
"Gimana kalau kita pergi makan ke kantin untuk ngerayain ini, sekalian kita lihat cogan-cogan" ajak Putri dengan kegirangan.
"Woy" Ella memukul jidatnya Putri. "Di kepala lo itu cuman cogan-cogan mulu.
"Ya elah, kan gue cuman mau lihat cogan doank kok. Kan Leon termasuk cogan yang paling populer disekolah." kata Putri sambil memegang jidatnya yang telah dipukul Ella.
"Hahahah, kalian ini ya. Bisa-bisanya kalian berantem cuman gara-gara cowok." tawa Naya
"Leon itu bukan cogan sembarangan. Dia itu paling cerdas, pintar, paling keren, badannya bagus, kulitnya putih, matanya biru.Yang penting Leon itu perfect deh." kata Putri dengan mata berbinar-binar.
"Udah itu, sekarang kita mau ke kantin, atau mau bahas coganmu, Put" tanya Naya.
"Iya kita ke kantin. Gue juga lapar tau" rengek Putri.
"Sekarang kita kekantin. Come on girls." kata Ella disusul dengan Naya dan Putri.
Naya, Ella, dan Putri pergi ke kantin. Naya melihat Leon yang dikerumuni oleh para cewek-cewek.
"Naya, Putri kita duduk disini aja. Jangan disana terlalu rame akibat cogan-cogan disana." kata Ella
"Disini nyaman, gak ada yang ganggu. Gue malas melihat keramaian yang disana. Sakit mata gue lihatnya" jawab Naya dengan ketus.
"Mau, lo gitu amat jawabnya. Kayak lo dan cogan disana itu musuh." ejek Putri.
__ADS_1
"Malas aja sih, Put. Hmm, gue mau nanya nih, disini ada gak ekskul basket." tanya Naya
"Ada, ketua tim basketnya Leon" jawab Ella.
Naya terkejut, "Leon adalah ketua tim basket" tanya Naya tidak percaya bahwa Leon ketua tim basket.
"Iya. Leon bukan hanya ketua tim basket, tapi dia juga ketua tim sepak bola. Dia terkenal juga dengan prestasinya dalam bidang akademi dan olahraga." jelas Putri
"Sakit telinga gue dengar nama Leon mulu dari tadi" ucap Naya sambil menutup kedua telinganya.
"Naya, lo lucu banget sih" ejek Ella
"Iya nih Nay. Lo imut banget kalo lagi marah-marah. Kalau gue cowok gue dah gebet lo. Soalnya Lo cantik, lucu, imut lagi." kata Putri sambil mencubit gemas pipinya Naya.
Naya melepaskan tangan Putri dari pipinya.
Tanpa Naya sadari teriakan Naya sudah didengar oleh orang-orang, hingga semua menatapnya.
Tiba-tiba ada suara yang berbicara pada Naya.
"Apanya yang sakit?" tanya cowok yang menghampiri Naya.
"Leon, ngapain lo disini. Sana lo ganggu gue aja. Gak ada yang sakit, cuman pipi gue karna dicubit" jawab Naya dengan ketus.
__ADS_1
Sedangkan Ella dan Putri melongo melihat mereka. Mereka tidak percaya bahwa Leon perhatian sama cewek. Mereka baru pertama kali melihat Leon perhatian sama cewek.
"Ehh! Cewek aneh kalau ditanya, jawabnya yang bener" kata Leon dengan datar.
"Sana lo, gak usah sok perhatian ama gue. Lo kembali sana ama cewek-cewek lo." bentak Naya
"Hmph, gak guna gue bicara ama lo. Buang waktu gue aja" jawab Leon dan langsung pergi.
"Dasar cowok aneh, dia gila atau apa sih. Datang-datang gak diundang, tapi kalau dirumah juteknya minta ampun" gumam Naya.
"Ehh, Nay. Lo siapanya Leon sihh." tanya Putri.
"Iya nih, baru pertama kali gue lihat Leon ngomong ama cewek. Biasanya dia gak pernah tuh perhatian ama cewek" tanya Ella dengan penasaran.
"Mana gue tau. Kesambet apa dia. Padahal ya, dirumah itu juteknya minta ampun. Dirumah aja gue gak pernah ngomong amanya. Dan sekarang dia baru ngomong ama gue" jawab Naya dengan santai.
"What! Dirumah! Naya, lo serumah dengan Leon, sejak kapan?" tanya Putri dan Ella dan serempak.
"Kemarin. Gue pindah kerumahnya Leon karna permintaan papa mama gue. Makanya gue pindah sekolah, karena gue pindah ke rumah cowok dingin itu" jawab Naya sambil menatap kedua temannya.
"Yang bener lo, Nay. Astaga, Naya gue gak percaya. Lo serumah dengan cowok ganteng yang paling populer." sahut Putri.
"Udah lah gak usah terlalu terkejut gitu. Gue malah ogah serumah dengannya." ujar Naya sambil memanyung-manyungkan bibirnya.
__ADS_1
"Putri, Naya, kita balik ke kelas yuk. Mau bel soalnya." kata Ella yang beranjak dari tempat duduknya diikuti dengan Putri dan Naya.