
"Lo sembarangan cium gue.Lo benar-benar cowok gila" bentak Naya.
"Itu hadiah dari gue, biar lo gak bete lagi" balas Leon.
"Hadiah apaan, ini bukan hadiah namanya tapi yang buat gue deg degan" gumam Naya.
"Lo tadi bilang apa, lo deg degan" ucap Leon karna mendengar Naya bergumam.
"Emmm... gue....." Naya gugup karna Leon mendengar dia bergumam."Astaga, kan kena gue kalau gue deg degan.Napa nih mulut gak bisa di jaga" batin Naya.
Leon mesih menunggu Naya untuk berbicara, Leon menatap Naya yang membuat Naya menjadi salah tingkah.
"Kenapa gue jadi gugup dan salah tingkah begini sih" batin Naya.
"Gue...gue....iya gue deg degan" ucap Naya pelan.Akhirnya dia jujur kalau dia deg degan karna mendapat perlakuan dari Leon yang begitu romantis.
Walaupun Naya mengucapkannya pelan, tapi Leon masih bisa mendengarnya, "Lo deg degan?Apa lo deg degan karna gue cium lo barusan."
Naya hanya terdiam, dia tidak tahu harus bagaimana lagi, karna dia gugup dan takut salah tingkah lagi.
__ADS_1
"Nay, lo kok gak di jawab sih" tanya Leon.
"Udah lah gak usah di bahas yang gak penting" mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ya udah, tapi jangan salahin gue ya kalau lo jantungan ya, kalo gue cium lagi."
"What??!!."
"Iya, kan lo gak mau tuh beritau gue kalau lo deg degan setiap gue cium lo, jadi gue gak bisa bantu lo" jelas Leon.
Naya terdiam dan berpikir sejenak, "Kalo gue terus deg-degan setiap di cium Leon atau di dekati Leon, jantung gue gak bisa terkontrol.Apa iya, Leon bisa bantu gue" pikir Naya.
Leon tersenyum tipis mendengar kejujuran Naya, "Gue juga sama, Nay."
Naya mengernyitkan dahinya " Maksud lo apaan sama."
"Gue juga, kalo gue setiap cium lo atau berada di dekat lo, gue selalu deg-degan.Dari awal gue cium lo, jantung gue gak terkontrol.Wakti pertaamy gue lihat lo 9 tahun yang lalu, gue udah deg-degan melihat lo" ucap Leon.
"Kenapa gue jadi jujur begini sih.Argh!Udah lah gue jujur saja" batin Leon.
__ADS_1
"Apa-apaan ini, Leon jujur sama gue.Leon mengungkapkan perasaanya pada gue.Gue gak nyangka 9 tahun yang lalu dia deg-degan lihat gue.Apa dia.......Akh!!Gak mungkin Leon suka sama gue" batin Naya.
"Naya..."
"Gue harus menghentikan ini.Ini gak bisa di lanjutin, jelas-jelas gue gak suka samanya." batin Naya.
"Leon, lo gak usah ngomong lagi.Gue gak bisa mendengar lagi, gue gak mau mendengar kejujuran lo lagi.Karna gue dah terlanjur membenci lo.Gue ingin kita seperti dulu aja, saling membenci dan memusuhi" pinta Naya.
Ekspresi Naya berubah 280°, dia tidak lagi bete, tapi dia tersenyum, " Kita kembali seperti dulu lagi."
"Kalau papa Ferdi dan mama Clara pulang, gue akan kembali ke rumah gue di luar kota" sambung Naya.
"Gue harus bisa menjauhi Leon, gue gak ingin dekat-dekat dengannya lagi.Tapi kenapa hatiku merasa sakit" gumam Naya dalam hati.
Leon hanya terdiam mendengar penjelasan Naya. "Okay, if that's what you want...I'll accept it.We end here up." Leon pun berpaling dan meninggalkan Naya.
Naya hanya memandangi punggung belakang Leon yang pergi meninggalkannya." Ini yang terbaik" gumam Naya.
Naya menghela nafas dan melangkahkan kaki keluar dari lapangan basket dan menuju ke kelasnya.
__ADS_1