Cinta Atau Hutang Budi

Cinta Atau Hutang Budi
*Part 17 Keluarga Sean


__ADS_3

Sean sendiri yang mengatakan kalau dia tidak bisa punya anak. Dia tidak bisa memiliki keturunan. Karena itu, istrinya memikirkan sandiwara itu untuk menyelamatkan wajahnya agar tidak malu. Tapi, yang namanya kebenaran juga cepat atau lambat pasti akan terbongkar. Entah apa yang Sean pikirkan, dia sengaja langsung membongkar hal tersebut di depan umum.


Sayangnya, terbongkar kebohongan itu bukan malah membuat Sean dapat pujian. Tapi malahan, bikin Sean semakin disalahkan oleh para manusia yang tidak tahu akan kebenaran sesungguhnya.


Sean dikucilkan beberapa bulan setelah kabar itu tersebar. Sampai, dia sering di teror oleh warna net yang tidak punya pikiran baik.


Jesika sebagai adik sempat marah besar. Bahkan, dia meminta Sean untuk membongkar kebusukan mantan istri agar Sean tidak lagi di salahkan secara sepihak oleh orang yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan Sean sebelumnya.


Namun, tanggapan Sean bikin Jesi semakin tidak tahu harus bicara apa. Sean malah tidak ingin ambil pusing dengan pikiran orang lain. Karena baginya, apa yang orang lain pikirkan itu tidak penting sama sekali.


Sean memutuskan untuk fokus pada hidup baru yang akan dia jalani. Dia juga bersedia merawat anak angkat mereka karena mantan istri tentu tidak akan mampu merawat anak tersebut.


Tapi, tidak ada yang tahu kebaikan hati Sean. Mereka tetap mengatakan kalau Sean anak pria jahat yang tidak punya perasaan. Tidak punya harga diri, juga terlalu buruk untuk di sebut sebagai manusia. Berani merebut apa yang mantan istrinya punya tanpa berbelas kasih. Sean dicap sebagai pria bajingan yang tidak punya perasaan.

__ADS_1


Sean yang malang malah menerima semua itu dengan lapang dada. Tanpa ingin menjelaskan pada orang yang telah berpikir yang tidak baik tentang dirinya sedikitpun. Karena dia pikir, anggapan buruk itu cepat atau lambat juga akan memudar, lalu menghilang seiring berjalannya waktu.


Dan, anggapan itu sangat benar seratus persen. Karena sekarang, ungkapan buruk itu seakan tidak pernah Sean dengar sedikitpun lagi. Padahal, belum genap satu tahun dia menjalani hidup setelah sadar dari koma yang dia alami.


Sementara Meta yang tahu akan kebaikan dan bagaimana tentang hidup Sean yang sesungguhnya. Meski tidak tahu seutuhnya, tapi dia tetap tidak ingin menyalahkan Sean. Dia pikir, apa yang Sean lakukan mungkin adalah pilihan terbaik untuk diri Sean sendiri.


Karena orang lain itu tidak akan paham apa yang hidup kita jalani. Begitu juga kita, kita juga tidak akan paham apa yang telah orang lain jalani selama ini.


Meta sibuk dengan pikirannya saat ini. Sedangkan si suster yang ada di depan Meta malah kebingungan dengan diamnya Meta. Dia bahkan sudah berusaha memanggil Meta berulang kali tadi. Tapi Meta sepertinya tidak ingin mengakhiri apa yang sedang dia lamun kan. Itu terbukti dari Meta yang tetap mematung meski sudah dipanggil beberapa kali oleh si suster.


"Mbak. Hei ... mbak."


Usaha si suster akhirnya berhasil. Meta akhirnya sadar juga. "Iy-- iya, Sus. Ada ... ada apa?" Meta berkata dengan nada tidak nyaman.

__ADS_1


"Lagi mikir apa sih? Saya udah manggil mbak beberapa kali lho tadi. Mbaknya malah tetap diam mematung."


"Ini, saya mau bilang kalau saya udah selesai ngobatin mbak. Mbak mau tinggal di sini, atau ikut saja keluar? Karena saya ingin keluar dari sini sekarang juga."


"Mm ... kalau mau duduk di sini selama beberapa saat juga gak papa, mbak. Mungkin, mbak mau istirahat di sini sebentar lagi," kata suster itu lagi dengan ramah.


"Gak papa, Sus. Saya ikut suster keluar aja. Lagian, ada hal yang harus saja lakukan juga sekarang."


"Oh, ya sudah kalo gitu. Ayo!"


Meta dan suster tersebut langsung meninggalkan ruangan itu segera. Niatnya, Meta ingin langsung menuju meja resepsionis untuk meminjam telepon agar bisa menghubungi kedua orang tuanya. Tapi, ketika dia melihat di depan pintu ruangan Sean, dia sedikit terkejut karena di sana ada banyak orang saat ini.


Mau tidak mau, Meta terpaksa membatalkan niatnya lagi untuk meminjam telepon. Karena dia tidak bisa melewati orang-orang yang ada di depan ruangan Sean begitu saja. Mana Sean sakit parah akibat ulahnya lagi. Mana bisa dia lepas tangan begitu saja.

__ADS_1


Meta pun berjalan dengan langkah pelan. Selain merasa bersalah, dalam hati Meta juga ada rasa takut saat ini. Karena yang sedang dia hadapi sekarang adalah orang terkenal nomor satu di kota.


Yah, meskipun mereka orang baik dan dia cukup kenal dengan Jesi sebagai anggota keluarga. Tapi tetap saja, rasa takut itu entah kenapa bisa menguasai hatinya ketika ia berjalan semakin mendekat ke arah ruangan Sean.


__ADS_2