Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan 36 : Garis Keturunan


__ADS_3

“Nastarnya jangan dihabisin, Eyang Jenggot,”


“KYAAA!!” Jerit Ai kaget saat di sebelahnya nongol sosok.


“HYAAAKK!!” Gadis kecil yang juga kaget sampai melempar laptop di tangannya. “Kenapa sih Om jejeritan?!” serunya panik.


“You ngapain di belakang Eike?!”


“Terus aku harusnya di mana?!”


“Ya kan bisa di situ, di sana, di onoh! Nggak harus di belakang Eike!”


“Yah... laptopku kebantiiing,” gumam Gadis kecil itu sambil cemberut dan memungut laptopnya di lantai lalu memeriksanya, “Ini Laptop gaming ROG dengan spek dewa loh, Om,”


“Terus Eike yang salah? Masuk tuh salam dulu gitu, kan eike pikir situ setan! Eh mata you beda-beda warnanya, kecolok apa gimana?!” Ai mengernyit menatap anak itu.


“Kecolok apa bisa sampe beda warna Om?”


“Bu Gandhes, ini Sita?” tanya Pak Sebastian.


Eyang Gandhes mengangguk sambil tersenyum. “Sini Nduk, Cah Ayu,” panggilnya lembut ke gadis kecil itu. “Ayo, salam dulu,”


“Hem...” Sita dengan canggung berdiri di samping Eyang Gandhes, “Assalamualaikum, Nama saya Sita, Umur 10 tahun lebih 1 bulan, Hobi saya main game, warna kesukaan saya Putih, Makanan kesukaan saya Pie Buah, Cake coklat, Red Velvet, Pizza yang ada nanasnya, ayam kaefci, ayam A&W juga suka tapi kadang pahit sih, burger McD, Eskrim baskin and-”


“Minta semua sana sama Eyang Jenggot, tuh nanti dikasih saham restoran pizza bisa makan sepuasnya nggak usah beli lagi! Pake Bitcoin sahamnya,” potong Ai sambil jongkok di depan Sita dan menunjuk Pak Sebastian.


Sita langsung berbinar “Bitcoin? Bisa beli skin juga dong Om?!”


“Bisa!” sahut Ai. Dia nggak tahan karena Sita ternyata ceriwis.


“Om Jenggot Minta Bitcoin 10 Ya!” sahut Sita


“Beuh! Nggak kira-kira mintanya, Cakeeepp!” seru Ai.


“Bitcoin 10 setara sama harga rumah di daerah Kemang,” gumam Pak Sebastian.


“Ya tapi mana ada yang jualan rumah pake Bitcoin, Pak?”


“Kan saya bilang ‘setara’ bukan berarti bisa dibeli,”


“Aku nggak mau rumah, aku mau beli avatar Naruto sama pedang King Of Monarchy!” Sahut Sita lagi


“Apalagi sih itu...?” gerutu Pak Sebastian.


“Juga Tas Justice, cardigan yang ada di Shopee, ada nail sticker lucu yang pake mutiara di tokopedia, terus juga mau sepatu unicorn yang di butiknya- emph Emphh!!” Eyang Gandhes menutup mulut Sita karena anak itu mulai melenceng kemana-mana.


“Sita main dulu sana sama Aki Tirem, kita lagi mau diskusi serius,” sahut Eyang Gandhes.


“Hum...” Sita menatap Aki Tirem yang menunduk hormat, “Temennya Sita orang dewasa semua, ada yang seumuran nggak sih? Dan yang masih hidup,”


“Rayuan maut versi mancing tuh Pak,” kata Pak Arman sambil mesem-mesem.


“Saya sih terserah Iwan saja,” sahut Pak Sebastian sambil menyeringai. “Soalnya kalau tinggal di rumah otomatis dia yang urus,”

__ADS_1


“Baik,” Eyang Gandhes berdiri, “Sita, kamu mainnya jangan jauh-jauh ya. Seperti yang Eyang bilang kemarin, Usia Mama kamu mungkin tidak akan lama lagi, jadi setelah Om Iwan keluar dari kamar, kamu harus di samping mama kamu sesering mungkin,”


“Siap laksanakan Eyang!” Sita meletakkan telapak tangan ke dahinya pose hormat, “Ayo Ki, kita lanjut main jelangkung!” katanya sambil menggandeng tangan Aki Tirem.


“Eyang Jenggot, rekening Shopee aku 89308xx-xxx-xxxx yaaaa!”


“Eh, buset! Malak pula,” gumam Ai.


“Sebentar...” gumam Arman sambil mengutak atik ponselnya.


“Nggak usah dikirim juga Papaaaah!”


“Oh iya, reflek,” sahut Pak Arman sambil mematikan kembali ponselnya.


“Udah kirim aja sejuta daripada bawel!” gerutu Pak Sebastian sambil mengibaskan tangannya.


“Oke Pak, “ Pak Arman menyalakan kembali ponselnya


“Buat Eike nggak ada Pakde?” rayu Ai.


“Kamu kan udah punya gaji sendiri,” sahut Pak Sebastian


“Dih...” sungut Ai.


*


*


Rahwana membelai ujung lengan yang terpotong itu. Sudah tertutup oleh kulit dengan jahitan yang tidak terlihat lagi. Ia prediksi pasti Eyang Gandhes yang melakukannya. Wanita tua itu begitu mahir di bidang medis, sehingga Papa Rahwana, Pak Sebastian, begitu percaya diri untuk mendirikan Garnet Medical Center berkat dukungan dari Eyang Gandhes. Juga karena sebenarnya kakak tiri Rahwana, Trevor, mengidap suatu penyakit panic attacked yang lumayan parah akibat kejadian traumatis di masa lalunya, sehingga berobat di rumah sakit sendiri akan jauh lebih murah dan lebih menjaga privasinya.


Lalu pemuda itu duduk di sebelah ranjang, di atas kursi, sambil menatap tubuh wanita tak berdaya itu.


Wajah yang ia ingat, tapi tampak lebih tua. Kerutan tanda bertambahnya usia dan guratan tanda kelelahan yang amat sangat terukir di rautnya.


Ya,


Orang ini lah yang ada di dekatnya waktu itu. Begitu nyata dan cantik, juga dramatis. Bukan sosok Fransisca yang selalu mengikutinya. Orang bilang ingatan manusia akan memudar seiring waktu berjalan. Apalagi ingatan sesosok jiwa, sudah pasti antara satu dengan lainnya bercampur aduk.


Ada arwah yang saat masuk ke tubuh medium bicara terbata-bata bagaikan tidak ingat apa pun, hanya mampu mengucap sepatah dua patah kata, ada juga yang hanya bisa mengingat saat terakhirnya saja. Pun, masalah kata-kata bisa jadi ‘mereka’ ini, entitas ini, lupa dengan bahasanya sendiri, itu mungkin saja terjadi. Karena mereka hanya jiwa tanpa tubuh, mereka tidak memiliki otak yang menunjang proses ingatan.


Benar atau tidaknya, Wallahualam Bissawab.


Juga Fransisca.


Sosoknya saat menjadi jiwa jauh lebih cantik. Mungkin ingatannya kembali ke masa saat dia muda, saat ia menatap cermin dan berkata ‘wow, ini tampilan terbaikku’! Tapi saat ini, saat Rahwana melihat sosok nyatanya, Rahwana baru benar-benar bisa mengingat dengan jelas.


Waktu itu, seingatnya terdapat kerutan halus di bawah mata Fransisca, atau Tasmirah yang waktu itu berada di lokasi penculikan. Juga di sudut bibirnya. Saat ia ‘bekerja’ memang tak terlihat karena tertutup make up, namun saat ia dalam kondisi babak belur, wajahnya basah oleh keringat dan air mata, kerutan-kerutan itu tampak jelas.


Bisa jadi, usia Tasmirah waktu itu jauh lebih tua dari penampakan jiwanya.


Saat ini, tubuh yang terbaring di depannya seperti wanita di pertengahan 40an,


"Apakah kamu membayangkan anak kamu saat dewasa akan berwujud menjadi si 'jiwa yang tersesat'? Sehingga kamu terus-terusan memakai wujud itu saat bertemu denganku?"

__ADS_1


Rahwana mencondongkan tubuhnya dan mengelus pipi Fransisca. "Apa tujuan kamu memperlihatkan visual itu padaku, Sisca? Visual versi dewasa Fransita?"


Rahwana menatap mata yang terpejam di depannya. Tubuhnya ditutupi selimut tipis, namun Rahwana bisa melihat area-area ganjil yang seharusnya ada malah tidak ada.


"Karena kupikir itu yang paling baik untukmu," terdengar suara dari arah belakangnya.


Fransisca dalam siluet jiwa. Namun melayang tidak menapak bumi. Bagian kedua lengan dan kakinya tampak kabur, dan wujudnya sama persis dengan yang ada di ranjang di dekat Rahwana. "Kupikir kalau melihat wujudku yang ini, kamu akan takut,"


Rahwana menarik napas panjang. Ia menunduk untuk menyembunyikan raut wajahnya yang sedih. "Maaf..." hanya itu yang bisa ia ucapkan.


"Tidak ada yang harus dimaafkan, itu pilihan hidupku," Jiwa Fransisca mendekat sampai ke pinggir ranjang, menatap tubuh fananya yang tertidur. "Kamu tahu, aku merasa jauh lebih bebas setelahnya. Eyang memperlakukanku dengan sangat hati-hati. Dia juga sayang pada Sita. Dulu saat jadi manusia aku selalu kesakitan setiap jamnya. Tapi kini rasa sakit itu malah sirna,"


"Selalu ada hal baik di dalam keburukan," gumam Rahwana.


"Ya, kalau kamu ikhlas menjalani,"


Rahwana menatap jiwa Sisca yang melayang.


"Aku mencintai kamu," kata pemuda itu.


"Walaupun aku seperti ini?" tanya Sisca.


"Kamu tahu hal itu tidak masalah bagiku,"


Sisca tersenyum lembut. "Sayang sekali kita tidak berjodoh,"


"Apa ada cara agar-"


"Tidak ada cara lain, aku sudah sepuluh tahun lebih berjuang," kata Sisca, Kamu juga tahu itu. Seharusnya aku sudah mati,"


"Apa yang kamu tunggu sampai selama itu?"


"Selama dia masih ada, aku masih akan penasaran,"


"Dia siapa?"


Sinar mata Sisca meredup, "Gopar,"


Rahwana mengernyit merasa aneh, "Bang Gopar?! Dia sudah tidak ada,"


Sisca memandang tubuh fananya yang terkulai, raut wajahnya sulit digambarkan. Ada kemarahan, ada kesedihan, juga ada secercah harapan.


"Dia masih ada. Kalian beberapa kali bertemu. Dia seharusnya sudah tidak ada, tapi dia ditarik dengan ritual pemanggilan oleh seseorang,"


"Lalu apa hubungannya denganmu?"


Sisca menatap Rahwana dengan nanar, “Gopar adalah ayah biologis Sita,”


Rahwana menatap Sisca dengan terpana. Ia sampai tidak dapat berkata-kata.


“Iwan, sejak lama aku sudah dapat semacam insting kalau janin yang kukandung adalah miliknya, setelah Sita lahir kami melakukan semacam tes lewat bercak darah yang diberikan oleh tim forensik, dan hasilnya kecocokan 98%,”


Rahwana mengusap wajahnya, “Astaga,”

__ADS_1


__ADS_2