Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan Rahwana : Pertemuan dan Perpisahan


__ADS_3

Rahwana menarik napas panjang sambil duduk bersandar di depan jendela yang berada tepat di sebelah koridor kamar Sisca.


Pintu merah itu dari dua hari yang lalu tidak terbuka.


Tadinya mereka khawatir akan keadaan Sita di dalam sana, namun melihat kalau anak itu masih aktif di media sosialnya untuk sekedar browsing, kekhawatiran itu sirna.


Tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan akan diri Sisca.


Juga pertanda apa pun.


Juga firasat apa pun.


Seandainya Sisca benar-benar sudah tidak ada di dunia ini, jasadnya harus segera dikebumikan. Namun pintu itu tidak terbuka.


Dengan sendu pemuda itu mengalihkan pandangannya ke halaman samping di tepian jendela.


Taman indah dengan pohon-pohon pilihan.


Di kejauhan terlihat puncak Gunung Sindoro diselimuti kabut putih.


Eyang Gandhes melempar dua buah tas ke dalam Rolls Roycenya, lalu menghampiri Rahwana. “Le, aku tak tindak ke Villa Lereng Merapi yo, Mia arep miladan mengko bengi,” (Nak, aku pergi ke lereng merapi ya, Mia mau pesta ulang tahun nanti malam).


“Iya Eyang,” desis Rahwana lesu.


Lalu Eyang Gandhes menatap ke arah kamar berpintu merah dari luar. “Kalau Sita keluar, kabari. Makanan dilemari. Tapi biasanya dia memang menyimpan banyak snack di kamar situ. Makanya bisa tahan nggak keluar kamar dua hari,”


“Eyang tidak menangkap sinyal atau hal lain dari Sisca?” tanya Rahwana. Pertanyaan yang sudah beberapa kali ia layangkan ke Eyang Gandhes, sebenarnya. Dan wanita berusia hampir 150 tahun itu tidak bosan-bosannya menjawab pertanyaan Rahwana.


Pemuda itu sedang frustasi, putus asa dan berduka.


“Biasanya Le, kalau dalam 3 hari tidak ada pertanda apa pun, ia sudah tenang di sisiNya. Termasuk Qorinnya,” kata Eyang Gandhes.


Lagi-lagi Rahwana hanya mengangguk sambil kembali menyandarkan kepalanya di tepian jendala, lalu memejamkan matanya, menikmati cahaya mentari yang menerpa wajahnya.


“Sabar ya Le, Eyang hanya bisa berharap kamu tabah menjalani,”


“Eyang sudah berbuat sangat banyak untuk kami. Makasih eyang,”


Wanita itu tersenyum lembut dan mengangguk pelan, lalu masuk ke dalam mobilnya.


Sambil menatap kepergian Eyuang yang perlahan menghilang di tengah kabut, Rahwana pun kembali menunggu. Ia akan ada di sana sampai Sita siap keluar.


Pada dasarnya manusia hanya siap untuk pertemuan tapi tidak dengan perpisahan. Pertemuan adalah takdir, dan setiap pertemuan selalu membawa kita ke takdir yang lain. Tidak selamanya pertemuan itu untuk menyatukan terkadang pertemuan juga harus memisahkan.

__ADS_1


Dan Tidak ada seorang pun siap dengan perpisahan, Faktanya kita tidak akan pernah menghargai pertemuan kalau kita tidak pernah merasakan perpisahan.


*


*


Nayaka menjatuhkan dirinya di kursi di dalam kubikelnya dan menatap nanar ke depan. Ia memikirkan Ai, dan kejadian menyebalkan tempo hari.


Apakah sia-sia? Bertahun-tahun ini ia berharap dengan sosok Ai semua sia-sia?


Orang bilang cinta mengalahkan segalanya, namun ternyata Ai bahkan tidak memperjuangkannya, malah dia memiliki pacar segala!


Dan itu malah membuat Nayaka malu. Bahkan sangat malu.


Jadi selama ini dia dianggap apa? Perjuangan selama ini untuk merebut hati Ai ternyata sia-sia? Dan kapan Ai dekat dengan wanita lain selain Nayaka? Semua pertanyaan itu berkecamuk di benak perempuan berusia 19 tahun itu.


“Nay...”


Jadi selama ini...


Nayaka mengejar sesuatu yang semu.


Ia merasa seketika sangat bodoh.


“Nay?”


Detik demi detik ia habiskan untuk memikirkan Ai. Sambil membayangkan Ai ia bahkan merancang sesuatu yang bisa cocok untuk Ai, seperti aksesoris, jam tangan, bahkan perhiasan yang cocok dipakai untuk Ai.


Bahkan karyanya mencapai rekor penjualan terbesar di Eropa dan Amerika karena temanya yang sangat cocok untuk kaum pelangi. Tidak terlalu manly, tapi juga tidak feminin. Itu semua karena kiblatnya ke sosok Ai yang kemayu tapi di satu pihak cowok itu bisa tetap menunjukan kelaki-lakiannya.


“Nayakaaa,”


“Astaga!” Nayaka langsung berdiri kaget sambil melempar ponselnya.


Sigap mendarat ditangkap Rumi Rutherford. “Om! Jangan ngagetin dong!!” seru Nayaka gusar. Cewek itu mengusap-usap telinganya karena suara Rumi tadi tepat di samping daun telinganya.


“Ai lagi - Ai lagi, lama-lama gue juga ketularan ngondek,” gerutu Rumi sambil menatap ponsel Nayaka. Screennya bahkan memakai foto Ai yang Nayaka candid.


“Bukan urusan Om! Siniin!”


Rumi mengangkat ponselnya dan selfie. Lalu mengutak-atik ponsel Nayaka.


“Heh! Jangan seenaknya pencet-pencet privasi orang ih!”

__ADS_1


“Nih!” Rumi menyerahkan ponsel Nayaka. Nayaka mengernyit. Screen layarnya sudah berubah menjadi foto Rumi dengan kening berkerut. “Biar kamu inget kerjaan,”


“Cape deeee,” gerutu Nayaka sambil berniat mengganti kembali screen hapenya.


“Triwulanan September-”


“Astaga gue lupa!” potong Nayaka langsung, “Mau dimeetingin nanti sore ya Om! Oh iya Kak Mia mau ke Lereng Merapi! Bentar bentar bentaaaar, gue sesuaiin dulu angkanya sampai jam 00.00 kemarin,”


“Dari kemarin lo belum kerjain?”


“Belom,”


“Lo bahkan belom ngepost angkanya? Itu excelnya masih blank...”


“Iya,”


“Jadi sekarang yang lo bilang bentar itu-”


“Kasih waktu gue 2 jam!”


“Dua jam...” gumam Rumi sambil mencibir. Sudah pasti tidak akan keburu waktunya karena setahunya memposting sebuah laporan keuangan minimal butuh waktu 2 hari, sehari kalau sudah master banget kayak karyawan Kantor Akuntan Publik.


Lalu pria itu pun menekan tombol telepon yang berada di atas meja Nayaka, “Mia, meetingnya besok aja habis kita pesta di Vila Bu Gandhes ya, GSA juga mau siap-siap penjagaan habis ini,”


“Om!” Nayaka merebut gagang telepon dan menutupnya, “Sabar dikit kenapa sih?!”


“Untuk masalah pekerjaan jangan berdebat, di sini gue boss-nya,”


“Mbak Mia Bossnya,”


“Dia cuma urusan desain, gue urusan teknis. You know what, kalo kerja lo nggak serius lebih baik lo beneran pindah ke divisinya. Urusan kreatifitas lo lebih berbakat kayaknya,”


“Bunda yang pingin gue di sini, Om. Karena kalau untuk mendirikan sebuah perusahaan kita harus ngerti dasar-dasar keuangan dan kelicikan bidang financial,”


“Kelicikan financial? Maksud lo triknya kayaknya. Jadi masih jauh jalan lo, Nay...” Rumi menggoda Nayaka.


“Urusan desain, Aku udah punya bakat, jadi tinggal benerin yang ngeblank-ngeblank,”


“Yang nge-blank itu apa?”


Nayaka melirik Rumi sekilas, lalu sambil berdehem dengan canggung ia menyesap kopi diatas mejanya, “Banyak, Om,” gumamnya pelan.


“Pelan-pelan Nay, kerja itu nggak bisa langsung jadi. Ada prosesnya walopun kamu anak konglomerat,” kata Rumi. “Dan... jangan mikirin AI. Dia sudah bahagia dengan jalannya,” Rumi terkekeh sambil meninggalkan kubikel Nayaka.

__ADS_1


“... Putus Cinta kok sama Anacondorheroes, hehe, Amit-amit,” tambah Rumi pelan.


__ADS_2