
Jaka yang egois juga terkesan sangat plin-plan. Tapi, ucapan itu cukup membuat hati Nika jadi tenang. Karena itu, Nika pun memutuskan untuk tetap menunggu Jaka.
Sementara Jaka yang melihat Nika tenang, lalu pergi mengejar Meta. Entah apa yang sekarang ada dalam pikiran Jaka. Tapi yang jelas, dia sepertinya enggan untuk melepas Nika maupun Meta. Dia sepertinya menginginkan keduanya.
Entah itu karena sudah cinta dengan keduanya. Ataupun karena perasaan bersalah atas hutang budi pada kedua perempuan ini. Karena kedua perempuan ini, dia sama-sama punya hutang budi yang besar.
Meta telah mengorbankan segalanya untuk dia. Sedangkan Nika, telah menyelamatkan nyawanya saat dia mengalami kecelakaan fatal waktu itu.
Nika dan ayahnya telah merawat dia sepenuh hati sampai dia sembuh seperti semula. Tanpa bantuan Nika dan ayahnya, Jaka merasa dia mungkin tidak akan hidup seperti saat ini.
Sementara Meta, dia telah membantu Jaka merawat sang mama. Mama Jaka yang ada di rumah sakit, dia rawat dengan membantu biaya pengobatan. Juga biaya hidup Jaka selama masa terpuruk, semua Meta yang tanggung. Tidak hanya itu, Meta adalah orang yang selalu ada buat Jaka di saat-saat Jaka sedang membutuhkan.
Pada intinya, kedua perempuan ini sama-sama berjasa besar bagi Jaka. Namun, hatinya juga merasa nyaman saat bersama dengan kedua perempuan ini. Saat keduanya terluka, Jaka sangat merasa sedih. Karena itu, dia seperti tidak rela jika harus melepas salah satu dari perempuan ini.
...
__ADS_1
Karena terlalu lama bicara dengan Nika, Jaka jadi kehilangan jejak Meta. Alhasil, dia tidak tahu di mana Meta berada saat ini. Jaka sudah mencari Meta beberapa jam, tapi tidak menemukannya.
Saat ponselnya Jaka hubungi, yang menjawab panggilan dari ponsel tersebut adalah si pemilik butik. Karena ternyata, tas Meta tertinggal di ruangan pemilik butik. Meta pergi tanpa mengambil barangnya terlebih dahulu.
"Sial! Bagaimana ini? Aku tidak tidak tahu di mana Meta saat ini berada."
"Mungkin dia pulang ke rumahnya kali, Mas." Nika yang sedari tadi ikut mencari berucap dengan nada pelan dan terkesan sangat berhati-hati.
"Entahlah. Tapi aku merasa tidak yakin kalau Meta akan pulang ke rumah langsung. Karena aku cukup tahu bagaimana sifat Meta. Jika dia sedih, kesal, atau marah. Dia tidak akan memperlihatkannya pada mama dan juga papanya. Dia pasti akan menyembunyikan perasaan itu supaya mama dan papanya tidak cemas."
Jaka yang tahu akan hal itu, langsung menoleh ke arah Nika. "Ya, aku cukup tahu banyak tentang Meta. Karena selama ini, aku selalu bersama dengan Meta. Lagipula, dia juga adalah tetangga sebelah rumahku. Sejak kecil, aku selalu mendengar tentang dia dari kedua orang tuanya."
"Oh, begitu kah? Mm ... baiklah aku paham. Lalu ... harus kita cari ke mana lagi dia? Aku cukup lelah sekarang, Mas. Sudah berjam-jam kita mencari, tapi kita masih belum tahu di mana dia sekarang."
"Aku juga tidak tahu harus apa sekarang, Nik. Karena sama seperti kamu, aku juga bingung dan ... lelah."
__ADS_1
"Ya Tuhan."
Keduanya pun langsung terdiam dengan pikiran masing-masing. Tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka pun memilih untuk kembali ke mobil setelah beberapa saat terdiam.
Waktu terasa cepat berlalu. Dari siang, kini beralih ke malam hati. Saat ini, Jaka sedang berhadapan dengan mama dan papa Meta.
"Kenapa kamu bisa tidak tahu di mana Meta, Jaka. Ini sudah malam, Meta belum juga pulang. Bagaimana ini bisa terjadi?" Papa Meta berucap dengan nada kesal dan panik.
"Ya Tuhan, ke mana anak itu pergi. Awalnya kami kira, dia masih jalan-jalan bersama kamu setelah kalian selesai fitting baju di butik. Maka dari itu kamu tidak cemas. Lah tahunya, kalian berdua terpisah. Bagaimana ini bisa terjadi, Jaka?" Kini giliran mama Meta yang berucap.
Orang tua yang sebelumnya sangat lemah lembut itu, kini terlihat sedang sangat kesal. Bagaimana tidak? Anak mereka tiba-tiba saja hilang.
"Maaf, tante, Om. Saya ... ini salah saya. Saya .... " Terasa sangat berat bagi Jaka untuk menjelaskan. Karena dengan keadaan yang sangat tidak baik sekarang, mungkin akan semakin menambah panas suasana jika ia ceritakan apa yang sebenarnya terjadi di butik tadi.
"Ah, ya sudah. Nanti saja kamu jelaskan. Sekarang, kita cari Meta sama-sama. Karena Meta lebih penting dari pada apa yang ingin kamu jelaskan," kata papa Meta langsung beranjak menuju mobil.
__ADS_1
"Ya ... ya baiklah kalau gitu. Kita cari Meta sekarang," kata Jaka dengan perasaan masih sangat bimbang dan takut.