Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 20 Haru


__ADS_3

Agh! Bikin hati ini semakin bimbang saja. Aku gak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi, aku rasa ini adalah hal yang wajar. Karena kak Sean ini masih punya hati. Ya tentu dia tidak akan membiarkan aku yang sedang kesulitan begitu saja,' kata Meta dalam hati sambil melihat ke bawah.


"Sudah. Jangan dipikirkan apa yang aku katakan. Ayo masuk! Aku yakin, kak Sean pasti ingin lihat bagaimana keadaan kamu sekarang." Jesi berucap dengan senyum lebar di bibirnya.


Meta yang mendengarkan ucapan dengan berbarengan senyum lebar itu merasa semakin tidak enak. "Ngg-- nggak, kak. Aku ... aku harus segera pulang sekarang. Aku yakin, kalau kedua orang tuaku, pasti sedang sangat mencemaskan aku."


"Lho, mereka gak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kamu, Met?"


Meta langsung menjawab dengan gelengan pelan. Hal itu membuat Jesi langsung melepaskan napas pelan.


"Ya Tuhan. Ya sudah kalo gitu, aku hubungi kak Jaka sekarang. Biar dia yang jemput kamu ke sini secepatnya ya," kata Jesi sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas yang dia jinjing sedari tadi.


Mendengar nama Jaka yang Jesi sebut, tangan Meta reflek langsung menahan tangan Jesi agar tidak menghubungi orang yang Jesi maksud. "Jangan, kak!"


Tentu saja Jesi langsung menghentikan gerakannya secepat mungkin. Dengan mata yang menyimpan banyak pertanyaan, Jesi langsung menatap Meta sambil tangannya diam bak patung pajangan.


Sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan, Meta langsung menarik tangannya dari tangan Jesi. Dia pun merasa tidak enak atas apa yang sudah dia lakukan barusan.

__ADS_1


"Itu ... aku .... " Meta berusaha mencari alasan untuk menjelaskan pada Jesi atas perlakuan yang sudah dia perbuat. Tapi rasanya, tidak satupun ide muncul dalam benaknya saat ini.


"Kenapa, Met? Apa ada hal yang tidak baik yang telah terjadi antara kamu dengan kak Jaka?"


Meta tidak bisa menjawab pertanyaan itu sekarang. Karena bagi Meta, sangat-sangat berat untuk menggerakkan bibirnya sekarang.


"Maaf, Meta. Aku memang tidak seharusnya ikut campur dengan urusan pribadimu. Meskipun kak Jaka adalah kakakku, tapi memang tidak layak jika aku terlalu ingin tahu semua hal pribadi kalian. Namun, jika ada masalah yang ingin kamu bagi dengan aku, aku siap menjadi pendengar yang baik."


"Meta, anggap aku sebagai teman, bukan calon ipar atau bahkan, bukan orang lain. Karena kita sudah lama bersama. Aku tahu kamu dengan baik, Met. Jadi, aku sudah merasa sangat dekat dengan kamu. Kamu jangan sungkan padaku ya."


Selama ini, memang Jesi bersikap sangat baik padanya. Bahkan, perempuan itu memang menganggap dirinya bukan orang lain. Tapi, Meta saja yang merasa enggan untuk terlalu dekat dengan Jesi. Karena selain dia anak orang terkaya, Jesi juga terlalu baik untuk Meta. Maka dari itu, Meta selalu merasa takut untuk dekat.


Takut, jika-jika suatu hari nanti, kak Jaka malah menyakiti hatinya. Jadi, dia takut jika hubungan antara dia dengan Jesi juga berimbas. Karena Jesi adalah adik Jaka. Jaka pasti akan bercerita tentang hal yang tidak-tidak. Yang mungkin akan membuat Jesi membencinya. Karena hal itulah, Meta berpikir ulang untuk terlalu dekat.


Tapi sekarang, setelah semakin lama semakin mengenal seperti apa Jesi, Meta jadi yakin, kalau Jesi bukan tipe orang yang mudah terpengaruh akan ucapan tanpa ada bukti yang nyata. Jadi, hatinya pun merasa ingin semakin dekat dengan Jesi sekarang.


Memang, perbedaan usia antara Jesi dengan Meta sedikit berbeda. Karena saat ini, Jesi sudah berusia dua puluh lima tahun. Lumayan jauh jarak umur mereka berdua. Tapi, Jesi cukup baik dalam bergaul. Usia tidak bisa menjadi penghalang. Dia mampu memposisikan dirinya sama dengan Meta dalam masalah usia. Karena hal itulah, Meta semakin merasa nyaman ketika bersama dengan Jesi.

__ADS_1


"Met." Panggilan itu menyadarkan Meta dari lamunannya.


"Iy-- iya, kak Jesi."


"Ya Tuhan. Kenapa kamu malah bengong sih, Met? Mana kamu nangis lagi? Ya ampun, apa begitu besar masalah yang sudah kamu alami sekarang?"


Dengan cepat, Meta menyeka air mata yang tumpah. "Siapa ... siapa yang nangis, kak Jesi? Aku nggak kok."


"Lah, kalo bukan nangis, itu barusan apa? Air apa yang tumpah dari mata kamu barusan, hm?"


"I-- ini ... ini itu ... aku kelilipan aja kok, kak. Nggak nangis lah."


"Aku bukan anak kecil, hush. Enak aja kamu ngebohongin aku, Met."


"Kak Jesi .... "


Meta pun langsung memberikan sebuah senyuman. Senyuman termanis karena sekarang, dia merasa punya seseorang yang bisa ia ajak berbagi untuk masalah hati yang resah.

__ADS_1


__ADS_2