan bisa memenjarakan saya, karena jadi pacar seorang preman. Lagipula, saya memiliki alibi kuat dan tidak membunuh siapa pun,” kekeh Nisa.
“Kamu menghipnotis mereka untuk mati,”
“Bang Gopar yang melakukannya, saya hanya mengarahkannya ke target yang cocok. Criminal Minds belum mendapatkan porsi hukuman di negara ini, Rahwana,”
“Hooo. Oke, Bang Gopar ya. Kinasih...?”
“Yaaaaaaaaaaa?” desis Kinasih.
“Musnahkan Bang Gopar,”
BRAKK!!
Kinasih langsung mengunci tubuh Gopar, sekali lagi membuka mulutnya dan memakan kepala Gopar dalam sekali gigit.
KRAKK! Bunyi tulang belulang terdengar nyaring. Membuat miris siapa pun yang mendengarnya. Sekali lagi Gopar mati, dengan cara tragis.
__ADS_1
“BANG GOPAAARR!!” Jerit Nisa histeris.
Kuntoro maju, ingin membantu Nisa, namun ekor Sri Ratu membelit tubuhnya.
Tangan Kuntoro keluar dari kain kafannya. Tangan hitam dengan nanah dan darah yang baunya sangat busuk. Ia berusaha membebaskan diri dengan mencakar-cakar ekor Sri Ratu, namun ular itu sangat kuat.
Tidak bergeming dan jeratannya semakin erat.
Terdesak, Nisa meneriakan sebuah ajian.
Aku jauh tapi aku dekat, aku dekat tapi aku menghadap. Keberadaan kami atas izin Gusti, kau usir pun kami akan kembali. Kau minta kami datang, kami akan datang. Kau minta kami pergi, kami akan bertahan. Jiwa tersesat akan kami jadikan pagar istana Kanjeng.
Seketika, semua ghaib di gedung itu datang dan berkumpul. Mereka berusaha meraih Sri Ratu dan mencakar-cakar. Beberapa mencoba menggigit tubuh Darmaya.
“Ugh!” Sri Ratu berusaha menepis semua dengan mustikanya, namun gagal.
Perih dan rasa sakit yang diterimanya mulai melebihi batas pertahannya. Sementara Kinasih sibuk memakan roh Gopar dan tidak ingin diganggu. Pada dasarnya dia memang tidak memihak siapa-siapa.
Rahwana hilang fokus, akhirnya ia melepaskan Nisa. Lalu memfokuskan energinya...
Dan menyerang semua roh yang mengerubunyi tubuh Sri Ratu dengan Khulhu Geninya.
AAAAAKKKHHH!!
Teriakan mengerikan bersahut-sahutan, memenuhi atmosfer di sekitar mereka.
Memilukan, miris,
Bagaikan Neraka Jahanam pindah ke dunia.
Atas Kuasa Illahi, Rahwana membakar apa pun yang dikehendakinya.
“Rahwana,” sebuah tangan besar di bahu Rahwana.
Genderuwo penjaga pintu lobi, dia penunggu tanah ini sejak sebelum Kuntoro berbuat hal-hal buruk. Penunggu asli, leluhur yang merasa bertanggung jawab , dan juga saksi mata dari semua kejadian.
“Tidak semuanya bersalah. Mereka tidak kuasa menahan ajian,” gumam si Genderuwo .
“Ah,” Rahwana bagai disadarkan.
Ia pun menghentikan ilmunya.
“Benar juga. Maafkan saya, Pak,” sahut Rahwana sambil menghela napas.
Ia pun menatap sekitarnya.
Kuntoro sudah hangus, beberapa goib menggelepar-gelepar di lantai, tubuh mereka setengah hangus. Rahwana bahkan bisa melihat Pak Endang dan Mbak OG dalam kondisi mengenaskan. Perlahan tubuh mereka menghilang menjadi debu.
Sri Ratu berdiri sambil terisak. Bahkan Kinasih hanya melayang tanpa suara tawanya.
__ADS_1
Semua menatap Rahwana dengan ketakutan.
Si Genderuwo lalu berubah menjadi sosok Pak Firman, dan mengangguk-angguk puas. “Sabar, Iwan... Sabar.” ia mengusap-usap bahu Rahwana.
Rahwana hanya mengangguk pelan.
Apa boleh buat.
Semua sudah terjadi.
Ia melihat Nisa sudah kabur.
“Pak, bisa tutup portal di sini?”
“Untuk sekarang bisa, tapi tidak bisa ditutup seterusnya. Selama masih ada jasad yang tertanam di sini, portal masih akan tetap ada,” Kata Pak Firman.
Lalu... terdengar bunyi gaduh.
Alarm kebakaran berbunyi.
“Astaga... apa lagi ini?!” gumam Rahwana.
“Wan...” Pak Firman dengan bingung menatap tangannya. Ia berubah jadi sosok Ahmad, lalu sosok Rosana, lalu sosok Jihan, dan beberapa sosok yang Rahwana kenal sebagai staff di lantai 15,”Wan, mereka-”
“Kami keluar dari sini!!” seru Rahwana panik.
“Waaaaah,” gumam Kinasih. “Banyak nyawa, makanan empuk,” dan ia pun tertawa cekikikan.
*
*
Saat Rahwana keluar dari Lantai 7 dan kembali ke realita, keadaan sangat kacau. Sekelilingnya orang berlarian ke tangga darurat.
“Apa yang terjadi,” Rahwana bertanya ke seorang staff yang dengan panik turun lewat tangga darurat.
“Ledakan! Di lantai atas!!” serunya ketakutan.
“Ledakan?!”
DUARR!!!
Ledakan kedua bergema. Orang-orang berteriakan dan cepat-cepat melarikan diri turun ke lantai bawah.
Di bawah, Junet berlari ke arah Rahwana. “Waaaan! Iwaaan, semua meledak wan! Semuanya!!” dan ia menangis histeris sambil memeluk Rahwana dengan erat.
Pak Rey datang dan menatap dengan panik ke arah atas, “Ledakan Pak, di lantai 15,” Ia menunjuk ke arah atas.
Lantai 15 terbakar hebat di atas.
Asap hitam bergumul memenuhi langit pagi.
__ADS_1
Api berkobar besar, bagaikan melahap semua yang disentuhnya.
Hawa panas sampai ke bawah gedung, membuat siapa pun yang melihat kejadian itu gentar dan mengingat nama Tuhan.