
Semua orang mengerubungi Rahwana kala itu, mereka mengevakuasinya secepatnya. Keadaan riuh, orang-orang menghampirinya dari berbagai sisi.
Tampak helikopter beterbangan, pemadam kebakaran dengan jumlah besar, anggota polisi berjaga, pasukan GSA berjaga mengawal Rahwana.
Namun semua hening saat Pak Sebastian turun dari limousinenya dan berjalan menuju Rahwana.
Semua karyawan menatap sosok legendaris itu.
Beberapa bahkan sampai ternganga melihatnya.
Pak Sebastian memang sangat jarang terlihat. Orang-orang yang berniat menemuinya harus melalui janji khusus, dengan proses wawancara yang rumit. Yang bisa menemuinya hanya keluarga dan orang-orang penting.
Apalagi...
Kalau melihat sosoknya di ruang terbuka semacam ini.
Benar-benar pemandangan langka.
“Iwan...” Pak Sebastian langsung menuju ke arah Rahwana, lalu memeluk pemuda itu.
“Pah... Sisca Pah,” isak Rahwana. Ia bahkan tidak sanggup memperpanjang kalimatnya. Ingin rasanya mencurahkan semua isi hatinya, kejadian yang dialaminya barusan, semua perasaannya saat melihat teman-temannya tak berdaya.
“Iya, Papa sudah dengar. Itu sebabnya Papa kesini,” desis Pak Sebastian. “Kuatkan diri kamu, ayo kita segera ke tempat Bu Gandhes,”
Pak Arman menghampiri Pak Sebastian, “Kami akan memeriksa kalau-kalau masih ada anggota Gopar yang hidup,”
“Lakukan yang menurut kamu pantas dilakukan. Pastikan orang itu ditangani dengan benar dan tidak ada lagi keluarganya atau orang yang berhubungan dengannya dapat mengganggu keluarga saya lagi,” sahut Sebastian sambil menggiring Rahwana.
“Siap Pak,” ujar Pak Arman sambil menuju ke arah anggotanya.
Rahwana pergi menggunakan heli ke arah kaki gunung Sindoro, ke tempat sang pujaan hati berada.
Sementara...
“Hoi... masih hidup, lo?” Moses menoel-noel pelipis Ai. Pemuda itu sedang terkapar di trotoar dalam keadaan terlungkup.
“Pingsan,” jawab Ai.
“Ini belum seberapa, mau kita tugaskan di negara yang lagi konflik gak? Jadi pasukan khusus gitu?”
“Jangan bilang itu salah satu tugas-“
“Iya lah, kan kita ada cabang-cabang di sana, semua dilakukan demi cuan perusahaan,”
“Akooh tak ingin menggantikan Papah, noway, no no no! No tembak-tembakan, No astral-astralan, no preman-premanan, no ular-ularan, No!” dengus Ai.
“Lo liat nggak sih aksi lo di basement? Udah hampir setara sama Pak Wakom gaya lo! Mantep cuy!”
“I said No ya No! Mau eike gape berantem, gape pistol-pistolan, Gape nari perut sama Maya, No ya No!” seru Ai trauma.
__ADS_1
“Ai,” panggil Pak Arman.
Ai langsung berdiri dengan cepat dan memposisikan tubuhnya tegap, “Eeeeh, iya Pah?”
“Hebat kamu!” Pak Arman mengacak-acak rambut Ai. “Habis ini mau main tiktok sampe tulang kamu lunak juga terserah. Yang penting aksi kamu hari ini sudah banyak menyelamatkan nyawa orang,” Pak Arman tertawa. Sepertinya dia bangga sekali dengan Ai.
Pemuda itu sampai terpana melihat cengiran Sang Papa. Tidak percaya rasanya, tawa itu yang selama ini hanya ditujukan ke sang mama, kini ditujukan untuk Ai.
“Siap Pah! Habis ini mau dikirim perang ke negara konflik juga Akoh rela!” seru Ai.
“Jilat teroooos...” Moses melempari Ai dengan bungkus ciki.
“Bagaimana dengan si... anu?”Ai bertanya mengenai keadaan Nisa, ia malas menyebut namanya.
“Anggap saja dia sudah mati,” gumam Pak Arman sambil melengos.
Moses dan Ai saling lihat.
“Anggap saja dia sudah mati? Bukannya tembakan terakhir itu pelurunya kosong ya? Jadi seharsunya dia masih hidup dong?”
“Ceile Ai, itu maksudnya, lo nggak usah mau tahu mengenai Nasib Nisa Viandra, itu urusa Bokap lo dan Pak Wakom,”
”Jadi... bakalan diapa-apain sama Papah, gitu?” Ai mengelus lengannya yang merinding.
“Orang sejahat dia yang sudah merenggut banyak nyawa tak berdosa, sudah pasti tidak akan dibiarkan mati semudah itu,” Moses mengangkat bahunya dengan cuek, “Tadinya mau di-end sama Tante Author tapi dia dapet banyak protes dari penghuni gc,”
*
*
“Kamar dikunci oleh Sita, dia mengurung diri bersama ibunya di dalam. Tidak ada yang boleh masuk,” Eyang Gandhes menjelaskan sambil bercucuran air mata.
“Tiba-tiba tubuh Sisca kejang-kejang, lalu darah keluar dari semua pori-pori. Dan setelahnya dia tidak bergerak lagi sampai sekarang,” kata Eyang Gandhes. “Sita histeris melihat itu, lalu menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
“Tapi eyang, apakah ada tanda-tanda kehidupan dari...” tanya Rahwana dengan lemas.
Eyang Gandhes menghela napas. Ia seperti tidak sanggup bercerita lebih lanjut. Ia hanya terisak, dan itu sudah merupakan jawaban dari pertanyaan Rahwana.
“Aku boleh coba?” Rahwana menatap pintu merah. Kamar Sisca.
Eyang Gandhes mengangguk.
Aki Tirem mendekat dan menyerahkan giok Sri Ratu Damaya ke tetua itu. “Oh, astaga Maya...” gumam Eyang Gandhes. “Sampai begitu pengorbanan kamu untuk makhluk fana tercinta,” sesal Eyang.
“Kalau dia mau, peluru akan melewatinya. Dia kan astral. Tapi akibatnya dia tidak akan bisa melindungi Ai dari terjangan. Tapi dia buat dirinya fana, agar peluru bisa terhenti olehnya dan Ai selamat,” begitu penjelasan Aki Tirem.
“Iya, Aki. Padahal tetap saja mereka tidak boleh bersatu. Kasihan, sih...” sahut Eyang. Batu itu bergetar di tangannya, “Iya Sri Ratu, Ai selamat, dan kini kami akan merawat lukamu,” bisik Eyang Gandhes.
“Psst Kanjeng,” bisik Aki Tirem.
__ADS_1
“Ya ki?” Eyang Gandhes merendahkan suaranya.
“Tapi, dia kan bisa mendorong Ai saja ke samping, kenapa harus bela-belain terkena tembakan?”
“Sssst! Aki ini... ini namanya dramatisir!” gerutu Eyang Gandhes.
*
*
Tok! Tok! Tok!
Rahwana mengetuk pintu itu dengan lembut. Entah siapa yang ia panggil, apakah Sisca ataukah Sita.
Yang ia tahu, ia harus masuk dan melihat semua kondisinya.
Tolong Jaga Fransita... Aku sayang kamu.
Kalimat itu terngiang-ngiang di benaknya. Baru beberapa saat yang lalu ia mengalaminya. Semoga kondisi Sisca masih bisa ia selamatkan.
“Sita... tolong buka,” panggil Rahwana lembut.
Cklekk!
Pintu itu terbuka sedikit.
Sita mengintip dari celahnya.
“Sita...”
Anak itu langsung keluar dari kamar dan mendorong Rahwana sekuat tenaganya. Pemuda itu terjatuh ke lantai. Selain karena Sita mendorong tepat area luka sayatan pisau di perutnya, juga karena kondisi Rahwana sebenarnya sangat letih.
“Pergi!!” teriak Sita.
Semua yang di sana terdiam dengan tegang, sekaligus merasa sedih melihat Fransita.
“Gara-gara Om Iwan, Mama jadi begini! Semua gara-gara Om Iwan!! Apa tidak cukup membuat mama menderita?! Sekarang aku sendirian Om!!” jerit Fransita sambil menangis.
Rahwana terpana melihat Sita.
“Sita, tolong-“
“Nggak boleh! Om Iwan nggak boleh ketemu mama lagi! Mama milik Sita!!” seru Fransita sambil masuk lagi ke kamar dan membanting pintunya. Rahwana bisa mendengar bunyi slot pintu dikunci.
Rahwana tidak berusaha berdiri.
Hanya duduk di lantai, posisi yang sama dengan tadi ia terjatuh.
Dalam sunyi ia menundukkan wajahnya ke bawah, mengatur napasnya sambil mengingat kembali sosok Sisca di saat terakhir.
__ADS_1
Tolong Jaga Fransita... Aku sayang kamu.