Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 21 Sean digoda


__ADS_3

Namun, dia masih belum siap untuk bercerita soal apa yang sedang ia alami tadi. Dia masih menunda untuk bercerita soal Jaka yang punya perempuan lain pada Jesi. Karena sekarang, Meta ingin memastikan terlebih dulu kelanjutan apa yang harus ia ambil untuk hubungan antara dia dengan Jaka.


Memang, hati Meta yang dulu sangat mencintai Jaka, kini hanya tinggal separuh saja lagi. Karena yang separuhnya sudah mati akibat kata-kata Jaka yang sangat menyakitkan hati.


Tapi, pertimbangan untuk lanjut atau putus di tengah jalan masih belum ia ambil. Karena tadi, dia masih belum menerima penjelasan dari Jaka. Akibat tiba-tiba lari, yah, sekarang dia sibuk dengan perasaan dilema yang menyibukkan hati. Karena hal itu juga, ia terpaksa membatalkan niat untuk bercerita pada Jesi.


Meta hanya menganggukkan kepala ketika Jesi menyarankan agar sopir pribadinya yang mengantarkan Meta pulang ke rumah. Karena diantar sopir lebih baik dari pada dijemput oleh Jaka. Apalagi pulang sendiri, dia masih belum sanggup. Karena trauma akan kejadian tadi masih sangat terasa dalam hati Meta.


Setelah Meta pulang, Jesi langsung masuk ke dalam kamar Sean. Dia yang datang terlambat, tentu langsung mendapatkan pertanyaan dari keluarga yang sudah ada di dalam sejak tadi.


"Kok baru masuk, Je? Ada masalah apa di luar sana tadi, Nak?" Indra langsung bertanya dengan cepat saat melihat wajah sang anak baru muncul dari pintu ruangan tersebut.


"Gak ada masalah apa-apa, Pah. Cuma ngobrol sama teman aja."


"Teman? Calon kakak ipar kamu itu ya, Sayang?" Kini, giliran suami yang angkat bicara.

__ADS_1


"Iya, Mas. Aku bicara dengan Meta. Tapi .... "


Jesi tidak melanjutkan apa yang ingin dia katakan. Hal itu langsung membuat Sean tiba-tiba reflek berpikir hal yang buruk karena mendadak, dia merasa cukup cemas dengan perempuan itu.


"Ada apa, Je? Apa dua baik-baik saja?"


Pertanyaan Sean langsung membuat semua mata terfokus pada Sean sendiri. Bukan pertanyaan itu salah. Tapi masalahnya, yang bertanya itu yang salah.


Maklum, setelah kecelakaan yang ia alami, Sean dicap sebagai pria dengan sifat dingin Kutub Selatan. Yang dinginnya tiada lawan. Mana pernah dia ingin tahu apa yang terjadi dengan orang lain. Terutama, orang yang tidak terlalu dekat dengannya.


Tentu saja Sean jadi merasa tidak enak saat dia mendapatkan tatapan lekat dari semua orang yang ada di dekatnya. Satu persatu ia pandang orang yang ada di ruangan tersebut dengan tatapan penuh tanda tanya. Dia cukup merasa bingung sekarang. Karena sebelumnya, dia pikir pertanyaan yang dia lempar tidak ada yang salah.


"Bukan. Em ... maksudku, tidak. Tidak ada yang salah dengan apa yang kamu katakan, Se. Tapi, orang yang bertanya itu yang salah."


"Maksudmu, aku yang salah, Than? Kenapa aku?" Sean semakin bingung saat sahabat sekaligus adik iparnya yang menjawab apa yang dia tanyakan sebelumnya.

__ADS_1


Jesi pun langsung ambil alih menjelaskan. Tapi sebelum itu, dia beranjak duduk di samping kakak angkatnya.


"Kak Sean. Maksud Mas Jona itu, yang memberikan pertanyaan yang salah. Yah ... seperti ini lho, kak. Secara, kamu itu tidak pernah peduli dengan orang yang ada di sekelilingmu selama ini. Tapi sekarang, kamu malah terlihat sangat peduli dengan Meta. Mm ... ya jadi aneh banget dong."


"Iya tuh, Se. Mama juga merasa aneh. Mama mikirnya gini, apa itu gunung es Kutub Selatan udah mencair ya sekarang? Bisa-busanya terasa agak berbeda dari biasanya."


Sean tiba-tiba terdiam sesaat. Sambil terus memperhatikan satu persatu wajah semua orang yang ada di dekatnya dia juga berpikir dirinya tiba-tiba merasa ada yang berbeda. Entah kenapa, dia merasa kalau hatinya begitu ingin tahu apa yang terjadi dengan Meta.


Bukan hanya baru kali ini, tapi juga sejak pertama ia melihat Meta. Dia selalu merasa ada yang aneh dengan hatinya saat melihat Meta.


Tapi, sebisa mungkin ia abaikan perasaan itu. Hingga, ketika dia melihat gadis itu sedang dalam bahaya. Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung bergegas ambil langkah untuk menolong. Padahal sebenarnya, dia tahu, kalau dirinya sungguh banyak kekurangan.


Sejak kecelakaan itu, dia mana kuat berkelahi. Jangankan berkelahi, melakukan olah raga yang cukup menguras tenaga saja dia tidak bisa.


"Kak Sean." Jesi langsung memanggil Sean yang sedari tadi hanya diam saja.

__ADS_1


Tentu saja Sean langsung tersadar dari lamunan saat panggilan Jesi menyentuh kupingnya. Dia pun terlihat semakin grogi akibat ulah adik angkatnya ini.


"Nah lho, kenapa lagi itu? Mikirin Meta lagi ya?" Tidak cukup membuat Sean merasa grogi, Jesi menambahkan lagi godaan yang membuat Sean semakin serba salah.


__ADS_2