Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 22 Pulangnya Meta


__ADS_3

"Nah lho, kenapa lagi itu? Mikirin Meta lagi ya?" Tidak cukup membuat Sean merasa grogi, Jesi menambahkan lagi godaan yang membuat Sean semakin serba salah.


Merasa tidak punya cara untuk membalas ucapan adik angkatnya. Sean terpaksa memasang wajah pasrah. Lalu kemudian, meminta bantuan dari sang mama agar melepaskan dia dari godaan si adik angkat.


"Ma, lihat anak mama ini, Ma. Dia kok bahagia banget bikin kakaknya tersudutkan. Gak kasihan banget dia kayaknya sama kakaknya yang sudah hampir sekarat seperti ini, Ma."


"Than. Tolongin gue dong. Kawal nih istri lo yang suka jailin gue. Gue udah sakit nih sekarang," ucap Sean lagi.


"Ya ampun. Kasihan juga yah." Jona langsung berucap. Tapi sama saja, nada bicara juga nada mengejek. "Tapi ... benar juga sih apa yang istriku katakan, Se. Kamu ... sangat berbeda dalam melihat Meta. Dari yang biasanya acuh, jadi sangat hangat."


"Iya, mana pas sakit masih sempat mencemaskan keadaan Meta lagi. Gimana gak aneh coba." Jesi lagi-lagi menggoda kakak angkatnya.


"Nah, itu yang aku maksudkan, Sayang. Dia itu ... terlalu berbeda, bukan?"


"Ya Tuhan, suami sama istri ternyata sama aja. Salah tuh gue minta tolong sama lu, Than." Sean berucap dengan nada kesal yang dibuat-buat.


Dan sekarang, giliran papa mereka yang angkat bicara. "Udah-udah. Jangan ganggu Sean lagi. Biarkan dia istirahat dulu sekarang. Dia harus istirahat dengan baik agar kondisinya cepat pulih."


"Tapi, Pa ... masih suka lho gangguin kak Sean. Gak biasa lho dia bersikap hangat seperti sekarang. Mana saat sakit, masih bisa bersikap hangat. Kan sangat jarang, Pah." Jesi berucap dengan nada manja.

__ADS_1


"Ya tapi dia sedang sakit. Kan kasihan, Jesi."


"Iya, Je. Apa yang papa katakan itu benar banget lho, Sayang. Kasihan kakak kamu ini. Yah, meskipun gunung es Kutub Selatan sudah mencair. Tapi kita harus tetap bersabar untuk menggangunya. Karena sekarang, dia butuh istirahat yang cukup." Mamanya pula angkat bicara.


Tapi, nada yang sang mama ucapkan sama saja seperti Jona dan Jesi gunakan. Nada godaan yang membuat Sean hanya bisa mendengus pelan. Tapi, Sean tidak kesal akan godaan demi godaan yang keluarganya berikan. Entah kenapa, dia malah merasakan sebaliknya. Merasakan rasa bahagia akibat digoda.


Sementara itu, Meta tiba di rumahnya saat tengah malam. Kepulangan Meta langsung membuat heboh rumah juga sekeliling rumahnya.


Bagaimana tidak? Kedua orang tua juga para tetangga sedang sangat menantikan kepulangan Meta. Karena Meta yang tiba-tiba menghilang, membuat mereka yang tahu sangat cemas.


"Ya Tuhan, akhirnya kamu pulang juga, Nak. Ke mana saja kamu, Met? Mama sama papa sangat panik dan terlalu cemas saat tahu kalau kamu tidak pulang-pulang juga," kata mamanya sambil merangkul Meta dengan erat.


"Aku gak papa, Ma, Pa. Maafkan aku yang sudah bikin kalian berdua panik akibat ulahku."


"Kamu ini ya." Sang mama berucap sambil melepas pelukannya. Saat itulah, rasa cemas kembali muncul ketika meraka melihat wajah Meta yang agak memerah. Meskipun bekas tamparan itu hanya tinggal sedikit saja.


"Meta. Wajah kamu ... wajah kamu kenapa, Nak?" Mama Meta berucap sambil fokus ke pipi Meta.


"Ya Tuhan. Kenapa ini, Met?" Papanya juga ikut bertanya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, Meta? Katakan sama kami, apa yang sudah kamu alami!" Mamanya semakin mengeluarkan nada panik.


"Ma, aku gak papa. Ini hanya bekas .... "


"Bekas apa!? Jangan coba-coba bohong sama mama dan papa. Karena kami tidak suka akan hal itu. Kamu juga tahu bukan, mama sama papa tidak pernah mengajari kamu berbohong sejak kecil hingga dewasa seperti saat ini."


"Ma ... aku ... aku bertemu preman di jalan. Mereka menggangguku sampai .... "


"Mereka menganiaya kamu, Meta!? Kurang ajar! Apa yang sudah mereka lakukan padamu, Nak!?" Sang mama kini sangat panik. Dia bahkan tidak membiarkan Meta mengakhiri terlebih dahulu apa yang ingin Meta katakan sangking paniknya.


Mama Meta juga memperhatikan tubuh anaknya dari atas hingga ke bawah. Dan, berulang kali ia balik-balikkan tubuh Meta untuk memastikan, kalau tidak ada luka lain selain bekas tamparan yang ada di pipi Meta itu saja.


"Ma, aku gak papa. Gak ada luka lain lagi selain yang ada di pipi ini, Ma."


"Benarkah? Jangan sembunyikan apapun dari mama, Nak. Mama sangat cemas sekarang."


"Iya, Ma. Gak ada. Untungnya, aku di tolong oleh .... "


"Meta."

__ADS_1


Panggilan itu membuat ucapan Meta tertahankan. Sontak, merekapun langsung fokus dengan kedatangan seseorang yang baru saja memanggil nama Meta barusan.


__ADS_2