
Rahwana dan rekan-rekan kembali ke kantor pukul 23. Mereka baru saja selesai memandikan Pak Yanto dan mensholatkannya. Sementara pemakaman direncanakan besok pagi karena menunggu saudara-saudaranya datang semua.
Masih terbayang betapa histerisnya istri dan anak-anak Pak Yanto kala mengetahui kalau suaminya meninggal dunia saat bekerja.
Rahwana merasakan capek yang amat sangat, ia duduk di sebelah Pak Rey yang sepanjang perjalanan hanya diam dengan wajah menerawang.
Pak Firman, Kadiv HRD duduk di sebelah Rahwana sambil menyalakan rokok. Kini mereka bertiga sedang menikmati pemandangan malam Jakarta di area smoking, beranda lantai 15.
Ini baru hari pertama ia bekerja. Dari pagi ia bagaikan mengikuti lari marathon. Bagaimana besok? Bagaimana lusa?
Astaga! Berapa lama gue bakalan di sini!! Keluh Rahwana.
Dan karena ia golongan pemuda Introvert Level Akut, jadi saat ini ia membayangkan berada di kamarnya, pakai boxer dan main game dengan sepiring ‘mie instan isi dua’ di depannya.
Lalu Rahwana pun melirik Pak Rey.
Jelas, di antara banyak orang, yang paling terpukul adalah bapak yang satu itu. Saat ini Eksekutif muda itu terduduk di lantai bersandar ke dinding, dengan setelan jas mahalnya dan rokok di tangan. Memandang ke arah depan ke jalanan ibukota di saat hampir tengah malam dalam diam.
Lalu Rahwana menoleh ke sampingnya. Pria paruh baya dengan perut buncit yang sibuk dengan ponsel, mengurus tunjangan sosial Pak Yanto dan berbagai administrasi atas nama almarhum. Apalagi Pak Yanto memiliki banyak pinjaman di kantor, jadi Pak Firman harus menghitung berapa yang diberikan ke keluarga dan berapa yang harus digunakan untuk melunasi hutang.
Seperti kata sang istri almarhum, selesaikan masalah hutang dulu, baru yang lain-lain.
Masalahnya, tidak sesederhana itu.
“Yah, ini sih yang ada Bu Yanto nggak dapat apa-apa malah dapat limpahan sisa hutang. Belum yang pinjol-pinjol. Saya dengar dia sering ditelpon debt collector dan ada beberapa orang Bank yang suka ke sini datang cari beliau,” Pak Firman menggaruk rambutnya yang mulai memutih.
“Dihitung aja Firman, nanti saya talangi,” gumam Pak Rey.
Pak Firman dan Rahwana menoleh ke arah Pak Rey. Pria itu masih menatap kosong ke arah depan. Bisa jadi ia merasa kalau semua yang berhubungan dengan Pak Yanto adalah tanggung jawabnya.
“Pak Rey, tulisan di ruangan bapak adalah ‘maafkan saya, Pak’ jadi Pak Yanto juga sudah merasa kalau itu semua salahnya, dan bukan salah Pak Rey,” kata Rahwana.
“Kamu tahu apa, memang?!” gerutu Pak Rey.
“Saya menemukan bukti penggelapan yang dilakukan Pak Yanto dan Pak Endang,”
Pak Rey dan Pak Firman menatap Rahwana dengan tegang. “Maksud kamu?”
“Ini masalah komplek perumahan yang di Cibubur kan Pak?” tanya Rahwana.
“Iya, betul,”
Rahwana menyeringai. “Mungkin besok kita bisa bicara dengan lebih intens, di depan shareholders,”
“Saya nggak ingin ketemu Pak Sebastian di saat begini,”
__ADS_1
“Maksud saya yang satunya,”
“Pak Trevor? Bicara dengannya hanya akan membuat nama saya terlihat jelek,” gerutu Pak Rey.
“Owner perusahaan ini, maksud saya,”
“Oh, Pak Rahwana Bataragunadi maksudnya ya,” timpal Pak Firman.
Rahwana melirik Pak Firman, sementara Pak Rey melirik Rahwana dengan curiga. “Bisa apa anak ingusan itu? Terima perusahaan kan hanya gara-gara warisan,” gerutu Pak Rey. Tampaknya ia berusaha memancing Rahwana. Mungkin ia beranggapan, semakin Rahwana marah semakin bisa mengaku mengenai identitas aslinya.
Tapi Rahwana tidak seperti itu.
Karena ia sendiri tidak bangga memiliki warisan semahal ini.
Dan sekacau ini bentuknya.
“Pak Rey, atasan memang bisa jadi boomerang bagi kredibilitas kita. Tapi percaya deh, banyak Boss yang diam-diam mengamati dan tahu mana yang benar-benar bekerja, dan mana yang terlihat bekerja,”
Pak Rey diam. Ia mengakui perkataan Rahwana.
Seperti dirinya, saat ditugaskan ke perusahaan ini setahun yang lalu, hatinya mendongkol. Banyak sekali penyimpangan yang terjadi. Sementara dirinya dididik oleh mentor yang mengajarinya banyak hal di bidang problem solving dan trik nakal para karyawan di sini dengan cepat dapat diketahuinya. Itu pun memakan waktu berbulan-bulan.
Mungkin kesalahannya, ia memulai di sini sebagai seorang Boss.
“Kalau Pak Rey mau menalangi semuanya, jumlahnya sangat banyak, Pak. Dan itu semua kesalahan pribadi Pak Yanto. Bapak tidak harus ikut-ikutan membiayai istri-istrinya dan pacar-pacar gelapnya,”
“Waduh! Saya pikir itu gosip,” sahut Pak Firman. “Saya tambahkan ke daftar hal yang mau saya meetingkan besok, deh. Kode etiknya bagaimana kalau kita yang beritahu ke Bu Yanto, atau biar Bu Yanto tahu sendiri saja,”
“Satu ponsel untuk urusan dengan satu istri. Dan ponsel yang ada di laci Pak Yanto jumlahnya lebih dari lima. Saya nggak terbayang kalau istri sah almarhum menerima barang-barang peninggalan dari kantor. Juga malas mengetahui ada apa saja di dalam laci mejanya selain ponsel,” kata Rahwana.
“Astaga, Ya Tuhanku...” gumam Pak Rey.
Ia menghela napas berat lalu menghirup rokoknya dan menghembuskannya sambil tersenyum lega.
Tampaknya Pak Rey sudah lebih tenang.
“Thankyou, Boss,” gumamnya ke Rahwana.
“Ck!” Rahwana berdecak sambil menyenggol kaki Pak Rey, memperingatkannya agar Pak Firman jangan sampai dengar. “Tapi tetap saja, banting-banting barang inventaris tidak saya benarkan ya!” bisik Rahwana.
Pak Rey berdehem, “Nanti saya ke psikiater untuk masalah anger management,” bisiknya ke Rahwana.
Lalu keadaan hening. Hanya ada gumaman Pak Firman yang sedang pusing dengan masalah jaminan sosial.
“Pak Firman,” panggil Rahwana.
__ADS_1
“Yak?” pandangan Pak Firman teralihkan ke Rahwana.
“Setan kan kerjanya mengganggu manusia ya Pak,”
“Betul,”
“Gajinya UMR nggak?”
“Hah?!”
“Kan kerja,”
Pak Firman terdiam. Lalu mereka berdua cekikikan.
“Ya ampun hilang galau saya!” sahut Pak Firman. “Eh, tapi tergantung, dia masuk kerja pakai orang dalem nggak?”
Lalu mereka berdua terbahak.
“Setan itu digaji pakai Pengakuan,” timpal Pak Rey.
Rahwana dan Pak Firman diam dan menatap Pak Rey. Yang menyeringai ke arah mereka.
Lalu mereka tertawa bertiga.
“Kalau begitu, karena sudah malam, saya mau menyelesaikan pekerjaan saya ya Pak, biar besok tidak menumpuk,” Rahwana bermaksud pamit.
“Iwan, kamu yakin bersih-bersih dulu? Kan sudah dititipin ke Junet, langsung pulang saja,” kata Pak Firman.
“Tapi kan ini tanggung jawab saya Pak, Kalau ada konslet gimana?” kata Rahwana. Ia merasa bersalah ke Junet, karena ia bahkan tidak ikut membersihkan tangga darurat tadi siang karena sibuk dengan kasus.
“Masih banyak yang lembur di lantai 25, paling tidak dia nggak sendirian. Security juga berjaga 24 jam,” kata Pak Rey. Ada banyak tenant yang memang menyewa gedung ini, namun area dari lantai 1 sampai 15 digunakan oleh PT. Garnet Mas Land, Tbk.
Lagipula, Gedung ini miliknya. Ia harus tahu mekanisme dan kebiasaan di sini.
Dan Rahwana butuh sendirian. Ia jadi bisa bebas bergerak. Terutama astral yang memenuhi tempat ini, Rahwana harus tahu dari
mana asal mereka.
Dimulai dari...
Makhluk tinggi besar berbulu yang dari kemarin berdiri di samping operator lobby, dengan taring dan mata merahnya yang mengintimidasi.
*
*
__ADS_1