Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 18 Bertemu Jesi


__ADS_3

Yah, meskipun mereka orang baik dan dia cukup kenal dengan Jesi sebagai anggota keluarga. Tapi tetap saja, rasa takut itu entah kenapa bisa menguasai hatinya ketika ia berjalan semakin mendekat ke arah ruangan Sean.


"Kak ... Jesi." Meta berucap dengan nada pelan.


Seketika, semua mata langsung terfokus ke arah Meta. Hal itu semakin membuat Meta merasa tidak nyaman saja.


"Meta." Jesi yang awalnya duduk dengan wajah tertunduk, kini langsung bangun dengan cepat.


"Kok ... kamu ada di sini, Met?"


"Tunggu! Itu wajah kamu kenapa?"


"Itu .... " Belum sempat Meta menjawab apa yang Jesi tanya. Pintu ruangan Sean yang mereka tunggu beberapa saat sebelumnya, kini langsung terbuka. Dari pintu tersebut muncul dokter dan dua perawat yang sepertinya memperlihatkan wajah lega.


Sontak saja, mereka langsung mengabaikan Meta kembali. Keluarga Sean langsung fokus pada dokter yang baru muncul untuk tahu bagaimana keadaan Sean saat ini.


"Dokter, bagaimana keadaan Sean sekarang? Apa dia baik-baik saja?" Indra, papa Sean langsung bertanya karena dia yang paling dekat dengan dokter tersebut.


"Ah, syukurlah, Tuan Indra. Keadaan tuan muda Sean kini sudah bisa dibilang cukup baik. Karena rasa sakit yang ia derita sebelumnya, sudah agak berkurang."

__ADS_1


"Untung dia segera di larikan ke rumah sakit. Jika tidak, tulang belakangnya mungkin tidak bisa ia gunakan lagi. Dengan maksud, mungkin dia tidak bisa duduk, apalagi berdiri akibat tulang belakangnya yang rusak."


Seketika, Diana sebagai mama langsung menutup mulutnya akibat terkejut. Ternyata, kondisi sang anak begitu buruk sampai dia tidak hampir tidak bisa menggunakan tulang belakangnya lagi.


"Ya Tuhan. Kenapa bisa seperti ini? Apa sih yang Sean lakukan sebenarnya? Apa yang terjadi dengan Sean sampai mengalami hal yang sangat mengerikan seperti ini?" Diana berucap dengan wajah sedih sambil menggenggam erat tangannya sendiri.


"Tenang, Ma. Kak Sean udah gak papa kok sekarang. Jadi, mama jangan terlalu cemas lagi ya. Mm ... untuk apa yang sudah terjadi pada kak Sean, kita tanyakan saja langsung pada dia." Jesika berusaha membuat sang mama tenang. Walau pada dasarnya, dia juga kaget dengan penjelasan yang baru saja dia dengar.


"Dokter, kita boleh masuk ke dalam kan sekarang?" Jesi berucap lagi sambil terus merangkul pinggang sang mama.


"Bisa. Silahkan masuk! Tapi, seperti biasa, Nona. Jangan terlalu mengganggu pasien. Karena sekarang, tuan muda harus banyak istirahat yah."


"Baik, Dok. Kami paham akan hal itu. Terima kasih banyak."


"Ayo kita masuk sekarang!" Jesi berucap dengan nada penuh semangat.


Kedua orang tua, suami juga asistennya pun mengikuti apa yang Jesi katakan. Sementara Meta, dia hanya diam saja di tempat di mana dia berada.


Meta merasa tidak enak untuk ikut masuk ke dalam. Karena dia bukan bagian dari keluarga itu. Ya kali dia ikut masuk. Gak tahu diri banget rasanya dia. Meski dia ingin sekali bertemu Sean, tapi ini bukan saat yang tepat. Karena Sean sekarang sedang di kelilingi oleh keluarga yang kelihatannya begitu sayang dengan Sean.

__ADS_1


'Mungkin nanti aku bisa datang lagi buat bicara dengan kak Sean. Aku berhutang budi terlalu besar padanya. Aku pasti akan bilang makasih pada kak Sean nanti,' kata Meta dalam hati sambil melihat ke bawah.


Namun, Jesi bukan orang yang suka mengabaikan orang lain. Dia terdidik untuk menjadi seorang perempuan yang sangat pengertian juga di penuhi dengan perhatian.


Meski sibuk dengan keluarganya, dia juga tetap tidak melupakan Meta yang ada di tengah mereka sebelumnya. Jadi, saat para keluarga masuk, Jesi malah menghentikan langkah kakinya. Jesi memutar tubuh untuk bicara dengan Meta.


"Meta."


Panggilan itu tentu membuat Meta agak terkejut. Bagaimana tidak? Dia yang awalnya berpikir kalau dia sudah sendiri, kini malah ada orang yang berbicara dengannya. Karena itu, Meta langsung mengangkat wajahnya dengan cepat.


"Iya, kak Jesi."


"Maaf, aku buat kamu terkejut ya?"


"Ngg-- nggak kok, Kak. Nggak terkejut dan tidak perlu minta maaf." Meta berucap sambil mengukir senyum manis di bibirnya.


Jesi tentu langsung membalas senyum itu. Dia pun dengan tangan yang ringan langsung menyentuh pelan bahu Meta.


"Mm ... kamu datang ke sini dengan siapa? Maaf, tidak bermaksud ingin tahu hal pribadi kamu. Tapi, aku penasaran dengan wajah kamu, Met. Apa sih yang terjadi dengan kamu sebenarnya?"

__ADS_1


Sontak, tangan Meta langsung menyentuh pipinya. Yah, meskipun sudah diobati oleh suster tadinya, tapi tetap saja, bekas tamparan itu masih cukup terlihat dengan baik.


"Ini ... aku ... aku bertemu preman di jalan, kak Jesi. Mereka ingin menyakiti aku, tapi aku melawan. Merekapun langsung melakukan kekerasan padaku."


__ADS_2