
Tanpa menunggu lama lagi. Setelah lamarannya Meta terima, Sean langsung membawa orang tuanya ke rumah Meta di siang hari berikutnya.
Kedua keluarga ternyata sangat bahagia. Dengan penuh semangat, mereka langsung membahas soal pernikahan tanpa memikirkan pertunangan terlebih dahulu.
Dan, dua minggu kemudian, pernikahan itu langsung dilaksanakan. Ijab kabul yang diadakan di rumah Meta. Sedangkan resepsi, mereka mengadakan di hotel berbintang dengan pesta yang sangat meriah.
Namun, malam pertama tidak terjadi apapun. Karena Meta meminta waktu pada Sean untuk menunggu malam pertama sampai dia siap buat melayani Sean sebagai suami. Maklum, dia tidak ingin melayani Sean dengan bayang-bayang orang lain. Karena menikah hanya karena hutang budi yang ia terima, maka dia masih belum bisa menemukan cinta dalam hatinya untuk Sean meski dia dan Sean sudah menikah.
"Maaf, kak Sean. Aku .... "
"Gak papa, Meta. Aku maklum. Aku tidak akan memaksa." Sean berucap sambil memegang tangan Meta dengan lembut. Mereka saat ini sedang duduk bersama di atas ranjang pengantin.
"Jangan merasa bersalah seperti itu. Aku tidak akan marah padamu. Aku maklum dengan apa yang kamu rasakan. Kamu juga butuh belajar buat jadi istriku, kan? Karena itu, aku akan menuggu sampai kamu siap seutuhnya."
Benar-benar membuat hati Meta merasa luluh. Luluh sekaligus merasa sangat-sangat bersalah. Bagaimana tidak? Sean yang begitu lembut, penuh perhatian juga penuh kasih sayang membuat Meta merasa menjadi perempuan yang sangat jahat.
Di malam pertama, malam yang seharusnya adalah malam yang paling membahagiakan buat pasangan pengantin baru, eh Sean malah tidak mendapatkan apa yang seharusnya ia miliki.
__ADS_1
Tapi Sean tidak menunjukkan wajah kesal sedikitpun meski sudah mendapat penolakan. Melainkan, dia malah tersenyum lebar dengan sentuhan lembut yang menenangkan. Benar-benar pria idaman.
.....
Waktu berlalu dengan cepat. Meninggalkan orang yang tidak ingin bersaing dalam mengejar waktu itu sendiri. Dan kini, pernikahan Meta dengan Sean sudah pun satu minggu lamanya.
Hubungan pernikahan mereka terlihat baik-baik saja. Meskipun Meta masih belum bisa menjadi istri seutuhnya buat Sean, tapi Sean tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.
Kini, mereka tinggal di rumah yang sudah Sean siapkan. Yah, mereka tinggal di rumah mereka sendiri. Sean membeli rumah setelah satu hari usia pernikahan. Dan, pindah ke rumah tersebut setelah dua hari mereka menikah.
Sean sengaja mengajak Meta tinggal di rumah mereka sendiri. Itu dia lakukan agar Meta bisa merasa nyaman dengan jauh dari kedua orang tua masing-masing. Sean tahu, Meta butuh waktu dan juga ruang yang luas untuk membiasakan diri menjadi istrinya. Karena itu, Sean berusaha keras untuk membuat Meta nyaman dengan dunia sekeliling yang baru untuk Meta.
Dengan semua kebahagiaan itu, Meta berusaha menemukan cinta untuk Sean dalam hatinya. Dia juga melakukan tugasnya sebagai istri yang baik. Menyiapkan semua kebutuhan Sean dengan sepenuh hati. Mulai dari makan, pakaian, hingga teman untuk bicara.
Yah, dia juga bersedia tinggal di satu kamar dengan Sean. Meski belum memberikan hak Sean sebagai suami, tapi dia tetap berusaha menjadi istri yang baik agar Sean juga merasa nyaman dengan nya.
Meta juga merasa kasihan dengan kehidupan Sean yang ternyata sangat sulit. Kesehatan Sean yang harus dibantu dengan obat-obatan membuat Meta merasa sangat bersalah.
__ADS_1
Satu minggu terakhir, dia hanya memperhatikan Sean meminum obat setiap harinya. Tapi malam ini, dia ingin menegur hal tersebut. Meskipun rasanya terlalu berat untuk Meta mengangkat bibir untuk bicara.
"Kak Sean, apa ... kamu memang harus minum obat itu setiap harinya?"
Setelah bertanya, Meta malah merasa tidak enak hati dengan apa yang sudah dia tanyakan.
Dia tiba-tiba merasa takut jika Sean tersinggung dengan pertanyaannya barusan.
"Ee ... maafkan aku, kak. Aku .... "
Sean dengan cepat tersenyum agar Meta tidak merasa bersalah. Dia pun duduk di samping ranjang. Lalu, menyentuh tangan Meta dengan lembut.
"Gak perlu minta maaf, Meta. Pertanyaan itu tidak salah. Jadi, jangan merasa bersalah atas apa yang sudah kamu tanyakan. Karena aku sama sekali tidak merasa terganggu."
"Mm ... untuk pertanyaan kamu barusan. Iya, aku memang harus minum obat-obatan ini karena tubuh ini cukup rusak setelah kecelakaan itu. Jadi, aku butuh bantuan agar tetap baik-baik saja."
"Yah, inilah kekuranganku yang banyak, Met. Aku beruntung bisa menikah dengan kamu yang baik-baik saja dan seorang gadis pula. Karena aku yang duda ini, selain bekas orang, aku juga tidak sempurna. Hidup dengan banyak kekurangan yang mengelilingi aku."
__ADS_1
Sean berucap sambil beranjak dari duduknya. Bangun, lalu berdiri membelakangi Meta.