Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 26 Nasehat


__ADS_3

Saat Meta yang berada dalam dilema memilih untuk tetap diam, papanya pun datang ke dapur. Sontak, sang papa pun langsung menatap bingung dengan keadaan yang sedang ia lihat di dapur.


Hal yang tidak biasa, yang terlihat sangat serius itu membuat sang mama menyimpan rasa penasaran. Diapun langsung bertanya.


"Ada apa ini? Kok kayaknya, kalian sedang membicarakan hal yang sangat serius?"


Tentu saja semua yang ada di dapur langsung mengalihkan pandangan mereka masing-masing. Dengan cepat, suasana tegang langsung mencair sesegera mungkin.


.....


Meta tidak ingin bicara dari sebelah pihak. Jadi, dia meminta waktu untuk bicara berdua terlebih dahulu dengan Jaka. Baru setelah itu, mereka akan bicarakan hal serius ini pada kedua orang tuanya.


Sang mama yang paham apa yang sedang anaknya pikir, tentu langsung menyetujui apa yang anaknya katakan. Pagi itu, tidak ada pembicaraan satu patah katapun dari kedua orang tua Meta saat mereka berhadapan dengan Jaka.


Sementara Jaka yang bagun agak telat pun langsung meminta izin buat pamit pulang setelah ia keluar dari kamar. Tapi, dia tidak bertemu dengan Meta, karena Meta sibuk dengan masakannya di dapur.


"Gak sarapan dulu, Jaka?" Mama Meta berucap ketika Jaka pamit pulang.


"Gak usah, Tante. Terima kasih banyak, dan maaf, aku bangun kesiangan karena terlalu lelah tadi malam."


"Oh, gak papa. Tante maklum kok."

__ADS_1


"Mm ... iya. Meta ... di mana, Tante?" Jaka berucap sambil matanya menyapu semua ruangan yang bisa ia lihat dengan matanya.


"Meta di dapur, Jaka."


"Oh, iya udah kalo gitu. Aku pamit pulang sekarang aja."


Jaka pun langsung meninggalkan rumah Meta. Tak lama kemudian, Meta pun langsung muncul dari gerbang pembatas antara dapur dengan ruang keluarga.


"Dia sudah pulang, Ma?"


"Udah."


"Oh."


"Belum, Ma. Dikit lagi?"


"Kamu masak apa sih, Met? Dan ... masak buat siapa? Tadi, mama lupa nanya padamu, kamu masak untuk siapa. Karena jika untuk diri kamu sendiri, mama rasa itu sungguh hal yang tidak mungkin."


"Yaelah, Ma. Kata-kata itu mengabarkan kalau aku terlalu malas untuk masak. Mama ini, kok tega sekali sama anak sendiri." Meta berucap dengan wajah yang pura-pura ia buat sangat cemberut.


"Bukan masalah tega atau nggak, Meta. Tapi, itu kenyataannya, bukan? Kamu itu mana pernah masak buat diri kamu sendiri. Jika bukan buat Jaka, lalu ... buat siapa lagi sekarang, hm?"

__ADS_1


"Mama tahu aku ternyata. Mm ... aku masih belum bercerita banyak tentang apa yang sudah aku alami tadi malam."


Meta pun langsung mengambil posisi duduk di samping sang mama. Lalu, dengan perlahan, dia menceritakan semua yang sudah ia lalui. Semuanya, tanpa ada sedikitpun yang terlewatkan.


Tanggapan sang mama ternyata luar biasa. Selain menjadi pendengar yang baik, mama Meta juga terlihat sangat antusias menanggapi setiap penggalan cerita yang Meta ceritakan.


"Jadi, kamu selamat berkata Sean, Met? Ya Allah, untuk saja ada dia. Bagaimana jika dia tidak datang untuk menyelamatkan kamu? Mama ... mama gak tahu lagi harus berkata apa sekarang."


"Iya, Ma. Meta juga gak bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada Meta tadi malam jika tidak ada kak Sean. Tapi, karena Meta, dia harus masuk rumah sakit akibat preman itu memukulnya dengan keras."


"Tidak bisa. Mama juga harus menjenguk Sean nanti, Met. Mama ingin bilang terima kasih pada Sean karena sudah menolong kamu. Mama juga merasa bersalah sekarang."


"Ini ... kamu juga sih, pakai jalan-jalan sendirian. Malam hari, jalan kaki, mana tanpa bawa ponsel lagi. Udah gak bisa mikir dengan baik kamu ya?" Kali ini, Meta malah dapat omelan dari sang mama yang kesal akan ulahnya yang terkesan kekanak-kanakan.


"Ya maaf, Mah. Meta akui kalau Meta memang salah. Meta yang ceroboh sampai menyeret orang lain ke dalam masalah."


"Bukan kamu menyeret orang lain. Tapi kecerobohan mu itu menyakiti orang lain, Met. Lain kali, jangan berpikir dangkal lagi. Jangan pernah gegabah dalam berpikir. Mengerti kamu?"


"Iya, Ma. Meta paham. Gak akan ada lagi kedepannya. Mama tenang saja."


"Awas saja kalau ada. Mama gak akan nyalahin preman itu yang bajingan. Tapi kamu yang sangat teledor dalam menjaga diri sendiri."

__ADS_1


"Iya-iya. Gak akan ada lagi kok." Meta berucap sambil memeluk erat lengan sang mama.


Meta tahu, sang mama bersikap seperti itu karena dia sayang dengan anaknya. Lagian, kalau ia pikir baik-baik, apa yang mamanya katakan itu sangat benar. Dia sungguh teledor. Sampai-sampai, membuat orang lain celaka karena keteledoran dirinya itu.


__ADS_2