Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan 12 : Pak Kuntoro dan Orang Dalam


__ADS_3

Rahwana meletakkan tabung Personal Computernya di lantai. "Tunggu di sini," gumamnya ke Fransita.


Tapi Fransita memeluk pinggangnya dari belakang. Rahwana menghela napas.


"Apa lagi siih,"


"Banyak suara minta tolong di sini! Pokoknya aku nggak mau pisah sedetik pun dari kamu!"


"Aku cuma mau ke gardu listrik, jaraknya 2 meter dari kamu!"


"2 meter itu jauh!"


"Astaga..." Rahwana menghela napas karena kesal. "Emangnya siapa sih yang mau gangguin kamu, sesama astral pula,"


"Sudah kubilang aku masih hidup!"


"Lalu kamu ini apa?"


"Bahaya kalau kubilang di sini, kita sedang diamati,"


"Iya aku tahu. Tempat ini, sarangnya..."


Ctakk!!


Lampu temaram menyala.


Pocong.


Di mana-mana.


Bisa dibilang tempat itu penuh sesak dengan pocong berwajah hitam.


Rahwana menunduk. Ingin rasanya ia alihkan pandangannya. Tapi 'mereka' penuh sesak. Yang kosong hanya area yang tadi dilalui Rahwana sebagai rute jalan masuk.


"Ya Tuhanku," gumam Fransita.


Dalam sekejab saja, wanita itu mengerti kenapa bangunan gedung lama hanya dibangun sampai lantai 7 padahal pondasinya untuk 30 lantai.


Mereka yang ada di sana, yang memenuhi lantai seluas 3000m2 itu, adalah Korban Proyek.


Setengahnya lagi memang sengaja ditumbalkan, sedangkan sisanya adalah orang-orang yang meninggal saat bekerja di sana.


"Kerjaan pemilik lama, dan akhirnya si pemilik itu juga meninggal di gedung ini," dengus Rahwana sambil berjalan susah payah ke arah PCnya. Susah payah karena di'ganduli' Fransita.


"Ganggu banget, deh," gerutu cowok itu.


"Kamu ramah sama cewek lain, kenapa sama aku nggak?!" sahut Fransita.


"Aku malas beramah tamah dengan makhluk dimensi lain, mereka suka salah kaprah dengan keramahan kaum manusia," kata Rahwana sambil mengutak atik PCnya.


"Kamu nggak bawa layar ke sini, gimana bisa nyala-"


Fransita tidak menyelesaikan kalimatnya, karena sebuah sinar bagaikan proyektor keluar dari PC itu. Menampilkan sebuah aktivitas pekerjaan di sepanjang dinding.


"Aku pake kabel koneksi internet dari gedung lama. Nggak bakalan kelacak di dunia riil. Hehe,"


"Dengan kata lain kita saat ini berada di dalam..." Fransita memutar-mutar jemarinya.


"Dalam dinding, tempat para korban di kuburkan," sambung Rahwana. Lalu matanya melirik ke makhluk berkafan putih di tengah, paling besar paling tinggi, sampai puncak ikatan kepalanya menyentuh plafon yang tingginya 3 meter. Makhluk yang waktu itu bertemu Rahwana di lobi, yang bau busuknya sangat menyengat.


Pak Kuntoro, si pemilik lama dari gedung sial ini.


Sosok itu menyeringai ke arah Rahwana.


"Kamu harapan kami agar bisa bebas dari sini," desisnya dengan suara serak.


Ia ingin pulang ke rumah keluarganya, ingin melihat cucu dan cicitnya. Namun seperti Mbak OG, tiba-tiba ia tertarik kembali ke gedung ini.


"Saya juga ingin kalian semua pergi dari sini. Tapi saya malah dijadikan sasaran pembunuhan,” gerutu Rahwana.


“Itu keinginan Dia. Keberadaanmu di sini merupakan ancaman baginya,” kata Pak Kuntoro, “Kami tidak bisa melawan, titahnya adalah perintah,”


Fransita berbisik, “Padahal tadinya si Reynaldy sasarannya, malah jadi berbalik ke kamu,”


“Pak Rey juga merupakan ancaman, tapi tiba-tiba aku datang,” desis Rahwana sambil mengutak atik komputer. “Hm...” dan ia berpikir sambil menatap dinding.

__ADS_1


“Susah?” gumam Fransita.


“Iya, si hacker meretas komputer Pak Yanto, dan mengalihkan semua file ke... email Pak Rey,”


“Nah!! Ketemu penjahatnya!!” Fransita dengan antusias menunjuk wajah Rahwana. Pemuda itu berdecak sambil  menepis telunjuk Fransita.


“Aku nggak yakin,” kata Rahwana


“Loh?”


“Ini begitu mudah, seakan dia berusaha memfitnah pak Rey agar dipecat,”


“Ah Ribet lah! Hidupku aja udah ribet! Tahu begitu aku milih stay aja di villa Eyang Gandhes yang banyak setannya itu, daripada milih ikut kamu!” Omel Fransita.


“Hah?”


“Eh,” Fransita diam dan melirik Rahwana, tampaknya dia keceplosan.


Hening.


“Kita benar-benar perlu berbicara dengan lebih serius,” desis Rahwana sinis setelah beberapa detik kemudian. Fransita hanya menunduk sambil berdehem canggung.


“Bagaimana, sudah ada hasil?”


Rahwana mengusap dagunya sambil menghela napas, “Susah ternyata. Yang jelas penjahatnya dari lantai 15,”


“Area kamu sendiri, dong?!”


“Hemmmm, bisa jadi,” Rahwana tampak ragu.


“Bagaimana sih cara kamu mengetahuinya?”


“Aku menggunakan port internet gedung lama yang tertanam di dinding, karena kalau menggunakan kabel optik yang sama dari gedung baru, dia bisa tahu kalau aku sedang mencarinya. Tapi aku butuh sinyal dari lantai 8, lantai di atas kita. Makanya aku menuju lantai 7 ini,”


“Ternyata tetap tak terlacak, jadi kamu harus cari tahu melalui jaringan yang lebih luas lagi,”


“Tentu, tapi kuharap itu opsi terakhir. Aku tak ingin menggunakan koneksi Papa,”


“Kenapa?!”


“Karena dilihat dari sumbernya, kelihatannya yang mengerjai kita adalah salah satu orang dari induk perusahaan, karena ip address nya berasal dari Gedungnya Mas Trevor,”


Rahwana menyeringai, “Orang dalam,”


Fransita menatap pemuda di depannya dengan tegang.


*


*


"Kita kembali dulu ke dunia realita," gumam Rahwana.


"Tidak semudah itu," sahut Pak Kuntoro.


Tiba-tiba seluruh barisan astral mulai merapat mengepung mereka. Fransita kembali merengkuh lengan Rahwana dengan erat.


"Ini yang kutakutkan! Bisa masuk tak bisa keluar!"


"Mau apa?" gumam Rahwana.


"Kamu memang harapan kami untuk keluar dari sini, tapi dia tak ada hubungannya,"


Semua menatap Fransita lekat-lekat.


"Duh," keluh Fransita.


"Dia bagian dari diri saya," kata Rahwana.


"Kamu berada di sini sudah merupakan gangguan bagi kami, jadi harus ada bayaran yang setimpal. Kamu harus memberikan kami tumbal,"


Fransita tiba-tiba limbung, "Energiku habis. Kalau tubuhku lemah, gampang dirasuki yang lain," bisik Fransita.


"Ya kamu kembali saja sana,"


"Aku terkunci di sini, mereka tidak izinkan aku keluar,"

__ADS_1


"Ada-ada aja sih," gumam Rahwana sambil menopang tubuh Fransita dengan satu tangan, sementara tangan yang lain menenteng PC.


"Bagaimana kalau saya beri ayam juga?'


Pak Kuntoro terkekeh. Percayalah, saat itu rupanya sangat mengerikan. Belum ditambah tegangnya suasana yang terjadi. "Harga kami tidak serendah Office Girl itu,"


Rahwana menghela napas. "Jadi mau kalian apa?" Ia hampir tidak sabar.


“Itu, jiwa yang tersesat itu, Bisa bergabung dengan kami di sini,” dengan tatapannya ia mengarah ke Fransita.


“Tidak bisa, kalian tidak berhak,”


“Kamu tahu, saat kamu melangkah ke sini, kamu tidak dilindungi apa pun. Pasukanmu tertinggal di realita,” mereka semakin merapatkan diri untuk mengepung Rahwana.


“Oh, begitu?”


“Ya Ampun, pantas saja dari tadi kok terlihat ada yang kurang! Benar saja, tidak ada si khodam,” keluh Fransita.


“Jadi, tidak ada yang melindungi dirimu, saat ini. Kalau kamu tidak mau menyerahkan dia, kamu juga akan tinggal di sini. Dengan menyerahkan kamu, mungkin kami bisa terbebas,” kata Pak Kuntoro.


Rahwana menggelengkan kepalanya. “Ada dua hal yang ingin saya sampaikan, tolong jangan maju dulu,”


Mereka berhenti.


“Pertama, kalian tumbal proyek. Yang bisa membebaskan kalian hanya kalau tubuh kalian yang tertanam di sini dikuburkan baik-baik. Dengan kata lain, gedung ini harus hancur dulu. Dan percayalah, menghancurkan sebuah gedung biayanya amat sangat mahal,”


Terdengar geraman dari sekitar mereka.


Entah itu pertanda bagus atau baik.


“Yang kedua, para khodam-khodam itu, mengikuti saya tidak dimaksudkan untuk menjaga saya,”


Semua menatap Rahwana, Fransita sampai menaruh perhatian pada Rahwana karena ingin tahu.


“Ada satu situasi kenapa saya tidak bisa melihat mereka, si penjaga itu, karena...”


Dalam satu gerakan Rahwana meraih salah satu entitas, mencekiknya lalu melantunkan sebuah ayat suci.


Dalam sekejab, entitas di tangannya terbakar habis.


Rahwana menyeringai dengan licik, “Mereka, pasukan saya, bertugas menjaga kalian dari saya, agar saya tidak bertindak seenaknya menggunakan ilmu yang saya miliki,” dan ia terkekeh penuh kepuasan. Fransita melepaskan pegangannya ke Rahwana.


"Kamu... Kamu punya ilmu itu!" Seru Pak Kuntoro. Dia kelihatan panik.


"Kalau ada pasukan Eyang Gadhes, kekuatan saya terkunci. Tapi ya hanya bisa digunakan untuk jin kafir sih," gumam Rahwana. “Duh rasanya lega banget deh, enaknya kumusnahkan saja seluruh gedung, sekarang ya? Dari pada repot-repot mengusut ini-itu,”


“Itu berarti aku juga akan terbunuh!” seru Fransita.


“Ya begitulah. Aku benci entitas yang seharusnya tidak terlihat malah menampakkan diri seakan menggoda manusia,” Rahwana menatap Fransita, “Termasuk kamu,” wajah pemuda itu dingin.


"Kamu punya ilmu yang sama dengan majikan kami!"


"Sudah saya duga, karena itu mungkin, saya jadi dianggap ancaman," sudah Rahwana duga. Cara mengendalikan entitas di sini agar patuh pasti memakai cara curang.


“Eyang Gandhes bisa ngamuk kalau kamu bertindak seenaknya,” gumam Fransita takut-takut. Kini ia bahkan lebih takut pada Rahwana dibanding ke para pocong itu.


“Huh...” Rahwana menghela napas berat. “Sayangnya iya, dan kalau kulakukan semua itu, lepas dari sini aku bisa dipasung, kali...”


"Oke, kali ini kuampuni. Keluarkan kami dari sini," kata pemuda itu.


"Baik, tapi ini yang terakhir kalinya. Lain kali tidak bisa kami lepaskan,"


“Lain kali, kalian akan benar-benar musnah,” Rahwana merendahkan suaranya, “Lain kali, saya tidak peduli pada nasehat Eyang Gandhes,”


*


*


Ilmu yang dimiliki Rahwana bernama Qulhu Geni ajian khusus yang bisa dikategorikan sebagai hijib,  bacaannya diambil dari ayat-ayat Alquran, atau dari potongan surat al-ikhlas, yang kemudian dilanjutkan dengan doa dalam bahasa Jawa.


Ajian Qulhu Geni ini lahir ketika zaman Wali Songo, saat itu pengaruh hal-hal yang bersifat gaib sangat kental di masyarakat Jawa. Diciptakan Sunan Ampel dan dimaksudkan untuk menghentikan semua ulah para makhluk halus dan juga para jin jahat.


Hal itu terjadi karena dulu makhluk halus sangat diagung-agungkan hingga seolah-olah manusia di bawah kendali para Jin. Akhirnya terjadilah berbagai macam bentuk pemujaan yang dilakukan masyarakat kepada makhluk halus.


Ilmu ini nyata adanya dan bukan mitos, kabarnya masih ada manusia yang mempelajari dan memperdalam ilmu ini sampai hari ini. Namun mengenai khasiat dan kesaktiannya tentunya atas izin dari Yang Maha Kuasa. Yang paling baik tentu adalah ayat-ayat suci yang disadur dari Al Qur'an.

__ADS_1


Rahwana memiliki ilmu ini sejak ia diculik. Rasa traumatis di dirinya memicu otaknya untuk memacu alam bawah sadarnya agar lebih peka terhadap situasi yang tidak bisa dikendalikan manusia awam, demi keselamatan dirinya sendiri. Sekali saja ia membaca mengenai ajian ini, ia langsung menguasainya.


Namun, kenapa ia menjadi lebih peka dengan keberadaan entitas astral, masih jadi misteri. Tentu saja pemecahannya adalah membaca novel ini sampai tamat.


__ADS_2