Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 33 Mama Sean haru


__ADS_3

Ternyata, di kamar itu hanya ada Sean yang di temani oleh mamanya saja. Melihat kedatangan Meta dan keluarganya, mama Sean langsung bangun dari duduknya untuk menyambut Meta dan kedua orang tuanya.


Kedua orang tua pun langsung bicara dengan akrab. Sementara Meta, dia langsung menyapa Sean setelah menyapa mama Sean sebentar.


"Kak Sean, bagaimana kabar kakak sekarang? Apa ... kaka masih merasa sakit?" Meta bertanya dengan nada yang sangat hati-hati.


"Aku udah gak papa kok. Udah mendingan. Beberapa hari lagi, aku juga boleh pulang. Karena cedera tulang belakang yang aku alami tidak terlalu parah."


Meta lalu menundukkan kepala karena ingat apa yang sudah terjadi pada Sean adalah karena dirinya. Karena rasa bersalah itu, dia tidak sanggup melihat wajah Sean sekarang.


"Hei! Kenapa kamu tiba-tiba merasa tidak enak seperti itu, Meta? Aku kan barusan bilang kalau aku sudah gak papa. Aku udah baik-baik aja. Kenapa kamu malah murung? Gak suka ya kamu, kalo aku udah baik-baik aja?"

__ADS_1


Sontak, ucapan itu langsung membuat Meta mengangkat wajahnya. Dengan tatapan terkejut sekaligus tidak enak hati, Meta menatap lekat Sean.


"Kak Sean ngomong apa sih? Siapa juga gak tidak suka kak Sean sembuh. Apalagi, orang yang menjadi penyebab kan kak Sean masuk rumah sakit itu adalah aku. Tentu saja aku sangat berharap kak Sean sembuh secepatnya. Agar rasa bersalah yang ada dalam hati ini segera pergi." Meta berucap dengan perasaan sangat jujur.


Ucapan itu membuat Sean terkekeh. Dia merasa cukup geli hati yang wajah bersalah yang Meta perlihatkan. Karena menurutnya, dia sendiri tidak merasa terbebani dengan apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Bahkan, dia merasa sangat bahagia karena sudah bisa menyelamatkan Meta. Meskipun ada sedikit hal yang ia sesali. Yaitu, kedatangannya yang terlambat sehingga membuat preman bajingan itu menampar Meta dengan keras.


"Khe he he ... kamu ini kok lucu banget ya, Met. Merasa bersalah sampai sebegitu beratnya. Padahal, aku sama sekali tidak merasa terbebani dengan apa yang sudah aku lakukan untuk kamu. Malahan, aku merasa senang karena bisa menolong."


"Mm ... malahan, sebenarnya aku ingin minta maaf padaku. Karena aku datang terlambat sampai kamu dipukuli oleh preman itu."


Selanjutnya, Sean dan Meta ngobrol dengan hangat. Hal yang langka buat mama Sean. Ketika Sean bisa ngobrol hangat dengan Meta, air matanya perlahan jatuh. Karena dia merasa, kalau anaknya sudah kembali seperti dulu lagi. Sean yang hangat, yang sangat ia rindukan.

__ADS_1


'Mungkinkah Meta bisa membuat Sean kembali seperti dulu lagi? Tapi ... sayang sekali, dia tidak bisa Sean miliki. Karena sebentar saja lagi, gadis yang menjadi matahari buat Sean ini akan menjadi istri orang.'


'Mungkinkah Sean akan merasa terpuruk kembali saat Meta sudah menikah? Agh! Ya Tuhan, andai aja ada keajaiban, maka aku akan sangat bersyukur dengan keajaiban itu.'


Mama Sean bicara dalam hati sambil terus memperhatikan Sean dan Meta. Dia yang masih belum tahu apa yang sudah terjadi dengan hubungan Meta juga Jaka, tentu berpikir dengan seribu penyesalan. Karena jika saja Meta masih sendiri, tentu kesempatan emas untuk mengikat Meta agar bisa tetap berada di sisi Sean selamanya sangat besar.


Karena pikiran itu, mama Sean juga mengabaikan keberadaan dua orang yang kini sedang memperhatikan dirinya. Kedua orang tua Meta yang kini ada di dekat mama Sean, tentu merasa sangat bingung dengan apa yang sedang terjadi. Mana mama Sean sampai menjatuhkan air mata lagi sekarang. Hal yang sangat membingungkan buat mereka berdua.


"Ee ... nyonya Diana. Maaf, apa yang sedang terjadi? Kenapa anda menangis sambil melihat Sean dan Meta? Apa ada yang salah dengan obrolan mereka sehingga melukai hati, Nyonya?" Mama Meta berucap dengan nada yang sangat hati-hati.


Ucapan itu langsung menyadarkan mama Sean. Dengan cepat, dia langsung menyeka air mata yang sebelumnya jatuh melintasi kedua pipi.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga, mama Sean berusaha mengukir senyum meski itu sangat terlihat dipaksakan. "Aa ... maafkan saya, mama Meta. Saya ... saya hanya sedang terharu saja dengan sikap Sean yang sekarang bisa sangat hangat ketika bicara dengan Meta. Karena biasanya, dia selalu bersikap dingin dengan perempuan manapun."


"Setelah kejadian kecelakaan yang membuat Sean koma selama satu tahun, dia berubah total. Jadi dingin dan tidak mau tahu akan dunia yang ada di sekelilingnya. Terlebih lagi, itu soal perempuan. Dia jadi tidak ingin kenal dengan pasangan hidup."


__ADS_2