Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 24 Niat masak


__ADS_3

"Ah, ya sudahlah, Ma. Besok saja kita bahas soal masalah ini yah. Malam ini, mari kita istirahatkan diri terlebih dahulu." Papa Meta berucap sambil menyentuh pelan bahu sang istri.


Seakan sebuah cahaya yang datang di kala gelap gulita, kata-kata itu adalah penyelamat untuk hidup Jaka dari kesalahan yang belum siap untuk ia akui. Jaka pun merasa sangat amat lega sekarang.


"Nak Jaka, sebaiknya kamu juga pulang sekarang. Pulang dan segeralah beristirahat. Karena tadi siang, kamu juga lelah seharian mencari Meta, bukan?"


"Iy-- iya, Om. Terima kasih banyak. Saya pamit sekarang."


Setelah berucap, Jaka langsung membalikkan tubuh untuk meninggalkan kedua orang tua Meta. Namun, baru juga dia melangkah beberapa langkah saja, langkah Jaka langsung tertahan oleh suara mama Meta yang memanggil namanya.


"Nak Jaka."


Panggilan itu kembali membuat perasaan Jaka gugup. Dengan hati yang berat, dia memutar tubuhnya secara perlahan.


"Iy-- iya, Tante. Ada ... ada apa?"


"Lho, kenapa gugup seperti itu, Nak Jaka? Tante hanya ingin menawarkan untuk tinggal di sini saja malam ini. Bagaimana? Apa kamu mau nginap di rumah ini malam ini, Jaka?"

__ADS_1


Terasa cukup malu hati Jaka sekarang. Bagaimana tidak? Dia terkesan seperti orang yang punya salah besar. Saat dipanggil nama saja sudah gugup tujuh keliling.


Sambil tersenyum tidak enak, dia pun berusaha menolak secara halus ajakan mama Meta barusan. "Ee ... nggak usah deh, Tante. Gak papa. Lain kali aja nginapnya. Untuk malam ini, aku pulang saja. Lagian, rumah kita juga gak jauh. Cuma bersebelahan saja."


"Ya tapikan, jika tinggal di sini, kamu gak perlu pulang lagi. Tinggal nginap di kamar yang ada di sebelah kamar Meta itu saja. Sedangkan jika kamu pulang, kamu harus jalan beberapa saat baru bisa istirahat dengan baik."


"Iya. Tapi gak papa, Tante. Aku pulang aja. Gak jauh juga kok. Gak akan memakan waktu lama buat sampai ke rumah."


"Ma, mungkin Jaka merasa tidak nyaman untuk tinggal di rumah kita sekarang. Biarkan saja dia pulang. Orang memang benar apa yang dia katakan. Rumahnya gak jauh. Gak akan memakan waktu lama kok buat tiba di rumah."


"Tapi, Pa."


Pada akhirnya, karena tidak enak dengan orang tua Meta, Jaka pun memutuskan untuk menginap di rumah Meta malam ini. Dia pun diarahkan ke kamar yang ada di sebelah kamar Meta.


Untuk pertama kalinya, Jaka tinggal di rumah Meta setelah sekian lama dekat dengan gadis itu. Terasa sangat canggung, tapi Jaka tetap memaksakan diri. Malam panjang pun terlewatkan dengan baik meski tidak seperti yang ia harapkan.


.....

__ADS_1


Pagi itu, karena Jaka tidak bisa tidur pada malam harinya, dia pun bangun kesiangan. Karena dia baru bisa tidur ketika adzan subuh berkumandang. Sementara Meta yang meskipun tidur jauh malam, dia sudah bangun ketika adzan subuh berkumandang.


Setelah membersihkan diri, Meta langsung menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah. Diapun melaksanakan shalat subuh dengan baik.


Usai melakukan tugasnya, Meta kini merasa semakin baik setelah apa yang dia lalui sebelumnya. Pikiran, hati, dan raga yang sebelumnya lelah, kini sudah kembali segar sepenuhnya.


Sebelum keluar kamar, Meta sempat bertukar chat dengan Jesi. Dia menanyakan keadaan Sean saat ini. Dan, sudah dia putuskan untuk datang ke rumah sakit pagi ini agar bisa menjenguk Sean yang dikatakan sudah lumayan baik oleh Jesi.


"Aku akan masak untuk kak Sean. Yah, meskipun itu tidak akan cukup untuk membalas budi baik kak Sean padaku, tapi setidaknya, aku bisa menyampaikan rasa terima kasih yang tulus dari masakan yang aku buat," kata Meta dengan penuh semangat pada dirinya sendiri.


Dia pun bergegas keluar dari kamarnya. Dengan perasaan senang, Meta beranjak menuju dapur dengan cepat. Saat Meta tiba di dapur, asisten rumah tangga yang selalu melayani rumah mereka sudah pun melakukan tugasnya sekarang.


Si asisten pun langsung menyapa majikannya dengan ramah. "Tumben pagi-pagi begini langsung ke dapur, Mbak. Mbak Meta ingin saya buatkan masakan apa nih?"


Meta tersenyum manis. "Nggak perlu, bi Mimi. Meta gak ingin minta bibi buatkan. Tapi, Meta ingin masak sendiri."


Ucapan itu tentu langsung membuat si ART menatap Meta dengan tatapan bingung. Secara, majikannya yang ini sangat jarang bermain ke dapur. Lah sekarang, dia bilang ingin masak. Tentu si ART jadi merasa was-was sekarang.

__ADS_1


"Mbak Meta ... yakin ingin masak?"


Mendapat pertanyaan itu, Meta malah tersenyum manis. "Tentu saja yakin, Bi Mimi."


__ADS_2