
"Ini ... aku ... aku bertemu preman di jalan, kak Jesi. Mereka ingin menyakiti aku, tapi aku melawan. Merekapun langsung melakukan kekerasan padaku."
Mata Jesi pun langsung membulat akibat penjelasan yang Meta berikan. Rasa cemas pun langsung menghampiri hatinya dengan cepat.
"Ya Tuhan. Jadi, ini ulah preman bajingan yang jahat, Meta? Kamu dianiaya para preman itu? Bagaimana bisa seperti ini? Lalu, bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa semua baik-baik saja? Lalu, apa kak Jaka tahu? Di mana dia sekarang?"
Inilah Jesika, adik angkat Jaka yang paling hangat juga paling lembut orangnya. Dia juga terlahir sebagai perempuan yang paling perhatian menurut Meta. Karena, dia begitu baik pada Meta selama ini.
Seingat Meta, Jesi juga sering memaksa kakaknya untuk bersikap lembut pada perempuan. Terutama, pada Meta yang Jesi anggap sebagai bagian keluarga setelah apa yang Meta lakukan untuk keluarga angkatnya.
Dan sekarang, lihat saja seperti apa tanggapan Jesi ketika tahu kalau Meta baru saja mengalami musibah. Dia langsung menunjukkan rasa simpati dengan banyaknya pertanyaan yang ia lemparkan pada Meta. Sangking banyaknya, Meta sampai tidak tahu harus menjawab yang mana terlebih dahulu.
Tapi, saat ingat kejadian yang baru saja dia alami. Meta jadi semakin bimbang. Perasaan bersalah pun langsung menghampiri hatinya. Meta pun langsung menundukkan wajah akibat rasa bersalah karena telah menyeret Sean sampai Sean sakit parah sekarang.
__ADS_1
"Itu ... sebenarnya ... aku sangat minta maaf, kak Jesi. Apa yang terjadi dengan kak Sean sekarang adalah kesalahanku." Jesi bicara dengan wajah yang masih tertunduk.
Merasa ada hal yang tidak beres, Jesi langsung memasang wajah penuh dengan tanda tanya. Dia juga langsung memegang bahu Meta dengan sentuhan yang lembut kembali.
"Meta. Ada apa? Aku masih tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan barusan? Kenapa dengan kak Sean?"
Meta dengan wajah sedih, lalu menceritakan semuanya. Semua tentang apa yang telah terjadi pada Sean sampai Sean harus di rawat di rumah sakit seperti saat ini. Dia bercerita dengan wajah dan nada yang dipenuhi dengan rasa bersalah. Sungguh, Meta benar-benar merasakan rasa bersalah sekarang.
"Jadi ... kak Sean yang menyelamatkan kamu, Met?"
Namun, karena wajah sedih itu, tangan Jesi pun segera menyentuh pundak Meta dengan lembut. "Sudah, jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Karena yang telah terjadi, tidak akan pernah bisa kamu ubah sedikitpun."
"Iya, kak Jesi. Kakak benar. Tapi, aku sangat merasa bersalah saat ini. Jika bukan karena aku, kak Sean gak akan ada di rumah sakit sekarang. Aku sangat merasa bersalah, kak."
__ADS_1
"Meta. Apa yang terjadi tidak akan bisa kita tebak, bukan? Mungkin, apa yang menimpa kak Sean saat ini adalah nasib buruk. Nasib buruk yang sudah tertulis di atas lembaran takdir. Bukan salah kamu semua itu terjadi. Karena, jika sudah nasib, tanpa ada kamu juga, kak Sean mungkin juga akan mengalami nasib buruk yang sama. Atau bahkan, lebih buruk dari yang ia derita saat ini."
"Jadi, sudah ya, Met. Jangan murung dan terus menyalahkan diri kamu lagi. Aku yakin, kak Sean tidak ingin kamu menyalahkan dirimu atas apa yang sudah dia lakukan. Dia pasti akan merasa, pertolongan yang dia berikan kamu anggap sebagai beban."
Mendengar kata-kata itu, Meta langsung mengubah raut bersalahnya secepat mungkin.
"Nggak kok, kak. Nggak. Aku gak anggap pertolongan kak Sean ini sebagai beban. Aku anggap, pertolongan ini adalah berkah paling besar buat aku. Karena tanpa bantuan dari kak Sean, mungkin Meta ini hanya akan tinggal namanya saja sekarang."
"Nah, kalo kamu anggap berkah, pasti kamu tidak akan terus merasa bersalah. Karena kak Sean juga menolong kamu dengan ikhlas kok. Aku tahu dia. Dia ... eh, tapi ngomong-ngomong, tumben banget kakak ku ini bisa peduli. Udah lama dia gak kek gini."
Meta hanya bisa menatap Jesi dengan tatapan yang agak bingung. Maklum, kata-kata Jesika barusan itu seperti yang sudah dia dengar sebelumnya. Yaitu, kata-kata yang suster ucapkan tadi saat mengobati dia.
'Apakah kak Sean ini begitu dingin dan tidak ingin tahu dunia sekeliling? Apakah yang suster dan kak Jesi pikirkan sekarang ya? Kenapa mereka pikir, kak Sean bisa anggap aku penting karena telah menolong aku?'
__ADS_1
'Agh! Bikin hati ini semakin bimbang saja. Aku gak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi, aku rasa ini adalah hal yang wajar. Karena kak Sean ini masih punya hati. Ya tentu dia tidak akan membiarkan aku yang sedang kesulitan begitu saja,' kata Meta dalam hati sambil melihat ke bawah.