Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan 19 : Bersabar


__ADS_3

“Ih, Eyang telpon kok malah gitu reaksinya?!”


“Eyang, aku lagi capek banget,”


“Iya Eyang tahu makanya Eyang hubungi kamu,”


“Jangan bilang Eyang udah di depan kamarku,”


“Tadinya mau begitu, tapi setelah Eyang tanya ternyata kamu lagi senggol-bacok, ya udah nggak jadi,”


“Tanya siapa?”


“Tanya ke banyak entitas,” terdengar Eyang Gandhes terkekeh lagi, tawanya bernada misterius. “Lagipula... Mama kamu telepon tadi siang, dia sangat khawatir kalau-kalau kamu tidak kuat menghadapi cobaan, menurut kamu bagaimana?”


“Masih bisa kutahan kalau semua pertanyaanku terjawab sejelas-jelasnya,”


“Masalahnya itu yang tidak kita tahu, jawabannya itu yang sulit,” lalu keheningan memecah mereka.


Rahwana menekan tombol loud speaker dan mengenakan pakaiannya. Ia masih shock dengan penglihatan yang baru saja terjadi dan sedang berusaha mengingat-ingat mengenai sosok Fransita.


Ia yakin betul pernah melihat Fransita,


Lagi pula, ia tadi menyebut Fransita dengan nama ‘tante’, itu berarti mereka sudah pernah mengenal sebelumnya.


“Ada bagian yang hilang, yang tidak aku ingat mengenai peristiwa penculikan itu,” kata Rahwana sambil duduk di tepi ranjangnya.


“Lost memory memang kerap terjadi akibat shock, Le... biasanya lama kelamaan akan pulih. Tapi, masalahnya...” kalimat Eyang Gandhes lagi-lagi terjeda. Rahwana menghela napas.


“Eyang, jangan menumpuk teka-teki dengan teka-teki lainnya, aku sudah terlalu capek. Kalau memang ada yang berbahaya atau  perlu kuketahui, katakan saja. Eyang tahu aku butuh semua penjelasan untuk mengantisipasi keselamatanku sendiri selama bekerja,”


“Justru karena kamu masih capek, Eyang belum merasa waktunya tepat, Le. Manusia saat dalam keadaan stress ditambah informasi datang bertubi-tubi akan menyebabkan kelelahan yang luar biasa dan akhirnya jadi sakit. Sebagai cucu favorit Eyang-”


“Wareng,” potong Rahwana.


“Cucu saja lah biar Eyang  kedengaran lebih muda,”


“Aku sebenarnya tidak punya garis keturunan dengan Eyang,” potong Rahwana lagi.


“Kita semua bersaudara,” ujar Eyang Gandhes cepat


“Kalau kita semua bersaudara, Nayaka akan sangat bersedih karena tidak bisa menikah dengan Ai,”


“Dia nggak akan bisa menikah dengan Ai, keyakinan mereka berbeda,”


“Setidaknya masih ada harapan,”


“Masalah jodoh-jodohan ini, eyang sudah lelah. Eyang bertekad kamu yang terakhir setelah Gerald,”


“Siapa jodohku?”


“Hem...” Eyang Gandhes terdiam.


“Eyang!” Rahwana mendesak Eyang Gandhes.


“Masalah itu biar Tuhan yang mengatur, hehehe,”


“Tapi Eyang dapat penglihatan makanya mengusahakan Tasmirah sebaik mungkin,”

__ADS_1


“Kalau masalah itu, Eyang cuma bisa jawab kalau Tasmirah bukan Fransita, dan Fransita juga bukan yang kamu maksud, itu nama keturunannya,”


Rahwana terdiam.


“Tapi kamu bisa bertemu Sita kalau menjalani kehidupan bersama Fransita, walau pun sesaat,”


Rahwana terdiam lagi. Ia semakin bingung.


“Apa yang terjadi sebenarnya, Eyang?”


Terdengar helaan napas dari seberang telepon.


“Iwan, mau ke villa Eyang? Kalau mau nanti dijemput Aki Tirem,” sahut Eyang Gandhes selanjutnya.








Jadi pagi harinya, Rahwana bersiap-siap ke kantor.


Mungkin banyak yang bertanya-tanya, sudah seminggu Rahwana di kantor kenapa Mamanya bahkan tidak tahu kalau Rahwana menyamar menjadi Office Boy. Itu karena saat pagi hari ia mengenakan baju casual yang biasa dan mengaku mau ke kampus.


Papanya yang juga tahu mau kemana Rahwana sebenarnya, hanya bisa diam sambil meliriknya dengan wajah licik.


“Anak Mama sayaaaang,” Bu Milady menyambut Rahwana dengan pelukan dan kecupan di pipi.


“Aku juga anakmu, Mah,” ujar Pak Trevor sambil menyeringai. Ia menggoda Bu Milady yang usianya bahkan lebih muda darinya. Mereka bahkan pernah dijodohkan, dan dulunya sebelum menikah dengan Pak Sebastian,  Bu Milady adalah sekretaris Pak Trevor.


“Kamu anak Ibu-mu, sana nyekar,” Bu Milady mengingatkannya sambil melambaikan tangan.


“Iya nanti pas puasa nyekar, berdoa bisa dari mana saja,” Pak Trevor menyesap kopinya. “Ayah ikut nyekar ya?”


“Hm, lihat nanti,” gumam Pak Sebastian tampak tak acuh. Di usianya yang sudah 75 tahun, dengan rambut silver bergelombang yang terpotong rapi dan janggut panjangnya, ia membaca berita di ponselnya sambil memicingkan mata. “Trevor, kenapa tahu-tahu ARB kita ditentukan 5% ? Kamu salah beli saham atau bagaimana? Loss nih!!” serunya sebal.


Trevor memanjangkan lehernya melihat ponsel ayahnya dan mengernyit, “Itu ARA, Ayah. ARA kita mentok ke 5% karena harganya naik jadi limitnya ditentukan bursa,”


“Loh? Perasaan tadi aku lihat ARB,”


“Makanya pakai kacamata,”


“Kacamataku mana? Tadi di atas meja,”


“Itu di kepala Ayah,”


“Siapa sih yang naruh kacamata di kepalaku?!”


Bu Milady mencubit pipi suaminya, “Makanya kalau dibilangin pagi-pagi itu minum air putih yang banyak, kurangi nastar! Ih jadi error kan! Kesel deh...” ujar Bu Milady gemas.


“Nastarnya less sugar kok kata Dimas,” sahut Pak Sebastian mencoba embela diri.

__ADS_1


“Tapi sekali makan dua toples!” Omel Bu Milady.


“Bawel...” gerutu Pak Sebastian. “Tingkat stressku kan lebih tinggi, butuh gula,”


“Yang seharusnya butuh gula itu anak kita!”


“Anak yang mana?” tanya Trevor.


“Kamu sih cengengesan terus, nggak bakalan stress,”


“Aku stress waktu Mitha ngambek,”


“Itu salahmu sendiri, Siapa yang nggak ngambek istri lagi belanja di mall malah kamu tinggalin nggak bilang-bilang pula,”


“Ada panggilan dari Arman, aku langsung pergi ke kantor. Lagian lupa kalau ke mall bawa istri hahahaha! Dia kan kemana-mana biasa sendirian, lah kok weekend tahu-tahu minta ditemenin ke mall,”


“Ya salahmu,”


“Iyaaa salahku,”


“Pah, Mah, aku minta izin ke villa Eyang Gandhes besok,” kata Rahwana.


Semua langsung diam.


Pak Sebastian akhirnya mematikan ponselnya, menaikkan kacamata bacanya ke atas kepalanya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Rahwana.


“Kamu yakin siap?” tanyanya.


“Aku nggak yakin siap, tapi aku harus tahu,”


“Ini tidak ada hubungannya dengan Garnet Land, ini urusan pribadimu,”


“Betul, Ayah,” Rahwana memainkan garpu di tangannya, “Tapi aku harus tahu. Ada ingatanku yang hilang dari kejadian itu,”


“Kamu terganggu,” begtu kesimpulan Pak Sebastian.


Rahwana mengangguk sekali, “Dia terus muncul, kami seakan terikat. Juga aku mulai kesulitan menerima penglihatan ini. Semakin membuat hidupku rumit,”


“Tasmirah,” gumam Papanya.


“Papa tahu dia?”


“Tentu, tapi sebatas riwayat hidupnya saja, bukan kepribadiannya. Papa dan Arman tahu karena saat dia nekat menghubungi kami untuk memberitahukan lokasi kamu diculik, kami harus tahu dia dapat dipercaya atau tidak sebelum melakukan penyergapan,”


“Mau memberitahuku?”


“Menyerah secepat ini? Bukan sifat kamu,”


“Kepalaku hampir meledak,” gumam Rahwana. Ia menatap ke arah plafon, 10 Khodamnya berdiri terbalik di atap, semua menatap ke arah Pak Sebastian. Seakan berbicara ke arah Pak Sebastian untuk tidak menceritakan apa pun.


“Tapi kamu sedang dalam posisi labil,” desis Pak Sebastian.


“Papa, kalau aku mewarisi tahta Papa, akan ada banyak kejadian tak terduga yang menguras tenaga dan menguji imanku setiap detik. Bukankah ini saat yang tepat untuk mengajarkanku membela diri?”


Lagi-lagi semua diam.


“Dia memang anak Ayah, dan Milady. Lebih ke Milady dengan sifat mengintimidasinya itu-”

__ADS_1


“Hush! Yang kamu ingat cuma sifat jelekku,” Bu Milady meraup wajah Pak Trevor untuk menghentikan ucapannya.


__ADS_2