
Rahwana memandang nanar ke arah jiwa yang melayang dengan siluet terbayang.
"Iwan... Maaf, maafkan aku," tampak arwah Sisca menatapnya dengan penuh penyesalan.
"Kalau dia anak b4jingan itu kenapa kamu mempertahankannya?" tanya Rahwana dengan kening berkerut. Ada kemarahan dalaam nada suaranya.
"Karena setiap makhluk layak diberi kesempatan untuk hidup. Dan keberadaannya juga atas izin Yang Maha Kuasa,"
"Apa kamu memiliki perasaan dengan Bang Gopar?!"
"Astaga, tidak!" desis Sisca, menatap Rahwana dengan penuh kepedihan. "Tidak, aku tidak memiliki perasaan apa pun padanya, yang ada hanya rasa benci!"
"Sisca, apa dia ada di sana saat itu? Aku sama sekali tidak melihatnya saat aku disandera. Dia hanya muncul saat menggiringku ke jalan tikus,"
"Karena itu memang tugasnya,"
"Apa dia ada di sana?" tanya Rahwana lagi.
"Dia ada di sana, di lantai atas,"
"Sebenarnya apa posisinya di komplotan itu? Pentingkah ia, sampai bisa melakukan hal semena-mena padamu?!"
"Dia adalah anggota inti, aku juga tidak tahu persis. Tapi dia salah satu orang kepercayaan komplotan itu,"
"Komplotan macam apa itu? Om Arman dan Papah tidak memberitahuku sama sekali,"
Sisca tampak memiringkan kepalanya, lalu memandang jasadnya yang terbaring lemah di ranjang. Tubuh tanpa jiwa, rentan penyakit dan kematian selalu dekat.
"Itu komplotan human traficking, narkoba hanya pekerjaan sampingan. Basisnya di India, namun saat itu pemberantasan besar-besaran di hindustan terjadi. Saat itu terjadi penggerebekan oleh sebuah pasukan pengamanan yang kudengar dimiliki oleh salah satu pengusaha besar dari Indonesia , misi pasukan itu mengeluarkan anak salah satu keluarga mereka yang disandera. Gara-gara itu, induk organisasi luluh lantak, sisa anggota lari ke negara ini, dan mulai merekrut banyak anggota baru,"
"Kemudian di sini mereka melanjutkan pekerjaan lama mereka, human traficking. Aku salah satu korbannya. Aku diculik sejak kecil,"
"Jadi ada banyak anak-anak yang diculik selain aku?" tanya Rahwana.
"Betul, dan kudengar saat itu Gopar direkrut karena dia memiliki banyak 'wajah', dia bisa berakting dengan sempurna. Jadi dia bisa menyusup kemana saja untuk menculik anak-anak,"
"Apa kamu pernah mendengar mengenai Papaku sebelumnya?" Tanya Rahwana.
"Tidak. Dan lagi, para sandera biasanya disekap di tempat lain. Kamu anak kecil pertama yang kulihat disekap di sana. Kelihatannya kamu dianggap istimewa sampai harus dijauhkan dengan sandera yang lain,"
"Kamu tahu siapa Papaku?"
__ADS_1
"Dulu aku belum tahu, sekarang aku sudah tahu. Dan kupikir mereka sebenarnya salah sasaran. Gara-gara menculik kamu, mereka malah dibumihanguskan seluruhnya,"
"Apakah harapan kamu sudah tercapai?"
"Ya," Sisca mengangguk dengan senyum lembutnya menghiasi wajah, "Karena kamu, anak-anak itu bisa dibebaskan, wanita yang disekap tidak jadi diperjual-belikan, banyak bayi yang lahir bisa merasakan indahnya dunia,"
"Itu bukan aku. Itu semua berkat kamu,"
"Aku hanya pelaksana, kalau kamu bukan seorang Bataragunadi, mungkin dampaknya tidak sebesar ini,"
"Jadi," Rahwana mengelus wajah Sisca yang terbujur di ranjangnya, "Sekarang aku harus apa?" tanyanya ke Sisca. Atau mungkin saja ke dirinya sendiri.
Sisca hanya menggeleng. Ia pun tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
“Aku mungkin akan pulang dan mencari jawabannya di gedung itu, mungkin di situlah awal masalahnya,”
“AH, Ya, gedung itu. Saat kamu menginjakkan kaki ke sana lagi, aku mulai bisa berwujud,” Sisca kemudian teringat. “Tadinya hanya terbayang-bayang seperti ini. RTapi di gedung itu wujudku bisa sempurna seakan aku menyerap banyak energi untuk menjadi manusia seutuhnya.”
“Kamu tidak tahu kalau itu gedung tempat dimana aku disekap dulu?”
“Aku tidak tahu karena tampilan gedungnya sekarang sangat berbeda , Kalau jiwa atau roh tidak terlalu mengerti arah jalan seakan kita dibutakan. Yang kita tahu, kalau kita memiliki kenangan akan tempat itu, esensinya berbeda. Itu saja,” Lalu ia menunduk mensejajarkan wajahnya dengan tubuhnya di ranjang, “Aku terlihat menyedihkan sekali,”
“Kamu cantik,” ujar Rahwana dengan tersenyum lembut.
“Aku serius, Sisca. Walaupun dalam kondisi seperti ini. Yang cacat kan hanya tubuhnya, jiwanya tetap cantik,”
“Hehe,” Sisca menyeringai malu-malu, “Aku suka kalau kamu panggil aku dengan nama itu. Karena itu memang nama asliku. Sisca,”
“Kalau begitu mulai sekarang itulah namamu.” Rahwana mencondongkan tubuh dan mengecup dahi Sisca dengan lembut. Jiwa Sisca yang melayang sampai-sampai meringis karena saking malunya. Tampak semburat kemerahan di pipi tubuh fana Sisca.
“Apa perlu kutambahkan panggilan ‘sayang’?”
“Ih, kamu ini romantis juga ternyata hihihi,” Sisca mengikik senang.
Rahwana menatap jiwa yang sedang tersipu itu dengan lembut. Lalu menghela napas.
Hubungan mereka memang mungkin tanpa masa depan, dan bisa jadi kisah cinta ini hanya sebentar mereka lalui. Namun, itu yang membuat waktu menjadi lebih berharga.
“Kamu di sini saja sampai aku datang lagi, ya. Jangan mengikutiku dulu,” kata Rahwana.
“Ah? Kenapa?”
__ADS_1
“Aku merasa kamu lebih aman di sini. Aku mau membereskan beberapa kekacauan,”
*
*
Kediaman Bataragunadi, Darmawangsa, Jakarta Selatan.
Rahwana dan Bu Milady, mendengarkan semua informasi yang diceritakan ulang oleh Pak Sebastian, yang baru saja mereka dengar dari Eyang Gandhes. Rahwana hanya menunduk sambil mendengarkan dengan tenang, sementara Bu Milady menitikkan air matanya tanda kecemasannya.
“Aku ingin melihat anak itu, si Sita itu,” kata Bu Milady setelah semua selesai disampaikan.
“Belum saatnya, sayang,” gumam Pak Sebastian sambil mengelus rambut istrinya.
“Kalau perlu, bagaimana kalau dia kita adopsi saja?” tanya Bu Milady.
Rahwana langsung mengernyit sambil menatap ibunya, ia tampak enggan, tapi tak ada kata-kata keluar dari bibirnya.
“Tingkahnya seperti Nayaka waktu kecil, aktif dan kalau bicara ceplas-ceplos,” kata Pak Sebastian.
“Eh, Buset!! Jam berapa ini?!” Ai langsung teriak sambil merogoh ponselnya dan menatap angka waktu di layarnya. “Udah jam 9 malem! Kenapa tiba-tiba udah malem?!”
“Ya kan memang tadi kita masuk ke dimensi yang berbeda dan-”
“Eike bisa dilempar sepatu ama Madam Defisit! Telat sejam iniii!” Ai langsung menghambur keluar dari rumah dengan wajah kalut.
Semua saling bertatapan, “Madam Defisit itu siapa?” tanya Pak Arman.
“Nayaka,” kata Rahwana, “Soalnya gaya hidup Nay suka bikin dompet defisit saking foya-foyanya berlebihan,”
Pak Sebastian langsung terkakak, “Waduh, benar sih!”
(Madam Defisit, sebenarnya adalah sebutan bagi Ratu Perancis tahun 1774, Marie Antoinette. karena krisis keuangan yang terjadi di Perancis disebabkan oleh gaya hidupnya yang boros. Pengeluaran yang mewah dan penentangannya terhadap reformasi sosial menjadi pemicu utamanya.)
“Lalu kenapa Ai panik sekali?” tanya Pak Arman masih penasaran, “Biasanya Nay suka tahu-tahu muncul di belakang Ai, kenapa sekarang mereka harus janjian ketemu?”
Rahwana mengelus dagunya, ia berpikir kata-kata apa yang pas untuk situasi semacam ini, secara yang bertanya saat ini adalah Komandan GSA yang terkenal tidak mudah dikelabui dan sudah bertemu dengan berbagai macam tipe manusia.
“Anggap saja, ini proses pendewasaan mereka berdua,”
“Jangan bilang mereka mau jadian,” gumam Pak Arman dengan suara rendah sambil was-was. Tampak ekspresi ketidaksukaan dalam pandangannya.
__ADS_1
“Saya pikir malah sebaliknya sih, Om. Ai cukup mengerti posisinya kok. Masalahnya yang sulit menerima kenyataan malah mungkin si Nayaka,”
“Hm,” dengus Pak Arman sambil kembali bersandar ke sofanya.