
“Aku boleh peluk tante?”
“Astaga sayang, boleh...” Sisca menyambut Iwan kecil yang langsung memeluknya.
“Kalau Iwan nangis, Mama suka peluk. Walau pun awalnya marah-marah. Iwan suka dipeluk Mama, soalnya wangi,”
“Iya sayang, iya...”
“Tante juga wangi,”
“Hehe...iya,”
“Tante, kita akan selamat?”
“Iwan... hiduplah dengan kuat. Dengan kekuatan itu raihlah kebahagiaanmu,”
CKLEKK!
Rahwana membuka matanya.
Lalu mengerjab melihat ke sekelilingnya.
Siang hari di Vila kaki gunung, dengan cuitan burung dan sepoi angin dingin.
Ia terbangun karena mendengar suara slot pintu terbuka.
Mimpi yang tadi, masa-masa terakhir ia dan Sisca saat dulu.
Namun dengan kalimat terakhir yang berbeda.
Iwan... hiduplah dengan kuat. Dengan kekuatan itu raihlah kebahagiaanmu.
Kata-kata itu terngiang di benaknya.
Namun Rahwana menunduk.
Apakah dengan ketiadaan Sisca, ia akan bisa bahagia?
Lalu ia menoleh ke samping.
Fransita, di depan pintu merah.
Sesenggukan sambil menatap ke arah pemuda itu.
Sesekali tangan kecilnya menghapus air matanya.
Rambutnya yang dibiarkan panjang sampai ke pinggang terikat acak-acakan.
“Mama selalu mengepang rambutku dalam mimpi,” kata Sita lemah. “Tapi kemarin dan hari ini dia tidak datang di mimpi,”
Rahwana hanya menatap Sita dengan sedih.
Entah mau bicara apa dia.
Ia juga ingin Sisca hadir di mimpinya.
Memeluk Sisca lagi, menciumnya lagi.
“Hum,” gumam Rahwana sambil menunduk.
Kehilangan ini tidak bisa ia tahan.
“Sini,” desis Rahwana melambaikan tangan ke Sita. Sita mengampirinya.
Rahwana mengarahkannya supaya Sita duduk di pangkuannya dengan posisi memunggunginya, lalu mulai membuka ikatan rambut anak itu dengan perlahan dan menjalinnya menjadi kepangan sebisanya sambil menonton ‘tutorial mengepang’ di yutub.
Wangi yang menyengat keluar dari dalam kamar Sisca.
Wangi yang sangat mencolok.
Rahwana tahu ini bukan wangi parfum, bukan wangi bunga, bukan wangi rempah. Ini sesuatu yang berbeda.
__ADS_1
Kinasih datang dari arah koridor bersama dengan Aki Tirem.
Sepuluh Khodam Rahwana menjelma menjadi manusia.
Banyak astral yang datang dari arah hutan berkumpul di taman Vila.
Semua menatap ke arah pintu merah yang setengah terbuka.
Sri Ratu Darmaya dan beberapa Djin penunggu juga datang.
“Wangi bidadari,” kata Maya.
Rahwana hanya meneruskan menjalin rambut Sita, sambil tersenyum tipis.
Air matanya jatuh ke pipi.
Berikutnya, semua astral berlutut di depan pintu merah.
Mereka seakan mengantar kepergian terakhir.
Dari sosok yang hidupnya tersiksa sepanjang usia, namun sangat dicintai di saat terakhir.
*
*
“Gandhes,” Viola Sandro duduk di sofa meja rias sambil menatap ke arah Eyang Gandhes dengan tatapan mata sendu, “Kamu ngapain di sini?”
“Kalau di sana aku pasti sedih,” Eyang menatap ke luar jendelanya dengan wajah sendu.
“Mengantar kepergian seorang sahabat, apa salahnya kalau sedih?” tanya Viola lagi.
“Aku tidak boleh meratap di dekatnya, itu kutukan yang diberikan padaku,” kata Eyang Gandhes. “Kalau orang itu masih hidup, aku boleh saja menangisinya. Tapi kalau mereka sudah... air mataku bisa mencegah orang itu untuk masuk ke JannahNya,”
“Dosa apa yang kamu lakukan di masa lalu sampai hukumanmu begitu menyiksa? Usiamu sudah hampir 150 tahun, atau... bisa jadi lebih tua karena KTPmu pernah revisi sekali,”
“Usiaku tahun ini 189 tahun. Dan ya... dosaku sangat besar, sampai aku tidak boleh menangis di saat-saat terakhir dari hidup setiap orang yang kusayangi,”
“Ya tentu saja,”
“Kalau aku meninggal nanti, kamu jangan nangis. Kalau bisa kamu adakan stand up comedi sekalian,”
Tawa mereka berdua terdengar sedih.
“Aku akan menerima hukuman ini dengan ikhlas,” kata Eyang Gandhes, “Entah sampai keturunan ke berapa aku akan mengalami kehilangan berkali-kali. Yang jelas, saat terakhir kalian hidup, aku tidak akan ada di dekat kalian. Sulit bagiku untuk tidak menangis, dasarnya aku hanya manusia biasa, seorang wanita yang sensitif,”
Ia menatap ke atas, ke langit cerah tak berawan.
“Sekarang sudah tidak sakit lagi kan Tasmirah sayang? Semoga kamu bahagia di sisiNya, Sisca,” gumam Eyang Gandhes.
Tidak berapa lama, Pak Arman dan Rumi datang masuk ke dalam ruangan.
“Bu Gandhes, GSA mohon izin untuk masuk ke kawasan Sindoro, untuk membawa dan mengebumikan Jenazah Sisca di sini,” kata Pak Arman.
*
*
Sore itu,
Mia dan Sandra Bagaswirya, dua wanita cantik kebanggaan keluarga Putri Gandhes Bhanowati Bagaswirya, menaburkan bunga di atas tanah makam dengan nisan sederhana.
“Kita tidak pernah saling mengenal, sayang sekali ya Sisca,” desis Mia setelah selesai mendoakan jenazah di dalamnya. “Hari lahirku bertepatan dengan berpulangnya kamu. Tapi aku yakin memang patut dirayakan, karena dari cerita orang-orang justru berpulangnya kamu adalah kebebasan kamu. Jadi aku yakin kamu senang,”
Sandra Ellen mengusap punggung anak perempuannya itu.
Lalu menatap ke batu nisan di sekelilingnya.
Kuburan keluarga Bagaswirya. Dari tahun ke tahun.
Jumlahnya bisa ratusan.
__ADS_1
Ada beberapa area tanah yang suatu saat akan jadi tempatnya dan keluarganya tidur, ada juga yang diperuntukkan bagi Keluarga Bataragunadi, Tanurahadrja, Beaufort dan Manfred. Akses masuk harus seizin si empunya tanah, karena itu para petinggi menilai ini tempat paling aman untuk tidur tenang tanpa harus terusik dunia luar.
Lereng Merapi akses masuknya memang lebih mudah bagi manusia daripada Vila Sindoro. Dan Vila di sini lebih mewah. Tanah turun temurun yang dipenuhi kutukan, dijaga oleh seorang wanita yang hidupnya sudah sangat lama di dunia.
Di sana, di ujung sana, di atas bukit terdapat pagar putih.
Tempat kehormatan yang bisa melihat seluruh area pemakaman dan Vila di ujung sana, dengan pemandangan merapi di kejauhan.
Tanah milik saat terakhir Eyang Gandhes, yang entah kapan akan ditempatinya.
“Bunda,” Mia menunduk ke 3 buah nisan kecil di depan pagar putih, “Ini kuburan siapa?” di nisannya tertulis “Putri” lalu nisan di sebelahnya tertulis “Gandhes” dan di sebelahnya lagi tertulis “Bhanowati’.
Sandra menghela napas sambil menekan dadanya yang bergemuruh. “Sejarah dimulainya kutukan Eyang Putri,”
“Bunda, tahun meninggalnya mereka tahun 1851...” Mia menatap dengan tegang ke arah bundanya.
Sandra Ellen mengangguk dengan wajah miris.
“Itu... kembar tiga, anak pertama Eyang Putri. Dilahirkan saat usia Eyang Putri sekitar 19 tahun,”
“Ini Eyang Putri yang sama dengan yang kenal? Eyang Gandhes?”
“Iya. Beliau tidak pernah menggunakan nama aslinya agar nama anak-anaknya selalu dikenang. Sejak meninggalnya si kembar, konon dia mengganti semua identitasnya menjadi Putri Gandhes Bhanowati, Hasil perpaduan ketiga anaknya,” Sandra Ellen mengusap lengannya yang merinding. “Mungkin juga sebagai pengingat dirinya agar dia bisa terus menjalani hidup ini,”
“Apa yang terjadi dengan mereka?” tanya Mia.
“Eyang Putri membunuh mereka, meminum darah mereka, dan ia mencoba bunuh diri. Semua dilakukan setelah membakar suaminya sendiri, Narapati, dan Membunuh kedua orang tua kandungnya, suami-istri Bagaswirya. Saat itu Eyang Putri sedang hamil anak keempat,”
*
*
Ia menyesap kopi pahit sambil menatap anak-anak berlarian di halaman saat itu. Pesta ulang tahun Mia kali ini diadakan dengan tenang dan hikmat, sekaligus mengenang kepergian Sisca si Tasmirah.
Perlahan ia mengusap dadanya, tempat dimana kalung berliontin batu mirah delima tergantung di balik blus sutranya. Liontin pemberian suaminya, dengan banyak noda hitam darah yang mengering di sela-sela rantainya.
Darah anak-anaknya.
Dengan perlahan ia bersenandung,
Kelahiran, Pernikahan, Kematian
Berulang-ulang kulalui
Tangisan, Tawa dan cerita
Berkali-kali kualami
Aku tidak bosan tidak juga mengeluh
Semua kuhadapi dengan tulus
Kalau ini bisa menjadi penebus dosaku
Walaupun hidup sampai kiamat terjadi
Aku akan ikhlas menjalani.
“hehe,” tawa pelan yang sedih. “Aku selamanya 22 tahun. Manusia, tapi bukan manusia. Setan tapi bukan setan, tapi yah...” Eyang Gandhes mendongak ke atas, ke arah Aki Tirem berdiri. “Untung saja ada yang selalu menemani ya Kakang?”
Aki Tirem mengangkat tangannya. Rantai besi yang merah membara, bagai terbakar di api neraka. “Yang seperti ini bukan ‘untung’ Kanjeng,” dengusnya. “Bukan mau kami menemani Kanjeng,”
“Kalau kulepas kamu langsung mengalami siksa kubur, loh,”
“Siapa yang tahu? Alasan saja,”
“Ya sudah, sini kulepas,”
“Nggak usah, begini sudah posisi paling bagus,”
Eyang Gandhes terkekeh sambil kembali menyesap kopinya. Di kejauhan ia melihat Rahwana berpelukan dengan kedua orang tuanya. Tampak Bu Milady juga menarik Fransita kedalam pelukannya.
__ADS_1
“Sebentar lagi keluargaku tambah ramai,” Ia menyeringai.